Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 59 - Jadi Aktor....


__ADS_3

"Kau sudah datang?" sapa Balok Es. "Ayo cepat duduk!" aku pun melakukan perintahnya. "Mau pesan apa? Nanti saya yang bayar, Sayang!" ucap Balok Es sambil menatapku.


Jantungku rasanya mau berhenti berdetak mendengar kata Sayang itu. Pak, Bapak tahu nggak sih kalo daritadi kita dilihatin sama orang-orang 😣.


"Kamu kenapa kok diam saja?" Balok Es memegang tangan kananku. "Ini daftar menunya, pesanlah sesukamu. Jangan malu-malu, bukankah ini bukan pertama kalinya kita kencan, Sayang," ucap Balok Es sambil menyedot jus alpukat itu.


Pak, Bapak tau nggak sih kalo suara Bapak itu kedengaran keras. Kulihat daftar menu itu.


"Mbak!" Balok Es memanggil seorang pegawai restoran ini.


"Mau pesan apa, Kak?" tanya pegawai itu sambil mengeluarkan kertas kecil dan bolpen.


"Saya pesan mie goreng pedas level 1 sama...." kulihat menu itu. Jangan es buah deh, aku trauma. Jus alpukat yang dipesan Balok Es terlihat enak. "Saya mau jus alpukat."


"Wah, ternyata kita memang sehati, ya, Sayang. Kau juga memesan minuman seperti saya," ucap Balok Es.


Balok Es, kau sedang akting apa kenapa sih? Kok jadi bucin banget.


"Saya pesan mie goreng pedas level 1."


"Baik, Kak. Mohon tunggu sebentar, ya," pegawai restoran itu segera pergi.


Kulihat Balok Es, dia masih santai meminum jus alpukatnya. Aku masih bisa merasakan mata para pengunjung tertuju ke arahku.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Balok Es. "Kamu sakit ya, Sayang?" Balok Es menyentuh dahiku. "Badanmu tak panas tuh. Atau....jangan-jangan kamu sangat terpesona,ya, pada saya. Saya tahu, Sayang. Aku memang mempesona hingga kamu tak bisa berkata-kata untuk mengungkapkannya." Balok Es kurasa amat percaya diri hari ini.

__ADS_1


Pak, kalo Bapak jadi aktor kayaknya bakal dapat penghargaan aktor pendatang baru terbaik deh. Aktingmu bagus sekali, Balok Es. Berbeda sekali saat berdua ketika bersamaku di rumah.


"Ini pesanannya, Kak," pegawai restoran itu mengantarkan makanan yang baru saja kupesan.


Nampak dua piring mie goreng serta satu gelas jus alpukat. Aku mulai memegang sendok dan garpu untuk mulai makan. Pak, Bapak beneran kesulitan makan apa cuma akting, sih? Nampak Balok Es kesulitan mengambil mie dengan garpu di tangan kirinya.


"Sini, Pak. Saya suapi," ucapku.


Kugulung mie dengan garpu lalu kusuapkan ke mulut Si Balok Es. Balok Es memakan mie itu dengan lahap.


"Jangan panggil Bapak. Biasanya kamu panggil saya Kak Billy. Kok kamu masih malu-malu, sih? Kita kan sudah sering makan berdua seperti ini," Balok Es berbicara dalam suara yang cukup keras.


Pak, Bapak bikin saya tambah deg-degan dan salah tingkah, tahu! Balok Es, tak bisakah kau bersikap biasa saja? Perhatian para pengunjung yang sebagian besar mahasiswa sudah tertarik ke arah kita sejak tadi. Kau tak perlu menambah bumbu lagi, tahu! 😣


"Ehm...i...ya, Kak...Bil...ly...." ini pertama kalinya aku memanggil Balok Es dengan nama panggilannya di depan orang banyak.


Aku pun mulai memakan mie goreng itu. Rasanya pedas tapi nikmat. Aku sibuk mengunyah mie goreng itu.


"Saya ingin hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Oh ya, kamu ingin punya berapa anak di masa depan?" tanya Balok Es. Mie goreng itu serasa menyangkut di tenggorokanku.


"Uhuk! Uhuk! Huk!" aku terbatuk-batuk.


Pak, kok Bapak jadi bahas masalah ini sih? 😣 Bisa nggak sih dibahas waktu di rumah aja.


"Aduh, Sayang. Pelan-pelan makannya. Ini minum dulu!" Balok Es memegangkan gelas jus alpukat itu dengan tangan kirinya. Aku pun segera meminum jus itu. "Kamu nampaknya bersemangat sekali untuk segera menjadi seorang ibu. Menjawab pertanyaan saya saja sambil tergesa-gesa hingga tersendak," Balok Es tersenyum ke arahku.

__ADS_1


Pak, saya tersendak karena pertanyaan Bapak yang mendadak! 😭 Bukan karena pengen segera jadi ibu.


"Ponimu berantakan," Balok Es merapikan poniku dengan tangan kirinya. "Saya ingin punya anak kembar perempuan yang imut sepertimu," ucap Balok Es lagi.


"Uhuk! Uhuk! Huk!" aku kembali tersendak. Kali ini tersendak bongkahan es batu dari jus alpukatku.


Pak, Bapak ngode atau mau ngejalanin rencana, sih? 😣 Daritadi kok bahas anak terus.


"Kok, kamu tersendak lagi?" Balok Es menepuk-nepuk punggungku. "Tenang, saya tahu. Kamu juga ingin punya banyak anak. Kamu ingin punya lebih dari 10 anak kan?" ucap Balok Es.


"Uhuk! Uhuk! Huk!" aku tersendak semakin parah.


Banyak banget, Pak. Sepuluh anak itu banyak banget. Pak, Bapak beneran mau buat keluarga besar, ya? Aku mulai membayangkan jika ucapan Balok Es benar-benar serius.


"Kamu beneran mau, ya? Wah, kalo gitu besok kita harus kerja keras untuk mewujudkannya," Balok Es melirikku, dia masih menepuk-nepuk punggungku. "Kita berdua harus kerja keras siang dan malam untuk mewujudkannya," bisik Balok Es lagi.


"Uhuk! Uhuk! Huk!" aku justru tersendak semakin parah mendengar ucapan Balok Es.


Pak, maksud Bapak kerja keras yang seperti apa, sih? 😣 Balok Es, ucapanmu membuat pikiranku terang melayang kemana-mana, tahu! 😭


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2