Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 65 - Salah


__ADS_3

"Ba...pak...." panggilku sambil menangis.


Aku terus memegangi tangan kiri Balok Es. Dia belum sadarkan diri. Tangan kirinya diinfus. Matanya masih terpejam.


"Bangun! Bangun!" aku hanya menangis.


Balok Es jadi seperti ini karena aku. Pakaian Balok Es sudah berganti menjadi setelan pakaian warna biru muda. Itu adalah pakaian pasien untuk rumah sakit ini. Aku dan Stevia membawa Balok Es ke rumah sakit.


"Dokter!" panggilku. Dokter itu nampaknya sudah selesai memeriksa Si Balok Es. "Bagaimana keadaan suami saya?" tanyaku sambil terus menangis.


"Jangan khawatir, Nona," ucap Dokter pria itu. "Suami Anda hanya pingsan. Dia jadi seperti ini karena dehidrasi, kelelahan dan kelihatannya beliau juga punya riwayat penyakit mag. Saya sudah memeriksanya. Kami sudah memberikan obat lewat jarum infus. Anda tak perlu khawatir, Nona. Saya permisi dulu. Jika ada apa-apa panggil saya kembali," Dokter bersama seorang perawat meninggalkan ruangan ini.


"Udah, Ya. Jangan menangis," Stevia menghapus air mataku dengan tisu. "Kamu dengarkan tadi? Suami kamu cuma pingsan aja. Nggak ada sakit yang serius kok."


"Tapi, aku tetap merasa bersalah, Stev. Dia begini gara-gara aku!" aku masih menangis sambil memegangi tangan Si Balok Es.


"Ehm...." terdengar suara. "Dimana ini?" terdengar suara lagi.


Mataku menatap ke arah Balok Es. Tangan kirinya nampak mulai bergerak. Mata Balok Es nampak terbuka.


"Bapak!" panggilku. "Bapak udah sadar?" aku langsung memeluknya. "Maafkan saya, Pak. Saya salah! Maafkan Qia! Bapak jadi begini karena Qia!" ucapku sambil menangis.


"Aku panggil dokter dulu, ya," terdengar suara Stevani.


"Jangan menangis!" Balok Es melepas pelukanku. Tangan kirinya memegang pipiku. Tangan itu kembali kupegang dengan tangan kiriku.


"Bapak, benar-benar menunggu Qia? Kenapa Bapak nggak pulang? Bapak jadi begini karena Qia!"


"Jangan menangis! Saya sudah membuat kepercayaanmu hilang satu kali. Jika menunggumu bisa membuat kepercayaan itu kembali, maka akan saya lakukan. Saya benar-benar menyayangimu...." Balok Es mengusap air mataku.


Pak, Bapak melakukan ini karena beneran sayang sama Qia? Pak, berarti Qia kejam, ya. Qia udah salah berulang kali tapi Bapak nggak pernah menghukum Qia. Tapi, Qia malah buat Bapak jadi begini.


"Qia kejam, Pak. Maafkan Qia. Qia udah buat Bapak jadi begini...." aku menangis karena rasa bersalahku.


"Jangan menangis, Yaya," ucap Balok Es. "Saya baik-baik saja. Jika kamu terus menangis, saya justru merasa sakit."


"Bapak kenapa nggak makan?" kutatap Balok Es. "Kata Dokter tadi, sakit mag Bapak kambuh...."


"Saya memang sengaja tak pergi makan. Saya benar-benar ingin kamu melihat kesungguhan saya menunggumu. Saya ingin membuktikan bahwa saya benar-benar menyayangimu, Yaya. Jika dengan menunggu kamu bisa memaafkan saya, maka saya benar-benar akan menunggumu."


"Bapak!" aku memeluk Balok Es lagi.


Pak, Bapak benar-benar menyayangi Qia, ya. Maaf, sudah meragukan Bapak. Aku memeluk Balok Es untuk waktu yang lama. Tubuhku bahkan sampai naik ke atas ranjang di sebelah kiri Balok Es.


Tangan kiri Balok Es mengelus-elus rambutku. Dahiku sesekali dikecup olehnya. Pak, kalo Bapak hangat dan lembut kayak gini Qia jadi percaya kalo Bapak sayang sama saya.


Tapi...tunggu! Sedang apa Balok Es bersama dengan Bu Vanya di foto yang dikirim Stevia? Aku meregangkan pelukanku. Tatapanku tajam ke arah Balok Es.


"Ada apa?" tanya Balok Es. "Saya hanya manusia biasa, tak bisa membaca pikiranmu, Yaya," tangan kirinya merapikan poniku.


"Ada yang belum selesai, Pak. Qia belum memaafkan Bapak sepenuhnya kalo...." ucapku sambil bangun. Kedua tanganku menyilang di dada.


"Iya, besok kencannya saya ganti. Kamu mau kencan berapa hari? Dimana? Saya akan meluangkan waktu untukmu. Jika perlu dari pagi hingga malam. Bahkan kamu boleh mengikat saya dengan tali jika perlu," Balok Es menatapku lagi.


