
Pak, apa Bapak sudah membenci Qia? Aku berdebar dan takut menunggu jawaban itu. Apa yang akan dikatakan Balok Es? 😢
"Standar saya sangat tinggi!" ucapnya dengan nada mengejek. "Apa gadis cengeng sepertimu bisa memenuhinya?" ia menatapku dengan tatapan mengejek.
Balok Es, menyebalkan! Seharusnya aku tak menunjukkan kelemahan dan kerapuhanku di depanmu! 😡 Tunggu, apa ini caranya berkata jika dia memberiku kesempatan kedua? Dia tak pernah bicara sesuatu secara langsung. Selalu menunjukkan kode-kode yang rumit sejak dulu. Hatinya sulit diterka. Dulu dia pernah memberiku kesempatan untuk menonton dengan Naren, dia sendiri yang menawarkannya. Tapi setelah hari itu dia sendiri juga yang mempersulitku untuk dekat dengan Naren. Dia selalu menggodaku dan jahil padaku di setiap kesempatan. Dia dulu bilang jika tak menyukaiku dan hubungan ini tak serius. Tapi kemarin dia baru saja bilang jika dia ingin memulai perang.
Apa sekarang dia malu mengakui jika dia menginginkanku karena saingannya sudah hilang? Ehm, atau sebenarnya dia hanya ingin mempermainkanku saja? Dia kan memiliki banyak Nenek Sihir. Mungkin saja dia perhatian padaku saat ini hanya karena tuntutan dari keluarganya saja. Kurasa dia tak mengganggapku serius sebagai istrinya.
Tunggu, tapi waktu Tante Mia menghinaku dia terlihat sangat murka. Balok Es, menerka hatimu sama sulitnya seperti mencari selisih saldo dalam jurnal akuntansi. Ehm, mengapa aku tak mencari tahu saja mulai sekarang? Balok Es, mulai sekarang aku akan mencari tahu apa sebenarnya yang ada di pikiranmu.
Ide gila terlintas di pikiranku. Dia suamiku secara resmi. Jika kulakukan ide ini aku takkan merugi sama sekali. Bahkan, jika ada orang lain yang nekat masuk ke kamar ini pasti akan mengganggap jika suamiku agresif, hihihi 😆. Segera kulepas kemejaku di depan Balok Es. Tentu saja sekarang tubuh bagian atasku sebagian besar terlihat jelas.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Balok Es. Dia terlihat panik. Aku semakin penasaran reaksinya.
"Bapak, mengapa Bapak berteriak?" ucapku sambil merangkul leher Si Balok Es. "Pak, Bapak bilang standar Bapak sangat tinggi. Bukankah Bapak juga harus menilai dulu dari cover luar saya?" ucapku manja. Kurasa kesedihanku sebagian besar hilang. Aku jadi semakin penasaran pada reaksi Balok Es. Aku ingin menggodanya lebih agresif lagi.
"Pakai bajumu kembali! Cepat!" teriaknya lagi.
Apa sebenarnya dia masih polos sepertiku? Dia masih geli melihat tubuh wanita secara langsung. Jika pria dewasa yang sudah bernafsu seharusnya kan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperoleh keuntungan seperti cerita di film atau novel yang pernah kubaca. Mengapa dia justru berteriak? 😆 Aku jadi makin penasaran.
"Bapak!" panggilku manja. "Mengapa Bapak berteriak? Bukankah seharusnya Bapak senang? Saya dengan sukarela menyerahkan tubuh saya untuk Bapak nilai." ucapku dengan nada menggoda.
Astaga, muka Balok Es justru memerah 😂. Matanya tak berani menatap ke arahku. Kurasa dia geli melihatku dalam wujud seperti ini.
"Pak, saya ini Tikus Kecil. Tapi, Pak, saya bisa lho berubah jadi Tikus Betina Ganas yang bisa mencabik-cabik Bapak!" aku terus menggodanya. Tanganku bergerak untuk melepas dasi di lehernya. "Bagaimana jika Bapak menilai rasa saya sekarang?" ucapku nekat. Dasi itu sudah kendur tanganku mulai nakal melepas kancing kemeja putihnya 😆.
"Tikus Kecil, hentikan!" teriaknya. Tangan kirinya mencoba mendorong tubuhku.
Pak, tangan Bapak cuma satu yang berfungsi. Saya lebih unggul, Pak. Aku akan melucuti pakaianmu, Balok Es. Aku yakin kau tak berani memangsaku. Kau punya banyak kesempatan daridulu tapi tetap tak memanfaatkannya.
