Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 11 - Bertemu Kakek


__ADS_3

"QIA!!!" teriak Si Balok Es, suaranya seram seakan berasal dari kedalaman neraka. Tangannya mengepal, wajahnya nampak murka. Oh tidak, tamat sudah riwayatku....


BRAK!!! Tangan Si Balok Es terkepal menggebrak meja. Bibirnya mengerucut, dia nampak menyeramkan. Para koki dan pelayan hanya tertunduk ketakutan. Apa yang harus kulakukan? Sebuah ide gila terselip di kepalaku. Aku bangkit berdiri dan mendekati Balok Es. Kuharap ini manjur, sama seperti di film dan novel yang pernah kubaca. Aku nekat saja....


CUP!!! Kucium pipi kanan Balok Es itu. Kurangkul tanganku ke lehernya dari arah belakang. "Ampuni Yaya, Yaya tak sengaja, T-Rex Sayang...." kubisikkan itu di telinganya. Bisa kurasakan para koki dan pelayan nampak menatap ke arahku.


Jujur, jantungku berdebar kencang seakan ingin melompat keluar. Aku tahu ini gila tapi menurut novel dan film yang pernah kutonton, seorang pria kasar dan dingin sekalipun akan luluh pada serangan lembut dari seorang wanita. Balok Es itu diam saja, dia tak menatapku. Ini pertama kalinya aku agresif pada seorang pria. Naren sekalipun tak pernah kucium seperti ini.


"Siapkan mobil!" ucap Si Balok Es dingin sambil berdiri begitu saja. Dia masih sempat mengambil tisu untuk mengelap wajahnya. Aku ditinggalkan di belakang begitu saja. Apa trik konyol tadi berhasil? Masa bodohlah, yang penting Si Balok Es tak jadi mengamuk. "Apa yang kau tunggu, Tikus Kecil?" Balok Es itu memandangku. "Ayo, pergi sekarang!" aku hanya menggangguk sambil mengikutinya.


GILA! Kurasa Keluarga Si Balok Es ini keluarga miliarder atau mungkin Crazy Rich Family. Aku dibawa ke sebuah pintu yang ternyata adalah sebuah lift. Mataku tak bisa berhenti berkedip, maklum aku belum pernah naik lift di dalam rumah tinggal. Balok Es itu tetap saja dingin, datar, tak berekspresi. Dia hanya fokus menekan tombol pada lift. CLING!!! Pintu lift kembali terbuka.


HAH?! Mulutku ternganga, gila Si Balok Es benar-benar seorang Crazy Richman. Kurasa ruangan itu adalah sebuah basement untuk tempat parkir. Apa yang ada di dalam sini membuat jiwa missqueen-ku meronta. Ada beragam kendaraan di sini, mungkin lebih dari 10 yang terdiri dari mobil dan motor. Aku tak tahu apa saja merek kendaraan itu, aku hanya mengenali dua jenis saja. Satu mobil sport yang sudah di-custome sehingga catnya menjadi warna ungu metalik dengan corak silver dan hitam seperti motif macan loreng putih. Satu lagi mobil sport yang juga sudah di-custome sehingga berwarna kuning keemasan dengan corak hitam metalik seperti motif macan loreng oranye. Jadi, ini ya mobil yang harganya selangit itu?


"Cepat kemari, Tikus Kecil!" terdengar suara dingin membangunkan lamunanku. Saat kucari arah suara itu berasal dari sebuah mobil yang membuatku menganga. Ini mobil mewah seharga milyaran rupiah yang biasa dipakai para artis itu. Si Balok Es sudah duduk dengan angkuh di kursi baris kedua sebelah kanan. Aku masuk dengan hati-hati dan ragu ke dalam mobil itu. Mobil itu segera berjalan, mataku terus jelalatan ke segala arah. Aku belum pernah naik mobil semewah ini. Oh ya, kemana Si Balok Es akan membawaku? Tak mungkin kan aku akan bertemu Tuan Adi Hutama dengan kostum piyama kuning ini.


"Pak...." kuberanikan diri berbicara.

__ADS_1


"Kau akan membeli baju terlebih dahulu, Tikus Kecil. Di tempat itu juga akan ada pengukuran baju pengantin untuk resepsi kita. Jadi, jangan banyak bertanya!"


