Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 60 - Beneran?


__ADS_3

"Kakek saya ingin punya keluarga besar. Dia pasti senang punya banyak cicit. Saya rasa kita berdua harus bekerja keras untuk mewujudkannya," Balok Es tersenyum.


"Uhuk! Uhuk! Huk!" aku masih juga tersendak.


Pak, Bapak beneran ngode apa mau ngejalanin rencana, sih? Kok makin ke sini kayaknya ngode buat beneran punya keluarga besar. Perhatianku langsung teralihkan sesaat. Aku merasakan ada kehadiran seseorang yang tak terasa asing.


Nampak seorang pria dengan celana jeans dan hoodie warna biru dongker. Kepala pria itu ditutupi tudung hoodie, dia memakai masker warna putih. Matanya melirik ke arahku. Dia terus melirik ke arahku, pria itu akhirnya duduk di pojok ruangan sebelah kanan. Aku tahu pasti siapa pria itu. Dia adalah Naren.


"Kak Billy...." panggilku manja. Tangan kiri Balok Es kutempelkan pada pipi kananku. "Mata Qia kemasukan debu! Sakit!" ucapku senatural mungkin.


"Mana yang sakit?" Balok Es nampak panik. Pak, akting Bapak memang the best.


"Mata sebelah kanan," aku menyipitkan mata kananku. "Sakit, Kak Billy! Cepetan tolong Qia!" keluhku.


"Tenanglah, sini saya tiupkan!" Balok Es meniup-niup mata kananku. "Apa masih terasa sakit?"


"Udah nggak kok, Kak Billy," aku tersenyum pada Balok Es. Balok Es hendak menarik tangan kirinya dari wajahku. Tangan Balok Es ternyata terasa halus dan hangat. "Kak Billy, tanganmu ternyata lembut, ya. Makasih udah nolongin Qia waktu itu. Sampai tangan kanan Kak Billy sembuh, Qia siap kok jadi tangan kananmu," ucapku manja.


"Iya, kamu pasti jadi tangan kanan saya ketika memimpin kerajaan kecil kita kelak, Permaisuri Qia," Balok Es mencium tangan kananku.


Pak, Bapak kok bucin banget sih hari ini? Saya jadi malu tapi tetep aja baper.


"Oh ya, bibirmu yang indah tertutup noda," Balok Es menyeka noda di mulutku dengan tangan kirinya. "Nah, sekarang kecantikanmu tak tertutupi lagi," puji Balok Es.

__ADS_1


Pak, Bapak belajar gombal darimana, sih? Kok tumben, mulut Bapak bisa jadi hangat gini. Nggak dingin kayak biasanya.


"Oh ya, Kakek saya menanyakanmu," akhirnya Balok Es mengganti topik pembicaraan. "Bagaimana jika kita menjenguknya?" tanya Balok Es.


"Ehm...boleh, Kak Billy," ucapku sambil menggangguk-angguk.


Aku dan Balok Es pergi menuju meja kasir. Balok Es mengeluarkan kartu untuk membayar tagihan. Tangan kiri Balok Es menggandeng tangan kananku. Tanganku digenggam dengan sangat erat. Saat hendak menyeberang jalan....


"Qi...ya...." panggil Rino. Dia tertegun melihatku dan Balok Es bergandengan tangan.


"Ehm!" Balok Es berdehem. Rino sadar kembali.


"Selamat siang, Pak," sapa Rino. Balok Es hanya menggangguk. Dia menggandengku menyeberang jalan.


"Kita ke rumah sakit naik mobilmu saja!"


"Iya, Kak Billy," sahutku. Aku pun membuka pintu mobil lalu duduk di kursi pemgemudi. Saat melihat Rino aku teringat sesuatu.


"Kak, Kak," ucapku panik.


"Ada apa?" sahut Balok Es sambil memakai sabuk pengaman.


"Kak, Kakak kan pernah bilang sama Rino kalo sudah punya istri. Waktu kunjungan ilmiah, waktu Kakak makan kue buatan saya itu...ehm...gimana, Kak? Qia takut, kalo nanti ehm...dibilang pelakor."

__ADS_1


"Jangan khawatir, hanya tambah satu orang yang sudah pernah tahu saya bilang begitu saja takkan masalah. Lagipula, Rino saat ini sedamg sibuk untuk persiapan pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Dia pasti tak ada waktu memikirkan hal ini," sahut Balok Es santai. "Lagipula, dua pendapat laki-laki melawan ratusan pendapat teman kerja saya dan ratusan mahasiswa lain. Menurutmu siapa yang akan menang? Tenang, tak perlu pikirkan masalah kecil ini. Cepat, berangkat!" perintah Balok Es. Aku pun mulai menyetir mobil ini.


"Ehm, Kak!" panggilku.


"Ada apa? Sudah, fokuslah menyetir!" perintah Balok Es.


"Ini baru di lampu merah, Kak. Ehm, Qia pengen tanya sesuatu...." ucapku ragu.


"Tanya apa? Ini bukan di kelas. Tanya ya tinggal bilang saja," sahut Balok Es.


"Ehm, Kak Billy beneran mau punya 10 anak lebih?" tanyaku penasaran.


"Karena kamu antusias, kenapa tidak, Tikus Kecil," Balok Es tersenyum ke arahku. "Jangan khawatir, Kakek dan orang tua saya akan sangat senang punya banyak keturunan." sahut Balok Es.


Pak, padahal Qia cuma tanya, lho 😣. Kok malah dianggap antusias bahkan serius, sih? 😣


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2