Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 36 - Terpaksa Bucin


__ADS_3

"Ya sudah, kita akan berangkat sebentar lagi. Jangan lupa pakai baju couple, Qia. Mama rasa kamu mulai menjadi budak cinta semenjak menikah," Mama nampak menahan tawa.


Mama aku bukan budak cinta pada Si Balok Es ini! 😣 Bukan kemauanku bersikap seperti budak cinta. Bisakah aku pergi sendiri saja? Acara keluarga seperti apa yang harus dihadiri?


"Acara seperti apa yang akan kita hadiri, Tikus Kecil?" tanya Balok Es saat kami berjalan menuju kamar.


"Saya juga tak tahu, Pak," jawabku sambil membuka pintu kamar. "Bapak sebenarnya akting atau modus tadi?" aku berbalik ke arahnya dan berkacak pinggang.


"Apa kau tak lihat jika saya sedang sakit? Teganya dirimu menuduhku macam-macam," Balok Es mengeluarkan raut wajah memelas. Dia semakin lihat berakting sekarang.


"Ya sudah, Bapak mau pakai baju yang mana?" kuambil dua kemeja kain dari dalam lemari warna coklat. Ini kemeja yang biasa dipakainya saat mengajar di kampus.


"Kamu pikir saya mau pergi ke kampus? Itu pakaian kerja! Bukan untuk hangout!" Balok Es membuka sebuah lemari putih di sebelah lemari coklat itu. "Saya ingin memakai kemeja flanel ini!" ia melemparkan sebuah kemeja flanel lengan pendek. Warna kemeja itu perpaduan warna putih dengan kotak-kotak warna dusty pink. Sebuah celana jeans warna biru tua juga iku dilemparkannya.


"Ayo cepat, bantu saya berpakaian!" perintahnya.


Aku pun melepas penyangga tangan itu. Ehm, bagaimana ya meski ini mungkin kedua kalinya aku melepas pakaian Si Balok Es tapi tetap saja jantungku berdebar kencang. Kutundukkan pandanganku ke bawah, aku berusaha fokus saat melepas kancing kaos itu. Saat sampai di bagian perut tetap saja mataku tak bisa berpaling. Kucuri pandang pada sixpack itu. Kurasa mataku butuh cuci mata sedikit.


"Kalau kamu mau pegang bilang saja!" terdengar bisikan di telingaku.


Sial! Aku ketahuan mencuri pandang. Segera kulepas kaos itu dari tubuh Si Balok Es.


"HUH! Siapa juga yang mau pegang perut om-om kayak Bapak!" ucapku sambil membuang muka. Sekarang waktunya melepas celana. Aduh, gimana ya. Aku geli melakukannya.


"Jangan khawatir! Saya bisa berganti celana sendiri," Balok Es mengambil celana jeans biru tua itu. Kurasa dia mengerti pada kondisiku yang masih ehm, polos. Dia lalu masuk ke kamar mandi.


Saat dia keluar dari kamar mandi. WOW! Efek celana jeans membuat Balok Es nampak lebih cool. Mataku tak bisa berpaling. Sial! Kendalikan dirimu, Qia! PLAK! Segera kutampar pipiku. Jangan sampai aku terlihat bodoh dan konyol lagi.


"Ayo, Pak, cepat pakai kemejanya!" kubuka kancing kemeja flanel itu.


Saat aku mendekat, astaga! Instingku menuntunku untuk terus menatap tubuh sixpack Si Balok Es. Mata tak bisakah kau berhenti nakal! Kau bisa membuatku malu lagi.


"Kalau mau lihat, tatap saja! Aku memang memesona kan?" bisik Balok Es. Aku tak mempedulikannya.


Segera kubantu Balok Es memakai kemeja flanel itu. Dengan cepat kukancingkan kemeja itu. WOW! Balok Es terlihat cool. Aku seakan teringat pada idolaku di salah satu MV (Music Video) boyband korea yang pernah kutonton. PLAK! Segera kutampar kembali pipiku. Jangan sampai aku kehilangan kewarasanku dan memeluk Si Balok Es lagi. Aku langsung membuang muka.


