
BRUK!!! Kurasakan tubuhku terjatuh di dorong oleh seseorang. Aku tak bisa melihat jelas apa yang terjadi. Kejadian itu begitu cepat. Kepalaku terasa sangat pening. Kurasa kepalaku membentur tanah dengan keras dan terluka. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sudah menolongku?
Kubuka mataku perlahan-lahan. Rasa sakit di dahiku mulai terasa. Rasanya nyeri dan linu. Kurasa aku terbaring di sebuah ranjang. Plafon berwarna putih mulai terlihat jelas.
"Na...ren...." nampak Naren ada di sampingku. "Ri...no...Wa...ti...." panggilku lirih.
"Sykurlah!" teriak Naren kencang. Tubuhku langsung dipeluk oleh Naren. "Syukurlah kamu sudah sadar, Ya! Aku takut banget tadi!" Naren melepas pelukannya.
"Syukurlah, kamu udah sadar, Ya!" ucap Wati. "Nih, minum dulu!" dia menyerahkan segelas air putih padaku. Aku meminumnya pelan-pelan.
"Aku kenapa? Apa yang terjadi?" mata melihat-lihat sekeliling ruangan ini. "Dimana ini?"
"Kita baru ada di klinik, Ya. Ehm, kamu tadi hampir celaka ketimpa batang pohon besar," Wati mulai bercerita.
Aku mulai mengingat kejadian itu. Benar, bukankah aku akan tertimpa batang pohon besar. Tapi, kurasa ada yang mendorongku sehingga aku jatuh dan terhindar dari kemalangan.
"Terus, siapa yang nolong aku? Kayaknya sebelum aku ketimpa ada yang dorong aku," kutatap mata Wati.
"Pak Rexford yang nolong kamu, Ya," jawab Rino. WHAT?! Si Balok Es?! Dia menolongku lagi?! Bagaimana keadaannya sekarang?!
"Balok Es?" ucapku tanpa sadar. "Ehm., maksudku Pak Billy yang nolong aku?" Rino dan Wati menggangguk bersamaan. "Terus, Pak Billy sekarang gimana?"
"Dia juga dibawa ke klinik ini, Ya. Beliau baru diperiksa dokter tadi. Beliau kayaknya cedera di tangan sama luka deh," jawab Wati. Astaga, Si Balok Es terluka? Dia terluka karena menolongku?
"Kamu mau ngapain, Ya?!" teriak Naren saat aku hendak turun dari tempat tidur perawatan.
"Aku mau ngeliat Pak Billy. Ehm, aku mau ngucapin terima kasih ke beliau," jawabku.
Mengapa hatiku merasa bersalah sekarang? Aku sudah memakinya tadi, bahkan aku bilang bahwa aku membencinya. Dia sekarang terluka karena menolongku.
"Ya, sudah. Ayo, aku temani kamu ke sana!" Naren menggandeng tangan kananku.
"ADUH!" kakiku kiriku terasa sakit untuk berjalan.
"Kakimu kenapa? Sakit?" tanya Naren, aku menggangguk. "Ya, udah. Kamu tiduran aja, biar aku panggilin dokter," Naren memaksaku kembali berbaring.
__ADS_1
"Aku cuma lecet karena jatuh tadi. Udah nggak papa! Ayo, Ren, antar aku ke tempat Pak Billy!" aku turun dari tempat tidur perawatan itu.
"Ya, udah. Sini, aku bantu!" Naren memapahku.
Padahal aku bisa berjalan, hanya saja kaki kiriku memang terasa nyeri. Mungkin karena sebuah benturan akibat jatuh tadi. Aku berjalan sedikit terpincang-pincang menuju sebuah ruangan lain di klinik itu.
Dari kejauhan nampak Si Balok Es. Dia duduk di kursi tunggu ruang perawatan itu. Nampak Pak Arjun, seorang dokter pria dan orang asing memakai jas biru tua menemaninya. Kurasa orang asing itu pihak pengelola Taman Agrowisata itu. Balok Es, kau terluka separah itu?
"Saya atas nama pihak pengelola memohon maaf atas insiden ini, Pak," orang asing itu membungkuk di hadapan Si Balok Es. "Kami pasti akan menanggung semua biaya klinik dan kerugian."
"Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi! Beruntung tak ada korban jiwa. Saya harap pihak pengelola bisa lebih memperhatikan aspek perawatan pohon-pohon buah. Terutama pohon-pohon buah yang besar dan sudah tua umurnya!" ucap Balok Es dengan nada marah. Dia tetap masih bisa marah meski terluka seperti itu.
"Baik, Pak. Baik. Sekali lagi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini," lelaki berjas perwakilan pihak pengelola itu meminta maaf kembali.
"Pak," panggil Rino. Balok Es melirik sejenak ke arahku. Dia lalu membuang muka begitu saja. Nampaknya dia sengaja mengindari tatapanku.
"Pak, bagaimana keadaan, Bapak?" tanya Wati.
"Saya baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir. Kalian bisa melanjutkan wisata ke tempat selanjutnya," ucap Si Balok Es dingin. "Saya akan beristirahat di bus saja," semua orang tertunduk. Suasana nampak hening.
"Lebih baik kita pulang saja, Pak," sahut Rino memecah keheningan. "Bapak sedang sakit, jadi sebaiknya kita pulang saja. Ehm, kami tak keberatan untuk tidak melanjutkan kunjungan wisata kami."
"Baiklah, saya hanya mengikuti keinginan kalian saja." dia lalu bangkit dan berdiri hendak melangkah pergi. Kaki kanannya terlihat pincang. "Ayo, kita kembali ke bus!"
"Ayo, Tuan Putri!" Naren menggandeng tanganku lembut. Dari jauh terus kupandangi punggung Balok Es. Dia terluka karena aku. Dia jadi begitu karena aku.
Ternyata klinik ini berada agak jauh dari area tempat wisata. Pengelola mengantar kemari dengan sebuah mobil mini bus.
Astaga, mengapa aku harus terjepit di situasi ini sekarang? Aku duduk di kursi deret kedua. Aku duduk di kursi bagian tengah, Naren ada di sebelah kananku. Dia terus memegangi tangan kananku. Aku semakin merasa bersalah. Bagaimana tidak, Balok Es duduk tepat di sebelah kiriku. Tangan kanannya nampak terbalut semacam gips. Tangan itu digantung dengan penyangga dan diikat ke lehernya. Dahi sebelah kirinya juga tertutup kapas.
Balok Es, kau begini karena menyelamatkanku. Aku merasa bersalah sudah memakinya sepanjang hari ini. Mobil mulai melaju, lelaki berjas biru duduk di depan di bagian sopir. Pak Arjun, sang tour leader duduk di sebelahnya. Rino dan Wati duduk di kursi deret ketiga.
"Pak," suara Naren memecah keheningan. "Terima kasih sudah menyelamatkan Qia!" Naren tersenyum ke arah Balok Es. Jantungku rasanya ingin berhenti berdetak. Naren, tolong jangan tunjukkan kasih sayangmu yang berlebihan sekarang.
"Sudah tugas saya untuk melindungi mahasiswa saya," jawab Balok Es singkat. Dia masih saja menghindari tatapanku.
__ADS_1
Mobil akhirnya sampai di parkiran tempat wisata itu. Aku dan yang lainnya segera turun dari mobil. Dengan dibantu Naren, aku segera menaiki bus dan duduk di tempat semula. Nampak Balok Es sedang berhadapan dengan lelaki berjas biru.
"Sekali lagi saya atas nama pihak pengelola tempat wisata ini meminta maaf yang sebesar-besarnya, Pak," lelaki berjas biru itu meminta maaf lagi. Kulihat pemandangan itu dari jendela bus. Karena jaraknya dekat dengan bus dan mesin bus mati jadi bisa kudengar pembicaraan mereka.
"Iya, Pak. Saya terima permintaan maaf dari pihak pengelola," jawab Balok Es singkat. Dia segera naik ke atas bus. "Apa semua sudah naik, Rino?" tanya terdengar suara Si Balok Es.
"Sudah, Pak," sahut Rino.
"Ya sudah, sekarang mari pulang!" perintah Si Balok Es. Suara langkahnya menuju kemari.
