
Pangeran Berkuda Besi, itulah julukanku untuknya. Aku mengaguminya semenjak masa putih abu-abu. Kami bisa kenal dan dekat karena kebetulan dulu satu sekolah dan satu bimbingan belajar saat menghadapi Ujian Nasional (UN) dan tes seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Tapi, entahlah mungkin takdir yang bermain. Aku akhirnya kuliah di perguruan tinggi swasta dan coba tebak, ya Pangeran Berkuda Besi itu juga masuk kemari. Dia pernah menyatakan perasaannya padaku ketika kelas XII. Aku tentu belum menerimanya begitu saja. Kelas XII itu waktu yang penting bagiku, idealisme mudaku mengatakan bahwa pacaran hanya akan merusak prestasiku. Jadi, aku belum menerimanya.
Tapi ternyata Narendra Varrel Wijaya, Si Pangeran Berkuda Besi adalah orang yang gigih. Dia terus saja berusaha mendekatiku sebagai seorang teman dan menemani ketika aku kesulitan belajar. Ya, bisa dibilang dia jauh lebih pintar dariku. Karena aku sudah merasa nyaman dan tak ingin dia hilang akhirnya kuterima perasaannya tepat seminggu sebelum UN.
Jujur saja, dia terus memotivasiku saat itu. Aku jadi lebih giat untuk belajar, ya kebetulan kami ada di jurusan yang sama yaitu IPS. Nilai UN-ku tetap saja pas-pasan tapi setidaknya tidak ada nilai yang kurang dari 8. Pangeran Berkuda Besi, begitu aku menjulukinya di hatiku.
Aku tak bisa memungkiri jika jiwa matrealistik dalam diriku sebagai wanita juga sudah ada. Ya, aku menyukainya selain karena wajahnya yang lumayan tampan tapi juga karena tunggangannya berupa kuda besi atau motor yang keren. Dia selalu berganti-ganti motor dan motornya pasti selalu motor sport mahal yang mungkin sekitar 250 cc. Aku jadi seperti merasa seperti seorang putri yang dijemput oleh pangeran berkuda di jaman modern.
Tapi, kisah dongengku dan Pangeran Berkuda Besiku menjadi berantakan sejak hadirnya Si Balok Es dalam hidupku. Dari milyaran wanita di dunia mengapa harus aku yang menjalani kehidupan bak film seperti ini? Jika ditanya lebih tampan siapa, tentu saja lebih tampan Narenlah. Dia memiliki paras yang rupawan, kuning langsat hidungnya mancung dan senyumnya yang berlesung pipi sungguh mempesona. Dia juga lebih hangat daripada Si Balok Es. Dia lemah lembut, suka mengucap kata-kata mesra, sabar dan penyayang. Satu hal yang tak kusukai sifatnya yang terkadang tak peka dan hobinya main game. Sering rasanya ingin kubanting smartphone-nya itu, aku sering diabaikan karena game. Sering terpikirkan olehku mengapa tidak berpacaran saja dengan game sekalian? Tapi, sekarang aku bimbang, bagaimana akhir kisah dongengku dengan Pangeran Berkuda Besi ini! Kapan aku bisa lepas dari Si Balok Es? Bagaimana aku harus terus menghadapi Naren setiap hari! Seperti saat ini, saat aku tengah pergi bersama Balok Es.
"Usir saja dia!" teriak Balok Es meninggi membuyarkan lamunanku. Tak bisakah dia memelankan suaranya pada saat seperti ini?
"PAK!!!" teriakku tak mau kalah. "Tapi, Naren sudah ada di depan rumah!"
"Salahmu juga, mengapa harus memasang aplikasi pelacak smartphone di HP lamamu!" Balok Es justru menyalahkanku. "Saya tetap akan mengusirnya!"
"Jangan, Pak!"mungkin ini gila, tapi aku berjongkok memohon di kaki Si Balok Es. "Jangan usir, Naren kasihan dia."
