Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 132 - Es Krim


__ADS_3

"Hihihi ...." Qia berusaha menahan tawanya. Dia menutupi mulutnya dengan tangan kirinya. "Mau ngapain ya? Aku gabut, nih. Temen-temen udah pada KRS-an duluan." Qia menghentikan langkah kakinya di lobi yang berada di lantai 1.


"Dek Qia!" terdengar panggilan seseorang. Qia pun menoleh ke arah sumber suara itu. Nampak seorang pria dengan kemeja biru tua kotak-kotak menghampirinya. Pria itu menenteng tas gendong hitam yang besar. Di tangan kanannya nampak sebuah map plastik besar.


"Eh, Kak Vino!" sapa Qia.


"Wah, tumben sendirian. Temen-temenmu mana?" tanya Kak Vino.


"Temen-temenku udah pada KRS-an duluan, Kak. Eh, Kak Vino mau bimbingan ya?" Wia menatap ke arah Vino.


"Iya, nih. Baru nungguin dosen," Vino duduk di sofa yang ada di lobi lantai 1. Suasana lobi itu sepi karena perkuliahan belum resmi dimulai. "Kamu dah mau pulang?" tanya Vino.


"Ehm ... belum, Kak. Baru nunggu jemputan, hehehe."


"Ya udah, sini dulu aja. Duduk dulu aja, temenin aku," pinta Vino. Qia pun duduk di sebelah Vino. Vino memandang ke arah Qia. "Kayaknya baru kemarin ya kamu jadi maba (mahasiswa baru) eh sekarang udah otw semester tua juga. Kayaknya rasanya baru kemarin deh, aku jadi panitia kegiatan upgrading pengurus UKMF Penelitian angkatanmu. Waktu jalannya cepet banget."

__ADS_1


"Iya, Kak. Kayaknya baru kemarin deh, aku jadi maba eh sekarang udah semester tua. Rasanya pengen jadi maba lagi, aku takut skripsian. Tapi, kalo nggak skripsian nanti nggak lulus."


"Udah, jalanin aja apa yang ada. Semua punya jalan dan masa suksesnya masing-masing," Vino tersenyum ke arah Qia.


Kak Vino memang bijak dari dulu. Pantaslah dia dulu jadi ketua UKMF penelitian periode sebelumnya, gumam Qia.


"Eh, tangan kamu kenapa?" tanya Vino.


"Ehm, habis kecelakaan, Kak. Mobil yang aku naiki tabrakan di jalan. Nyawalu hampir aja melayang."


"Iya, Kak. Makasih."


"Eh, iya, kebetulan ada kamu. Nih, aku punya es krim cone. Makan aja ya." Vino mengeluarkan dua buah es krim berbentuk cone dari dalam tas gendongnya. Es krim itu terbungkus kresek. "Tadi temenku nitip, tapi dia maah nggak jadi datang buat bimbingan. Nih, satu buat kamu. Tenang aja, gratis, kok." Vino menyodorkan es krim cone rasa coklat kepada Qia.


"Makasih, Kak." Qia menerima es krim itu dengan tangan kirinya.

__ADS_1


Rejeki nggak boleh ditolak. Apalagi ini dari kating (kakak tingkat) kenalanku. Lumayanlah, buat cemilan sambil nunggu Hubby, gumam Qia.


"Sini, aku bantu buka!" Vino membukakan bungkus es krim untuk Qia. Es krim itu diserahkan kembali ke tangan Qia.


"Makasih, Kak." Qia lalu memakan es krim itu.


Cuaca panas emang paling enak makan es krim. Apalagi ini rasa coklat. Rasa favoritku, gumam Qia.


"Eh, mulutmu belepotan, Dek!" Vino membersihkan sisa es krim di mulut Qia dengan tisu. "Enak nggak es krimnya?" tanya Vino.


"Enak, Kak. Makasih ya," sahut Qia sambil tersenyum.


Yaya, dimana ya? Chat-ku belum dibaca. Ditelepon nggak diangkat. Kemana dia sebenarnya? gumam Billy sambil menuruni tangga.


"Hahaha, iya, Kak kejadian yang dulu itu lucu banget!" terdengar suara yang amat dikenali Billy. Dari tangga lantai dua Billy memandang ke arah lobi lantai 1. Nampak Qia sedang asyik bercerita dengan Vino.

__ADS_1


Ck! Siapa lagi pria ini, gumam Billy.


__ADS_2