Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 99 - Hanya Aku!


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Billy dan Qia terus melaju. Billy dengan santai berbaring di kursi mobil. Kepalanya menyandar di pangkuan Qia. Matanya terpejam.


Dia mau ngajak aku kemana, sih? Susah juga punya suami yang sukanya main kode-kodean, gumam Qia. Tangannya mulai membelai kepala Billy. Dia manis juga kalo baru tidur kayak gini, gumam Qia. Tangan mungil Qia mulai memijat lembut kepala Billy.


Nyaman juga pijatannya, gumam Billy.


DRET! DRET! DRET! Smartphone di tas selempang Qia bergetar. Dia membuka smartphone itu.


Kenapa pijatannya berhenti? gumam Billy. Matanya masih terpejam.


"Ah! Kakak Sayang!" ucap Qia. Dia akan menjawab panggilan videocall itu.


Hah? Sayang! Siapa yang menghubungi Yaya?! gumam Billy. Matanya refleks terbuka.


"Siapa yang kau panggil sayang?! Hah?!" teriak Billy sambil bangun.


"Eh!" ucap Qia spontan saat Billy merebut smartphone dari tangannya. Billy menatap layar smartphone itu. Nampak panggilan videocall yang terputus dan belum sempat dijawab. Ada nama kontak dengan tulisan 'Kak Chan Sayang'.


Ternyata dari Si Chandra yang menyebalkan itu, gumam Billy.


"Ganti nama kontaknya! Hanya aku yang boleh kau panggil sayang mulai sekarang!" ucap Billy sambil menyerahkan smartphone itu pada Qia.


"Ehm...kenapa? Ini kan...kakakku...ehm...bukan pria lain..., Hubby," ucap Qia lirih.

__ADS_1


"Karena aku satu-satunya yang boleh dipanggil sayang olehmu, Yaya. Ingat itu mulai sekarang!" Billy kembali berbaring di pangkuan Qia. "Pijat kepalaku lagi...." pinta Billy sambil menempelkan kedua telapak tangan Qia di dahinya. Qia pun mulai melakukan pijatan di kepala Billy lagi.


Astaga, kenapa sekarang kau jadi posesif dan pencemburu, sih! gumam Qia.


Mobil itu kembali melaju. Qia terus memijat kepala Billy sambil menatap ke arah jendela mobil. Matanya memandang pemandangan di luar. Mobil itu sudah memasuki kompleks bandara. Terdapat tulisan 'Bandara XXX'. Mobil itu masuk ke kawasan bandara itu dan berhenti di tempat parkir yang tersedia.


"Sudah sampai, Tuan, Nona," ucap Pak Sopir.


Bandara? Apakah mau menjemput seseorang? gumam Qia.


"Ehm...." sahut Billy sambil beranjak bangun. Dia membuka pintu mobil. "Ayo, Yaya!" ucapnya sambil menggandeng tangan Qia.


"Hubby, apakah kita akan menjemput seseorang?" tanya Qia sambil berjalan masuk ke dalam bandara.


Ini sudah mau memasuki area landasan pacu. Apa yang mau dilakukan di area ini? Jika mau menjemput kan seharusnya tidak masuk ke sini, gumam Qia. Dia terus saja mengikuti langkah Billy.


"Pesawat sudah siap, Tuan," ucap seseorang.


"Ehm...terima kasih, June," sahut Billy.


"Pesawat?!" ucap Qia spontan. "Kita mau naik pesawat?" tanya Qia. Billy tak menjawab, dia terus melangkah ke arah depan sambil menggandeng erat tangan Qia. "WOW! Apa ini pesawat jet pribadi?" ucap Qia.


Nampak sebuah pesawat berukuran sedang. Pesawat itu berwarna putih. Ada dua buah mesin jet di bagian belakang pesawat itu. Pintu pesawat itu sudah terbuka. Pintu itu menjulang ke arah bawah dan berubah menjadi tangga untuk naik ke atas pesawat itu. Nampak dua orang wanita berpakaian rapi dengan seragam warna hitam.

__ADS_1


"Selamat datang Tuan Rexford," ucap kedua wanita itu.


"Ehm...." sahut Billy singkat. Dia menggandeng Qia menaiki tangga pesawat itu. Qia hanya diam saja. Matanya sibuk mengagumi pesawat itu.


Jadi, ini yang namanya pesawat jet pribadi? Lebih bagus daripada yang pernah kulihat di sosial media, gumam Qia.


Saat memasuki pesawat itu nampak kabin yang didominasi warna putih pada bagian atas. Lantainya dilapisi karpet warna krem. Ada sekitar 12 kursi di dalam pesawat itu. Kursi-kursi itu berwarna putih tulang. Jendela berbentuk kotak nampak menampilkan pemandangan di luar pesawat.


Aku suka duduk di kursi yang dekat jendela, gumam Qia. Dia langsung menempatkan diri di salah satu kursi yang dekat dengan jendela. Billy duduk di kursi sebelahnya. Pesawat itu mulai terasa bergerak. Mata Qia seakan tak berkedip memandang ke arah jendela.


Aku sudah pernah naik pesawat, tapi pesawat komersial yang besar. Bukan pesawat jet pribadi seperti ini. Bagaimana ya rasanya naik pesawat ini? Oh ya, by the way, aku mau diajak kemana, ya? gumam Qia.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2