"Kamu hanya memikirkannya? Apa kamu tidak memikirkan saya sedikit pun?" mata elang Balok Es nampak murka. "Jika dia sampai masuk ke rumah dan menemuimu, bagaimana saya harus menjelaskannya pada keluarga saya? HAH?! Kamu mau saya dalam masalah?"
"Saya menawarkan sebuah kompromi!" ucapku. Mungkin ini gila, aku harus berkompromi dengan Balok Es. Ini bisa saja jadi senjata makan tuan bagiku.
"Kompromi apa? Saya tetap takkan membiarkan Naren masuk ke rumah!"
"Saya bisa menemuinya di tempat lain, Bapak tinggal bilang saja pada penjaga rumah bahwa Qiandra yang dimaksud itu salah. Bilang saja namanya kebetulan sama dan penjaga baru ingat sekarang," kupandangi mata elang Si Balok Es.
"Apa untungnya bagi saya? Apa keuntungan yang kamu tawarkan, Tikus Kecil?" ia menatapku semakin dalam. Mungkin ini kompromi tergila yang pernah kubuat.
"Bapak bisa menyuruh saya melakukan apa pun selama 1 hari terserah kapan wakunya! Saya takkan protes atau berusaha menjahili Bapak!"
"Baiklah, aku sudah merekam ucapanmu, Tikus Kecil!" ia memegang daguku. "Kau bisa menemui pangeranmu, tapi di tempat yang sudah kutentukan! Aku ada janji dengan seseorang, Tikus Kecil!
"Ya, Pak! Iya!" aku segera menggangguk-angguk.
"June," panggil Si Balok Es. "Perintahkan penjaga rumah untuk mengusir orang bernama Naren dengan halus. Katakan saja orang yang bernama Qiandra yang dimaksud tak tinggal di sana, kebetulan namanya sama. Katakan padanya jika dia salah alamat dan penjaga rumah baru menyadarinya sekarang," perintah Si Balok Es.
"Baik, Tuan."
"Katakan pada Naren untuk menemuimu di Cafe XXX, kau bisa men-share loc alamatnya dari aplikasi GPS!" segera kucari Cafe yang dimaksud Si Balok Es. DRET!!! DRET!!! DRET!!! Terdengar telepon dari Naren.
"Beb, ternyata salah alamat. Kurasa aplikasinya rusak, deh. Kamu dimana sekarang? Share loc alamat rumah saudaramu aja."
"Ehm....aku ini baru perjalanan pulang dari pergi, Beb!" kukeraskan kata-kata 'Beb'. "Maaf, tadi tak mengabarimu tadi kamu jadi menunggu lama di sana," apalagi yang harus kukatakan. "Ehm....temui saja aku di Cafe XXX. Kebetulan lokasinya dekat dengan lokasiku sekarang, Beb. Gimana?" kumohon Naren setujulah.
"Oke, Beb. Pangeran akan memenuhi permintaan Tuan Putri," telepon ditutup.
__ADS_1
Segera aku mengirim denah lokasi ke Naren.
Mobil berhenti di Cafe XXX. Cafe ini seperti cafe biasanya, nuansanya serba putih dengan tanaman hijau menghiasi bagian dalam. Keadaan dalam cafe terlihat dari luar jendela kaca yang besar itu. Dinding, kursi dan meja cafe ini berwarna putih. Cafe ini cukup ramai saat ini. Aku mengenali motor merah dengan stiker cakar harimau warna emas pada bagian tangki bensin depan. Naren sudah datang, aku segera keluar dari dalam mobil.
"Kau turunlah duluan!" perintah Balok Es. Aku hanya menurut saja. Dari luar nampak Naren duduk di kursi paling belakang pojokan. Cafe ini memiliki susunan kursi yang berderet-deret, satu meja berpasangan dengan dua buah kursi.
"Naren!" panggilku senang.
