Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 93 - Tuan Putri


__ADS_3

(Author's Point of View)


"Cie...cie...cie...." terdengar sorakan para tamu undangan saat Qia mencium Billy di atas panggung.


"Ah! So sweet!" sorak sebagian tamu undangan lain.


Yaya, kenapa kau menciumku di atas panggung, sih? Kenapa harus di depan semua orang, sih? Aku jadi malu, tahu! gumam Billy.


Kak Billy, aku tuh sebenarnya takut, sih ngelakuin ini, tapi pengen aja gitu. Bibir kamu kayak udah manggil-manggil aku dari tadi, gumam Qia.


"Ya, itu tadi adalah nyanyian cinta dari kedua mempelai. Kedua mempelai dimohon untuk kembali ke pelaminan. Nampaknya masih banyak yang ingin memberikan doa restu," ucap MC itu. Qia pun menarik Billy untuk kembali ke atas pelaminan. "Bagi tamu undangan yang ingin memberikan doa restu kepada kedua mempelai dimohon baris dengan tertib. Sambil menunggu antrian, Band XXX masih akan menampilkan lagu-lagu spesial," ucap MC itu lagi.


Alunan musik kembali terdengar meriah. Para tamu undangan kembali memberikan doa restu dengan menyalami Qia dan Billy. Sesi foto bersama juga diadakan. Cahaya flash menerpa wajah Billy dan Qia.


Aku benci pemandangan ini, gumam Naren dari kejauhan.


"Sesi foto bersama berikutnya dengan UKMF Penelitian Fakultas Ekonomi Universitas XXX," panggil MC itu.


"Ayo, Ren, kita foto!" ajak Rino sambil menepuk bahu Naren.


"Sayang!" panggil Vita. Dia menarik bahu kanan Naren. "Kamu di sini aja, temenin aku!" ucapnya.


"Terserah aku!" ucap Naren dengan nada meninggi. Dia menghempaskan genggaman tangan Vita dengan kasar.


Qia, kamu menyebalkan! Udah nikah aja masih juga ganggu Naren. Kamu sengaja ya undang dia ke resepsimu buat ganggu hidupku! gumam Vita.


"Selamat ya, Pak Billy. Selamat ya, Qia," terdengar suara ucapan dari para anggota UKMF Penelitian FE.


"Makasih, makasih udah datang," ucap Qia. Dia menyalami mereka sambil tersenyum.


Makasih sudah datang, kawan. Aku nggak menyangka kalian bakalan dateng sebanyak ini. Teguhkan hatimu, Qia. Kamu nggak boleh baper lagi. Meski mungkin nanti Naren bakal salaman sama kamu bahkan ikut foto bareng, gumam Qia.


"Iya, iya," sahut Billy saat dia bersalaman dengan para anggota UKMF itu.


Aku harus tetap waspada pada Narendra. Jangan sampai dia berbuat ulah lagi saat acara salaman dan foto ini, gumam Billy.


Mimpi apa sih aku? Aku salah apa, sih? Beb, kok kamu malah jadi nikah sama Pak Billy. Padahal dulu kan seharusnya aku yang ada di sampingmu, gumam Naren. Dia sudah berada di antrean untuk menyalami Billy dan Qia.


"Ayo, anggota UKMF Penelitian FE. Merapat dulu, foto dulu! Salamannya nanti lagi," ucap photographer itu.


Anggota UKMF Penelitian FE segera merapat. Mereka berbaris di sebelah kiri dan kanan, mengapit Billy dan Qia di bagian tengah.

__ADS_1


Aku di pojok aja lah. Biarin aja nggak kelihatan, gumam Naren. Dia menempatkan diri di pojokan barisan sebelah kanan.


"Mas yang itu pindah ke tengah aja! Biar sebelah kiri dan kanan seimbang," ucap photographer sambil menunjuk ke arah Naren. "Mas, pindah ke bagian tengah aja, deket mempelai biar posisi barisannya bagus sejajar tingginya!" perintah photographer itu. Naren pun berjalan menuju ke posisi yang ditujukkan oleh sang photographer. Posisi itu tepat di sebelah Qia.


Astaga, kok gini, sih? Kok di sampingku bisa-bisanya jadi ada Naren, gumam Qia. Dia tak berani menatap ke arah Naren.


Qia, nampaknya takdir membuatku akan terus membayangimu. Bahkan, saat aku berada jauh darimu pun, ada saja yang membawaku dekat ke arahmu, gumam Naren.


Awas, jika kau berani macam-macam lagi, Narendra, gumam Billy. Dia menatap tajam ke arah Naren sejenak. Qia, sudah menjadi milikku. Jadi, jangan coba macam-macam, gumam Billy.