"Kalau mau peluk, peluk saja. Aku tahu kau sangat menginginkannya, Tikus Kecil!" bisik Balok Es lagi. Lebih baik aku segera pergi dari sini.


"Saya ganti baju dulu, Pak!" ucapku sambil membuang muka.


"Pakai ini!" Balok Es melemparkan dua bungkusan baju ke arahku.

__ADS_1


Ternyata itu sebuah hoodie berwarna soft pink dan sebuah kemeja katun berwarna dusty pink. Saat kulihat benda ini, astaga! Ini budak cinta level gila! 😣. Hoodie itu memiliki bordiran tulisan di bagian depan dan belakang. Tulisannya warna hitam mencolok sehingga sangat jelas terlihat mata. Tulisan di bagian depan berbunyi : ' My Lovely Hubby ➡' . Tulisan di bagian belakang hoodie membuatku serasa terkena serangan jantung. Empat baris tulisan yang sangat bucin. Bunyinya:


'My Lovely Hubby' ➡


'Suaminya cewek cantik'


'Cewek lain dilarang melirik'


'Berani lirik langsung cekik'


Astaga, di bagian belakang kemeja soft pink itu juga ada empat baris tulisan ini. Bahkan warnanya kuning sehingga sangat jelas terlihat mata. Sungguh aku terlihat seperti seorang yang bucin pada Balok Es jika memakai ini.


"Saya tak mau, Pak! Ini terlalu bucin!" tolakku.


"ASTAGA!" teriak Balok Es. "Apa yang kau lakukan, Qia? Teganya dirimu menolak! Kau tak mau menuruti permintaan kecil ini! Bunda Lia, Qia....." Balok Es kurasa sengaja berteriak sekencang mungkin.


Sialan! Kurasa dia memprovokasi agar Mama datang kemari. Aku harus menghentikan teriakannya.


"Iya, Pak. Iya!" aku segera membungkam mulut Si Balok Es. "Aku hanya bercanda T-Rex Tersayang!" teriakku kencang sekali. Jika Mama mendengarnya kuharap dia berubah pikiran dan tak jadi kemari. Aku terpaksa bucin demi akting 😣.


"Mengapa saya yang harus pakai sedangkan Bapak tidak?" aku berusaha protes lagi. Kuharap ini berhasil.


"Saya sudah menyiapkan juga hoodie dan kemeja seperti itu. Tapi kan kamu tahu tangan kanan saya sedang sakit. Akan memperlambat proses penyembuhan jika memakai hoodie atau kemeja lengan panjang," sahut Balok Es. Dia benar-benar sulit dibantah. Segera kuberganti pakaian di kamarku.


"Bapak! Ini maksudnya apa?" kutunjuk ke arah tudung hoodie itu.


"Kamu kan memang tikus kecil! Jadi tak perlu protes! Sebenarnya saya ingin menyuruhmu memakai benda ini saat utang 3 hari janjimu itu. Tapi, sepertinya lebih berguna jika dipakai sekarang," Balok Es tersenyum licik.


"Bapak jahat!" aku hendak memukulnya dengan tanganku.


"AH! SAKIT!" teriaknya kencang. "Bunda Lia, Qia memukul Billy!" teriak Si Balok Es. Sialan! Dasar Balok Es Tukang Adu!


"Aku hanya bercanda, Sayang!" teriakku kencang. "Iya, Pak. Saya nggak akan protes! Sekarang, ayo turun!" aku beranjak keluar dari kamar Si Balok Es.


Di ruang tamu lantai bawah nampak Nyonya Belvana dan Mama yang sudah berdandan rapi. Keduanya memakai dress panjang warna kuning keemasan. Saat melihatku nampak Nyonya Belvana membisiki Mama. Kurasa mereka menertawakan penampilanku. Aku terpaksa bucin, Mama 😣.


"Sudah, ayo kita berangkat!" ajak Nyonya Belvana. Kami berangkat dengan sebuah mobil mini bus. Mama dan Nyonya Belvana duduk di kursi deret kedua. Aku dan Si Balok Es duduk di kursi deret ketiga. Mobil mulai berjalan keluar dari rumah Si Balok Es.


