Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 32 - Tak Merespon


__ADS_3

"Kak, kita sudah sampai!" ucap Mbak Sopir Taksi. Lamunanku buyar karena ucapannya. Segera kubayar ongkos taksi itu dan keluar dari mobil. Aku sudah ada di gerbang rumah Si Balok Es. Balok Es, apa yang harus kulakukan untuk menghadapimu sekarang?


Kuberanikan diri memasuki gerbang rumah itu. Ternyata rumah bagian depan masih kosong. Kulanglahkan kakiku menuju rumah belakang. Jantungku rasanya berdebar. Rasa bersalah ini semakin membuat terasa sesak.


"Non!" seseorang menyapa. "Nona, kenapa? Aduh, apa Tuan Muda sama Nona Qia habis kecelakaan? Tuan Muda kenapa? Tangannya kok sampe diperban kayak gitu? Duh, dahi Non Qia juga luka kayak dahi Tuan Muda," Bibi Ava menyentuh plester luka di dahiku. "Kok bisa kayak gini, Non? Kecelakaannya dimana?"


"Ehm, ceritanya panjang, Bi," sahutku singkat. Aku sedang tak ingin bercerita panjang lebar sekarang.


"Lukanya masih sakit, Non? Perlu Bibi panggilkan dokter?" Bibi Ava nampak khawatir.


"Tak perlu, Bi. Sudah tak sakit lagi kok," aku melihat ke arah ruang tamu dan halaman depan rumah. Balok Es tak ada di sana. "Ehm, Pak Rexford sekarang dimana, Bi?" kuberanikan diri bertanya.


"Tuan Muda tadi langsung masuk ke kamar di lantai dua, Non. Beliau nggak bicara apa pun. Tuan Muda tadi kelihatan murka campur kecewa dan sedih, Non," Bibi Ava nampak tertunduk. "Ehm, maaf. Bibi nggak bermaksud ikut campur urusan Nona Qia dan Tuan Muda. Tapi, Bibi di sini sejak Tuan Muda masih kecil. Jadi, meski Tuan Muda wajahnya kelihatannya datar tapi Bibi tahu saat beliau sedang marah, sedih atau kecewa," Bibi Ava menatapku.


Balok Es sedih dan kecewa? Dia juga marah? Apa baginya hubungan ini serius? Tapi, bukankah dia memiliki koleksi Nenek Sihir. Balok Es, mengapa sulit sekali menerka hatimu. Entah mengapa rasa sesak itu makin terasa. Aku semakin merasa bersalah.


"Ehm, aku mau ke kamar dulu, Bi," ucapku lirih sambil berlalu pergi. Kulangkahkan kakiku menaiki tangga menuju lantai dua. Aku harus menemui Si Balok Es. Terlihat pintu coklat itu, kucoba menyentuh ensel pintu itu. Ternyata terkunci.


"Ba...pak...." panggilku terbata-bata. TOK! TOK! TOK! Kuketuk pintu itu. "Ini saya, Pak, Qia. Saya tahu Bapak ada di dalam," kuhela napas dan kukuatkan hatiku. "Pak, saya minta maaf! Tolong, buka pintunya, Pak. Saya ingin bicara sama Bapak," ucapku dengan suara keras. Dari dalam ruangan tak terdengar respon apa pun.


TOK! TOK! TOK! Kuketuk lagi pintu itu. "Pak, tolong buka pintunya! Saya ingin bicara sama Bapak!" kuulang ketukan pintu dan ucapan itu lagi. "Saya minta maaf, Pak! Maafkan saya!" ketukan dan ucapan itu terus kuulangi. Tak ada respon dari dalam ruangan. "Ba...pak..." panggilku lirih. Aku mulai kehilangan energi.


"Bapak, boleh marah tapi tolong jangan diam begini, Pak!" ucapku lagi. Aku paling takut jika seseorang mendiamkanku sebagai bentuk kemarahannya. Didiamkan oleh seseorang lebih buruk daripada menerima kemarahan secara langsung.


"BAPAK!" teriakku kencang. "Saya tetap menunggu di depan pintu sampai Bapak membuka pintu ini!" kusandarkan punggungku ke depan pintu itu. Kedua lututku kutekuk. Rasa bersalah ini semakin membuatku terasa sesak. Apa yang harus kulakukan agar Balok Es mau membukakan pintunya? Sebuah ide terlintas di pikiranku.


Kubuka smartphone-ku, kucari kontak dengan nama 'Balok Es'. Kukirim pesan chat melalui kontak itu. Kutulis pesan berbunyi : 'Bapak, tolong buka pintunya 😢...saya minta maaf, Pak 😢...tolong jangan diamkan saya seperti ini...😢...' . Kupencet tanda send. Pesanku sampai dengan tanda centang dua abu-abu. Kukirim pesan itu berkali-kali baik lewat chat maupun SMS. Mungkin sudah lebih dari 500 kali aku melakukannya. Dia tetap tak merespon dari balik pintu ini.