"Ayok, merapat, merapat!" perintah photographer itu. Otomatis posisi Naren semakin dekat dengan Qia. Bahkan, nyaris tak ada sela diantara keduanya.


Duh, kok mepet banget, sih. Tenang, ini cuma foto aja. Kamu nggak boleh baper, Qia. Nggak boleh! gumam Qia.


Qia, apa kamu tak menyadarinya? Tak bisakah kau merasakan getaran sayangku untukmu? gumam Naren.


"Satu...dua...tiga!!!" ucap photographer itu. Cahaya flash itu kembali menyala. Lebih dari satu kali cahaya flash itu menyala untuk menangkap berbagai gaya foto yang dilakukan. "Sudah!" ucap photographer itu.


Barisan foto itu pun membubarkan diri. Mereka menyalami Billy dan Qia lagi. Sampai tibalah giliran Naren. Dia mengarahkan tangannya ke arah Billy tanpa berbicara apa pun.


"Terima kasih sudah datang, Narendra. Saya dan Qia pasti akan datang pernikahanmu dengan Vita," ucap Billy sambil menatap tajam ke arah Naren.


Aku nggak mau liat kamu lagi, Ren, gumam Qia. Dia menyalami Naren sambil membuang pandang ke arah lain.


Beb, perjalanan ini masih panjang. Kita lihat saja siapa yang bisa awet sebagai pasanganmu hingga akhir hayatmu nanti. Belum tentu Pak Billy seterusnya, gumam Naren. Dia melangkah turun dari pelaminan.


Acara resepsi yang digelar seharian, dari pagi hingga malam itu akhirnya berakhir....


"Kak Billy, Yaya capek! Kakiku pegal!" keluh Qia sambil masuk ke dalam mobil.


"Sabar, ini sedang perjalanan pulang," sahut Billy. Dia duduk di samping Qia. "Eh!" ucapnya spontan. Billy terkejut karena Qia tiba-tiba menyandar manja sambil memegang lengan kanan Billy. "Kamu mau apa, Yaya?"


"Hubby, jadikan, aku tuan putri hari ini...." pinta Qia. Qia menatap mata Billy.


Yaya, kamu mau apa lagi, sih? gumam Billy sambil menghela napas.


"Jadi, tuan putri? Apa selama ini kamu diperlakukan buruk oleh para pegawai di rumah?" tanya Billy.


Ih, nggak peka. Aku tuh cuma pengen digendong kayak tuan putri di film-film itu waktu nanti sampai rumah, gumam Qia.


"Kak Billy, kamu pernah nggak sih nonton film tentang putri kerajaan?" tanya Qia.

__ADS_1


Ayolah peka, masak iya aku harus bilang terus terang. Nggak seru, dong! gumam Qia.


Yaya, kamu mau apa, sih? Kamu ingin menonton film b*rbie? gumam Billy.


"Kamu pengen nonton film b*rbie? Iya, nanti aku suruh orang untuk men-download-nya," sahut Billy.


"Ih, nggak peka!" ucap Qia. Dia duduk membelakangi Billy, pandangannya ke arah jendela mobil.


Tikus Kecil, tak bisakah kau mengatakan langsung keinginanmu? Aku bukan orang yang punya kekuatan mendengar isi pikiranmu, tahu! gumam Billy.


"Kamu mau apa sebenarnya, Yaya? Jangan ngambek...." ucap Billy.


"Coba pecahkan sendiri," sahut Qia. "Kamu kan brillian!"


Yaya, aku lebih mudah memahami masalah perusahaan daripada memahami isi kepalamu. Pikiranmu sulit ditebak maunya, gumam Billy.


Mobil sudah sampai di depan sebuah gerbang rumah. Gerbang itu berwarna putih. Gerbang itu ukurannya besar dan megah.


Ini di mana, sih? Kak Billy, kamu bawa aku kemana, sih? gumam Qia.


Mobil itu memasuki sebuah halaman yang luas. Mobil itu akhirnya berhenti. Pintu mobil dibukakan dari arah luar. Rumput hijau nampak menghampar. Terdapat sebuah rumah megah berwarna pink. Rumah itu atapnya berwarna putih.


"EH!" ucap Qia spontan. "Kak Billy, kamu ngapain?" ucap Qia saat Billy menggendongnya keluar dari mobil.


"Bukankah ini yang diinginkan olehmu, Tuan Putri Yaya? " sahut Billy.


Ah, Kak Billy, kamu memang brillian seperti namamu, gumam Qia.


"Kak Billy, ini dimana?" tanya Qia sambil melingkarkan tangannya di leher Billy.


"Menurutmu ini dimana?" tanya Billy balik.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2