"Ma, kita mau pergi ke acara apa, sih?" tanyaku penasaran.


"Tenang saja, kita cuma mau makan-makan aja kok. Acara syukuran sepupu kamu, Stevia. Ingat kan? Stevia, anak Tante Ria, kembaran Mama yang tinggal di Eropa," ucap Mama.

__ADS_1


"Stevia pulang, Ma?" aku mulai teringat padanya.


Stevia adalah sepupuku, dahulu kami satu SMA. Dia dua tahun lebih tua dariku. Dahulu aku sering curhat tentang lika-liku cintaku dengan Naren padanya. Saat lulus SMA, Tante Ria dan Stevia pindah ke Eropa menyusul Paman Ryan yang bekerja di sebuah perusahaan asing di sana. Stevia hebat, dia bisa diterima di universitas di Eropa dan kuliah S1 hingga lulus.


"Iya, dia pulang. Mulai sekarang sepertinya dia bakal tinggal di sini. Katanya mau meneruskan S2 di dalam negeri aja," celetuk Mama.


Aku sudah tak sabar untuk bertemu Stevia. Kami jarang berkomunikasi sejak aku sibuk kuliah. Mobil ini akhirnya sampai di sebuah restoran yang cukup mewah. Restoran itu bernuansa putih nan elegan. Dindingnya berwarna putih. Nampak tanaman-tanaman hias nan hijau menghiasi setiap meja. Sungguh memanjakan mata. Aku langsung turun dari mobil terlebih dahulu. Restoran ini sepi, kurasa Tante Ria mem-booking full satu restoran. Ada sebuah panggung kecil dengan background bertuliskan ' Graduation Party'.


"Qia!" nampak suara yang tak asing. Terlihat cewek tinggi semampai berkulit kuning langsat dengan rambut panjang sepinggang menghampiriku.


"Via!" aku langsung memeluknya. Dia adalah Stevia, sepupuku. Dahulu hubungan kami sudah seperti kakak beradik.


"Aku rindu kamu, Qia!" ucapnya. "Wah, sejak kapan rambutmu dicat seperti ini?" dia menyentuh rambutku. Aku harus jawab apa 😣. Cat rambut ulah Si Balok Es belum juga hilang.


"Via!" terdengar suara mendekat. "Ponakan kesayangan, Tante!" Mama langsung melakukan cipika-cipiki pada Stevia.


"Ah, Qiandra!" seseorang datang memelukku. "Kamu sudah besar, ya!" ia menatapku dengan tatapan aneh. Kurasa dia menyadari tulisan di hoodie yang kupakai. Tante Ria, tolong jangan tanya macam-macam.


"Kakak!" Mama memeluk orang itu.


"Dek, Qiandra udah besar, ya. Dia beneran udah nikah? Aku kira kamu bercanda waktu itu," sahut Tante Ria.


"Ceritanya panjang, Kak. Oh ya, kenalkan ini Jeng Belvana, besanku," Mama memperkenalkan Nyonya Belvana. Tante Ria dan Nyonya Belvana melakukan salaman dan cipika-cipiki.


"Wah, Qia kamu beneran udah menikah?"


"Ehm...iya, Stev...." jawabku singkat.


"Kamu bucin banget, hehehe," Stevia tertawa. "Jangan khawatir, aku masih sayang nyawaku kok. Aku nggak bakalan ngelirik suamimu."


"Iya, Qia memang bucin, Stev," sahut Mama. "Namanya juga pengantin baru jadi ya suka bucin. Oh ya, kenalin ini Billy, suaminya Qia." Mama memperkenalkan Si Balok Es. Tante Ria dan Stevia menyalami Si Balok Es.


"Oh ya, Ya. Terus hubunganmu sama Naren gimana? Kalian udah putus berarti?" tanya Stevia tiba-tiba. Pertanyaan itu seperti petir di telingaku.


Jantungku seakan ingin berhenti berdetak. Apalagi Mama, Tante Ria dan Nyonya Belvana memandang ke arahku. Aku harus jawab apa? 😣


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2