Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 10 - Hah? Tebel Menor?


__ADS_3

Kurasa hari sudah pagi lagi. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Saat kesadaranku pulih ternyata....


"AAAAAA!!!!" teriakku sangat kencang. Aku sudah ada di pelukan Si Balok Es. BRUK!!! Kakiku reflek menendang Balok Es itu. BRAK!!! BUMM!!! Timbul suara benda jatuh.


"ADUH!!!" terdengar suara kesakitan.


Aku tak mempedulikan suara itu. Aku hanya peduli pada diriku, apakah tadi malam Balok Es ini benar-benar melakukannya? Memikirkan hal itu membuatku geli. Kucek piyamaku dari ujung ke ujung dengan sangat-sangat detail dan teliti. Aku menghela napas sepertinya hanya tak sengaja berpelukan saja, untunglah!


"QIA!!!" panggilan dingin nan ngeri terdengar di telingaku. "Kamu gila! Kamu berani nendang saya?!" Balok Es itu terlihat murka, mata elangnya semakin menyeramkan. Ia berdiri, menatapku tajam sambil berkacak pinggang. Oh tidak, Si T-Rex akan mengamuk, nih. Aku harus gimana?


Tiba-tiba, DRET!!! DRET!!! DRET!!! Terdengar suara getaran telepon. Kucari sumber suara itu dengan melirik ke samping kiri dan kanan. Ternyata suara itu berasal dari smartphone Si Balok Es. Pada layar ada foto Nyonya Belvana, Si Balok Es menghela napas sebelum menerima telepon itu.


"Halo Bunda, ada apa?" jawab Balok Es itu ramah. "Iya, Bunda. Billy dan Qia akan segera ke sana." smartphone itu diletakkan kembali ke atas meja laci sudut dekat ranjang. Balok Es itu kembali menatap tajam dengan raut wajah murka. "Kamu!" ucapnya membuat jantungku ingin melompat keluar. "Kamu kenapa tadi nendang saya? Hah?!"


"Ma...af, Pak....sa...ya...ta...di...mim...pi...bu...ruk...." jawabku asal. Aku merasakan kondisi ini persis seperti ketika sedang masuk ke dalam kelas mata kuliah yang diampu Balok Es ini dan ketahuan terlambat. Dia sama menyeramkan seperti saat itu.


"Ya sudah, cepat mandi," ucapan itu membuatku heran. Dia sungguh tak marah? "Kakek saya menanyakan kamu, kita harus segera pergi ke rumah sakit. Saya akan mandi di kamar lain, setelah selesai temui saya di ruang makan." Balok Es hendak berlalu pergi, aku hanya menggangguk-angguk. Aku mandi dan memakai kembali piyamaku. Kususul Balok Es itu ke lantai bawah. Sudah ada pelayan pria berjas rapi menunggu di dekat tangga.


"Nona, Tuan Muda sudah menunggu di ruang makan. Silahkan!" kuikuti pelayan itu.

__ADS_1


Mulutku langsung menganga, aku mematung. Gila, ini beneran ruang makan? Ada sebuah meja kayu coklat muda yang panjang di ruangan itu. Di setiap sisi meja terdapat deretan kursi warna emas. Kurasa meja ini muat hingga 20 orang. Di sebelah satu set meja dan kursi itu ada kitchen set berwarna silver yang nampak mewah. Ruangan itu sendiri nuansanya kuning keju pudar. Balok Es itu duduk dengan tampang dingin nan angkuh di ujung meja. Dia telah berpakaian rapi dengan setelan kemeja flanel kotak-kotak hijau. Di dekatnya ada deretan pelayan dan koki. Di samping kanan Balok Es itu ada satu set peralatan makan, nampaknya itu ditata untukku, aku duduk di kursi itu. Gila! Ini gimana cara makainya? Tepat di depanku ada deretan piring, mangkok dan gelas. Di sebelah kiriku ada deretan garpu dan di sebelah kananku ada deretan sendok dan pisau. Kurasa keluarga Balok Es ini benar-benar kaya raya.


"Nona, Tuan Muda, silahkan menikmati Appetizer!" seorang koki hendak menuangkan makanan. Ia melayani Balok Es terlebih dahulu. Si Balok Es hanya membalik sebuah mangkok kecil. Aku pun mengikutinya gerakannya. Ini sup apaan? Kok nggak ada isinya ya? Kuambil sendok paling besar untuk menikmati sup yang dinamakan "Appetizer" itu. Kutiup-tiup sup aneh yang panas itu. Ini hanya perasaanku atau memang Si Balok Es terus menatapku dengan tatapan dingin nan menyeramkan?