"QIA! HENTIKAN!" teriak Balok Es. Aku tak menghentikan aksiku. Kutarik tubuh Balok Es sehingga terjatuh ke ranjang.
"Tuan...." nampak pintu terbuka. Nampak Sekretaris June tertegun di balik pintu itu. Dia pasti berpikir aneh-aneh. Segera saja kubuat pikirannya semakin terbang.
"Bapak!" panggilku panik sambil bersembunyi di balik tubuh Balok Es. "Bagaimana Bapak mau menilai rasa Qia jika ada orang lain di sini?" ucapku manja.
"Saya permisi!" Sekretaris June berlalu pergi.
Terdengar suara pintu di tutup dengan panik. Hahaha 😂 aku puas melakukan ini. Tunggu ini belum berakhir! 😆 Aku harus menggoda Si Balok Es sampai akhir. Dia sekarang terbaring di ranjang dalam posisi membelakangi tubuhku.
"Bapak...." panggilku lirih sambil mengarahkan tanganku melingkar di pinggang Si Balok Es. Aku kembali ingin melepas kemeja putih itu. Tangan kiri Balok Es kurasa memegang tanganku.
"Kau bisa tertawa sekarang?" ucapnya dari arah depan. Tanganku menegang, apa maksud pertanyaannya? Apa ejekannya tadi cara untuk menghiburku? Ehm, tapi aku merasa lebih baik sih setelah menjahili Si Balok Es. "Pakai bajumu kembali!" ia menyerahkan kemeja itu padaku.
__ADS_1
"Tidak mau!" protesku.
Aku ingin melanjutkan aksiku, menggoda Balok Es itu menyenangkan. Kulingkarkan kedua tanganku ke pinggang Si Balok Es. Tubuhku menempel di punggungnya sekarang.
"Bapak sendiri yang bilang standar Bapak tinggi! Saya tak mau memakai baju sebelum Bapak menilai cover saya!" protesku lagi.
"Cepat pakai! Saya sudah menilaimu! Atau, kau mau saya nilai menjadi kategori nakal dan pembangkang?!" ucapnya keras bernada ancaman.
Dia benar-benar menilaiku? Ya, sudahlah kuturuti saja kemauannya. Kupakai kembali kemejaku.
"Ayo, bangun!" Balok Es berusaha bangkit. Aku kembali memeluk pinggangnya lagi dari arah belakang. Entahlah aku hanya ingin memeluknya itu saja. Di luar sedang hujan deras sekarang. Aku tak mau beranjak dari posisi ini. Kurasa aku sedang rapuh dan butuh sandaran.
"Biarkan Qia memeluk Bapak sebentar lagi," ucapku lirih. Balok Es kupeluk semakin erat. "Bapak!" protesku saat tangan kirinya melepas pelukanku. Dia berbalik menghadap ke arahku.
"Kemari!" ia membuka dekapannya. Aku pun langsung memeluk Balok Es lagi. Rasanya tenang dan hangat.
Aku merasa bersalah. Aku sudah menyakiti Balok Es berulang kali dan sekarang justru bersandar padanya. Bukankah itu sama saja aku tak tahu malu? 😳 Tapi, mau bagaimana lagi. Aku benar-benar sedang rapuh. Kepalaku menyandar di dekapan Si Balok Es. Tangan kiri Balok Es mulai membelai rambutku dengan lembut.
"Pak...." panggilku lirih.
"Ada apa?" sahutnya.
"Apa Bapak membenci Qia? Ehm, Qia sudah banyak melakukan kesalahan terang-terangan."
"Tidak, Pak," jawabku lirih. "Pak, apa hasil penilaian cover Qia? Bapak bilang sudah menilainya?"
"Ehm...." sahut Balok Es lirih. "Kategori biasa saja."
"Nilainya kok jelek sih, Pak?" protesku.
"Apa kamu masih mengganggap ucapan tadi serius?" balas Balok Es. "Kau benar-benar ingin jadi istri sungguhan? Saya sudah menikahimu! Kau pikir pernikahan kita main rumah-rumahan seperti anak-anak? Kau itu memang benar-benar istri saya secara hukum agama dan hukum negara."
"Saya tahu, Pak. Tapi kan Bapak bilang dulu pernikahan ini hanya kesepakatan saja," protesku. "Saya kan benar-benar ingin menjadi istri Bapak. Pak, sebenarnya posisi Qia bagi Bapak itu apa?" aku menatap matanya.