"Tuan Putriku!" ia membalas panggilanku dengan pelukan hangat. "Rambut kamu kenapa?" ia menatapku dalam.
"Ehm....ini aku baru saja jadi model part-time buat produk perawatan rambut, hehehe," kupluk hitam itu kurapikan agar cat rambut aneh ini tak terlihat jelas.
"Oh, ehm...apa pun warna cat rambutmu bagiku kamu tetap Tuan Putri yang cantik," pipiku memerah mendengarnya. "Ini cafe baru, ya? Kamu mau pesan apa? Aku sudah pesan dua buah milkshake coklat. Kamu mau tambah pesanan lagi?" Naren merapikan poniku.
"Ehm," saat aku sedang berpikir, terasa aura dingin mengerikan yang familir tepat di belakang Naren. "Astaga!" ucapku spontan.
"Ada apa?" Naren menatap ke belakang. "Eh, Pak T-Rex!" Naren terkejut. Tepat di belakang Naren, selisih satu deret kursi ada Si Balok Es. Kurasa dia sudah ganti kostum. Kacamata tebal sudah kembali bertengger di mata elangnya. Kemeja kuning dan celana coklat mengembalikan penampilan jadulnya yang biasa.
"Ini pesanannya, Mbak, Mas," pelayan mengantarkan pesanan kami. Naren langsung meminum milkshake cokelat itu. Aku pun mengikutinya.
"Beb, milkshake-nya enak!" ia menyentuh bibirku. "Kamu minum suka nggak pakai sedotan, Beb. Jadi berantakan kan mulutmu!" Naren membersihkan sisa minuman di mulutku. Si Balok Es terlihat menatapku tajam. Sudahlah, tak usah memikirkannya.
"Kamu udah lama nunggunya, Billy?" terdengar suara seorang wanita. Ia memakai setelan blus warna putih dan celana jeans warna hitam. "Maaf, ya, aku terlambat!" wanita itu duduk berhadapan dengan Si Balok Es. Wanita itu ternyata adalah Bu Vanya.
"Apa yang terkenal enak di sini?"
"Milkshake coklat, kurasa enak, Yaya," ia menyentuh poni Bu Vanya. "Rambutmu berantakan!" Balok Es itu dengan lembut merapikannya.
"Ya sudah, Billy. Pesan itu saja," tak lama kemudian pesanan Si Balok Es tiba.
"Billy, hari sudah malam. Kita mulai saja ya pembahasan projek penelitian kita," Bu Vanya mengeluarkan laptopnya dan menyalakannya.
"Tak perlu buru-buru, Yaya. Aku punya banyak waktu untukmu," ucapnya lalu menyedot milkshake coklat itu. HUH!!! Bapak benar-benar mau pamer lagi ya?!
"Naren, mana hadiahku? Kau bilang punya hadiah untuk Tuan Putri ini?"
"Ini hadiah untukmu!" Naren menyerahkan sebuah kotak kado berwarna ungu lavender. "Coba bukalah!"
"Wah, ada tikus!" teriakku sangat kencang.
"Mana tikusnya?!" terdengar teriakan suara Si Balok Es dari arah belakang diikuti suara benda jatuh.
"Billy, kamu kenapa?" Bu Vanya panik. Aku menahan tawaku, trik ini masih saja mempan. Balok Es nampak merasa bersalah. Kepanikannya terhadap tikus membuatnya tak sengaja menumpahkan dua gelas milkshake itu. Ditambah lagi seluruh mata di cafe tertuju padanya.
"Pak T-Rex kenapa, sih?!" Naren nampak bingung.
__ADS_1
"Narren, boneka tikusnya lucu!" kukeluarkan hadiah dari Naren. Sebuah boneka hamster berwarna oranye tapi tetap saja kan itu sejenis tikus.
"Ini hamster, Qia! Bukan tikus!"