"Bukan itu!" sahutku. "Bapak kemarin ngapain? Katanya ini kesalahpahaman," kurasa mukaku cemberut sekarang.


"Iya, maaf. Saya kemarin lupa pada janji saya. Kemarin itu saya tak menyangka jika akan sangat sibuk. Setengah hari di kantor mengurus perusahaan. Setengah hari di kampus mengurus akreditasi program studi. Pikiran saya penuh hingga saya lupa tentang janji padamu. Saya mengaku salah, Yaya," Balok Es menyentuh bibirku. Dia meregangkan bibirku dengan jari telunjuk dan jari jempolnya. "Kamu bisa kan sekarang tersenyum? Jangan cemberut lagi."


"Katanya sibuk, tapi kok bisa nongkrong di kafe sama Bu Vanya? Setidaknya hubungi Qia lah, Pak. Biar Qia tahu kejelasannya! Qia udah berjuang dari siang tahu! Qia ke salon buat perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Qia juga udah dandan berjam-jam. Tapi malah dikecewain!" kuungkapkan isi hatiku.


"Saya minta maaf, Yaya. Setelah saya sembuh, sungguh, saya akan mengajakmu kencan. Kamu boleh menyita HP dan mengikat saya dengan tali jika perlu," Balok Es memegang bahuku lalu menariknya ke pelukannya. "Bagi saya, kamu sudah cantik. Yaya yang paling cantik biarpun tak pergi ke salon," Balok Es mencium dahiku.

__ADS_1


Pak, Bapak gombal emang buat memuji Qia atau cuma buat mengalihkan pembicaraan sih? 😐


"Bapak belum jelasin yang tadi!" sahutku. "Bapak ngapain sama Bu Vanya? Bapak kena goda Bu Vanya, ya?" ucapku ketus. Mukaku cemberut, aku duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menyilang di dada lagi.


"Saya ada proyek penelitian dengan Vanya. Kami dapat dana hibah dari suatu lembaga. Penelitiannya sudah selesai tapi laporannya belum selesai dibuat. Waktu itu malam terakhir untuk mengumpulkan dan upload laporan pelaksanan penelitian itu. Maaf, saya lupa mengabarimu. Pikiran saya benar-benar pusing kemarin," Balok Es membelai rambutku.


"Oh gitu," kucoba mencerna kata-kata Balok Es. "Lain kali, nggak usah ambil proyek sama Bu Vanya lagi."


"Kenapa? Saya tak ada rasa pada Vanya, Yaya. Sungguh!"


"Qia nggak suka! Qia nggak suka Bapak deket sama wanita lain. Qia nggak suka! Nggak suka! Cuma Qia yang boleh deket dan makan semeja sama Bapak!" ucapku.


"Kamu cemburu?" Balok Es menatapku.


"Bukan cemburu tapi murka, Pak! Qia murka dan rasanya ingin mengamuk. Karena Bapak nggak muncul Qia cuma bisa melampiaskan kemarahan dengan kabur dan menangis!" aku berkata jujur.


"Saya mengaku salah. Jika kamu ingin menghukum saya lagi. Saya akan menerimanya," Balok Es tertunduk. Aku memeluk Balok Es kembali.


"Qia juga minta maaf udah asal bicara. Qia nggak bermaksud untuk membuat Bapak jadi begini...." ucapku lirih.


"Ya sudah, kita lupakan hal ini. Kamu nanti mau ikut pulang ke rumah? Apa mau menginap lebih lama?" Balok Es menatapku dengan lembut. "Saya tak masalah jika kamu ingin menginap di rumah sepupumu lagi."


"Qia ikut Bapak pulang. Qia bakal merawat Bapak sampai pulih sebagai kompensasi karena kesalahan Qia," ucapku lirih. Tangan kiri Balok Es mengusap-usap rambutku.


"Saya juga akan mengajakmu pergi sebagai ganti janji yang batal itu...."


"Ayo, Pak! Kita pergi ke Eropa! Saya ingin main salju!" sahutku antusias.


"Jauh sekali, kita hanya akan pergi kencan bukan honeymoon."


"Nggak papa, Pak. Qia pengin kencan di tempat yang ada saljunya." kutatap Balok Es.


"Permisi!" terdengar suara dari pintu. Nampak Stevia di pintu itu. "Ehm, dokter sama perawat sudah kupanggil, Ya, " ia kurasa memberi kode padaku.


"Bagaimana keadaan saya, Dok?" tanya Balok Es.


"Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Anda hanya perlu istirahat selama beberapa hari dan menjaga pola makan saja. Hari ini sudah boleh pulang. Saya akan memberikan obat untuk memulihkan kondisi Anda, Tuan. Tolong benar-benar jaga pola makan Anda," ucap Dokter itu.


"Baik, Dokter," sahut Balok Es.


"Saya akan menulis resep dan langsung saya serahkan ke apotik. Nanti obatnya bisa diambil di bagian apotik rumah sakit ini," Dokter itu nampak menulis resep. "Saya mohon undur diri, Tuan , Nona," Dokter itu pergi bersama perawat itu.


