
(Author's Point of View)
Pak Billy, mau bagaimana Bapak mengatasi hal ini? Sekarang semua orang sudah tahu jika Bapak yang merebut Qia dari saya, Pak, gumam Naren.
Narendra, kamu mau masih berani mengusik hubunganku dan Yaya rupanya, gumam Billy. Dia menatap ke arah Naren semakin tajam. Aku takkan tinggal diam, gumam Billy.
"Ehm..." MC yang berada di dekat panggung itu nampak tertegun.
Astaga, gue nggak nyangka kalo mahasiswa ini bakalan nyanyi kayak gini. Duh, bikin suasana jadi kacau aja, deh. Duh, gue harus gimana,nih? Bisa dimarahin boss nanti, gumam MC itu.
"Wah, ternyata suara Kak Narendra bagus," ucap MC itu. "Ehm...mari kita berikan tepuk tangan. Terima kasih Kak Narendra sudah menyanyikan sebuah lagu," ucap MC itu, dia berusaha membuat Naren untuk turun dari atas panggung. Padahal tepuk tangan belum terdengar. Naren pun turun dari panggung itu.
Sana pergi! Loe bikin pekerjaan gue jadi terancam, tahu, gumam MC itu.
"Baiklah, nampaknya para hadirin masih ingin mendengarkan lagu lagi. Adakah yang ingin menyumbangkan suara emasnya lagi?" ucap MC itu. "Band XXX selalu siap mengiringi, tinggal request saja!"
Ayo dong, ada yang nyanyi gitu! Masak suasananya jadi krik-krik gini, gumam MC itu.
"Saya ingin memberi hadiah untuk Qia!" terdengar suara dari arah pelaminan. Mata para tamu undangan mengarah ke arah pelaminan. "Saya ingin memberikannya di atas panggung!" ucap Billy lagi. "Ayo, Yaya!" bisik Billy sambil menarik tangan Qia menuju ke atas panggung.
Kak Billy, kamu mau ngapain, sih? Memangnya kamu bisa main musik? gumam Qia.
Dirinya hanya pasrah saat Billy menariknya berjalan ke atas panggung. Mata semua tamu undangan mengarah ke arah keduanya. Billy nampak berbincang dengan para pemain band, sementara Qia berdiri mematung di atas panggung.
Pak Billy, memangnya kamu bisa nyanyi? Huh, jangan mempermalukan dirimu sendiri, Pak, gumam Naren. Dia mengamati dari kejauhan.
Kak Billy, kamu mau ngapain, sih? Kok lama banget! Aku dag dig dug, tahu! gumam Qia. Huh, akhirnya kamu kembali juga, gumam Qia.
Billy nampak berdiri di samping Qia di atas panggung. Tangan kirinya memegang microphone. Tangan kanan Billy mengandeng tangan Qia.
"Terima kasih untuk untuk Narendra," ucap Billy.
__ADS_1
WHAT?! Terima kasih untuk Naren? Apa aku tak salah dengar? gumam Qia.
"Terima kasih sudah memberikan kado spesial berupa lagu tersebut. Saya adalah dosen yang pernah mengampu mata kuliah yang dihadiri oleh Narendra dan Qia. Saya menyaksikan sendiri pertemanan mereka dekat seperti kakak dan adik. Jadi, mungkin Narendra menyatakan rasa kehilangannya karena takut Qia tak lagi menganggapnya sebagai kakak setelah menikah dengan saya. Kasih sayang Narendra terasa seperti seorang kakak. Qia di hati Narendra pasti abadi seperti intan. Karena bagi Narendra, istri saya, Yaya ehm maksudku Qia. Maaf, Yaya itu panggilan sayang dariku untuk Qia. Karena bagi Narendra, istri saya seperti seorang adik sehingga Narendra pasti selalu ingin melindungi Yaya seperti seorang kakak. Jangan khawatir, Narendra. Saya pasti akan melindungi Yaya dari berbagai ancaman," ucap Billy sambil menatap ke arah Naren.
Kak Billy, kok kamu bilang gitu, sih? Kan kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Naren, gumam Qia.
"Narendra," panggil Billy. Mata semua tamu undangan tertuju pada Naren.
Kok jadi begini,sih? Duh, gue harus gimana, nih? gumam Naren.
