Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 17 - Hidupku yang Seperti Drama


__ADS_3

"Baiklah! Baiklah!" aku terpaksa menurut. Sampai kapan dia akan mengancamku dengan ancaman kecoa? Kemana dia mau membawaku pergi?


"Kamu mau pergi kemana?"


"Ganti baju, Pak! Di lantai atas!"


"Apa saya menyuruhmu naik ke lantai atas?" aku bingung dan menggeleng. "Ikuti saya!" kuiikuti Si Balok Es ini dari arah belakang. Ternyata dia membawaku pegi ke rumah bagian depan. Ini pertama kalinya aku masuk ke rumah ini. Seperti apa ya isi di dalamnya? Ternyata ruang tamu rumah ini hampir sama dengan ruang tamu rumah Si Balok Es, hanya ukurannya lebih besar.


"Tuan Muda, Nona!" beberapa pelayan nampak menyambut kami.


"Aku belum memperkenalkan mereka padamu, Tikus Kecil. Ini Pak May, kepala pelayan rumah ini. Ini Pak March, kepala pertugas keamanan. Ini Bu Ava, kepala pelayan rumah kita," Balok Es memperkenalkan mereka. Kata-kata 'rumah kita' membuat telingaku berkedut dan geli.


"Ini sekretaris June, sekretaris pribadiku," nampak seorang lelaki berkepala plontos, wajahnya datar seperti Si Balok Es. Kurasa dia usianya tak terpaut jauh dengan Si Balok Es.


"Bapak kan dosen, buat apa punya sekretaris pribadi?" tanyaku heran.


"Apa kamu cuma melihat saya sebagai dosenmu saja?" ia nampak kesal. "June, jelaskan!"


"Nona, apakah Anda tahu siapa Tuan Muda sebenarnya?" Sekretaris June justru memberi petanyaan lagi padaku.


"Dia adalah dosen killer dan galak yang suka menyiksa dan menindas seorang gadis sepertiku!" aku mengejek sambil menunjuk ke arah Si Balok Es. Mata para pelayan itu melotot ke arahku. "PAK, SAKIT!!!" telingaku dijewer oleh Si Balok Es. "Ampun, Pak!" baru ia melepaskannya.


"Nona, Tuan Muda adalah cucu dari pemilik Alpha Ava Jaya (A2J) Group Company. Beliau adalah CEO dari anak perusahaan A2J Group Company, A2J Tech Company. Ayah beliau, Tuan Adi Hutama adalah presiden direktur dari A2J Group Company, menggantikan Tuan Adi Hutama."


"WHAT?!" kepalaku berusaha mencerna kata-kata itu.


A2J Group Company adah salah satu perusahaan multinasional yang sukses dan besar. Aku tak pernah tahu latar belakang teman relasi Papa. Aku juga baru mengenal Tuan dan Nyonya Hutama kemarin ketika pesta itu. Pernikahan dadakan dengan Si Balok Es membuatku tak peduli lagi pada latar belakang keluarganya. Tak banyak yang bisa diketahui dari keluarga ini meski mereka sering kudengar. Orang hanya tahu bahwa mereka keluarga Crazy Rich saja. Aku berusaha mengigat-ingat informasi tentang keluarga ini. Tunggu, tapi A2J Group Company punya pewaris tunggal. Kalau tidak salah namanya Tuan Rexford. Ya, Tuan Rexford, dia pewaris yang misterius. Wajahnya selalu ditutupi kacamata hitam dalam berbagai acara formal. Konon, itu untuk menutupi wajahnya yang buruk rupa. Satu lagi gosip tentangnya yang terkenal....


"Bapak, Tuan Rexford, si playboy itu!" teriakku kencang seolah mampu menggetarkan dinding rumah. "PAK, SAKIT!" telingaku kembali dijewer.


"Kamu berani berbicara gosip murahan di depan orangnya langsung, Tikus Kecil!" telingaku terasa sakit.

__ADS_1


"Ampun, Pak!" telingaku dilepas.


"Sudah, ayo masuk!" ia menuntunku menuju sebuah ruangan di lantai kedua. Astaga, jiwa missqueen-ku meronta-ronta keras. Ruangan ini dipenuhi tas dan aksesoris mewah. Rak-rak kaca berisi tas mewah berjajar, berderet-deret memenuhi dinding ruangan ini. Ada merek-merek mewah yang harganya mungkin ratusan juta rupiah. Ada sebuah meja rias di ruangan itu.Terlihat para Make Up Artist (MUA)yang telah siap dengan sarung tangan dan peralatan make up di tangan mereka.


