
"Ah...ma...af...." mulutku seakan tak bisa menutup. Tubuhku kaku karena tatapan dinginnya. Bagaimana makhluk ini bisa di sini?
Tatapannya masih sedingin es, tetap mematikan seperti predator.
"Kamu lagi!" ucapnya galak. "Sudah tahu salah malah mematung! Sopan santun seperti apa ini?" omelannya membuatku tersadar dari lamunanku.
"Qia, tunggu!" terdengar teriakan dari arah belakang. "Pak T-Rex!" teriak Naren. Aku menatapnya, dia langsung menutup mulutnya. Untung saja beliau tak dengar.
"Ma...af, Pak!" aku membantu membereskan belanjaan Pak T-Rex yang terjatuh.
Belanjaan itu aneh sekali, berupa pakaian cowok. Ada celana jeans yang panjang serta kemeja flanel. Ada juga jam tangan dan hoodie motif hiu yang sedang tren saat ini. Mungkin dia belanja buat anaknya. Kalau untuknya kurasa tak mungkin. Pak T-Rex selalu memakai pakaian kuno yang formal.
"Lain kali kalau jalan lihat-lihat! Kalian bukannya kuliah sekarang malah keluyuran!" omelnya lagi. "Kalian yang telat di kelas saya tadi kan?"
"Iya...Pak. Tapi kami nggak keluyuran kok, Pak. Kami di sini kerja...." ucap Naren.
"Kerja? Kerja apa?" aku bingung, Naren langsung menekan salah satu kakiku.
"Kamu nggak usah malu, Qi. Kita kan kerja halal, kerja parttime."
"Oh begitu, bagus itu. Berarti kemandirian kalian sudah terbentuk. Saya kira kalian hanya pasangan bucin yang hanya tau menghamburkan yang orangtua untuk nge-date nggak jelas. Ya sudah, kembali bekerja. Lain kali jangan telat lagi di kelas saya!" ia beranjak pergi.
Kata-kata Pak T-Rex kok makjleb ya. Ngabisin uang ortu buat nge-date nggak jelas? Hello, ortu aku aja nggak keberatan kok. Aku menghela napas. Setidaknya dia sudah pergi.
"Astaga, Ren, kok kita bisa sih ketemu beliau di sini?"
"Kebetulan aja kali. Udah, nggak usah dipikirin."
"Van, tapi beliau udah nikah belum, sih? Kok dia beli pakaian anak muda gitu...."
"Nggak tau ah, nggak penting buat gue mikirin itu." Naren mencari-cari handphone di sekitarku. "HP gue mana, Ya? Loe taruh mana tadi?"
__ADS_1
"HAH? HP?" aku ikut tersadar. Bener juga, aku tadi kan bawa HP-nya Naren. "Kok nggak ada ya, Ren?" kumulai panik.
"Ya, jangan-jangan ikut masuk di belanjaannya Pak T-Rex tadi!"
"HAH?!" aku terkejut. "Ya ampun, Ren. Gimana, nih?"
"Udah, ayo sekarang kejar!" teriakku.
Aku dan Naren buru-buru mencari beliau. Astaga, tanda-tandanya tak terlihat. Kami sudah mencari di lantai paling atas hingga ke basement parkir. Tak ada tanda-tanda Pak T-Rex.
"Ren, gimana, nih?" aku ingin menangis karena merasa bersalah.
"Ya udah, besok kita cari beliau di kampus. Mau gimana lagi, dicari juga nggak ketemu. Mau nangis juga nggak ada gunanya," Naren terlihat sedikit kesal.
"Ma...af, Ren...." aku mencoba membujuknya agar tak marah.
"Hm...." jawabnya singkat.
Gawat, Naren marah, nih. Aku heran kenapa Pak T-Rex bisa menghilang begitu saja? Padahal mall sedang sepi dan dia mudah dikenali dari cara berpakaiannya yang kuno itu.
***
"Ren, maaf ya soal HP-mu...." ucapku lirih saat turun dari boncengan motor. Aku takut Naren marah, dia tak berbicara sepanjang jalan.
"Lain kali jangan ceroboh!" ia tak menatapku. "Sudah, sana masuk, nanti aku yang disalahkan lagi karena kamu telat!" ia pergi begitu saja dengan memacu motornya keras-keras.
