Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 68 - Alasan....


__ADS_3

"Ayo bangun!" terdengar suara membangunkanku. "Qia!" terdengar namaku dipanggil. "Ayo, bangun!" terdengar suara lagi.


"Ehm," aku sedikit membuka mataku.


Tubuhku masih lelah karena seharian kemarin bermain di wahana dunia salju. Kemarin sampai di rumah lagi saat malam hari, aku langsung tidur di kamar Balok Es. Sekarang sudah pagi ya? Kurasa ini sudah pagi kembali.


"HOAHM!" aku menguap sangat lebar. Sosok di sebelahku nampak hendak beranjak bangun. "Ehm," aku kembali memeluk tubuhnya. Dia kupeluk seperti sebuah guling.


"Ayo, bangun, Tikus Kecil!" ucap Balok Es. "Ini sudah pagi!" protesnya.


"Bentar lagi!" sahutku sambil memeluknya semakin erat. "Sekarang hari Minggu! Kuliah libur! Diluar baru hujan deras, dingin!" pelukanku semakin kupererat. "Qia butuh kehangatan!" ucapku sambil menutup mata kembali.


Tubuh Balok Es ukurannya cukup besar. Dia nyaman untuk dijadikan guling. Memeluk tubuh Balok Es membuatku merasa hangat.


"Kamu jadi manja sekarang!" keluh Balok Es.


"Ehm, Qia butuh belaian, Pak eh Kak!" aku lupa jika harus memanggilnya Kakak. Balok Es tak boleh kupanggil Bapak lagi.


"Ayo, bangun!" perintah Balok Es lagi. "Ini sudah pagi, Yaya! Ayo, bangun!" Balok Es terus protes.


Ih, Pak, Bapak kok jadi nggak peka lagi sih. Qia kan sekarang pengen bobok lagi sambil disayang-sayang 😑.


"Ehm," pelukanku semakin kueratkan lagi. Kali ini kukerahkan seluruh tenagaku.


"Aduh!" Balok Es terdengar berteriak. "Saya nggak bisa napas, Tikus Kecil!" keluh Balok Es.


"Qia masih pengen bobok lagi! Kakak nggak peka!" ucapku sambil menatap wajah Balok Es. Qia hari ini malas bangun! Hari ini pengen dimanja!" aku kembali menyembunyikan kepalaku di dekapan Balok Es.


"Ck! Dasar manja!" ucap Balok Es. Bisa kurasakan tangan kiri Balok Es melingkar di pinggangku.


"Puk, puk!" ucapku.

__ADS_1


"Hah? Puk, puk?" sahut Balok Es.


"Tepuk-tepuk punggung Qia! Ayo, cepetan! Puk, puk, Qia!" perintahku. Aku tak peduli, hari ini aku sedang malas bangun pagi. Tubuhku masih lelah karena seharian bermain di area dunia salju itu.


"Banyak permintaan!" keluh Balok Es. Meski mengeluh dia tetap saja menepuk-nepuk punggungku. Ada satu permintaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku.


"Kak!" panggilku sambil memposisikan wajahku sejajar dengan wajah Balok Es.


"Ada apa? Apa bibirmu butuh belaian juga?" sahut Balok Es.


Pak, kok Bapak langsung mikir gitu, sih?


"Kamu pengen dapet kiss pagi-pagi, ya? Bibir Qia memang...." ucapku, hendak menggoda Balok Es tapi belum selesai kuucapkan perkataanku, tangan kiri Balok Es sudah mendorong kepalaku dari arah belakang. Otomatis wajahku bersentuhan dengan wajah Balok Es. Dan....kiss itu pun terjadi.


"Saya hanya melayani permintaanmu saja, Tikus Kecil!" ucap Balok Es saat melepas dorongan di kepalaku.


Bibirku jadi berasa hangat. Jantungku juga masih saja tetap berdebar. Padahal ini kan bukan kiss pertamaku dengan Balok Es.


Pak, Bapak kali yang memang kurang belaian makanya langsung serang aja tanpa kasih kode. Kok aku jadi ngerasa aneh dan malu ya. Aku pun membalik badanku.


"Kenapa? Apa belaiannya masih kurang?" tangan Balok Es kembali melingkar di pinggangku.


Pak, Bapak kok jadi agresif banget soh sekarang? Suatu pertanyaan kembali muncul di pikiranku.


"Kenapa Kak Billy mau menikah sama Qia? Apa sekarang kamu ehm...beneran cinta sama Qia?" tanyaku sambil berbalik menghadap ke arah Balok Es.


"Saya menikahimu karena sudah takdir, Yaya. Meski dengan jalan perjodohan tapi itu sudah takdir. Kamu masih mempertanyakan perasaan saya padamu? Kamu masih belum memaafkan saya, ya?"


"Bukan, Qia sudah memaafkan Kak Billy, tapi...."


"Tapi apa? Kamu merusak suasana saja!" Balok Es justru berbalik membelakangiku.

__ADS_1


Pak, kok Bapak jadi ngambek, sih? Qia kan cuma tanya saja.


"Maaf, Qia salah," aku memeluk punggung Balok Es. "Kak Billy jangan marah...." ucapku.


Balok Es akhirnya berbalik kembali menghadapku. Kepalaku kembali didorong ke arah wajahnya. Bibirku diserang dengan ganas. Duh, Pak, sekarang gini ya caranya Bapak menghukum Qia?


"Hukuman karena ucapanmu merusak mood saya," Balok Es melepaskan kepalaku. "Jika saya tak punya perasaan padamu untuk apa saya repot-repot mengejarmu hingga ke rumah sepupumu, Yaya, dan untuk apa saya repot-repot membelamu ketika kamu sedang ada masalah," Balok Es menatapku. "Bagi saya aksi lebih penting daripada sekedar ucapan!" ucap Balok Es.


Ucapan itu membuat hatiku terasa hangat. Pak, sekarang Bapak udah agak mencair, ya? Kok Qia merasa Bapak udah bukan es balok yang amat dingin lagi ya? Jujur, hatiku berasa hangat mendengar ucapan itu. Balok Es beranjak turun dari tempat tidur.


"Ehm....Kak Billy!" aku memeluk Balok Es lagi. "Bangunnya nanti aja!" protesku.


"Hujan sudah berhenti, Yaya! Ayo, bangun!" Balok Es berusaha melepaskan diri dari pelukanku. "Kamu nggak mau saya ajak pergi?"


"Pergi?" aku langsung antusias mendengarnya. "Kencan lagi ya, Kak?"


"Kamu akan tahu nanti!" sahut Balok Es.


"Ah, Kak! Kasih petunjuk dong! Qia sayang Kak Billy!" aku merayu Balok Es.


"Tempat yang membuatmu bingung untuk memilih...." sahut Balok Es sambil melepas pelukanku. Tempat yang membuat bingung untuk memilih? Apa ya? 😮


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2