
Bodoh, dasar bodoh! Bisa-bisanya aku sebodoh ini! Naren, teganya dirimu! Dasar penipu! Dasar pembohong! Aku benci padamu! 😢
Aku benar-benar merasa bodoh dan dibohongi. Bisa-bisanya aku dibohongi untuk yang kedua kalinya. Aku lelah untuk menangis, mataku sudah sakit. Jadi, aku memilih diam.
"Sudah selesai, Nona," ucap pegawai salon. Dia nampak mulai membereskan hairdryer-nya. Pegawai itu juga mulai membereskan peralatan lainnya ke dalam tas. Aku duduk termenung di sofa kamar hotel ini. Aku tak berani melihat ke arah Si Balok Es.
"Sudah selesai, Tuan," lapor pegawai salon itu pada Balok Es yang berdiri di dekat pintu.
"Ehm," sahut Balok Es singkat.
Pintu kamar ini nampak tertutup kembali. Balok Es mendekat ke arahku, dia duduk di sofa di dekatku. Aku dan dia hanya dibatasi sebuah meja kayu bundar. Aku terus menunduk tak berani menatap ke arah.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Balok Es.
Aku diam tak berani menjawab. Aku malu, amat malu, merasa bodoh dan bersalah. Aku malu dan merasa bersalah karena sudah mengkhianati janji untuk menjadi istri yang baik dan tak nakal lagi.
"Jangan takut! Cepat katakan! Saya akan menempuh jalur hukum karena dia sudah memperlakukanmu seperti ini!" ucap Balok Es. "Yaya...." panggil Balok Es.
Bapak, jika Bapak tahu apa yang terjadi, apa Bapak masih bisa memanggil saya dengan panggilan itu? Dadaku semakin terasa sesak karena rasa bersalah.
"Yaya, katakan siapa yang....."
"Bapak!" panggilku.
Air mataku tak bisa kutahan lagi. Aku merasa bersalah, benar-benar merasa bersalah. Mungkin kejadian ini hukuman untukku karena berani mengingkari janjiku pada suamiku.
"Apa yang kau lakukan?" Balok Es nampak terkejut. Aku tak peduli, aku bersimpuh sambil memegang kakinya. Aku tak tahu bagaimana lagi caranya harus meminta maaf.
"Maafkan...Qia...Pak...." ucapku sambil menangis. "Ampuni...Qia, Pak.... Qia sudah mengingkari...janji.... Qia sempat memberikan lagi hati ini pada Naren...." ucapku sambil menangis. "Ini bukan salah siapa pun.... Ini salah Qia yang bodoh karena percaya lagi pada Naren.... Ini hukuman untuk Qia karena berani mengkhianati Bapak.... Qia minta maaf, Pak.... Ampuni Qia...." aku menangis tersedu-sedu sambil memegangi kaki Si Balok Es. "Qia begini karena disiram oleh tunangan Naren....Tak ada yang salah. Qia yang salah karena bodoh.... Ampuni Qia, Pak.... Qia minta maaf...." aku terus berusaha meminta maaf sambil memegangi kaki Si Balok Es.
Balok Es diam saja. Pak, apa Bapak sudah tak mau memaafkan Qia? Qia benar-benar minta maaf. Qia janji takkan mengkhianati Bapak lagi.
"Ba...pak...." aku mengambil tangan kiri Si Balok Es. Tangan itu kutempelkan pada pipi kananku. "Hukum Qia, Pak! Hukum Qia! Pukul saya, Pak! Pukul!" ucapku sambil menangis dan tetap memegangi tangan Si Balok Es.
__ADS_1
"Qia, benar-benar minta maaf.... Bapak, boleh menghukum Qia.... Qia pantas dihukum! Pukul Qia, Pak! Pukul! Hukum Qia!" ucapku sambil menatap Si Balok Es. Dia tertunduk tak menatapku.
"Ba...pak...." panggilku.
Aku hanya bisa menangis atas perlakuan dari Si Balok Es. Dia justru mencium dahiku. Sekarang dia turun, ikut bersimpuh di hadapanku. Tangan kirinya memeluk tubuhku.
"Maafkan Qia, Pak.... Ampuni Qia.... Bapak terlalu baik untuk Qia...." kuungkapkan apa yang ada di hatiku.
