Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 6 - Penjelasan?!


__ADS_3

"Qia, kamu ngapain di sini? Kamu kenapa? Mengapa kamu menangis?" ia mengusap air mataku. Apa yang harus kulakukan?


"Na...en...." suaraku seakan tertahan di tenggorokan. Astaga, bagaimana mungkin orang ini ada di sini? Mungkinkah dunia sesempit ini? Apa yang harus kulakukan?


"Kamu ngapain di sini? Aku kerja parttime di sini...hehehe...buat ngisi waktu luang," Naren melihat lututku. "Apakah sakit? Apa kakimu luka? Kamu merasa sakit ya?" ia terus bertanya. "Sini, kubantu duduk!" ia membantuku duduk di sebuah kursi di lorong itu. "Kamu ngapain di sini? Keluargamu ada yang sakit?"


"A...ku...." suaraku tertahan kembali.


Rasanya aku ingin menghilang dari sana. Jika Naren tahu pasti dia akan marah. Kulihat wajah Naren, matanya masih penuh perhatian dan cinta. Tangannya masih membersihkan debu di gaunku. Ia berjongkok sambil mengecek keadaan kakiku. Mengapa aku harus bertemu dia di sini?


"QIA!!!" suara sedingin es tiba-tiba memanggil namaku. Suara itu membuat bulu kudukku menjadi merinding. Langkah kakinya terdengar dari kejauhan membuat jantungku ingin melompat keluar. Bayangannya yang tinggi menuju ke arahku terasa menakutkan. Aku hanya menunduk, kurasa tubuhku mulai genetar ketakutan.


"Qia, kamu di sana?" aku tak menjawab suara itu. "Kamu di sini ternyata!" dia muncul dari kegelapan lorong.


"Kakak siapa?" Naren berdiri dan menyapanya. Tunggu mengapa Naren bisa tak mengenali Balok Es ini. Kulihat ke arah Balok Es itu, ternyata dia sedang memakai kacamata hitam. "Kenalkan saya Naren, pacarnya Qia!" ucap Naren dengan santai. Jantungku terasa benar-benar ingin melompat dari tempatnya. Telingaku terasa disambar petir. Astaga, apa jawaban yang akan keluar dari mulut Si Balok Es itu?


"Saya keluarga jauhnya Qia...." ucap Balok Es itu membuat telingaku bergetar. Apakah Balok Es ini berbohong demi aku? Kulihat ke arah Balok Es, dia masih menatap dengan dingin kurasa. Ekspresinya tak terbaca, datar seperti biasanya.

__ADS_1


"Saya harus membawa Qia kembali. Ada anggota keluarga yang sedang sakit dan ingin bertemu dengan Qia," Balok Es itu segera menggandeng tangan kiriku.


"Biarkan saya ikut, Kak," Naren menahanku, ia memegangi tangan kananku. Balok Es itu terdiam sejenak.


"Orang luar takkan diijinkan mengganggu!" Balok Es itu berbicara dengan nada meninggi. Apa maksudnya? Apa dia memberi peringatan pada Naren?


"Ren...." aku memberanikan diri berbicara. "Tolong mengerti, keluargaku sedang sakit keras. Kuharap kamu paham...."


"Iya, aku mengerti, Tuan Putriku," Naren mengecup dahiku. Kecupan itu membuat jantungku ingin melompat keluar lagi. Bisa kurasakan tanganku yang digenggam Balok Es terasa sakit. Kurasa Si Balok Es menggenggamnya erat sekali. Duh, apa Si Balok Es marah? Saat kulihat ke arahnya ekspresinya tak terbaca. "Sampai jumpa lagi, Tuan Putri." ia tersenyum padaku. Naren ingin melepas tanganku. "Sayang, ini cincin apa? Kok sama persis kayak yang dipakai Kakak ini?"


Petir yang besar seakan menyambar telingaku. Tubuhku terasa dingin kembali. Aku benar-benar seperti seekor tikus yang terpojok di depan kucing. Aku harus menjawab apa? Tanganku digenggam dengan semakin erat oleh Si Balok Es. Tanganku mulai memerah, urat-urat nadi tangan Si Balok Es terlihat jelas. Kurasa ia menahan emosinya.


"Oh, seperti cincin warisan gitu, ya? Kakak ini sepupunya Qia ya? Ah, saya dengar saudara sepupu bisa sangat dekat seperti sahabat. Saya titip Qia, ya, Kak. Laporkan ke saya kalo dia nakal, main sama cowok lain di belakang saya, hehehe," Naren hanya tertawa.


"Ehm...saya pasti akan bertindak, jika itu terjadi!" Balok Es itu melihat ke arahku. Tanganku benar-benar terasa sakit. "Ayo pergi!" ia menarikku dengan kencang.


"Sampai jumpa lagi, Sayang!" teriak Naren dengan keras.

__ADS_1


Cengkeranan Balok Es ini semakin erat dan membuat tanganku semakin terasa sakit. Dia berjalan sangat cepat sambil menyeretku. Aku berjalan entah kemana, Balok Es ini sepertinya tidak membawaku ke ruang perawatan Tuan Adi Hutama. Nampak lorong rumah sakit yang sepi, kurasa ini sudut lain. Aura ruangan ini nampak mengerikan. Debu-debu nampak mengotori lantai. Sarang laba-laba nampak menghiasi dinding putih yang mengelupas. Apa yang ingin dia lakukan di sini?


"LEPASKAN!" kuhempaskan cengkeraman Si Balok Es. Dia membuka kacamata hitamnya, menggantinya dengan kacamata ber-frame silver. Kutatap matanya yang dingin dan menyeramkan seperti mata elang. Aura wajahnya nampak memunculkan kemurkaan.


"Begini caramu berterimakasih setelah apa yang saya lakukan?! HAH?!" tangannya memukul dinding di belakangku. Ia membuatku terpojok di dinding. Tubuhnya yang tinggi membuatku terasa semakin terintimidasi.


"Saya nggak suka sama Bapak!" teriakku. "Hati saya cuma buat Naren! Bapak ingat itu!" suaraku semakin mengeras. "MINGGIR!" kudorong Balok Es itu, diriku berhasil lepas. Aku melangkah secepat mungkin. Tiba-tiba, CRAK!!! BRAK!!!


"AAAA!!!!" teriakku, serpihan plafon yang runtuh akan menimpaku.


"AWAS!!!" tubuhku terasa jatuh ke lantai. Napasku terengah-engah karena ketakutan. Jantungku berdebar semakin kencang. Begitu kesadaranku kembali, ternyata aku sudah ada yang dipelukan Balok Es ini. Dia yang sudah menyelamatkanku?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2