"Tikus Kecil, pakai ini setelah riasanmu selesai!" perintah Balok Es.


Sekretaris June menyerahkan sebuah gaun berwarna merah dari bahan satin. Gaun itu modelnya tanpa lengan, bagian punggungnya terbuka. Panjang gaun itu di atas lutut. Gila! Ini bukankah termasuk kategori seksi?


"Cepat, dandani Tikus Kecil ini. Pastikan dia nampak berbeda," para MUA itu menyuruhku duduk dan menghadap cermin. Balok Es duduk dengan santai di sofa putih di belakangku. "Aku ingin rambut Tikus Kecil di potong segi sebahu dan dicat!"


"PAK!" teriakku sangat kencang. Aku tak mau rambut panjangku dipotong seenak jidat Balok Es ini.


"Kamu mau menurut atau saya lepaskan hewan manis ini di sini!" di tangan Balok Es itu sudah ada dua tabung plastik berisi kecoa. Sial, ancaman kecoa lagi! "Baiklah, cepat lakukan!"


"Anak pintar! Menurutlah pada tuanmu ini! Oh ya, saya ingin rambutnya dicat warna ehm...pirang dan...." Balok Es nampak berpikir. "Padukan dengan warna pink neon menyala, dan potong poninya agar menutupi dahi!" ia melirikku dengan tatapan licik sambil menikmati jus jeruknya. Para MUA itu mulai menerapkan foundation di wajahku. Rambutku mulai dipotong dan dicat. Pada bagian atas warna pirang dan pada bagian bawah warna pink neon menyala. Bagaimana aku harus pergi ke kampus dengan tampilan ini minggu depan?


"Sudah selesai, Tuan Muda," ucap salah satu MUA setelah riasanku selesai dan bajuku telah berganti menjadi gaun merah itu.


"Kemari, Tikus Kecil!" aku hanya menurut. "Lumayan juga!" ia menyentuh daguku dengan tangan kanannya. Ia memutar kepalaku ke kiri dan ke kanan. "Aku tak sabar merasakan bibir merahmu saat pulang nanti, Tikus Kecil!" jantungku ingin melompat keluar. Telingaku kaku, apa maksud Si Balok Es ini? "Bawa ini!" ia menyerahkan tas selempang merah kecil. Tali tas itu berupa rantai kuning keemasan. Astaga, ini kan tas yang harganya selangit. "Saat bertemu siapa pun, nanti perkenalkan dirimu sebagai Kalya dan panggil aku dengan panggilan mesra. Apa kau paham, Yaya Tercinta?"


"Iya, Pak," aku menggangguk. Tak bisakah kau memberitahuku kemana kita akan pergi, Balok Es? Kau melakukan ini untuk balas dendam kan?


"Apa yang kau katakan?!" ia mengeluarkan tabung berisi kecoa lagi.


"Iya, T-Rex Tersayang!" teriakku. Sengaja kuberi penekanan pada kata T-Rex untuk melampiaskan amarahku.


"Ayo, kita segera pergi!" Balok Es itu memakai kacamata hitam. Astaga, dia benar-bebar berubah, terlihat seperti Tuan Rexford yang terkenal itu. Auranya terasa misterius, gagah dan bertambah garang.


"Saya mau ambil smartphone dulu, Pak eh maksudku T-Rex Tersayang...." kutatap dia lembut. Kata-kata 'Tersayang' membuat mulutku terasa gatal. Kurasa harus kucuci mulutku dengan obat kumur berkali-kali setelah pulang dari pergi bersama Si Balok Es ini.


"Pakai ini!" ia menyerahkan sesuatu di tanganku. Suatu benda kotak berwarna kuning keemasan. Astaga, ini kan smartphone dengan empat kamera belakang yang terkenal itu. Jiwa missqueen-ku kembali meronta. Aku hanya menunduk sepanjang perjalanan. Aku tak tahu kemana Si Balok Es ini pergi. Dia menaiki mobil mewah diikuti dua mobil lain. Kurasa dua mobil itu berisi pengawal.

__ADS_1


"Kita akan butuh penjaga untuk melindungi dari serangan para paparazi. Ingat apa yang saya kataka tadi, Tikus Kecil!" tatapan dingin itu terasa meski tersembunyi di balik kacamata hitam itu. Aku hanya menggangguk-angguk. Kuarahkan mataku ke pemandangan pada jendela mobil.


