Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 122 - Firasat


__ADS_3

"Ceritakan padaku!" ucap Chandra. "Ceritakan semua hal yang adikku alami selama ini!" ucap Chandra. Dia kembali masuk ke dalam kamar.


Bagus, ini kesempatan yang benar-benar bagus. Aku akan memastikan Chandra akan berpihak padaku. Chan, aku akan memastikan mulai saat ini kau akan berada di pihakku, gumam Billy.


"Ayo, duduklah," ucap Billy sambil menunjuk sofa yang ada di kamar Qia. Billy menunjuk space kosong di sampingnya. Chandra dengan ragu duduk di tempat itu.


"Cepat ceritakan! Apa yang sudah Narendra lakukan pada adikku! Adikku diam saja. Dia tak menceritakan masalah ini padaku," ujar Chandra sambil menatap Billy.


"Jadi, ceritanya ....." Billy mulai menceritakan kejadian itu dengan detail.


"Apa? Beraninya Narendra membohongiku! Dia bilang kau merebut adikku darinya. Dia bilang adikku tertekan dan tak bisa membela diri. Rupanya dia justru menyakiti adikku dengan cara seperti itu. Bodohnya aku yang masih percaya pada ucapannya. Dia bilang perempuan yang mengaku sebagai tunangannya hanyalah wanita yang dia sewa untuk memantik kecemburuan Qia agar kembali padanya. Tak kusangka dia setega ini pada adikku! Berani sekali tunangan Si Narendra! Dia berani menyiram adikku!" ujar Chandra. Tangan kanan Chandra mengepal. Dia menatap tajam Billy. "Dimana perempuan itu? Biar kuhajar dia!" teriak Chandra.


"Tenanglah, Chan. Tenang. Jaga emosimu. Hal ini sudah berlalu," ucap Billy sambil memegang kedua bahu Chandra. "Semua sudah berlalu. Sudah, lupakanlah hal ini!"


"Tapi!" teriak Chandra.


"Apa kau ingin adikmu mengingat luka lamanya lagi? Kau ingin dia kembali mengingat dukanya?" ujar Billy. Chandra terdiam, wajahnya nampak tertunduk.


"Aku kakak yang buruk. Seharusnya aku ada di sisi adikku dan melindunginya. Aku bodoh telah percaya pada Narendra. Kukira dia benar-benar melindungi adikku ternyata dia justru menyakitinya. Kakak macam apa aku ini," ucap Chandra.


"Kau bukan kakak yang buruk. Aku tahu kau sangat menyayangi Yaya,"ujar Billy.


"Yaya?" Chandra tertegun. Dia menatap ke arah Billy. "Siapa itu Yaya?" tanya Chandra.


"Oh itu panggilan sayang dariku untuk adikmu," sahut Billy.


"Nampaknya kau benar-benar menyayangi adikku. Maaf ehm ... sudah kasar padamu, Pak," ucap Chandra.


"Jangan panggil aku Pak. Panggil saja aku Billy. Aku ini masih muda, tahu!" gerutu Billy.


"Iya, iya. Bang Billy, hahaha," ujar Chandra sambil menepuk bahu Billy.


"Apa yang kalian bicarakan?" terdengar suara dari arah luar kamar.


"Yaya!" celetuk Billy.


"Adek!" teriak Chandra terkejut.


Astaga! Apa Yaya mendengar apa yang kubicarakan dengan Chandra? Gawat jika sampai dia mendengarnya, gumam Billy.


"Sepertinya kalian berdua sedang asyik berbincang-bincang. Kenapa kalian terkejut ketika aku masuk kemari?" tanya Qia. Dia masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah nampan berwarna pink.


"Ah, aku dan Chandra terkejut saat kau datang, Yaya," ujar Billy sambil menatap Qia. "Benar kan Chandra?" Billy merangkul bahu Chandra.


Ah, i ... ya, benar, Dik. Aku dan Bang Billy kaget karena kamu muncul gitu aja, hehehe," sahut Chandra.


"Wah, sepertinya kalian berdua sudah sangat akrab," ucap Qia. Dia meletakkan nampak yang dibawanya ke atas meja di depan sofa. Nampak dua buah kue coklat yang tersaji di atas piring berwarna putih.


"Aku buatin makanan kesukaan Kak Chan. Ini lava cake buatanku. Mumpung aku kemari. Ayok Kak dimakan!" Qia menyodorkan sepiring lava cake pada Chandra.

__ADS_1


"Hubby, ayo kamu juga coba! Ayo makan!" ujar Qia. Dia juga menyodorkan sepiring lava cake pada Billy.


Punya Chandra bentuknya hati. Punyaku bentuknya bundar, gumam Billy sambil memperhatikan ke arah kue lava cake yang disodorkan pada Chandra.


Dia kok keliatan nggak suka gitu, ya. Apa ada yang salah? Padahal kan kuenya sama, gumam Qia.


"Hubby, ada apa? Kamu nggak suka kuenya ya?" tanya Qia.


"Dik, kamu yang peka dong. Bentuk hati itu seharusnya buat Bang Billy, suamimu. Nih, ini seharusnya buat Bang Billy. Nah, yang bulat buat aku," sahut Chandra. Dia menukar kue miliknya dengan milik Billy.


Astaga, ternyata masalahnya di situ. Aku kan nggak tahu kalo dia sekarang peka sampe ke hal-hal kayak gitu. Kan cetakan yang bentuk hati tadi cuma ada satu, gumam Qia.