Kubuka sosial media, kukirim pesan itu lewat direct message ke berbagai sosial media milik Balok Es atau tepatnya sosial media milik Tuan Rexford, Sang CEO A2J Tech Company. Kukirim pesan itu ratusan kali. Tetap saja tak ada respon dari balik pintu. Kukirim juga pesan itu lewat e-mail hingga ratusan kali juga. Percuma Balok Es tak membuka atau merespon dari pesan-pesan itu. Aku tak kehilangan akal, kucoba menelponnya lewat aplikasi chat maupun telepon konvensional. Dia tak merespon panggilanku. Hal itu kulakukan berkali-kali.


"Bapak!" ucapku sekali lagi. "Maafkan Qia...." aku mulai menangis. "Maaf sudah memaki dan berteriak pada Bapak...." rasa bersalah yang menyesakkan itu membuatku tak bisa berhenti menangis. "Bapak, tolong buka pintunya... Qia minta maaf, Pak...." ucapku sesengukan. Tetap saja tak ada respon dari balik pintu itu.


Aku lelah didiamkan seperti ini, mungkinkah ini yang dirasakan Si Balok Es? Dia tak suka jika perhatianku teralihkan oleh Naren sehingga dia terus menggangguku? Apa dia benar-benar mengganggap serius hubungan ini? Tapi hubungan ini hanya karena kesepakatan saja. Dia pernah bilang jika dia tak menyukaiku. Tapi mengapa dia harus marah dan kecewa bercampur sedih saat aku bersama Naren seharian ini? Mengapa dia seolah-olah marah dan tak rela jika aku bersama Naren? Bukankah dia sudah memiliki Bu Vanya, Saphira atau nenek sihir lain yang mungkin....tunggu! Mengapa aku menyebut wanita lain yang ada di dekat Balok Es sebagai Nenek Sihir? Bukankah aku seharusnya senang jika dia tak mengganggap hubungan ini serius? Semua hal ini semakin membuatku bingung. Kupeluk lututku yang menekuk semakin erat. Aku terus saja menangis meluapkan segala amarah dan kebingunganku.


Apa aku tak sengaja tertidur semalam? Jam berapa sekarang? Kurasakan ada tangan menyentuh plester luka di dahiku dengan lembut. Kubuka mataku perlahan-lahan. Nampak wajah datar dan dingin yang sangat familiar. Tapi di mata elang yang dingin itu nampak sinar kekhawatiran.

__ADS_1


"Ba...pak...." panggilku seketika. Respon yang tak kuduga sebelumnya, dia berdiri dan langsung menjauh membelakangiku. "Bapak, saya minta maaf...." aku mulai menangis kembali. "Maafkan saya, maaf sudah memaki dan berteriak kepada Bapak kemarin.... saya minta maaf, Pak...." aku meminta maaf sambil tertunduk. Kedua lututku dalam posisi bersimpuh di lantai menghadap ke arah Si Balok Es. Balok Es tak merespon, dia masih saja berdiri membelakangiku.


"Apa kau sudah tahu apa kesalahanmu?" suara dinginnya mulai terdengar.


"Iya, Pak. Saya tahu, saya minta maaf. Maaf sudah membentak dan berkata kasar pada Bapak. Seharusnya saya tak melakukan itu."


"Jangan pernah mengulang hal ini lagi! Hidup dan matimu ada kaitannya dengan saya! Kau adalah istriku. Saya bertanggungjawab terhadap dirimu,Tikus Kecil. Mulai sekarang jauhi...." ucap Si Balok Es.


Jauhi? Dia ingin aku menjauh darinya?! Entah mengapa aku merasa semakin sesak saat mendengar hal itu.


"Bapak!" aku bangkit dan tanpa pikir panjang langsung memeluk Si Balok Es dari arah belakang. "Maafkan saya! Bapak boleh menghukum saya! Saya takkan protes atau melawan...." aku menangis semakin keras. "Bapak boleh marah dan menghukum saya! Tapi jangan minta saya menjauhi Bapak...saya tak suka didiamkan seperti ini...."


"Siapa yang memintamu menjauhiku?" Balok Es berbalik dan melepas pelukanku dengan tangan kirinya. "Saya memintamu menjauhi bahaya, Tikus Kecil," ia menatapku dengan bingung. "Mengapa kau menangis? Kau takut aku menjauhimu? Apa kau mulai suka padaku, HAH?!" tanyanya sambil tersenyum licik. Mengapa aku jadi terlihat memalukan seperti ini. Aku terlihat tak ingin jika Balok Es ini menjauhiku.