Bagaimana aku harus menghadapinya? Jantungku terasa berdebar kencang. Rasa bersalah itu terasa semakin tak nyaman. Balok Es duduk di sebelahku sekarang. Dia tak melirikku. Bus mulai melaju. Aku tetap tak berani bicara apa pun. Sepanjang perjalanan pulang, Balok Es juga tak berbicara padaku. Dia hanya berbicara pada Pak Arjun, Rino atau Pak Sopir.
"Kita sudah sampai!" ucap Pak Arjun. "Terima kasih telah mempercayakan kunjungan ilmiah ini kepada kami, Alpha Ava Jaya Tour and Travel. Kami mohon maaf apabila ada kesalahan dan pelayanan yang kurang berkenan. Semoga kerjasama diantara kita bisa terjalin lagi ke depannya di masa depan. Jangan lupa teliti kembali barang bawaan, Adek-Adek! Jangan sampai ada yang tertinggal."
Aku pun menunggu giliran untuk turun dari bus. Balok Es masih saja tak menatapku. Dia terus menghindari tatapanku. Di luar bus, nampak para orang tua atau kerabat teman-temanku menunggu untuk menjemput. Hari sudah petang saat rombongan bus ini tiba kembali di kompleks Fakultas Ekonomi. Balok Es nampak menatapku sejenak dari jauh.
"Ya, ayo, kuantar pulang!" Naren sudah menggandeng tanganku. "Kakakku sudah menjemput, ayo kuantar kamu pulang sekalian ke rumahmu!" Naren tiba-tiba membelai poniku. "Aku harus memastikan, Tuan Putriku sampai dengan aman," ucapnya. Balok Es membuang muka, dia lalu menghilang begitu saja. Naren, maaf kali ini aku harus menolakmu.
"Ehm, aku pesan taksi online aja, Ren. Aku masih ada urusan keluarga di tempat lain. Aku duluan ya, Beb!"ucapku sambil berlalu pergi.
Aku melangkah pergi menuju jalan raya di depan Fakultas Ekonomi. Segera kupesan taksi online untuk pulang ke rumah Balok Es. Tak berselang lama taksi online itu datang. Sepanjang perjalanan, rasa bersalah itu terus menyerbu. Entah mengapa dadaku terasa sesak.
Hatiku tak bisa dibohongi. Aku masih sangat mencintai Naren. Mau bagaimana lagi, hatiku ini benda hidup. Hatiku ini tak seperti air yang dengan mudah dipindah dari satu gelas ke gelas lainnya. Aku benci jika Balok Es menggangguku seperti hari ini. Aku tak suka jika dia terlibat dalam hubunganku dan Naren. Mungkin yang kulakukan dengan Naren bisa dibilang selingkuh. Mungkin ini salah, tapi mau bagaimana lagi? Hatiku tak bisa dibohongi. Aku masih mencintai, Naren.
Aku selalu menantikan waktu dan kesempatan agar bisa bersamanya. Aku tak bisa seperti di kisah-kisah novel, drama, komik atau film dimana dengan mudah bisa memindahkan rasa sayang di hatiku pada lelaki yang dijodohkan denganku. Memindahkan itu sulit dan rumit. Ragaku mungkin sudah menjadi hak milik Si Balok Es tapi tidak dengan hatiku. Hatiku tak mudah berpindah! Tapi, mungkin aku sudah keterlaluan hari ini.
Aku berani membentak dan memaki Balok Es. Bagaimana pun dia adalah suamiku meski entah seperti apa cerita pernikahan ini terjadi. Dia tetap suami yang seharusnya kuhormati. Dia sudah menyelamatkan nyawaku dua kali. Dia sampai terluka karena aku. Apa yang harus kulakukan terhadapnya? Aku benar-benar merasa bersalah.
"Kak, kita sudah sampai!" ucap Mbak Sopir Taksi. Lamunanku buyar karena ucapannya. Segera kubayar ongkos taksi itu dan keluar dari mobil. Aku sudah ada di gerbang rumah Si Balok Es. Balok Es, apa yang harus kulakukan untuk menghadapimu sekarang?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