
Nampak ada notifikasi pesan masuk di akun sosial mediaku. Ada komentar di foto yang baru saja ku-posting.
@naren_wijaya : beb, aku bisa jelasin ๐ข
@naren_wijaya : beb, kok foto kita dihapus ๐ข
@naren_wijaya : ini siapa beb? ๐ข
@naren_wijaya : ayo, dong....baca pesan aku! ๐ข aku bisa jelasin semuanya ๐ข
HUH! Ternyata itu semua komentar dari Naren. Jangan harap aku mau membaca pesan darimu, Naren. Aku udah setia sama kamu tapi kamu malah duain aku! ๐ก. Aku nikah sama Balok Es buat ngelindungi kamu diam-diam tapi kamu malah nyakitin aku! ๐ข Sakit, Ren! Sakit, tahu! ๐ญ
Tunggu, tapi aku penasaran dengan aku yang dibuat oleh Balok Es. Kubuka akun @jantung_hatinya_qia. Astaga, Pak! Kapan Bapak meng-upload foto ini? ๐ฎ. Di akun itu nampak foto-foto seorang pria sedang di area gym. Semua foto tidak memperlihatkan wajah. Hanya memperlihatkan pose di depan cermin dengan smartphone menutupi wajah.
WOW! Pak, Bapak senjaga ya memperlihatkan badan Bapak yang punya roti sobek itu? ๐ Kebanyakan foto Si Balok Es sedang di gym dan sedang bertelanjang dada. Kulihat unggahan foto terakhir. Astaga, kurasa ini memang akun lama Si Balok Es. Unggahan pertama diunggah pada tanggal jauh sebelum kami menikah. Fix! Ini cara yang bagus untuk membalas Naren! ๐ Kurasa Balok Es mengganti nama akunnya saja.
"Bukan kah saya keren?" terdengar suara Balok Es. "Saya ini pria yang hot, tahu!" ucap Balok Es dengan percaya diri.
"Iya, iya, Pak," sahutku. Aku mengiyakannya saja.
"Pak, sekali-kali ajak saya nge-gym dong!" pintaku. Aku ingin menurunkan berat badanku, hihihi ๐. Kalau diajak Balok Es kan pasti gratis.
"Itu kan di rumah," sahut Balok Es.
"Di rumah, Pak?!" aku tertegun.
"Iya, itu bukan tempat gym di luar tapi di rumah saya," jawabnya.
__ADS_1
"Kok, saya nggak tahu?" balasku. Aku men-scroll foto-foto itu lagi.
"Kamu aja yang jarang di rumah dan cuma di kamarmu saja!" Balok Es menatap ke arah lain.
Pak, apa ini kode biar saya di rumah lebih lama? Bapak suka ya kalau saya di rumah terus? ๐
"Iya, T-Rex Tersayang. Yaya akan lebih sering di rumah sekarang," sahutku sambil bergelayut manja di lengan kiri Si Balok Es.
"Ehm," sahut Balok Es.
"Tuan Brilliant Rexford Hutama!" nampak seorang perawat memanggil.
Balok Es segera berdiri dan berjalan ke arah ruang periksa. Aku pun segera mengikutinya dari belakang. Sebelum menjenguk Tuan Hutama, kami pergi ke dokter untuk memeriksa tangan kanan Si Balok Es. Aku masih sedikit merasa bersalah saat terngiang peristiwa itu.
"Silahkan, Tuan. Dokter sudah menunggu!" perawat itu mempersilahkan masuk.
Aku dan Balok Es pun masuk ke sana. Ini rumah sakit yang sama dengan tempat Tuan Hutama dirawat. Rumah sakit orang kaya pasti fasilitasnya kelas premium.
"Saya baik-baik saja, Dok," sahut Balok Es. Dokter itu melirik ke arahku. "Ini istri saya, Qia. Dia menemani saya," kurasa Balok Es menyadari jika aku belum dikenal. Pasti dokter ini adalah dokter langganan keluarga Hutama. "Saya ingin melakukan pemeriksaan rutin pada tangan kanan saya."
"Ehm, baiklah, Tuan. Mari saya periksa dulu," dokter itu melakukan pemeriksaan dengan teliti. Aku hanya melongo melihatnya. Ilmu kedokteran merupakan hal yang awam bagiku.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanyaku penasaran.
"Ehm, cederanya akan segera sembuh. Tapi masih butuh sekitar beberapa minggu lagi untuk proses pemulihan," jawab Dokter itu.
Aku tertunduk. Jadi, cedera di tangan Si Balok Es butuh waktu yang lama untuk sembuh. Rasa bersalah itu kembali muncul.
__ADS_1
"Minggu depan, jangan lupa kontrol lagi, Tuan," ucap Dokter itu.
"Terima kasih, Dokter," Balok Es berdiri dan menggandengku keluar.
"Sudah, jangan salahkan dirimu terus," ucap Balok Es. "Kalau kamu ingin memperbaiki kesalahanmu, maka jangan lagi jadi anak yang nakal. Jadilah, anak yang baik dan patuh pada saya ya," dia mengusap kepalaku. Matanya dinginnya kurasa menatapku dengan lembut. Aku pun menggangguk. "Sudah, ayo kita jenguk Kakek saya," Balok Es menggandengku lagi.
Kami naik lift menuju lantai yang dituju. Tak lama kemudian pintu lift terbuka. Kami segera menuju kamar Tuan Hutama dirawat. Di kamar itu nampak orang tua Si Balok Es dan juga mamaku. Tuan Hutama nampak sedang terbaring di ranjang.
"Ah, cucuku Billy dan Qia!" ucap Tuan Hutama ceria. Astaga, aku jadi malu sendiri. Peristiwa memalukan saat aku kemari masih tergiang jelas di ingatanku. Perut, jangan nakal lagi ya.
"Kakek," sapaku sambil mencium tangan Tuan Hutama. Lalu kucium juga tangan orang tua Balok Es dan Mama.
"Anak baik," puji Tuan Hutama. "Aku tak salah memilih istri untuk cucuku, hahaha," Tuan Hutama tertawa. "Kudengar kalian baru saja pergi berlibur ya? Bagaimana liburannya?"
"Liburannya...." aku hendak menjawab.
DUTT!!!! Terdengar suara kentut yang sangat nyaring.
"Billy, kamu kentut, ya!" ucap Nyonya Belvana.
Hahaha, aku ingin tertawa terbahak-bahak rasanya tapi berusaha kutahan. Pak, Bapak kok bisa sih kentut kayak gitu? ๐
ย Jangan lupa like dan vote ya ๐ biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok ๐
Tinggal pencet tanda jempol ๐ di pojok kiri bawah untuk like ๐
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you ๐