
"Billy, Qia!" terdengar suara. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Nampak Bunda Belvana mematung di pintu yang terbuka.
"Bun...da!" Si Balok Es nampak hendak melepaskan pelukanku. Aku takkan membiarkan itu terjadi! Kupeluk dia semakin erat.
"Tukang make up sama tukang fotonya udah dateng. Bunda tunggu di bawah!" ucap Bunda Belvana. Dia nampak salah tingkah.
"Ck! Kamu ini!" ucap Balok Es.
"Memangnya kenapa? Yaya kan memang istri Kak Billy. Apa nggak boleh meluk Kak Billy di hadapan mertua sendiri?" kutatap Si Balok Es.
"Ehm, aku tak mendebatmu lagi, Yaya Sayang," Balok Es membelai kepalaku. "Kamu boleh meluk lagi tapi nanti lagi ya. Ayo, kita foto dulu!"
"Baiklah," kulepaskan pelukanku pada tubuh Si Balok Es.
Butuh waktu cukup lama untuk make up dan persiapan di lokasi. Aku sudah tampil rapi dengan balutan jaket kulit warna coklat tua, celana jeans warna biru tua, kupluk warna coklat muda serta syal warna biru dongker. Konsepnya fotonya ada di kebun teh, jadi biar cocok kostumnya seperti ini.
"Bagaimana penampilanku?" terdengar suara. Kuarahkan pandangan ke sumber suara itu.
Mataku tak bisa berkutik. Balok Es nampak berbeda dan tampak lebih muda. Emang sih, dia itu lebih cakep kalo nggak pake kacamata. Balutan jaket kulit warna coklat muda dipadukan dengan celana jeans warna biru tua memberi kesan muda dan cool. Si Naren kalah lah, apalagi roti sobek di perut Balok Es kelihatan jelas. Dia sengaja ya pake kaos putih tipis banget.
"Kalo kamu sampe nggak bisa ngomomg itu berarti penampilanku luar biasa! Iya, kan, Sayang?" Balok Es mencolek daguku.
Ih, kok kamu jadi agresif banget sih, sekarang?! 😒
__ADS_1
Aku, Balok Es dan para kru foto berjalan menuju ke kebun teh yang ada di dekat rumah. Pemandangan menghijau sungguh memanjakan mata. Apalagi langit biru nan cerah. Sungguh pemandangan yang indah. Aku dan Si Balok Es mulai berpose. Ih, dia selalu memilih pose memeluk dari arah belakang terus.
"Satu, dua...tahan posisi...." ucap si photographer. "Tiga...." teriaknya. Cahaya flash sudah menyala.
"Ulangi lagi!" ucap Balok Es.
Ih, dia nggak bisa minta pose lain apa? 😕 Pose ini bedanya cuma dia memelukku lebih erat.
Satu, dua...tahan posisi...." ucap si photographer. "Tiga...." teriaknya. Cahaya flash kembali menyala.
"Jangan turun, kita berpose seperti ini saja!" terdengar suara teriakan seorang pria.
Oh, ternyata ada pasangan lain yang juga sedang berfoto di sini. Beberapa meter dari tempatku berada nampak seorang pria berambut panjang dan bertubuh gagah. Tubuhnya jangkung, tinggi dan besar. Meski terkesan seram tapi dia romantis. Beruntungnya gadis yang ada di gendongannya. Gadis itu nampak digendong dengan erat. Balok Es mungkin tidak ya menggendongku seperti itu.
"Ehm, itu ada pasangan lain juga foto di sini!" ucapku lirih.
"Oh, itu cucu pemilik kebun teh di sini namanya. Kalo tak salah namanya Tuan Valko. Ada juga yang memanggilnya Varrel," sahut Si Balok Es. Oh, jadi nama pria itu Valko.
"Itu pacar apa istrinya, sih?" tanyaku.
"Itu istrinya kalau tak salah namanya Tata. Kata Ayah sih seperti itu. Beberapa hari yang lalu Ayah baru saja bertemu dengan Tuan Valko untuk membahas urusan bisnis."
"Sungguh romantis!" celetukku spontan.
__ADS_1
Pria bernama Tuan Valko itu enggan melepaskan pasangannya. Dia terus menggendong erat perempuan itu. Keduanya berfoto dengan berbagai gaya yang berbeda. Tentu saja, bibir si pria tak bisa berhenti menyerang wajah si perempuan itu. Cium pipi kanan, cium pipi kiri, cium dahi, cium bibir, peluk sari depan, peluk dari belakang itu pose yang romantis bagiku.
"Cayang," panggilku perempuan itu. Panggilannya juga romantis. "Ehm, bolehkah aku berfoto sendiri? Ehm, kakiku sudah tak sakit untuk berdiri," pinta perempuan itu.
Oh, jadi dia digendong karena kakinya baru sakit? Oh, itu romantis sekali.
"Tak boleh! Kakimu belum sembuh, Tupai! Aku tak ingin lukamu tambah parah. Kau juga tak boleh berfoto sendiri mulai sekarang! Di setiap fotomu harus ada aku! Aku tak ingin ada pria yang menggodamu akibat fotomu sendirian!" ucap si pria dengan keras.
Astaga, dia memanggil pasangannya dengan panggilan tupai? Itu panggilan yang aneh tapi lucu sih menurutku. Si pria juga tak membiarkan wanitanya berfoto sendirian. Dia posesif sekali tapi pasti menyenangkan punya pasangan yang posesif seperti itu.
"Kamu juga mau foto seperti itu, ya?" tanya Si Balok Es. Aku hanya diam saja. "Aku anggap itu jawaban iya!" mata Balok Es berkilau licik.
Kak Billy, apa sih yang kamu lakukan? Astaga, Si Balok Es mencium wajahku tanpa henti. Cahaya flash kamera terus menyala. Duh, Kak Billy kalo foto ini dipajang saat resepsi bisa malu aku! 😳 Kamu sekarang agresif banget, tahu! 😣
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1