
"PAK!!! LEPASKAN!!!"aku meronta-ronta. Balok Es ini memggendongku secara paksa keluar dari mobil. "PAK!!! LEPASKAN!!!" aku terus berusaha melawan. Astaga, tepat di depan mataku adalah pintu kamar hotel yang telah terbuka. BRUK!!! Tubuhku dibanting di ranjang itu. Balok Es menatapku dengan mengerikan. Tubuhku kaku. Sepertinya aku masuk ke perangkapku sendiri kali ini. Apa aku benar-benar kalah dari Si Balok Es kali ini?
Tatapan dingin mata elang Balok Es sungguh mengerikan. Dia ada di ujung ranjang, wajahnya tersenyum licik. Kedua tangannya menopang tubuhnya di depan. Aku benar-benar merasa seperti seekor tikus kecil di ujung tanduk. Rasanya predator benar-benar ingin memakanku habis-habisan. Sial, mengapa tubuhku jadi dingin dan kaku begini. BRAK!!! Balok Es itu melempar jasnya ke lantai. Ia perlahan merayap naik ke atas ranjang.
Tatapannya mengerikan seperti seekor harimau yang ingin memangsa seekor kijang. SREK!!! Ia melepas dasi merahnya. Tubuhku benar-benar dingin dan kaku sekarang. Qia bodoh! Kemana keberanianmu yang tadi? Aura di sekitarku berubah mencekam, Balok Es itu mendekatiku perlahan-lahan. Mataku terpejam karena ketakutan. Ampun, Pak, ampun. Saya janji takkan jahil lagi. Aku tak mau ini terjadi sekarang.
"BAAAA!!!!" terdengar teriakan mengejutkan diikuti sesuatu yang nampak menimpa tubuhku.
"AAAA!!!!" teriakku ketakutan.
"HAHAHAHA!!!" terdengar suara tawa. "HAHAHAHAHA!!!" suara tawa itu terus terdengar dari kejauhan. Saat kubuka mataku, astaga ternyata aku hanya dilempar dengan guling. Balok Es ini sengaja menakut-nakutiku.
"Dasar Tikus Kecil penakut!" ia sibuk menertawakanku, ia tertawa hingga terbahak-bahak di lantai. "Kau harus melihat wajahmu tadi lucu sekali!"
"BAPAK JAHAT!!!" teriakku kuambil guling itu. "BAPAK JAHAT!!! BAPAK JAHAT!!!" keberanianku kembali. BRUK!!! BRUK!!! Kupukul Balok Es gila ini beruang kali dengan guling sekuat tenaga. "JAHAT!!! JAHAT!!!"
"Hentikan, Qia!" ia berusaha menghentikanku.
BRUK!!! BRUK!!! Aku tak mau menghentikan pukulanku. HUH!!! Aku ketakutan setengah mati tahu. Tiba-tiba....
"AAAAA!!!" teriakku. "AMPUN PAK!!! AMPUN!!!!" Balok Es ini membalasku. "AMPUN, PAK!!! GELI!!!" ia terus menggelitiki tubuhku tanpa henti. Kututup mataku karena memahan gelitikan itu. Balok Es itu sudah berdiri. "HUH!!! Bapak memang tak berani kan?" kuejek dia lagi.
Astaga, dasar Qia bodoh! Mulutku langsung kututup, jangan memprovokasi pemangsa mengerikan ini. Gawat, mata elang Balok Es menatapku lagi.
"Dewasalah sedikit, Tikus Kecil!" ia memegang daguku. "Hal seperti ini bukan mainan, jangan memancingku lagi! Atau...." suaranya tertahan, tatapannya mengerikan. "Atau, kau benar-benar akan jadi mangsaku," ucapnya. Aku mengganguk-angguk.
"HAHAHA!!!" mengapa Balok Es ini tertawa lagi? "Aku hanya bercanda, wajahmu benar-benar lucu saat ketakutan!" ia melepas pegangan di daguku lalu membuka pintu dan menerima tas koper hitam dari luar pintu.