"Kamu istri saya, Tikus Kecil. Apa lagi yang harus saya jawab?"
"Tapi, Bapak bermain-main dengan Nenek Sihir!" protesku.
Tunggu, mengapa aku terlihat seperti seseorang yang sedang cemburu? 😣
"Jika kamu boleh bermain-main dengan orang lain di depan muka saya. Mengapa saya tak boleh bermain-main juga sepertimu?" sahut Balok Es.
Jadi, dia melakukannya untuk mengimbangiku. Tunggu, tapi kan Balok Es adalah Tuan Rexford. Dia kan terkenal playboy.
__ADS_1
"Sudahlah, Pak," ucapku. Balok Es memang sulit di debat. Aku kembali menyembunyikan kepalaku di dekapan Balok Es.
"Hey, Tikus Kecil!" panggil Balok Es.
"Ada apa, Pak?" sahutku.
"Saya butuh kamu layani sekarang!" bisiknya di telingaku. WHAT? Layani dalam hal apa? 😟 Kutatap mata Balok Es. Dia menatapku dengan serius. Apa dia benar-benar ingin memangsaku sekarang? 😦
"Jangan berpikir aneh-aneh," hidungku disentil. "Saya ingin kamu melayani saya untuk merawat binatang kesayangan saya di rumah ini," sahut Balok Es. Firasatku mengatakan jika dia ingin memjahiliku. "Bagaimana kau setuju kan? Saya tak ingin merepotkanmu, tapi apa daya. Tangan saya masih sakit." ucapnya memelas.
"Baiklah. Ayo, Pak," sahutku. Aku bangkit berdiri. Paling binatang peliharaannya hanya kucing, burung kecil atau ikan.
"Kalau begitu ikuti saya," Balok Es bangkit berdiri.
Tunggu, mengapa matanya tadi sekilas berkilau licik ya 😨. Perasaanku tak enak nih 😖. Kuikuti Balok Es dari belakang. Dia membawaku ke sebuah ruangan. Nampak ada seorang pegawai pria di ruangan itu. Astaga, apa ini peliharaan yang dia maksud? Kakiku gemetar ketika melihat peliharaan itu.
"Nah, ini binatang-binatang kesayangan saya. Ini Pak Erik. Dia pengurus dan penjaga ruangan ini. Saya tak pernah membawa binatang ini pulang karena Bunda tak menyukainya. Jadi, saya pelihara binatang itu di sini, di rumah dekat kantor. Memang ada Pak Erik yang biasa mengurus mereka, tapi saya tetap lebih mantap jika mereka saya rawat sendiri secara langsung. Karena tangan saya sedang sakit maka saya butuh bantuanmu untuk menggantikan saya merawat mereka. Kau tak keberatan kan, Tikus Kecil?" Balok Es menatapku.
Astaga, Bapak! 😣 Apa Bapak tak bisa memiliki peliharaan yang lain? Di ruangan itu ada beberapa ular yang ditempatkan dalam kotak kaca. Ada juga kadal yang aku tak tahu apa jenisnya. Kadal itu tetap saja menakutkan. Tunggu, apa itu di pojokan? Instingku menangkap sinyal hewan yang paling kubenci.
"KECOA!" teriakku panik.
Astaga! 😣 Itu kecoa! 😢 Kecoa itu berbeda dengan kecoa yang biasa kulihat. Kurasa itu kecoa impor dari luar negeri. Warnanya hitam dan ukurannya jauh lebih besar daripada kecoa yang biasa menyusup di rumahku. Di samping kandang kecoa impor hitam itu ada kecoa yang sangat familiar. Itu kecoa coklat! 😣 Jadi, Balok Es memperoleh suplai kecoa untuk mengancamku dari sini? Biarpun mereka di tempatkan dalam kotak kaca tapi tetap saja terasa menjijikkan bagiku.
"Jangan khawatir!" Balok Es menggenggam tanganku. "Saya tahu kamu takut kecoa. Saya tak memintamu merawat kecoa," ucapnya.
Aku sedikit lega.
"Saya ingin kamu merawat binatang peliharaan saya yang lain," Balok Es tersenyum.
Astaga, Pak! 😣 Maksud Bapak saya disuruh merawat ular dan kadal? 😢
"Jangan khawatir, mereka jinak. Paling hanya menggigit saja. Itu pun tidak berbisa," Balok Es menatapku dengan senyuman licik. "Ayo, kamu mulai sekarang!" dia menarik tanganku.
Balok Es, kau tetap saja menyebalkan! 😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