Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 109 - Berapa?


__ADS_3

"Suapan spesial?" ucap Qia tertegun.


"Iya, suapan spesial. Tuh, makanannya sudah ada," ucap Billy sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja dekat sofa.


"Baiklah...." sahut Qia sambil bangkit. Dia berjalan menuju ke arah meja itu. Diambilnya nampan berisi makanan yang tersaji tergeletak di atas meja.


Qia membawa nampan itu ke atas tempat tidur. Billy ternyata sudah meletakkan sebuah meja lipat kecil di atas ranjang itu. Qia meletakkan nampan berisi makanan itu tepat di atas meja. Dia lalu duduk di dekat Billy.


"Nah, ayo mulai suapan spesialnya, Yaya Sayangku," ucap Billy sambil menyandar dengan manja di bahu kanan Qia.


Dia manja banget deh. Oh ya, dia tadi pesan apa ya? gumam Qia sambil membuka pembungkus makanan itu.


Nampak steak lengkap dengan bumbu dan sayuran. Tangan Qia lalu membuka pembungkus makanan satu lagi. Nampak sebuah kue coklat yang nampak lezat.


Dia pesan steak dan juga kue coklat? Agak nggak nyambung sih sebenarnya. Tapi, sudahlah, makan saja. Aku sudah lapar, gumam Qia.


Billy ternyata sudah menyiapkan sebuah sendok, sebuah garpu, dan sebuah pisau yang terbungkus tisu. Qia mengambil garpu dan pisau itu lalu memotong daging steak itu. Suapan diarahkan ke mulut Billy. Billy menerima suapan itu dengan lahap.


"Mana kiss-nya?" ucap Billy sambil menatap Qia.


"Kiss?" ucap Qia tertegun.


"Satu suapan satu kiss!" ucap Billy. Qia lalu memberi kecupan di dahi Billy.


"Sudah!" ucap Qia.


"Itu bukan kiss! Kiss itu di sini!" ucap Billy sambil menunjuk ke arah bibirnya.


"Iya, iya...nih!" Qia memberikan ciuman pada bibir Billy.

__ADS_1


"Nah, ayo lanjutkan makanannya! AAA!!!" Billy membuka mulutnya. Billy makan dengan lahap. Setiap satu suapan tentu saja diakhiri dengan satu kiss.


Sumpah, dia agresif banget! Ini namanya makan malam sambil modus! gumam Qia.


"Sekarang giliranmu, kau tak boleh kelaparan, Yaya," ucap Billy.


"Baik, Profesor!" bisik Qia. "Yaya akan menuruti perintah Profesor Rexford!" bisik Qia dengan manja di telinga Billy. Dia menyandar dengan pada Billy.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku tak suka, Yaya," ucap Billy sambil menekan ujung hidung Qia dengan jari telunjuknya.


"Kenapa? Itu kan gelarmu," balas Qia.


"Jika aku sedang berduaan seperti ini denganmu itu berarti aku hanya Billy. Billy saja! Yaitu laki-laki yang ditakdirkan menjadi suamimu. Tak ada embel-embel lain. Sudah, ayo makan," Billy menyuapkan sepotong steak ke mulut Qia. Qia mengunyah potongan streak itu.


"Mana kiss untukku?" protes Qia.


"Bukankah tadi sudah? Sama saja," ucap Billy sambil menyuapkan potongan steak lagi.


"Iya, iya...." Billy mencium bibir Qia. "Sudah, ayo makan lagi!" ucap Billy sambil menyuapkan makanan ke mulut Qia. Qia memakan suapan daging steak itu dengan lahap.


"AAA!!!" ucap Qia sambil membuka mulutnya lagi. Setelah suapan itu dikunyah, Qia sudah bersiap untuk memperoleh ciuman dari Billy.


"Kiss-nya nanti lagi," ucap Billy sambil menekan bibir Qia. "Sekarang ceritakan, kau punya berapa mantan? Kau belum cerita hal itu padaku, Yaya!" celetuk Billy.


"Berapa ya....mungkin sekitar 30 eh tidak mungkin 40...." sahut Qia sambil menghitung dengan jarinya.


Astaga, banyak sekali. Apa dia dulu seorang playgirl? gumam Billy.


"Ck! Ck! Ck! Banyak sekali! Apa kau dulu seorang playgirl?" ucap Billy sambil menatap tajam Qia.

__ADS_1


"Hubby, ehm...kau tahu kan jika ada yang namanya cinta monyet. Nah, ehm...sejak SD aku sudah punya pacar. Tapi, itu cuma main-main kok! Ehm...kata temanku sih aku termasuk cewek yang lumayan cantik gitu. Jadi banyak yang suka. Ehm...paling lama sih dengan Si N itu. Kalo paling singkat waktu SMP pernah sih dua hari jadian terus putus. Hubby, jangan marah ya!" ucap Qia.


"Siapa saja mantan-mantanmu? Aku perlu tahu agar kejadian seperti tadi bisa kuantisipasi!" ucap Billy dengan nada meninggi


"Hubby, jangan melotot padaku... ehm...aku sudah lupa nama mereka. Tapi, aku masih menyimpan nama, data diri dan foto mereka di buku harian...."


"KAU...." nada bicara Billy meninggi secara tiba-tiba.


"Hubby, aku menyimpannya agar kelak aku bisa melaporkannya pada suamiku. Jangan marah dulu," ucap Qia sambil memeluk Billy.


"Huh! Setelah kita pulang, kau harus menyerahkan buku itu padaku! Ingat itu, Yaya!" ucap Billy sambil menunjuk hidung Qia.


"Iya, iya, Profesorku Tersayang," sahut Qia.


"Huh!" Billy kembali cemberut.


"Aku bercanda, hehehe. Iya, Hubby. Aku akan mengingatnya!" ucap Qia. "Eh!" ucap Qia saat Billy memggendongnya. "Kau mau apa? Turunkan aku!"


"Aku ingin mandi bersamamu, Yaya. Kau harus membayar kompensaai karena telah membuatku cemberut tadi!" ucap Billy. Kakinya mendorong pintu kamar mandi. Pintu itu kebetulan tidak tertutup rapat.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2