"Syukurlah, Ya. Suami loe udah boleh pulang hari ini," ucap Stevia. "Nanti gue antar ke rumah kalian, ya."


"Tak perlu, terima kasih atas tawaranmu, Nona Stevia," sahut Balok Es. "Sopir saya akan menjemput nanti."


"Pak, Stevia kan mau sekalian main ke rumah," aku memberanikan diri berbicara.


"Saya ingin menghabiskan waktu bersamamu, Qia...di dalam kamar...." ucap Balok Es.


Pak, Bapak bisa nggak sih bicara dengan tidak menimbulkan makna ganda. Yang mendengar bisa berpikir macam-macam tahu.


Sepupumu bisa main minggu depan," ucap Balok Es tegas. Dia memejamkan matanya lagi.


"Ya udah, Ya. Gue main minggu depan aja deh. Suami loe kayaknya pengen minta jatah tuh, hahaha," celetuk Stevia.


Tuh kan, Pak! 😣 Stevia udah mikir aneh-aneh.


***


"Terlalu keras!" Balok Es menolak suapan bubur nasi itu lagi.

__ADS_1


"Coba yang ini," kusuapkan sesendok bubur dari mangkok bubur nasi yang berbeda lagi.


"Terlalu banyak air!" tolak Balok Es.


Balok Es kembali menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Dia sudah pulang ke rumah. Kukira semuanya akan biasa saja ternyata, dia sangat rewel. Mau makan bubur nasi saja harus pas sesuai seleranya.


"Bapak!" panggilku. "Bapak mau nge-prank Qia, ya? Dari tadi Qia masak bubur nggak ada yang betul!" protesku. "Kenapa nggak suruh koki saja memasaknya?!" ucapku sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


"Uhuk! Uhuk!" Balok Es batuk-batuk.


Ck! Wajahnya sudah tak pucat dan terlihat sehat. Kurasa dia hanya pura-pura batuk saja.


"Saya hanya ingin makan bubur nasi buatan istri saya sendiri. Uhuk! Uhuk! Teganya dirimu menuduh yang tidak-tidak, Yaya. Kamu pasti belum memaafkan saya. Baiklah, saya akan pergi keluar untuk menunggumu lagi di tengah hujan," Balok Es melangkahkan kakinya untuk turun dari ranjang. Pak, Bapak kok sekarang makin sukit didebat sih! 😣


"Iya, iya!" sahutku sambil mencegah Balok Es turun dari ranjang. "Qia akan masak bubur nasi lagi."


"Ehm, sepertinya bulan depan saya bisa berhemat cukup banyak!" ucap Balok Es. "Lumayan, ada potongan pengeluaran rutin bulanan untukmu sebesar lebih dari 25%," celetuk Balok Es lagi. Aku jadi teringat sesuatu.


"Kak Billy!" aku langsung memeluk Balok Es. "Kak Billy, Yaya nggak sengaja salah sebut tadi. Kak Billy, jangan marah, ya," aku tersenyum ke arah Balok Es. Pak, kok ingatan Bapak tajam banget sih.


"Yang benar? Kamu berulang kali salah sebut tuh!" protes Balok Es.


"Yaya, minta maaf, Kak Billy," aku memeluk Balok Es semakin erat dari sebelah kiri.


"Kiss dulu, baru saya maafkan!" Balok Es menunjuk ke arah bibirnya.


"Kiss?" aku tertegun.


"Iya, kiss! Kamu nggak mau? Ya sudah, saya nggak maafin kamu!" Balok Es membuang muka.


"Iya, Kak. Iya, Yaya bakal kasih kiss!" sahutku.


Aku pun mulai melakukan kiss ke bibir Balok Es. Astaga, kok aku tetap aja deg-degan sih? 😣 Bibirku semakin mendekat ke arah bibir Si Balok Es. Gerakanku kepalaku sempat terhenti sebentar. Padahal tinggal beberapa inci lagi bibirku akan menyentuh bibir Balok Es.


Sudahlah, lakukan saja, Qia! Kupejamkan mataku. Akhirnya, hal itu telah kulakukan. Jantungku berdetak semakin kencang.


"Kok cuma sekali? Lakukan lagi!" perintah Balok Es saat kutarik kepalaku menjauh darinya.


"Lakukan setidaknya 20 kali! Kamu sudah salah sebut terus dari kemarin, tahu!" ucap Balok Es.


Balok Es, kenapa sekarang kau jadi agresif sih? 😣


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


________________________________________


Terimakasih sudah membaca karya saya 😍


Maaf, jika update-nya lama, author butuh waktu untuk mematangkan alur cerita dan menulis sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) 😊


Author tidak berani janji untuk update setiap hari dan jam update yang pasti


Author juga tidak berani melakukan update episode jika alur belum matang dan penulisannya masih banyak typo karena itu membuat satu episode butuh waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Author ingin membuat suatu karya yang baik dari segi penulisan dan alur, meski author masih sangat pemula.


__ADS_2