Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 76 - Cuek....


__ADS_3

Leganya, untung saja mertuaku juga tidak menuntut untuk memiliki momongan secepat mungkin. Karena ini liburan sebaiknya kugunakan kesempatan ini untuk menonton drama korea favoritku. Ah, nonton drama korea memang seru. Apalagi kalo aktornya cakep! 😍 Ceritanya juga bagus dan seru.


"Hihihi!" aku tertawa akibat adegan yang ada di drama korea itu.


Ini sudah waktunya tidur, tapi nggak masalah kan kalo aku begadang nonton drama korea. Mumpung baru liburan, nih. Kalo ditunda bisa-bisa nggak sempet lagi, entah karen ada dateline tugaslah atau karena hal lain.


"Hihihi!" aku tertawa lagi akibat adegan di drama korea itu. "Ehm, gantengnya!" ucapku saat melihat aktor di drama korea itu.


Aku benar-benar ada di posisi yang nyaman saat ini. Nonton sambil rebahan di atas tempat tidur dengan baterai smartphone terisi full. Ini kegiatan yang menyenangkan.


"Hihihi!" aku tertawa lagi sambil memeluk guling lalu berbaring miring.


"Kamu ngapain, sih?" terdengar suara dari arah belakang. Nanggung ah, nanti aja jawabnya.


"Hihihi!" aku tertawa lagi akibat adegan konyol dalam drama korea itu.


"Kamu nonton apaan, sih?" terdengar suara lagi dari arah belakang.


Udah ah, nanti aja jawabnya, tanggung baru seru nih adegan action-nya.


"QIA!" terdengar suara lagi. "QIA!" namaku dipanggil lagi.


Ihih, Balok Es, kenapa sih manggil-manggil terus? Ganggu aja! Aku tak menggubris panggilan itu. Sumpah, nangung banget! Adegannya baru seru, nih! Aku tak menggubris panggilan Balok Es.


"Kamu dengar nggak sih, Tikus Kecil!" terdengar Balok Es berteriak. "Tikus Kecil! Saya memanggilmu!" teriak Balok Es. Sial! Smartphone-ku sampai direbut dari tanganku.


"Ada apa, sih?" ucapku ketus.


Aku terpaksa berbalik menghadap ke arah Si Balok Es. Wajahnya nampak murka. Ih, padahal biasanya dia langsung tidur aja. Dia mau apa, sih? Aku kan cuma nonton drama korea.


"Kamu saya panggil nggak dengar!" ucap Balok Es. Matanya menatapku dengan tatapan dingin.


"Qia kan baru nonton drama korea, Kak. Memangnya ada apa? Kak Billy mau apa? Biasanya juga langsung tidur kan. Udah sini, kembaliin HP punya Qia!" tanganku mencoba merebut kembali smartphone itu. Balok Es justru mengarahkan smartphone itu semakin menjauh dari jangkauanku. "Ihih, kembaliin! Kak Billy, mau apa, sih?"


"Kamu cuek!" ucapnya ketus.


"Iya, Qia minta maaf!" ucapku.

__ADS_1


Ihih, Balok Es, sebenarnya kau mau apa, sih? Dia biasanya langsung tidur waktu di rumah.


"Minta maafmu nggak tulus!" ucap Balok Es lagi. Mukanya nampak cemberut. Ih, dia sebenarnya mau apa, sih? Kok tumben, mau tidur sikapnya nyebelin banget! 😡


"Kak Billy, mau apa, sih? Iya, Qia salah. Saya minta maaf Tuan Brilliant Rexford Hutama!" ucapku sambil menahan emosi.


"Saya tak suka dicueki!" sahut Balok Es. "Ini jam tidur! Saya tak suka jika waktu tidur dipake buat nonton!" mata Balok Es menatapku tajam. "Tidur saya terganggu, tahu!" protesnya.


"Ya sudah, kalo kamu terganggu. Saya pindah aja! Malam ini kamu tidur sendiri!" kurebut paksa smartphone-ku. Balok Es nampak tertunduk. Aku hendak bangkit untuk berpindah ke kamar lain.


"BAPAK!" teriakku spontan.


Balok Es langsung menindih tubuhku. Ihih, dia mau apa, sih? Tubuhku mungil, meski tangan kanan Balok Es masih dibalut gips tapi tetap saja tubuhnya jauh lebih besar. Aku mencoba melawan tapi tetap saja tubuh Balok Es tak berpindah.


"Kalo saya bilang tidur, ya, tidur!" ucap Balok Es dengan nada meninggi. Balok Es berbaring di atas tubuhku, menghadap ke arahku. "Saya tak suka dicueki! Saya juga tak suka diduakan saat kita sedang berdua saja!"


"Memangnya kenapa, sih? Lepasin Qia! Qia mau bobok sendiri...." protesku.


DUAR! DUAR! CTAR! Tiba-tiba terdengar suara gemuruh petir.


"AH!" aku berteriak karena kaget dan takut.


"Jangan peluk saya!" terdengar ucapan Balok Es. Astaga, ternyata aku memeluk erat dirinya. "Lepaskan! Biarkan saya pergi! Kamu mau tidur sendiri kan tadi?" Balok Es melepaskan pelukanku.


"Nggak, nggak, Kak Billy Sayang!" aku langsung memeluk Balok Es dengan erat. "Qia cuma bercanda tadi, hehehe," aku tertawa.


