
Aku bagai seekor tikus yang terperangkap. Apa yang harus kulakukan?
Dia masih berdiri seperti balok es yang tinggi menjulang. Tatapannya dingin seperti seekor elang yang melihat buruannya. Mungkin di matanya aku hanya seekor tikus kecil
"Saya...." aku memberanikan diri menjawab. BUG! BUG! BUG! Terdengar langkah kaki menuju ke arah kami.
"BILLY!!! BILLY!!! BILLY!!! GAWAT!!!! GAWAT!!!" seorang perempuan menghampiri balok es itu. "GAWAT BILLY, GAWAT!!!" Ternyata itu adalah Nyonya Belvana. Dia nampak panik hingga berlari keluar hotel. Kakinya bahkan tak memakai sepatu. "Kakek, Billy! Kakekmu!" ia menangis.
"Kakek kenapa, Bunda? Kakek kenapa?" ternyata Balok Es ini bisa juga panik. Ia mencoba menenangkan Nyonya Belvana.
"Kakek kritis, Billy. Kita harus segera ke rumah sakit!" nampak seorang lelaki, kurasa dia Tuan Hutama, ayah Si Balok Es. "Ayo, kita segera ke rumah sakit!" aku hendak pergi diam-diam kembali ke hotel, sampai....
"Ayo, Sayang. Kita juga ikut!" Papa menarik tanganku.
Aku dan keluargaku ikut ke dalam mobil Tuan Hutama. Tuan Hutama ada di deretan kedua bersama istirinya. Si Balok Es ada di depan bersama sopir. Keluargaku ada di deretan ketiga mobil ini. Aku hanya diam saja saat ibu dan ayahku terus mengoceh agar Nyonya Belvana bisa tenang. Setelah perjalanan cukup lama, akhirnya kami tiba di sebuah rumah sakit. Rumah sakit itu terlihat mewah. Dindingnya serba putih, gedungnya bertingkat-tingkat. Setelah menaiki lift akhirnya kami tiba di kamar yang menurutki kamar VIP.
Di kamar itu, terlihat seorang lelaki tua. Dia terbaring lemah di sebuah ranjang putih. Rambutnya sudah memutih dan hampir botak. Tubuhnya kurus kering. Alat bantu pernapasan dan peralatan medis lainnya terhubung ke tubuhnya.
"Bil...ly....Bil...ly...." terdengar suara lirih dari mulutnya. "Bil...ly...Bil...ly...." suara itu terus berlanjut. Dokter yang menjaga di kamar itu menyambut kami.
__ADS_1
"Apakah Tuan Billy ada di sini? Tuan Adi Hutama terus memanggil beliau," ucap Dokter itu.
"Saya Billy, Dokter!" Si Balok Es langsung mendekati Tuan Adi Hutama.
"Silahkan dekati dan berbicara dengan pasien agar kondisinya lebih tenang," Dokter itu menjauh ke belakang.
"Bil...ly...Bil...ly...." panggil Tuan Adi Hutama.
"Aku di sini, Opa...." ucap Si Balok Es lembut.
Ternyata Balok Es ini bisa berbicara lembut juga. Matanya menjadi jinak. Tangannya nampak menggenggam tangan kurus Tuan Adi Hutama.
"Iya,Kakek. Billy pasti akan menikah saat Kakek sudah sembuh. Opa harus menjaga kesehatan ya."
"Sekarang...uhuk! Huak! Billy! Uhuk! Huak! Meni...kah...lah....huak! Se...ka...rang!" ucap Tuan Adi Hutama terus-menerus. Aku merasakan ketidakberdayaan di semua sendi tubuhku saat mendengar kata-kata itu. Si Balok Es nampak menatap ke arah orang tuanya.
"Uhuk! Uhuk! Huak!" Tuan Adi Hutama terbatuk-batuk, ia mulai kesulitan bernapas.
"Me...uhuk! Huak! Ni...kah! Huak! Billy!" Tuan Adi Hutama terus berusaha berbicara.
__ADS_1
"Tolong, keluarga mundur terlebih dahulu. Kami akan melakukan tindakan medis!" Dokter itu mulai melakukan tindakan medis bersama perawat yang sedari tadi berjaga di luar. Suasana di luar ruangan nampak hening.
"Kita nikahkan Billy sekarang juga!" ucap Tuan Hutama memecah keheningan ruangan itu. Ia mendekati Papaku. "Kita sudah bersahabat begitu lama dan dekat layaknya keluarga. Aku mohon ijin kepadamu untuk memberikan restu kepada putrimu untuk menikah dengan putraku Billy. Aku berjanji akan menjaga putrimu selayaknya putriku. Aku akan mengganggap hal ini sebagai utang seumur hidupku," ucap Tuan Hutama. Dia sampai memohon dengan berlutut di depan Papa.
"Jangan begitu, Saudaraku. Kau sudah banyak membantuku di masa-masa sulit. Aku pasti akan membantumu, tetapi seperti yang kau tahu...putriku adalah sebuah titipan Tuhan yang bernyawa. Keputusannya ada di tangannya." Papa, Mama, Tuan Hutama, Nyonya Belvana dan Si Balok Es menatapku. Tubuhku terasa semakin dingin. Rasanya aku tak memiliki kemampuan untuk berdiri dan menjawab.
"Bagaimana Qia? Kamu setuju?" Mama bertanya untuk memecah keheningan.
"Aku...." berbagai hal berkecamuk di pikiranku. Jantungku berdebar kencang. Mereka menyuruhku mengambil keputusan saat seolah aku diapit kebuntuan.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1