Aku masih berusaha menenangkan jantung mungilku yang berdetak kencang tak karuan. Balok Es masuk ke kamar mandi dengan membawa koper itu. Saat dia keluar, dia sudah berganti pakaian dengan kaos putih polos, jaket jeans gelap dan celana jeans biru muda.
"Ganti pakaianmu dengan baju yang ada di koper! Cepat!" ia nampak kesal.
"Bapak mau membawa saya kemana lagi?" kutatap dia. "Jika Bapak mau pamer koleksi Nenek Sihir lagi tak usah ajak saya! Saya bisa pulang sendiri!"
"Bukankah kau ada janji nonton film?" ia menyerahkan dua buah tiket yang sudah kulupakan. Aku meninggalkan tiket itu di meja ruang tamu. "Karena kau sudah menemani saya tadi. Saya mengijinkanmu untuk pergi menonton film. " ia menyentuh daguku lagi. "Kau pergi dengan Naren kan? Cepat ganti bajumu, sebelum saya berubah pikiran, Tikus Kecil!"
"Antar saja saya pulang, Pak!" aku menunduk. "Naren tak bisa datang, buang saja tiket itu."
"Kau mau membuang dua ratus ribu sia-sia? Dasar Tikus Kecil!"
"Memangnya kenapa? Saya membeli tiket itu dengan yang saya sendiri! Bapak tak punya hak untuk...." aku menyela kalimatnya.
__ADS_1
"Saya temani kamu nonton film," ucapnya lembut. Eh, dia ingin menemaniku nonton film? "Cepat ganti pakaianmu, atau...kau ingin dua hewan manis ini saya lepas di sini?" nampak dua buah tabung kecoa lagi. Kali ini ukuran kecoanya jauh lebih besar. Aku segera berlari berganti pakaian di kamar mandi.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil terasa sunyi. Balok Es tidak mengajakku bicara apa pun, dia kelihatannya beristirahat karena matanya terpejam. Apa dia sengaja menyiapkan pakaian yang sama untukku? Aku juga memakai pakaian yang sama persis seperti yang dipakai Si Balok Es.
"Pak, sudah sampai!" terdengar suara Sekretaris June.
"Kau dan para penjaga tunggu saja dari kejauhan. Takkan ada yang mengenaliku dan Tikus Kecil ini," Balok Es memakai topi hitam dan juga kaca mata hitam. Ia menyerahkan kupluk hitam dan kacamata hitam padaku.
"Pakai ini!" aku menggangguk lalu memakainya. Sesampainya di depan loket bioskop, "Kau mau pesan apa, Tikus Kecil? Pilihlah sesukamu!" aku menggangguk. Kulihat Balok Es, dia membeli popcorn dan juga minuman bersoda. Aku pun memesan hal yang sama. Saat aku hendak mengambil pesananku, "Biar kubawakan, tanganmu terlalu lemah!" ejeknya. HUH!!! Aku hanya membuang muka. Kutuntun dia dalam mencari kursi.
"Ini dia, Pak," kududuk di kursi paling pojok.
"Ck! Ck!Ck!" Balok Es nampak tak suka. "Apa kau selalu memilih posisi seperti ini saat menonton dengan Naren?"
"Apa maksud Bapak?" apa dia berpikir aku dan Naren berbuat hal-hal aneh saat menonton film? Astaga, Pak, saya tak pernah melakukan hal-hal itu. "Kebetulan saja yang tersisa kursi di pojokan! Film horor ini film yang baru rilis! Jadi tiketnya cepat sold out!" aku membela diri.
"Ya, sudah. Jangan memegang saya jika ketakutan nanti, Tikus Kecil! Jangan curi-curi kesempatan dalam kesempitan!" ia duduk dan melepas kacamatanya. HUH!!! Siapa juga yang sudi megang-megang Bapak. Yang ada Bapak mungkin yang mencari kesempatan dalam kesempitan.
