
"HAH?! PERJODOHAN?!" teriakku kencang. Kue di mulutku seakan berhenti mendadak. UHUK! UHUK! HUAK!!! Aku benar-benar tersendak.
"QIA! Kamu kenapa?" Mama mulai panik.
"Jeng, anakmu tersendak kayaknya!" Nyonya Belvana memberikan segelas minum padaku. Segera kuminum air putih itu. "Billy, ayo bantu calon istrimu!" ucap wanita itu.
BYUR!!! Sontak air di mulutku langsung tersembur keluar. Semburannya seperti air mancur. Sialnya lagi semburan itu mengenai wajah es Pak T-Rex.
"ASTAGA!!!" teriak Mama. Sekejap aku langsung menutup mulutku. Rasanya aku ingin menghilang ke dalam tanah saja. "Duh, maafkan Qia, ya," Mama menyerahkan tisu kepada Balok Es itu.
"Tak apa-apa, Tante," jawab Balok Es itu singkat dan datar. Ia dengan santai mengusap wajahnya.
"Jeng, ayo biarkan Billy dan Qia mengobrol dulu!" Nyonya Belvana menggandeng Mama pergi.
Sial, aku ditinggal sendirian dengan Balok Es raksasa ini. Apa aku tak bisa menghilang saja? Balok Es itu menatapku, dia memberiku isyarat agar mengikutinya. Apa yang mau dilakukannya? Kemana dia akan membawaku?
Aku hanya berjalan sambil menunduk di belakangnya. Kami menyusuri lorong-lorong hotel itu hingga sampai di sebuah taman belakang yang cukup sepi. Taman ini cukup indah, rumputnya hijau terawat. Lampu-lampu taman berwarna kuning redup justru menambah mencekam suasana bagiku. Balok Es itu masih membelakangiku sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Aku hanya duduk di bangku taman sambil menatap kakiku.
"KAMU...." ucap kami bersamaan. Suasana kembali hening. Mata kami saling menatap sementara waktu.
"Bapak, duluan saja...." aku kembali tertunduk.
"Apa kamu sudah tahu tentang perjodohan ini?" tanyanya dingin. Suaranya seram seperti berasal dari kedalaman neraka.
"Be...lum...." jawabku singkat.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu sudah tahu siapa saya. Apa pun yang terjadi saya menerima perjodohan ini...dan...."
"Tapi, saya sudah punya pacar, Pak!" teriakku sambil berdiri dan menatap ke arahnya. "Naren, pacar saya! Saya nggak mau nikah sama Bapak!" aku berlari masuk ke dalam hotel.
"Bagaimana jika kita buat kesepakatan?" suara itu menghentikan langkahku. Kesepakatan? Kesepakatan apa?
"Apa maksud Bapak? Kesepakatan apa?" Balok Es itu perlahan mendekatiku.
"Apa kamu tahu mengapa perjodohan ini terjadi?"
"Tidak, saya tidak tahu dan tidak mau tahu!"
"Perjodohan ini terjadi karena kakek saya yang sedang sakit. Dia ingin melihat saya-yang merupakan cucu tunggal-menikah sebelum dia meninggal."
"Kamu menikahlah dengan saya...."
"Tidak, saya tidak mau! Saya hanya mau menikahi Naren!" teriakku kencang.
"Apa kamu pikir orang tuamu akan setuju jika kamu menolak perjodohan ini? Apa kamu pikir mereka akan tinggal diam? Apa kamu tahu apa pekerjaan orang tua Naren?" suara sedingin es itu membuatku terdiam. Benar, selama 4 tahun ini Naren tak pernah memberitahuku asal usul keluarganya dan dia juga selalu menolak untuk kuperkenalkan kepada orang tuaku.
"Apa hubungannya Naren dengan perjodohan ini?"
"Kamu pikir orang tuamu tidak tahu dengan apa yang kamu lakukan selama ini? Kamu terlalu polos, Qia. Orang tuamu tahu hubunganmu dengan Naren. Saya sebenarnya sudah menyelidiki dirimu jauh sebelum kita bertemu. Orang tua Naren adalah karyawan biasa di kantor ayahmu. Kamu tahu apa yang terjadi jika kamu menolak perjodohan ini dan membangkang?"
"Orang tua Naren bisa dipecat...." segala hal ini membingungkanku. Jika Balok Es ini sudah tahu segalanya tentangku mengapa dia diam saja?
__ADS_1
"Anak pintar....." ia tersenyum licik.
"Kesepakatan apa yang ingin Bapak buat? Cepat katakan!"
"Begini, setujui perjodohan ini dan menikahlah dengan saya...."
"Tapi...."
"Saya belum selesai bicara!" Balok Es itu menyela dengan suara yang seram. "Setelah kakek saya sembuh, kita akhiri pernikahan ini...."
"Apa untungnya buat saya?"
"Saya jamin teman-temanmu takkan tahu tentang hubungan kita. Orang tuamu pasti takkan setuju dengan hubunganmu dan Naren. Setelah Naren lulus, saya bisa menyuruh dia bekerja di perusahaan saya dengan jabatan yang bagus sehingga orang tua kamu setuju. Saya juga akan memberimu uang dan harta yang berlimpah tanpa sepengetahuan orang tua kamu. Kamu bisa menyimpannya untuk bekal hidupmu dan Naren kelak," ia menatapku dengan tatapan mematikan. "Bagaimana kamu setuju?"
Aku bagai seekor tikus yang terperangkap. Apa yang harus kulakukan?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1