"Ya sudah, kalo begitu tidur!" Balok Es memeluk tubuhku dengan erat.


Ck! Aku terpaksa menurut. Tak ada pilihan lain. Aku kan takut petir. Balok Es nampak sudah terlelap. Aku terus mencoba tidur, tapi tetap saja tak bisa. Kupandangi Balok Es, dia kok tumben banget marah-marah nggak jelas pas lagi mau tidur. Kusentuh pipi kanannya, dia tak bereaksi. Dia sudah benar-benar tidur berarti.


"Balok Es!" panggilku. "Kamu sebenarnya kenapa, sih? Marah-marah nggak jelas. Bikin pusing, tahu! Bisa nggak sih, bilang terang-terangan gitu! Aku disuruh peka, tapi tadi di kamar mandi, aku pengen kiss aja, kamu nggak peka!" ucapku dengan nada meninggi.


Tiba-tiba saja mata Balok Es terbuka. DEG! Jantungku rasanya kaget, seolah berhenti sebentar.


"Ehm...." aku harus bicara apa, ya! Dia pasti dengar semua ucapanku. Kenapa lidahku jadi kaku, sih? 😣


Balok Es tiba-tiba saja menyerang bibirku dengan ganas. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Balok Es saat ini, tapi kurasa saat ini dia benar-benar ingin bermain di atas ranjang denganku. Anehnya aku tak melawan dan justru terbuai begitu saja. Balok Es dengan cepat menyingkirkan semua halangan yang membatasi diriku dan dirinya. Sekarang, dia baru saja memulai serangan di bawah selimut ini.

__ADS_1


Kak Billy, ternyata kau ingin mengklaim hakmu lebih cepat, ya? Aneh sekali, diriku justru benar-benar terbuai dan tak melawan....


***


SREK!!! Terdengar suara benda digeser. Kurasa itu korden jendela. Mataku yang masih tertutup merasakan ada cahaya terang yang amat silau. Kurasa itu cahaya matahari. Kesadaranku mulai terkumpul, kubuka mataku perlahan-lahan. Diriku masih terbaring di atas ranjang rupanya. Tubuhku masih tertutup selimut tebal.


Ternyata malam tadi bukan cuma mimpi. Aku dan Balok Es benar-benar bermain di atas ranjang. Tunggu, hubunganku dan Balok Es kan belum diumumkan secara resmi lewat resepsi. Bagaimana jika nanti perutku benar-benar berisi? Astaga, apa yang harus kulakukan? 😣


"Yaya Sayang!" terdengar suara seseorang.


Ternyata itu Balok Es. Dia sudah nampak rapi dengan kemeja kotak-kotak warna biru dongker dan celana jeans warna biru tua. Dia duduk di tepi ranjang.


Dasar tukang ingkar janji! Kau bilang kau akan melakukannya setelah resepsi! Tapi, kau justru melakukannya jauh lebih cepat! Bagaimana jika nanti perutku benar-benar berisi? Bagaimana aku harus menghadapi omongan orang-orang? Hubunga kita memang sudah sah, tapi kan orang lain belum tahu. Aku langsung berbalik membelakanginya. Kusembunyikan diriku di bawah selimut.


"Yaya, kau marah padaku, ya?" tanya Balok Es. Selimut ini terasa ditarik-tarik. "Yaya, bisakah kita bicara? Sayang, ayolah!" Balok Es masih saja menarik-narik selimut itu. "Beri saya kesempatan bicara, Sayang. Ayolah, aku tahu ini mengejutkan bagimu, tapi...."


"Iya, Qia tahu!" ucapku emosi. "Qia tahu itu hak Kak Billy untuk melakukannya, tapi kan kamu tahu! Kamu tahu hubungan kita belum diumumkan ke publik lewat resepsi! Sekarang, bagaimana Qia harus menghadapi orang-orang? Bagaimana jika nanti Qia hamil?! Cepat, jawab! Bagaimana nanti Qia harus menghadapi orang-orang?!" aku berteriak pada Balok Es.


"Kamu nggak akan hamil!" sahut Balok Es. Nggak hamil? Bagaimana bisa? Aku pun berbalik ke arahnya.


"Apa maksudmu? Kita sudah benar-benar melakukan hal itu tadi malam!" aku menatap Balok Es. Wajahku tetap saja cemberut.


"Apa kamu pikir saya tak memikirkan efek jangka panjang? Saya sudah menyiapkan diri sebelum melakukannya, Yaya. Makanya, kalo mau saya ajak bicara jangan dicueki. Tadi, malam saya ingin berbicara terlebih dahulu denganmu sebelum melakukannya tapi kamu malah cuek."


Balok Es menatapku. Tangan kirinya membelai kepalaku. Kurasa aku mulai paham dengan kode dari kalimatnya meski tak diucapkan secara langsung. Jadi, dia sudah merencanakan hal ini. Kalau begitu pasti dia sendiri sudah membuat persiapan. Ehm, kalo begitu tak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Nampaknya kamu sudah paham. Sudah, sekarang bangunlah! Apa perlu saya yang membantumu bangun, Yaya Sayang?" mata Balok Es berkilau licik.


"Tidak!" sahutku sambil bergegas menuju kamar mandi sambil membawa selimut. Balok Es, kau benar-benar agresif sekali sekarang! 😓


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2