Lampu segera mati, ruangan gelap. Film segera dimulai, musik-musik khas film horor barat yang membuat jantung ingin keluar dari tempatnya mulai terdengar. Aku menikmati menonton film ini dengan santai sambil memakan popcorn. Balok Es juga melakukan hal yang sama. Meski horor tapi film horor barat tak terlalu menakutkan bagiku. Hanya musiknya saja yang membuat suasana seram. Kunikmati filmnya sampai....
"PAK!!!" tanpa sadar naluriku muncul. Kucengkeram lengan Balok Es ini dan menyembunyikan wajahku. Sial, kenapa hantu itu harus muncul! Wujudnya terlalu menakutkan. Berambut panjang hitam dengan wajah hancur berdarah-darah. Kemunculannya diikuti dengan musik menegangkan nan seram membuatku semakin ketakutan. "PAK, TAKUT!!!"
"Jangan takut, aku di sini!" kurasakan tatapan matanya mengarah ke arahku. Kecupan lembut mendarat di dahiku. Tubuhku menegang menerima kecupan itu. Mataku tak bisa berkedip. Pak, Anda mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Ayo, pulang Tikus Kecil!" Balok Es bergerak bangkit dari kursi. Apa itu tadi sikap romantis untukku? Apa dia menyukaiku? Sial, mengapa jantungku berdetak kencang? HUH! Sikap romantis apanya? Sekarang aku ditinggal sendirian. Itu bukan sikap romantis, pasti hanya salah satu bentuk kejahilannya.
Mataku terhenti mengarah menuju sesuatu. Ada arena permainan baru di dekat area bioskop di mall ini. Area dingin yang tak mungkin ditemui di negara tropis, area ice skating. Tanpa sadar, aku sudah berada di depan pagar pembatas area itu. Sejak kecil aku selalu ingin bermain ice skating, tapi dulu kan waktu aku kecil belum ada. Hiks, sedihnya. Nampak orang-orang bermain ice skating. Ada beberapa yang bermain seluncur es sambil dipegangi pasangannya. Kapan ya aku bisa bermain di sini?
"Aku juga ingin bermain ice skating," ucapku lirih.
"Ayo, masuk Tikus Kecil!" tiba-tiba seseorang menggandeng tanganku.
"Bapak!" ternyata itu adalah Si Balok Es. Aku digandeng menuju tempat penyewaan jaket dan sepatu ice skating.
"Pakai ini! Cepat!" ia menyerahkan alat pelindung dan sepatu ice skating padaku.
Balok Es itu memakai sarung tangan, pelindung lutut, siku dan helm. Ia lalu memakai sepatu ice skating dengan mudah. Bagaimana cara memakai benda ini? Aku tak paham! Balok Es melirikku.
"Kau tak bisa memakainya, Tikus Kecil?" aku menggangguk. "Dasar kudet!" ia mengejekku. Meski aku kesal tapi aku tak bisa marah. Balok Es ini membantuku memakai peralatan pelindung, sepatu seluncur es dan helm. "Sudah, ayo berdiri!" ia bangkit dari bangku itu. Aku mengimkutinya, berjalan dengan sepatu ini menuju area es rasanya sulit. Hawa dingin mulai terasa di kilitku. Jadi ini rasanya berdiri di dekat es. Kucioba langkahkan kaliku ke area es.
"AHHH!!!" sial, aku terpeleset. Tangan hangat menangkapku. Mata elang itu bertatapan dengan mataku. Meski tertutup kacamata hitam tapi kurasa mata elang itu juga menatapku.
__ADS_1
"Hati-hati, Tikus Kecil!" suara dingin itu membuyarkan lamunanku. "Kau tak boleh sembarangan. Jangan sampai jatuh terpeleset. Ayo, cobalah berdiri dan berjalan ke arahku terlebih dahulu!" ia membantuku berdiri lalu berpindah ke depanku. Kucoba melangkahkan kakiku perlahan-lahan.
"AHHH!!!" sial, aku terpeleset lagi. Tangan hangat itu menangkapku lagi.
