
"AAAA!!!! KECOA!!!" aku langsung berteriak. BRUK!!! Reflek, tubuhku memeluk Balok Es itu. Kami berdua terjatuh ke tempat tidur. Sekali lagi, mata mungilku bertatapan dengan mata elangnya yang tak terhalang lensa tebal itu. Waktu seakan berhenti saat kutatap dirinya. Mengapa jantungku berdetak semakin kencang saat menatapnya?
"Bisa lepaskan saya?!" ucapnya dingin menbuyarkan lamunanku. Kami bangkit lalu duduk di tepi tempat tidur dengan menjaga jarak.
"Emm...ma...af, Pak. Sa...ya ta...kut...ke...co...a...." ucapku lirih sambil menatap ke bawah. Lantai kamar ini dilapisi karpet berumbai-rumbai warna abu-abu. Nampaknya karpet ini mahal, kakiku terus kugesek-gesekkan pada permukaan karpet ini. Balok Es diam saja, aku menunggu jawabannya.
"Sudah lupakan!" ia berdiri sambil menyilanglan kedua tangannya. Mata elangnya yang dingin terasa mengintimidasiku. "Ingat apa yang saya katakan tadi! Pergilah, tidur di kamar lain! Saya lelah...." kudengarkan lagi ocehannya.
DUAR!!! Terdengar suara petir menggelegar yang mengagetkanku.
"AAAA!!!" teriakku, entah mengapa tubuhku secara reflek memeluk Balok Es dingin ini. Tubuhku gemetar ketakutan.
"Kamu kenapa?" ucapan dingin itu menyadarkanku. Sialan sifat penakutku pada suara petir membuatku bertingkah konyol. Aku memeluk Balok Es ini lagi.
"Ma...af...Pak, saya ta...kut...pe...tir...." kulepaskan pelukan itu. DUAR!!! Terdengar suara petir kembali. "Pak!!!" bodohnya aku, Balok Es ini kupeluk lagi.
__ADS_1
"Dasar penakut!" ia terlihat cuek. Kulepaskan pelukanku. Di luar angin kencang dan hujan deras sedang terjadi. Sial, aku paling takut pada cuaca seperti ini. Kalau di rumah pasti aku sudah pindah ke kamar Mama dan Papa.
"Kamu pergilah...." saat Balok Es ini berbicara segera aku pergi ke kamar mandi.
"Saya mandi dulu, Pak!" kubuka kamar mandi itu.
Ada bathtube putih bundar yang besar dan mewah. Ada wastafel yang dilapisi marmer abu-abu. Kloset, shower dan peralatan di kamar ini kurasa kualitas nomer satu. Kunikmati berendam di bathtube itu. Tak kusangka Si Balok Es ternyata anak orang kaya. Padahal dia nampak sederhana saja saat jadi dosen di kampus. Kupakai kembali gaun merahku dan keluar dari kamar mandi.
"Nih, kamu bisa pakai itu!" ia melemparkan sepasang piyama berwarna kuning. "Itu milik Bunda yang belum jadi dipakai." aku menggangguk lalu kembali ke kamar mandi untuk memakainya. Ukurannya agak kebesaran sih tapi lumayanlah daripada memakai gaun. Saat aku keluar dari kamar mandi, mata elang Balok Es itu menatapku sejenak. "Kamu pergilah! Saya sudah lelah!"
"Kamu berani, ya?!" ia menatapku.
"Bapak harus mengalah! Saya takut petir, hujan dan kecoa! Saya harus terjebak di rumah Bapak karena Bapak mengajak saya ke sudut rumah sakit rapuh itu! Bukan kemauan saya tinggal di sini!" protesku sambil membela diri.
"Oh begitu!" ia naik ke atas ranjang. "Kamu ingin sekamar dengan saya? Kamu nggak takut saya jahat kepadamu?" ia mendekatiku dan memegang daguku. Apa yang dipikirkan Balok Es ini? Aku ingin tidur sekamar dengannya karena takut dan tak ada pilihan lain. Mataku bertatapan dengan mata elangnya. DUAK!!! Kubenturkan kepalaku ke kepalanya. "Aduh!" ia memegangi kepalanya. "Kamu gila?"
__ADS_1
"Iya, saya sudah gila karena setuju menikah dengan dosen killer seperti Bapak!" teriakku. "Mengapa takdir mengharuskan saya jadi istri Bapak? Saya...."
"Terserah padamu...." sahutnya lirih. Ia menumpuk bantal dan guling di bagian tengah tempat tidur. Lalu pergi mengambil selimut abu-abu, "Saya lelah, mengocehlah jika kamu masih sanggup!" ia berbaring menghadap ke arahku, dibatasi oleh benteng dari guling dan bantal. Kupandangi dia, luka di dahinya masih tertutup plester kecil. Kuamati Balok Es ini, sungguh dia nampak berbeda seperti dua orang yang berbeda. Dia nampak lebih muda saat ini. Balok Es ini terluka karena menyelamatkanku. Tanpa sadar kubelai dahinya yang terluka.
"Pak, ternyata Anda manis juga...." ucapku tanpa sadar. SLAP!!! Astaga, mata elangnya langsung terbuka.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1