"Jangan khawatir, Qia tetap bisa menjadi adikmu. Kamu pasti sangat menyayangi Qia, seperti seorang kakak yang menyayangi seorang adik, iya kan, Narendra?" tanya Billy. Dia menatap Narendra dengan tajam.
"Tidak benar! Itu tidak benar!" teriak Naren.
Pak Billy, saya nggak akan kalah sama Bapak, gumam Naren.
"Qia sebenarnya adalah...." ucap Naren.
"VITA!" teriak Naren tak percaya.
Bagaimana dia bisa ada di sini? gumam Naren.
"Ih, kamu jahat!" teriak Vita sambil menggelayut manja di lengan Naren. "Masak kamu datang ke kondangan nggak ngajak aku, tunanganmu!" ucap Vita.
Aku akan selalu menempel padamu, Naren. Takkan kubiarkan kau lepas dariku. Biarkan saja aku terlihat seperti orang yang tak tahu malu. Aku justru akan lebih malu jika kamu lepas dariku setelah kita bertunangan, gumam Vita.
"Wah, sepertinya pacar Narendra ada di sini, ya," ucap Billy.
Aku tak tahu ini keberuntungan atau kebetulan, tapi syukurlah gadis ini ada di sini. Kau jadi tak bisa berulah lagi, Narendra, gumam Billy.
"Saya tunangannya!" teriak Vita.
__ADS_1
"Wah, tunangan Narendra rupanya. Jangan khawatir, saya dan Yaya pasti akan datang ke pernikahanmu. Kamu kan sahabat yang sudah dianggap Yaya seperti seorang kakak," ucap Billy. Matanya mencuri pandang ke arah Qia.
Yaya, akan kutunjukkan jika aku lebih baik daripada Narendra. Narendra itu tak pantas untuk dibandingkan denganku, gumam Billy.
Naren, jadi kamu nyanyi lagu itu cuma buat mainin perasaanku lagi, ya? Kau memang jahat! gumam Qia.
"Sekarang," ucap Billy lirih. Dia memberi aba-aba kepada pemain band itu.
Yaya, aku akan menunjukkan perasaanku lewat lagu ini. Lewat lagu ciptaanku yang berjudul Janji Untuk Yaya, gumam Billy.
Suara alunan musik mulai terdengar. Suara piano yang pelan nan merdu membuat syahdu suasana resepsi itu dalam sekejap. Suara merdu nan lembut keluar dari mulut Billy. Nyanyiannya membuat siapa pun yang mendengar akan merasa larut dan terbuai dalam suasana syahdu nan menggembirakan.
"Kak Billy!" ucap Qia. Dia langsung menutup mulutnya. Dia tak bisa lagi berkata-kata. Billy menyanyikan lagu itu sambil menggenggam erat tangan kanan Qia. Keduanya saling berhadapan dan memandang satu sama lain.
Kak Billy, kamu so sweet banget sih, gumam Qia. Aku jadi baper! Kak Billy, ah! Aku nggak bisa berkata-kata ini so sweet banget! Aku daridulu pengen banget dinyanyiin lagu ini waktu menikah! Kamu seolah membujukku biar menerimamu jadi suamiku. Ih, kalo sekarang sih aku bakal berkata iya tanpa ragu. Kak Billy, jika kamu secara tak langsung berkata berjanji untuk menjadikanku pasangan yang pertama dan terakhir bagimu dan dalam hidupmu lewat lagu ini maka aku pun akan berusaha. Ehm...lebih tepatnya berusaha lebih keras lagi untuk tidak plin plan dan menjadi istri yang baik untukmu. Brilliant Rexford Hutama, mungkin kamu memang yang terbaik untukku, gumam Qia sambil menatap Billy. Kak Billy, aku sebenarnya baper banget, tahu! Rasanya kayak nge-fly di udara, tapi juga malu karena semua orang ngeliatin kita, gumam Qia.
Billy mencium dahi Qia tepat saat lagu itu berakhir.
Ah! Ini so sweet banget! Rasanya aku pengen melompat-lompat, tahu, gumam Qia.
Yaya, ini bukan hanya sekedar lagu tapi juga mewakili perasaanku padamu, gumam Billy.
Huh, kali ini aku mengalah. Tapi, tunggu saja. Aku takkan melepaskanmu, Qia. Kau hanya pantas berada di sampingku, gumam Naren.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