"HUH! Siapa yang ingin berdekatan dengan om-om galak dan tua seperti Bapak!" teriakku ketus.


"Kalau begitu jauhi saya!" teriak Balok Es. "Saya akan menjauhimu mulai sekarang dan takkan pernah memaafkanmu!" teriaknya dingin. Dia membuang muka dan membelakangiku. Takkan pernah memaafkanku? Rasa sesak itu kembali terasa.


"Bapak, saya minta maaf...." aku kembali bersimpuh di lantai. Qia, bodoh! Mengapa kau kembali memaki Si Balok Es? Dia hampir memaafkanmu tadi.


"Iya, Pak. Saya mau menerima hukuman dari Bapak. Saya takan protes atau melawan. Tapi tolong jangan jauhi dan diamkan saya...." aku masih bersimpuh di lantai.


"Kalau begitu bangunlah!" Balok Es membelai kepalaku dengan lembut. "Oh ya, apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanya Balok Es heran.


"Ba...pak...." aku kaget.


Apa Balok Es sedang mengerjaiku? Aku di sini sepanjang malam meminta maaf padanya sambil menangis.


"Saya menunggu Bapak di depan kamar untuk meminta maaf. Bapak tidak membuka pintu, saya sudah memanggil berulang kali dan juga mengirim ratusan pesan ke smartphone Bapak."


"HAHAHAHAHA!!!" Balok Es tertawa terbahak-bahak.


Apa yang ditertawakannya? Apa dia sengaja menjahiliku?


"Kau tahu, Tikus Kecil, hahaha!" ucapnya sambil tertawa. " Saya tadi malam tertidur di ruang kerja dan smartphone-ku terkunci di dalam kamar sejak tadi malam."

__ADS_1


"HAH?!" teriakku kaget. Jadi, tadi malam aksiku tak berguna. "Tapi, Bibi Ava bilang Bapak sedang ada di dalam kamar!"


"Saya ke kamar untuk meletakkan tas setelah itu pintunya saya kunci. Smartphone saya tertinggal di dalam kamar. Saya semalaman di depan komputer di ruang kerja untuk bermain game online," sahut Balok Es.


Jadi, Balok Es tak marah padaku? Bahkan dia bisa bermain game online. Apa itu tandanya dia tak marah padaku?


"Ehm, apa Bapak masih marah kepada saya?" tanyaku lirih. "Saya siap menerima hukuman dari Bapak," aku menundukkan kepala.


"Siapa yang tak marah jika dibentak seperti itu?!" Balok Es menatapku dengan tatapan dingin yang mengerikan sekarang.


"Ma...af, Pak..." aku tak berani menatapnya.


"Ehm!" dengusnya kesal. Dia mengerikan jika seperti ini. "Kau harus merawatku sampai cederaku ini sembuh. Saya tak mau mendengar protes, kejahilan atau makian dari mulutmu lagi! Kau paham, Tikus Kecil!" tanya Balok Es sambil menunjuk ke arahku. Aku hanya mengangguk-angguk. "Baiklah, sekarang sudah pagi. Ayo, ke kamarku!"


"Iya, Pak," aku pun mengikuti dengan patuh. Balok Es nampak berdiri di dekat pintu kamar mandi.


"Kemari, cedera ini membuatku tak bisa beraktivitas secara normal. Kau harus membantu setiap aktivitasku, Tikus Kecil. Sekarang bantu aku, cepat kemari!" perintahnya. Aku pun mendekat ke arahnya. Aku sudah ada di depannya, dia ingin aku melakukan apa? "Apa yang kau lihat? Cepat bantu aku melepas pakaianku!" perintah Si Balok Es.


WHAT?! Melepas pakaian? Apa yang dia inginkan?! Pikiranku berkelana kemana-mana. Aku mendekat ke arah Si Balok Es. Penyangga tangan kanan itu mulai kulepas. Nampak tangan berbalut gips putih.


"Kerjamu lambat! Cepat lepas kemeja dan celana saya!" teriak Si Balok Es. Melepas kemeja dan celana?


Apa yang ingin dia lakukan? Pikiranku kembali melayang terbang kemana-mana. Aku sudah mencengkeram kancing di kerah Balok Es. Aura mengerikan mulai terasa. Pak, tolong jangan lakukan itu! Tolong, jangan cabik-cabik saya sekarang! Kurasa raut wajah ketakutan muncul di wajahku.


"Hey, hey! Apa yang kau pikirkan? Jangan berpikir aneh-aneh! Saya hanya ingin kau membantuku mandi!" sahut Si Balok Es.


Aku menghela napas lega. Tunggu, membantu mandi. Itu berarti aku akan berada di dalam kamar mandi bersama Si Balok Es? Balok Es, kau benar-benar licik! 😣


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2