"Kakimu masih kaku dan ketakutan, Tikus Kecil," Balok Es itu bergerak ke arah belakangku. Pinggangku dipegangnya dengan lembut. "Jangan takut, usahakan kakimu rileks," bisiknya lembut. Sial, mengapa jantungku berdetak kencang. Aku mencoba berusaha berdiri di atas es. Sekarang bisa kurasakan keseimbangan di kakiku. "Bagus!" Balok Es bergerak ke depanku, ia memegang kedua tanganku. "Ayo, sekarang cobalah meluncur! Aku akan memegangimu!" aku menggangguk. Saat kucoba meluncur...
"AH!!!" saat kujatuh, tangan Balok Es menangkapku dari arah depan.
"Ayo, cobalah lagi! Kau pasti bisa, jangan takut! Aku ada di sini untukmu, Yaya!" pipiku memerah. Jantungku berdebar kencang mendengar kata-kata 'aku ada di sini untukmu!' .
Aku mulai belajar meluncur di bawah bimbingan Si Balok Es ini. Rasanya menyenangkan, akhirnya aku bisa meluncur di atas es. Setiap aku akan terjatuh tangan hangat Si Balok Es menangkapku. Aku jadi semakin berani untuk meluncur. Entah berapa lama, aku dan Balok Es bermain-main di area ice skating ini. Rasanya seperti berada di negeri dongeng, anggap saja Putri Tikus meluncur dengan Pangeran Es. Saat aku sedang senang-senangnya meluncur....
"Maaf, Tuan, Nyonya," nampak Sekretaris June menghampiri. "Area ice skating akan segera tutup."
"Baiklah," Balok Es menatapku lembut."Ayo, kita pulang, Yaya," aku menggangguk. Meski sebenarnya aku sangat kecewa. Astaga, saat mobil keluar dari mall ternyata hari sudah malam. Sebenarnya berapa lama aku bermain dengan Si Balok Es. "Ini untukmu!" Balok Es menyerahkan suatu kotak kado besar berwarna pink. Saat kubuka isinya....
"Pak, ini..." kotak itu berisi sepatu ice skating warna pink dan peralatan pelindung yang berwarna senada.
"Apa kau senang, Tikus Kecil?" tanya Balok Es, aku menggangguk-angguk.
"Pak," panggilku perlahan-lahan.
"Ehm, ada apa?"
"Darimana Bapak bisa belajar bermain ice skating? Bapak terlihat jago."
"Saya belajar ketika kuliah S2 di Eropa. Ice skating sangat umum dimainkan di sana saat musin bersalju. Rasanya menyenangkan bisa bermain seluncur di dunia es berwarna putih," jawabnya, mata elangnya menatapku lembut. DRET!!! DRET!!! DRET!!! Terdengar suara dari dalam tasku. Astaga, ini panggilan dari Naren. "Cepat jawab!" kata Balok Es ketus.
"Halo, Naren, ada apa?" jawabku berusaha berpura-pura baik-baik saja.
"Halo, Beb. Aku sudah sampai di tempat kamu berada!" ucap Naren. WHAT? Apa maksudnya?
"Maksudmu gimana, Ren?"
"Aku tadi pergi ke rumahmu, Beb. Ini aku bawa hadiah untukmu. Aku menang lomba game, Beb. Aku ingin memenuhi janjiku dan datang ke rumahmu. Tapi, di rumahmu tadi hanya ada asisten rumah tanggamu. Dia bilang kamu sedang pergi ke rempat saudaramu. Saat kutanya alamatnya dimana, dia tidak tahu. Ini aku sudah ada di depan runah saudaramu, Beb. Aku melacak smartphone-mu dengan aplikasi. Saat kutanya apa benar ada orang yang namanya Qiandra tinggal di sini. Penjaga rumahnya bilang iya, kutunggu kau di depan rumah ya, Beb. Muach!!!" Naren menutup teleponnya. Astaga, bagaimana ini bisa terjadi? Naren ada di depan rumah Si Balok Es. Gawat, apa yang harus kulakukan?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