"Bawakan langsung Main Course-nya!" perintah Si Balok Es.


Main Course itu makanan apa, sih? Kok aku belum pernah dengar ya? Koki itu menghidangkan kembali makanan kembali. Oh,ternyata Main Course itu salah satu jenis steak. Di hadapanku sudah ada sepotong daging steak yang nampak lezat. Astaga, perut liarku langsung meronta ingin memakannya. Lamgsung kuambil garpu dan pisau untuk menikmati hidangan itu. Sial! Kenapa daging steak ini susah sekali dipotong? Aku terus berusaha memotongnya hingga kurasa meja itu bergetar karena gerakanku. Saat aku hampir berhasil memotong daging itu dalam irisan besar....


"Kamu nggak pernah belajar table manner, ya?" ucap Balok Es itu.


"HAH?!" perhatianku langsung teralihkan. "Apa Pak? Tebel Menor?" ucapku bingung.


Mataku fokus menatap mata Balok Es itu, tanganku masih berusaha memotong daging. Saat itu tiba-tiba....WING!!! PLUG!!! Astaga! Irisan daging steak yang kupotong meloncat, melayang ke wajah Balok Es itu. Aku langsung menutup mulutku. Mengapa hal bodoh ini bisa terjadi?


WHAT?! Dia nggak marah? Balok Es itu benar-benar memotongkan daging steak menjadi ukuran kecil. Ia kemudian menyuapkannya ke mulutku. Aku dengan ragu membuka mulutku dan menerimanya. Gila! Rasa steak ini benar-benar lezat. Seperti seorang anak kecil yang lapar kuterima suapan-suapan manis itu.


"Pelan-pelan makannya...." Balok Es itu menyentuh mulutku dengan lembut. "Jangan belepotan," ia menyeka noda steak di pipiku dengan jari tangannya. "Ponimu juga berantakan, Yaya..." poniku dengan lembut dirapikan. Duh, jantungku kok deg-degan, ya? Apalagi dia memanggilku Yaya.


Balok Es itu melanjutkan untuk menyuapiku. "Kamu belum pernah belajar table manner?" tanyanya lembut, aku hanya menggeleng. Table manner itu apa? Memang keluargaku cukup berada tapi tak sekaya Si Balok Es. Di keluargaku jika kami makan tak sampai memakai piring dan sendok garpu sebanyak ini. Masak pun mungkin hanya Mama atau satu asisten rumah tangga yang melakukannya. "Table manner itu...." Balok Es berbicara panjang lebar.

__ADS_1


Ternyata table manner itu tata cara makan yang baik dan benar. Appetizer itu artinya hidangan pembuka, bukan nama sup. Main Course artinya hidangan utama bukan nama steak. Saat makan sup harus makan pelan-pelan tak boleh ditiup. Saat makan daging harus dipotong kecil-kecil, hindari potongan besar. Aku mendengarkan sambil menggangguk-angguk. Baru kusadari jika aku sebodoh itu.


"Saya kira Appetizer dan Main Course nama makanan...." sahutku dengan polos.


"Hm...!" Balok Es itu tersenyum sinis. "Ada ya orang yang sekudet (kudet \= kurang update) kamu?" ejeknya. Aku hanya diam.


Seorang pelayan wanita mendekat menghampiri kami tepat saat aku meminum segelas air putih.


"Tuan Muda, apakah ramuan herbal untuk Nona Qia akan dihidangkan sekarang?" ucap pelayan itu. Ramuan herbal untuk apa? Aku sedang tidak sakit. "Nyonya Belvana berpesan agar Nona Qia meminum ramuan herbal setelah menjalani malam pertama dengan Tuan Muda...."


WHAT?! BYUR!!! Air putih dimulutku langsung menyembur keluar. Semburannya langsung mengenai wajah Si Balok Es. Astaga, cerobohnya aku.


"QIA!!!" teriak Si Balok Es, suaranya seram seakan berasal dari kedalaman neraka. Tangannya mengepal, wajahnya nampak murka. Oh tidak, tamat sudah riwayatku....


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2