"Ayok, Bang, dimakan," ujar Chandra. Billy pun mencoba memakan kue lava cake itu.


"Gimana enak kan kuenya?" tanya Chandra.


"Tentu, masakan buatan Yaya selalu nikmat," puji Billy.


"Hari sudah mau malam nih. Hubby, ayo kita pulang," ajak Qia sambil menatap ke arah Billy.


"Pulang? Kenapa nggak nginap di sini saja?" tanya Billy.


"Nggak mau, aku nggak bisa bobok. Dia ketinggalan di rumahmu!" ujar Qia.


"Dia? Dia siapa? Kenapa kamu nggak bisa bobok? Waktu liburan kemarin kamu kayaknya baik-baik aja tidurnya," sahut Billy.


"Bang, yang dimaksud Qia itu Cici. Si boneka kelinci yang bau apek itu! Qia nggak bisa tidur tanpa boneka itu. Kalo pun bisa tidur pasti nggak sampe nyenyak," ejek Chandra.


"Aduh, sakit, Dik!" teriak Chandra saat Qia mencubit perutnya. Smartphone Billy nampak bergetar. Ada chat yang masuk. Dia segera membaca chat itu.


"Yaya," panggil Billy. "Kamu yakin mau pulang? Aku tak bisa pulang ke rumah bersamamu. Ayah memintaku memgurus sesuatu di kantor. Mobil yang menjemputku sebentar lagi datang. Jika kamu mau menginap di sini juga nggak papa. Nanti biar kusuruh orang untuk membawakan Cici kemari," ujar Billy.


"Iya, Hubby. Nanti aku pulang sendiri nggak papa. Nanti aku kabari menginap atau nggak," ujar Qia.


"Ya sudah. Nanti kabari saja," ucap Billy sambil menatap ke lauar smartphone-nya. "Mobil yang menjemputku sudah datang. Aku pergi dulu, Yaya."


"Hubby, hati-hati di jalan. Semoga kita bisa ketemu lagi," ucap Qia sambil memeluk Billy.


"Hey, aku hanya pergi sebentar. Kamu jangan khawatir," ujar Billy. Dia mencium dahi Qia.


"Ehem," Chandra berdehem. "Dik, ingat kakakmu masih jomblo, nih."


"Makanya Kak, segera nikah sana. Biar aku bisa punya kakak ipar! Cepet cari! Nanti keburu tua, lho," ejek Qia.


"Kamu berani ngejek aku? Dasar!" Chandra mengarahkan bantal sofa ke arah Qia. Bantal itu mengenai kepala Qia.


"Ih, jahat! Nih! Rasakan!" Qia memgambil guling dari atas tempat tidur. Guling itu dipakainya untuk memukul Chandra.


Sebaiknya aku tak mengganggu mereka, gumam Billy. Dia segera keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Billy," terdengar suara orang memanggil.


"Bunda Lia," sapa Billy.


"Kamu nggak pulang bareng Qia?" tanya Nyonya Lia.


"Billy ada urusan di kantor, Bunda. Ini urusan mendadak. Disuruh Ayah. Qia mungkin nanti menginap," sahut Billy.


"Oh ya, sudah. Hati-hati di jalan, ya, Nak," ucap Nyonya Lia.


"Iya, Bunda. Bily pergi dulu," ujar Billy sambil mencium tangan Nyonya Lia.


Kenapa firasatku tidak enak, ya? Aku seperti merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Ah, mumgkin itu cuma khayalanku saja, gumam Billy. Dia segera keluar dari rumah itu. Nampak sebuah mobil yang sudah menunggu di depan jalan depan rumah.


"Silahkan masuk, Tuan," ucap Sekretaris June. Dia sudah siaga di pintu mobil. Sekretaris June segera masuk ke mobil. Mobil itu segera berjalan.


"Ada urusan apa? Mengapa harus saat ini juga?" geruty Billy.


"Mohon maaf, Tuan. Ada rapat penting yang memerlukan kehadiran Tuan untuk menghadirinya agar keputusan bisa segera dibuat," ujar Sekretaris June. Dia menyerahkan laporan pada Billy.


"Ayah kan bisa mengabariku dulu," sahut Billy.


Billy segera membaca laporan yang diserahkan Sekretaris June. Mobil itu terus melaju. Sepanjang perjalanan Billy sibuk mencermati laporan itu.


"Tuan, sudah sampai di kantor," terdengar suara dari Pak Sopir.


"Ehm," sahut Billy singkat. Dia segera turun dari mobil. Nampak sebuah gedung megah bertingkat. Billy segera memasuki gedung itu.


"Selamat datang, Tuan," sapa pegawai yang bertugas membukakan pintu kaca gedung itu. Billy hanya menggangguk menjawab sapaan itu. Langkahnya dia percepat agar bisa segera memghadiri rapat itu.


Aduh, siapa yang menelepon di saat begini, sih, gumam Billy. Dia mengambil smartphone dari saku celananya.


"Halo, Bunda. Ada apa? Billy baru sampai di kantor ini," jawab Billy. Dia menjawab telepon itu sambil berjalan menuju lift.


"Billy, pulang, Nak. Pulang. Istrimu baru saja kecelakaan!" terdengar suara menangis dari seberang telepon.


"Apa? Kecelakaan?!" teriak Billy.


________________________________________


Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍


Mohon maaf selama kurang lebih dua bulan ke depan novel ini hanya akan update setiap hari Minggu 😊


Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁


Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊


Mohon doanya juga semoga bulan depan bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak bayak revisi 😊

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2