Mengapa hidupku jadi seperti di novel atau drama korea, sih? Menikah dengan dosen killer yang tak kusukai. Ternyata dia adalah seorang CEO yang terkenal kaya tapi playboy. Aku menikah dengannya karena perjodohan, dia menjadikanku mainan sesuka hatinya. Dari milyaran orang di dunia ini mengapa harus aku? Kukira alur hidup menikahi dosen killer atau CEO itu hanya ada di novel atau drama korea. Kemungkinannya kan mungkin hanya 1 : 1.000.000.000 (milyar).


Tunggu, tapi setidaknya aku kan tak disiksa seperti di novel atau drama korea yang selama ini kutonton. Mertuaku kurasa sangat menyukaiku, perjodohan in terjadi karena permintaan mereka. Balok Es juga lumayan, dia tidak terlalu kasar. Hanya suka berteriak dan mudah marah saja. Kekayaan keluarga ini juga fantastis. Jika aku bisa mendapatkan hati Si Balok Es dan benar-benar menjadi nyonya dan istrinya yang sesungguhnya hidupku bisa makmur dan sejahtera hingga tujuh turunan. Tanpa sadar aku tersenyum membayangkannya.


Kutampar pipi kananku untuk menyadarkanku. Qia bodoh! Apa yang kau pikirkan! Ingat kamu sudah punya Naren, pangeran berkuda besi. Ingat empat tahun yang telah kalian jalani. Apa kau tidak rindu pada hidupmu sebagai mahasiswa kura-kura (kura-kura \= kuliah- rapat, kuliah- rapat \= anak organisasi) yang normal? Rindu!


Dua pikiranku sendiri berbenturan di kepalaku yang mulai terasa panas. Jujur aku rindu kehidupan nornalku. Mahasiswi tahun ketiga yang tenang dengan impian setelah lulus akan bekerja dan menikah dengan pacar yang selama ini diperjuangkan. Tapi...Si Balok Es itu lumayan juga. Kutampar lagi pipi kananku. Pikiran gila macam apa ini?!


"Kau kenapa, Tikus Kecil?" Balok Es melirikku.


"Ehm...nyamuk, Pak. Eh T-Rex Tersayang.." hampir saja aku salah sebut. "Pipi Yaya diganggu serangga, T-Rex Tersayang..." aku tak ingin membuat Si Gila ini semakin jahil padaku. Sesungguhnya mulutmu terasa gatal saat mengatakan kata 'Yaya' dan 'T-Rex Tercinta'. Kurasa aku harus berkumur dengan dua botol obat kumur setah acara ini selesai.


"Benarkah, Yaya Tercinta?" ia memegang daguku. "Apa kau sedang memprovokasiku agar lebih cepat merasakan bibirmu, Yaya Tercinta?" ucapan itu membuatku kaku. Tolong, Pak kasihani saya. Jangan rebut first kiss-ku, Naren saja selalu kutolak saat memintanya. Balok Es membuat wajah kami semakin dekat dan dekat. Kututup mataku....


"Tuan, kita sudah sampai," ucap Pak Sopir. Nampak penjaga berjajar rapi di kiri dan kanan. Si Balok Es menggenggam tanganku. Saat turun dari mobil, astaga apa aku ini masuk ke dalam drama korea? Lampu blitz dari para paparazi terus menyala, berpijar tanpa henti seperti bintang di langit. "Tuan Rexfod! Tuan Rexford!" panggil para paparazi itu. Para bodyguard menjaga jalan kami masuk. Aku dibawa masuk ke sebuah gedung bertingkat. Balok Es itu mengisi buku tamu dan memasukkan amplop. Kira-kira berapa ya isi amplop itu?


Balok Es kembali membawaku berjalan masuk ke dalam gedung dipandu sebuah red carpet. "Tuan Rexford!" pria-pria berjas terus menyalaminya. Aku hanya tersenyum lembut sambil mengeratkan genggaman tanganku. Pak, sebenarnya berapa rahasia lagi yang Anda simpan? "Silahkan masuk!" aku dan Balok Es masuk memasuki gedung itu. Kurasa ini pesta pernikahan yang megah. Hatiku sedikit senang karena membayangkan hidangan lezat yang sudah menunggu sampai....


"Rexford Sayang!" terdengar panggilan mesra dari seorang wanita. Itu bukan wanita yang pernah kujahili saat di kantin. Sebenarnya, berapa jumlah Nenek Sihir yang kamu miliki, Balok Es?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2