"Kamu darimana saja, Qia?!" ternyata Mama sudah menunggu di dekat gerbang. Ia memakai gaun warna merah menyala setinggi lutut. Rambutnya disanggul dengan make up flawless yang glamour. Bukankah pesta ulang tahun Oma hanya dirayakan secara sederhana? Mengapa Mama berdandan heboh?
"Aduh malah mematung lagi! Ayo, ikut ke mobil, dandannya di mobil saja!" ucap Mama. Aku ditarik ke dalam mobil.
Mobil melaju menuju suatu tempat, saat itu aku didandani oleh seorang MUA (Make Up Artist). Mungkin pesta ini mengundang banyak rekan bisnis keluarga yang penting, pikirku. Sampai di tempat pesta aku sudah didandani dengan make up flawless. Gaun warna merah kukenakan. Astaga, pestanya diadakan di salah satu hotel mewah bintang 5. Di dalam nampak para tamu memakai jas dan gaun, mungkin pesta ini temanya glamour. Kue ulang tahun tingkat 3 ada di tengah-tengah ruangan. Nampak lilin dengan angka 70 di tertancap di tingkat kedua kue itu.
__ADS_1
"Kamu dari mana aja sih, Ma?" nampak Papa berdiri di samping Oma. Ternyata satu keluarga kami kompak memakai dresscode warna merah. "Kamu tahu nggak? Tamu penting kita udah nunggu dari tadi!"
"Iya, Pa. Maaf. Qia tadi pulangnya telat, dia ada kuliah dadakan tadi," Mama menatapku, kurasa Mama berusaha menyelamatkanku.
"Iya, Pa. Tadi Aku ada kuliah tambahan sampai sore. Soalnya dosennya besok sudah cuti melahirkan...." aku membuat alasan ngawur.
"Ya sudah, kita mulai acaranya," Papa beranjak menuju samping Oma. Acara itu dimulai musik mulai mengiringi pemotongan kue. Sorak-sorai meriah memenuhi ruangan. Setelah acara itu, acara makan malam dimulai. Aku tak terlalu peduli dan memilih duduk di pojok ruangan sambil memakan kue kering.
"Nah, ini, Jeng," Mama mengajak salah seorang tamu wanita mendekatiku. "Ini anak saya, Qia. Dia masih kuliah semester lima."
"Wah, Jeng. Anaknya sudah besar ya. Cantik, Jeng. Anakku Billy pasti suka, hahaha," ucap Tante itu. Aku tak tahu apa maksudnya tapi rasanya kue yang kumakan seakan tersangkut di tengorokanku.
"Qia, kenalkan ini Nyonya Belvana Hutama. Istri Tuan Andy Hutama. Rekan bisnis dan kenalan lama keluarga kita. Ayo, beri salam," perintah Mama. Aku mencium tangan wanita itu. Entah mengapa perasaanku tidak enak.
"Wah, sopan sekali. Dia manis dan baik, Jeng. Anakku Billy pasti suka. Oh ya, itu dia!" wanita ini melambaikan tangannya ke arah seseorang.
Orang itu mendekat, tak seperti tamu lainnya dia tak memakai jas tetapi pakaian santai. Celana jeans hitam dan kemeja flanel kotak-kotak menjadi pakaiannya. Sebuah jam mewah silver yang nampak mahal ada di tangan kanannya. Aku merasakan aura maskulin hanya dari kejauhan. Kok aku merasa deg-degan, ya? Saat dia mendekat, jantungku seakan ingin melompat keluar.
"PAK T-REX!!!" teriakku kencang, mungkin seluruh ruangan bisa mendengarnya. Mataku tak rabun, lelaki di depanku ini adalah dosen killer itu. Meskipun penampilannya berubah tapi mataku tak mungkin salah.
"KAMU!!!" teriaknya. Kurasa dia juga tak percaya dapat menemuiku di sini.
"Billy, kamu sudah kenal dengan Qia? Wah, bagus kalau begitu," wanita itu menatap Mama. "Jeng, kurasa perjodohan ini akan semakin mudah, hahaha," ucapnya santai.
"HAH?! PERJODOHAN?!" teriakku kencang.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