
"Rencana?" aku tertegun. "Rencananya seperti apa?" tanyaku penasaran.
"Kamu akan tahu nanti. Sudah ikuti saja arahan saya nanti," sahut Balok Es. Dia membuka mulutnya lagi. Kurasa itu tanda agar aku menyuapinya lagi.
"Jadi, saya harus ngapain aja nanti, Pak ehm, maksudku Kak Billy?" aku tersenyum ke arah Si Balok Es.
"Berangkat dan kuliah seperti biasa saja. Saat kuliah selesai nanti saya beri tahu. Makanya online terus!" perintah Si Balok Es.
"Tapi, Kak Billy. Kak Billy kan pernah bilang jika sudah menikah dan memiliki istri di kampung. Saat Dedek Qia dulu menghadap bersama ehm...Si Penipu itu. Apakah itu tak menimbulkan kecurigaan nanti? Gimana nanti kalo Dedek Qia malah dikira pelakor?" ucapku.
Si Penipu itu adalah Naren. Balok Es pernah bilang jika dia sudah menikah dan memiliki istri di kampung ketika aku menghadapnya dulu untuk mengurus kunjungan ilmiah. Aku tak mau disebut pelakor lagi.
"Oh itu, kau tak perlu khawatir. Saya hanya pernah bilang itu padamu dan Naren saja. Teman-teman kerja di kampus entah dosen atau jabatan di atasnya maupun mahasiswa lain hanya tahu jika saya single dan belum menikah. Kau tak perlu khawatir, jika pun Naren mengungkit hal itu lagi siapa yang bakal lebih dipercayai. Ucapannya yang hanya sendiri tentu kalah jika dibandingkan pendapat banyak orang yang belum tahu. Dia kan tak punya bukti apa pun. Lagipula dia pernah membohongimu kan. Pasti teman-temanmu hanya akan memgganggapnya membual saja untuk mendapatkanmu kembali," ucap Balok Es santai.
"Kak Billy, kamu kok pintar, sih!" aku terkejut dengan pemikiran Si Balok Es. Dia bisa melihat masalah dari sudut pandang lain yang tak kuperkirakan.
"Jika saya tak pintar maka saya tak pantas menyandang nama brillian. Sudah, ayo turun!"
Balok Es segera turun dari mobil. Aku juga mengikutinya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Segera kupakai make up dan menyiapkan peralatan kuliahku sesuai jadwal hari ini. Kulangkahkan kakiku turun ke lantai dasar.
__ADS_1
"Saya siap, Kak," ucapku dengan yakin. Entah mengapa aku merasa tak khawatir menghadapi apa pun. Asal ada Balok Es di sampingku.
"Kamu berangkat dengan mobil seperti biasanya. Saya akan pura-pura berangkat dengan ojek online jenis mobil," Balok Es menyerahkan kunci mobil padaku.
Aku pun segera berangkat ke kampus. Rencana yang dibicarakan Si Balok Es masih mendominasi pikiranku. Dia ingin melakukan apaa sih? Tak terasa aku sudah sampai di kampus. Segera kucari ruang kelas sesuai jadwal kuliahku.
"Qia!" panggil seseorang.
Nampak Naren di ujung lorong. Aku tak mempedulikannya, segera kulangkahkan kakiku masuk ke kelas. Kucari tempat duduk yang diapit oleh kursi yang sudah terisi. Untung saja ada di bagian depan dekat dosen dan itu adalah segerombolan teman perempuanku di kelas. Segera saja kutempati kursi itu. Nampak Naren masuk ke dalam kelas, aku cuek padanya.
"Eh, materi nanti sampai mana, ya?" kubuka catatanku di binder sebagai bahan pembicaraan pada teman di kiri dan kananku.
Untung saja aku dan teman sekelasku memiliki hubungan yang cukup baik ya meski tidak terlalu akrab. Ternyata, teman-teman perempuanku di kelas itu asyik-asyik juga bahkan mungkin lebih asyik daripada saat mengobrol dengan Naren. Aku jadi menyesal tak menyempatkan diri bergabung dengan teman-teman perempuanku dari dulu.
Ck! Aku sejak semester awal hanya menghabiskan waktu dengan Naren saja. Aku terlalu bucin sekali ternyata, ya. Bodohnya aku waktu itu. Akhirnya perkuliahan selesai, hari ini hanya ada dua mata kuliah yang berakhir tepat saat jam makan siang. Aku segera keluar dari ruang kuliah dan berusaha untuk tidak bertemu dengan Naren.
DRT! DRT! DRT! Smartphone-ku berbunyi. Ternyata ada pesan dari Si Balok Es. Kubuka pesan chat itu. Pesan itu berbunyi : 'Temui saya di lokasi ini, sekarang. Ini bagian dari rencana itu.'. Pesan yang singkat, padat dan jelas tanpa emoticon atau sticker tapi dikirim dengan share-loc lokasi yang dimaksud. Ehm, lokasi itu tak jauh dari Fakultas Ekonomi. Kurasa jalan kaki saja bisa .
Ternyata lokasi itu adalah sebuah restoran yang baru dibuka. Restoran itu sedang hits di kalangan mahasiswa kampusku. Restoran ini terkenal dengan menu mie gorengnya dengan berbagai level tingkat kepedasan yang dapat dipilih serta menu es buah yang disajikan dengan porsi gelas yang sangat besar. Restoran itu amat ramai. Nampak orang yang kucari.
__ADS_1
Astaga, Si Balok Es duduk di lantai satu restoran. Dia memilih tempat duduk paling luar sehingga nampak bahkan dari seberang jalan. Aku pun segera menyeberang dan menghampirinya.
Astaga, Pak. Jadi, maksud Bapak rencana itu dengan menunjukkan secara terang-terangan hubungan kita sebelum resepsi itu digelar. Aku tak menyangka Balok Es akan seberani ini.
Balok Es nampak memakai hoodie warna hijau army. Kurasa dia ingin terlihat membaur dengan pelanggan lain yang mayoritas mahasiswa. Pak, biarpun Bapak pakai jaket itu tapi tetap saja semuanya tahu kalo Bapak itu dosen. Dia dengan santai meminum jus alpukat di gelas yang cukup besar.
"Kau sudah datang?" sapa Balok Es. "Ayo cepat duduk!" aku pun melakukan perintahnya. "Mau pesan apa? Nanti saya yang bayar, Sayang!" ucap Balok Es sambil menatapku.
Jantungku rasanya mau berhenti berdetak mendengar kata Sayang itu. Pak, Bapak tahu nggak sih kalo daritadi kita dilihatin sama orang-orang 😣.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1