
"Paling nyaman memang mandi sambil berendam dalam air hangat," ucap Billy. Kedua tangannya memeluk tubuh Qia yang ada di hadapannya. "Yaya," panggil Billy.
"Ada apa?" tanya Qia.
"Tak apa-apa," ucap Billy sambil memberi kecupan lembut di bagian belakang leher Qia. "Kurasa aku harus lebih sering berendam bersamamu seperti ini, Yaya. Ini menyenangkan dan membuatku rileks. Biasanya kita hanya mandi bersama di bawah shower," ucap Billy sambil menyandarkan kepalanya di bahu kanan Qia.
"Hubby," panggil Qia. "Besok pagi ke Menara Eiffel lagi yuk! Aku pengen foto di sana!" pinta Qia.
"Ehm...iya, besok kita ke sana," sahut Billy.
"Hubby, kalo dipikir-pikir aku ini sudah tua...." ucap Qia lirih.
"Kau masih belum genap berusia seperempat abad, Yaya. Usiamu masih muda. Jangan terlalu overthinking tentang usia," sahut Billy.
"Bukan itu maksudku. Maksudku setelah liburan semester 5 ini, aku sudah masuk semester 6. Rasanya tambah tua aja. Semester 6 adalah semester terakhir yang ada kuliah teori di dalam kelas. Bentar lagi aku harus magang, KKN dan bikin tugas akhir," ucap Qia.
"Jangan khawatir, kau pasti bisa melaluinya, Yaya. Jangan terlalu overthinking. Jalani dulu apa yang ada," hibur Billy.
"Aku takut, aku kan bukan mahasiswa yang pintar. Aku takut dengan skripsi. Aku harus bagaimana besok...." keluh Qia.
"Kau sedang honeymoon denganku tapi pikiranmu berkelana sangat jauh. Yaya, jangan khawatir. Yakinlah kau pasti bisa melalui semua ini," ucap Billy sambil mencium pipi kanan Qia. "Yayaku pasti bisa menyelesaikan pendidikannya. Aku yakin itu."
"Hubby, aku ini tak terlalu pintar. Kenapa kau mau menikah denganku? Bukankah mudah bagimu mendapatkan wanita yang mungkin...."
"Sst!" Billy menaruh jari telunjuknya di bibir Qia. "Cukup. Kenapa daritadi kau membahas hal-hal yang membuat overthinking dan insecure, sih? Jangan bahas hal itu lagi," ucap Billy.
"Aku hanya ingin tahu, Hubby. Ehm...pikiran-pikiran itu tiba-tiba muncul begitu saja. Mungkin bisa jadi itu pikiran yang sudah lama terpendam dan aku baru mengingatnya sekarang...."
"Baiklah, aku akan menjawabnya. Jangan pernah tanyakan ini lagi di masa depan. Pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan tapi juga dua keluarga. Aku adalah anak tunggal, sudah kewajibanku membahagiakan orang tuaku. Aku bisa saja menikah dengan wanita lain tapi belum tentu wanita itu membuat keluargaku, terutama orang tuaku bahagia. Aku yakin pilihan mereka adalah pilihan yang terbaik untukku...."
__ADS_1
"Meski pun pilihannya wanita yang masih kekanak-kanakkan dan menyusahkan sepertiku?" ucap Qia. "Ehm..." ucapan Qia tertahan. Billy mencium bibirnya. Dagu Qia dipegang dengan erat.
"Kau membuat hari-hariku tak lagi membosankan. Seiring berjalannya waktu, pasti kau bisa menjadi lebih baik lagi...hoahm...." Billy tak bisa menahan rasa kantuknya sehingga dia menguap. "Sebaiknya kita segera tidur, Yaya,"
***
"Wah, pemandangannya indah!" ucap Qia.
Mata Qia menatap ke arah depan. Qia sedang berjalan di jalan setapak yang menuju ke Menara Eiffel. Keduanya sedang berada di zona hijau yang sengaja dibangun di sekitar menara itu. Dari kejauhan nampak menara yang paling populer di dunia, Menara Eiffel. Menara itu berdiri menjulang tinggi ke angkasa. Di kiri dan kanan nampak rumput hijau menghampar. Lampu-lampu dari logam yang dicat kecoklatan menambah indah nuansa zona hijau ini. Lampu-lampu penerangan itu berjajar dengan rapi di sepanjang jalan setapak. Di zona hijau itu juga terdapat kolam yang berbentuk kotak.
"Akhirnya! Bisa kemari juga!" teriak Qia bersemangat.
"Hey, jangan lari, Yaya!" ucap Billy sambil menarik tangan Qia.
"Ayo, Hubby, aku sudah tak sabar ingin ke sana!" ucap Qia sambil menarik tangan Billy.
"Padahal kemarin kita sudah ke sana," Billy pasrah saat Qia berjalan sambil menarik tangan kanannya.
Tumben, dia peka, gumam Qia.
Layar smartphone itu sudah menampakkan wajah Qia dan Billy. Timer pada kamera sudah menyala. Qia memasang senyum ceria. Sebelum waktu habis, Billy mengubah pose wajahnya. Dia mencium pipi kanan Qia.
"Hubby, kamu kasih kode dulu dong! Kalau mau ubah pose, aku kaget, tahu!" protes Qia.
"Nggak seru kalo dikasih tahu dulu," bisik Billy.
"Yaya," panggil Billy.
"Apa?" tanya Qia.
__ADS_1
"Je t'aime, Te amo, Aishiteru, Saranghae," bisik Billy di telinga kiri Qia.
Dia bilang apa? Saranghae? Bukanlah itu artinya aku cinta kamu dalam bahasa Korea? Ah, apa telingaku tak salah dengar? gumam Qia.
"Ayo, kita jalan lagi!" ucap Billy sambil menarim tangan Qia.
"Hubby, kau tadi bilang apa? Bisakah kau mengulanginya lagi?" celetuk Qia.
"Aku bilang ayo jalan lagi," sahut Billy.
"Bukan itu! Kalimat yang sebelumnya! Please, ulangi lagi!" pinta Qia.
"Memangnya tadi aku bilang apa? Aku bilang ayo jalan lagi, Yaya," ucap Billy.
Ih, dasar jaim. Seharusnya tadi aku rekam nih. Dia bilang i love you dalam lebih dari satu bahasa asing. Aku bakalan ingat terus momen ini, hihihi, gumam Qia.
"Kamu...." ucap Billy saat Qia menempel erat sambil memeluknya.
"Aku takut kalau nanti aku hilang, Hubby," ucap Qia.
"Kamu nggak bakal hilang,Yaya," sahut Billy sambil menggenggam erat pinggang Qia. Keduanya berjalan lebih dekat ke arah Menara Eiffel itu.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