"Maaf, Yaya. Aku tadi tak sengaja, ayo kita pindah meja. Kupesankan lagi makanan dan minuman," Balok Es membantu membawakan laptop Bu Vanya. Sial, keduanya pindah tepat di belakang tempat duduk kami.
"Beb!" panggil Naren. "Kamu pindah ke rumah saudaramu? Dimana?" tanya Naren penasaran.
"Ehm, nggak kok. Aku cuma sering main aja ke rumah saudaraku sekarang. Maklum ada keluargaku yang baru sakit."
"Oh, yang dirawat waktu kita ketemu di rumah sakit itu?" Naren menatapku. Ucapannya membuatku teringat hari menyedihkan itu.
"Ehm...i...ya, oh ya kamu masih part-time di sana?"
"Udah, nggak kok. Aku sekarang lagi sibuk melatih skill-ku di game online. Siapa tahu bisa menang terus dan sampai ke tingkat internasional. Oh ya, udah malem kamu tadi ke sini diantar saudaramu, ya? Dia dimana sekarang?" Naren melihat ke segala arah. Pengantar itu tepat dibelakangmu, Ren.
"Dia ada urusan, ayo jika kau mau mengantarku pulang!" sahutku. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk pulang ke rumahku. DRET!!! DRET!!! DRET!!! Smartphone-ku berbunyi, ada pesan yang masuk. Ternyata dari Si Balok Es. Isi pesannya : KAMU HARUS PULANG KE RUMAH SAYA!!! TUNGGU SAYA ATAU JANGAN HARAP HARI-HARIMU BEBAS DARI KECOA!!! Astaga, dia mengancamku dengan makhluk yang paling kubenci.
"Cie, ada yang smartphone-nya ganti! Pantas saja tadi aplikasinya salah alamat. Ternyata HP-mu yang lama udah kamu jualn ya? Lainkali sebelum dijual kosongkan dulu segala aplikasinya, Beb. "
"Ehm...i...ya...." jawabku asal. "Beb, maaf aku pulangnya nggak bisa bareng kamu....ehm...aku masih ada urusan keluarga. Nanti papa jemput aku, kok."
"Aku temani sampai kamu dijemput ya!" Naren tersenyum. DRET!!! DRET!!! DRET!!! Terlihat pesan ada pesan baru dari Si Balok Es. Bunyinya : SURUH PANGERANMU PULANG SEKARANG ATAU SAYA LEPASKAN KECOA DI SINI!!! Astaga dia mengancam lagi.
"Nggak usah, Ren. Kamu pasti capek. Aku nggak papa kok nunggu sendirian."
"Kamu yakin?" tanya Naren, aku menggangguk-angguk. "Ya udah, aku pulang dulu, Tuan Putri," Naren mengecup dahiku lembut. Balok Es nampak menatapku dengan tatapan membunuh. HUH!!! Lihat ini, Pak!
"Makasih hadiahnya!" kubalas kecupan Naren dengan menciumnya di bagian pipi kanan. "Hati-hati, Pangeran Berkuda Besi Sayang!"
"Sampai jumpa besok, Tuan Putriku," Naren berlalu pergi.
"Vanya, sudah malam. Ayo, kamu saya antar pulang!" ucap Si Balok Es tiba-tiba. Ia membantu mengemasi laptop Bu Vanya. Keduanya lalu keluar dari cafe. Tunggu, jika Balok Es mengantar Bu Vanya, bagaimana aku pulang?
Aku segera keluar dari cafe. Astaga, dia benar-benar meninggalkanku. Tak ada mobil yang kukenali, Balok Es itu benar-benar meninggalkanku. Bahkan mobil para penjaganya juga tak ada. Hiks, sialnya lagi aku hanya membawa smartphone dan tas yang dia berikan. Teganya kau Balok Es! Lebih baik aku pulang ke rumahku dengan berjalan kaki! Balok Es tunggu pembalasanku!
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1