Resepsi? Oh iya, pernikahan kami kan baru diketahui pihak keluarga saja. Tunggu, siapa saja yang akan diundang nanti? Aku mulai memikirkan hal itu hingga tak terasa....


"Kita sudah sampai, Tuan Muda," ucap Pak Sopir. Balok Es itu turun dari mobil, aku mengikutinya dari belakang. Jiwa missqueen-ku kembali meronta, Balok Es ini membawaku ke sebuah butik yang mewah. Para pegawai di sana nampak menatap ke arahku sambil menahan tawa. Malunya aku, baru kusadari jika aku memang aneh. Siapa yang akan datang ke butik dengan memakai piyama?


"Tuan Billy, selamat datang...." nampak seorang perempuan paruh baya dengan blazer hitam yang nampak sangat modis.


"Tolong carikan apa yang sudah saya pesan tadi. Jangan dandani dia terlalu menor, Kakek saya takkan suka," ucap Si Balok Es itu singkat. Dia duduk dengan santai di sofa sudut di ruangan itu.


Butik ini mewah, ada banyak gaun yang indah dan tak bisa kudefinisikan keindahannya. Ketika kulihat harga salah satu gaun pesta sederhana, harganya membuatku rasanya terkena seragan jantung. Harga sebuah gaun ini cukup untuk membeli dua buah motor matic.


"Nona, tolong ganti pakaian Anda dengan gaun ini. Tuan Billy sendiri yang memilihkannya." wanita itu menyerahkan gaun warna hijau muda dengan bahan satin. Ada hiasan berupa renda-renda putih yang membentuk motif bunga di bagian depan dada. Aku hanya menurut dan memakainya, berapa ya harga gaun ini? Sudah lupakan saja, aku tak ingin membuat Balok Es itu kembali mengamuk.


"Tuan Billy, prosesnya sudah selesai. Kami harap Anda puas dengan pelayanan kami, " wanita itu mengantarku menemui Si Balok Es. Si Balok Es melirik sekilas dengan tatapan dan ekspresi dingin.


"Terima kasih sudah membuat Tikus Kecil ini terlihat lebih baik," Balok Es itu berdiri dengan cuek. Pemilik butik itu nampak melonjak kaget sejenak. Kurasa dia tak percaya bahwa ada seorang lelaki yang memanggil pasangannya dengan sebutan Tikus Kecil. Aku hanya tersenyum sebagai ucapan perpisahan. Mobil itu kembali berjalan.

__ADS_1


"Jaga sikapmu selama di depan Kakek. Ingat kesepatan kita, Tikus Kecil. Kau harus berpura-pura mesra dan menyukaiku." Balok Es melirikku dengan mata elangnya. Aku hanya menggangguk-angguk. Tunggu, mengapa aku merasa ada yang salah pada perutku. Astaga, aku merasa sakit perut. Rasanya aku harus segera ke kamar mandi untuk BAB.


"Pak...." aku ingin meminta berhenti sebentar di pom bensin. Ternyata kami sudah tiba di rumah sakit. Balok Es itu menggandeng tanganku. Gila, perutku terasa sangat sakit. Aku ingin kentut tapi jika aku kentut, jiwaku dalam bahaya. Aku sudah membuat Balok Es ini murka sepanjang sarapan tadi. Bertahanlah wahai perut kecilku, jangan kentut dulu.


"Kakek..." sapa Balok Es itu ramah. Kami sudah memasuki ruang perawatan. Nampak Tuan Adi Hutama sudah duduk di tempat tidurnya. Ia nampak tersenyum bahagia meski masih memakai alat bantu pernapasan. Di ruangan itu ada Tuan Hutama, Nyonya Belvana dan Mama. Aku melirik Mama sejenak.


"Kakek..." aku menyapa Tuan Adi Hutana sambil mencium tangannya.


"Istri cucuku memang sangat cantik," Tuan Adi Hutama membelai dahiku. "Kau tak salah pilih Belvana." ia melirik ke arah Nyonya Belvana sejenak. "Aku menantikan seorang cicit yang cantik. Apakah kalian sudah melakukan prosesi malam pertama?"


DUT!!! Astaga, mengapa harus sekarang? Aku kentut dengan suara yang sangat nyaring. Pertanyaan itu membuyarkan fokusku untuk menahan kentut. Semua mata nampak tertuju padaku. Aku ingin menghilang ke dalam tanah saja...


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2