Balok Es terlalu baik untukku. Dia bahkan tak marah atau menyakitiku saat tahu apa yang terjadi. Dia terus melindungiku hingga dia sendiri terluka. Saat aku sudah menduakannya, dia bahkan ada untukku saat kubutuhkan. Aku benar-benar wanita bodoh yang tak tahu cara bersyukur. Aku menyia-nyiakan pria yang lembut dan penyabar seperti Balok Es.
"Kau bisa menjadikan saya tempat untuk pulang. Jadi, jangan menangis lagi," ucap Balok Es lembut di telingaku.
"Tempat untuk pu...lang?" ucapku spontan. Aku melepas pelukan ini, mataku menatap Si Balok Es.
"Sejauh apa pun kau pergi, kau bisa menjadikan saya tempat untuk pulang kembali. Saya akan membuka pintu untuk menerimamu kembali," Balok Es menatapku.
"Ba...pak...." aku tak bisa menahan air mataku lagi.
Bapak, Bapak benar-benar pria yang terlalu baik untuk wanita bodoh dan tak tahu bersyukur seperti saya ini. Aku benar-benar sudah melakukan hal bodoh selama ini.
"Tapi....Qia sudah bersalah, Pak.... Qia berulang kali melakukan kesalahan...."
"Itu bukan salahmu," Balok Es terus mengusap air mataku. "Kau makhluk yang mempunyai hati. Kau dan Naren bertemu terlebih dahulu. Saya bertemu denganmu belakangan. Hatimu bukanlah benda yang bisa dipindahtangankan dengan mudah. Kau butuh waktu untuk memahami semua ini....."
"Tapi, Qia sudah salah, Pak. Bapak boleh menghukum Qia. Qia...." Balok Es menutup mulutku dengan tangan kirinya.
"Saya adalah tempatmu untuk kembali pulang. Kau sudah menyadari kesalahanmu dan menyesalinya. Itu sudah cukup bagi saya," Balok Es sedikit tersenyum. "Saat kamu nyaman berada di sisi saya. Saya yakin sejauh apa pun kamu pergi. Saat kamu ingin melangkah terlalu jauh, pasti kamu akan mengingat saya yang setia menunggumu di rumah. Kamu sudah pernah merasakan sakit dan kecewa ini. Saat kamu akan melangkah terlalu jauh ke tujuan yang salah. Saya yakin kamu pasti bisa mengingat saya, yang pasti juga merasakan rasa yang mirip jika kamu pergi ke tujuan yang salah lagi."
"Ba...pak...." aku memeluk Si Balok Es lagi.
Kata-kata Balok Es memukul nuraniku yang paling dalam. Dia mungkin tak menghukumku tapi nuraniku sendiri yang menghukumku dengan berjuta tusukan rasa bersalah. Aku tak boleh mengkhianati Balok Es lagi. Aku tak boleh menyakitinya lagi.
Aku ada di dalam pelukan Balok Es untuk waktu yang cukup lama. Aku benar-benar bodoh sudah menyia-nyiakan pria sesabar dan sebaik ini. Dia bahkan dapat meredam emosinya saat aku melakukan kesalahan yang tergolong cukup berat. Bahkan sudah kulakukan di depan matanya berulang kali.
__ADS_1
"Kau sudah merasa tenang?" tanya Si Balok Es.
"Sudah, Pak," sahutku lirih. Balok Es melepas pelukanku.
"Ya sudah, saya akan pesan makan malam setelah itu kita mandi dan tidur. Kita menginap di sini saja malam ini," ucap Balok Es. "Kau tak keberatan kan kita tak pulang ke rumah?" dia menatapku.
"Tidak, Pak," jawabku. "Pak, sakit!" teriakku sambil memegangi pipi kananku. Tangan kiri Balok Es mencubit pipi itu.
"Itu hukuman karena kau melakukan kesalahan!" ucap Balok Es dengan ketus. Ck! Bukankah dia berkata jika sudah memaafkanku tadi? Aku salah apa sih?
"Bapak kan tadi bilang sudah memaafkan saya tadi. Kenapa sekarang saya dihukum?"
"Dasar tak peka!" Balok Es memalingkan mukanya. "Padahal baru tadi pagi kesepakatan itu terjadi. Nampaknya saya memang tak memiliki tempat penting di pikiranmu," Balok Es berdiri sambil membelakangiku.
Bapak, maksud Bapak apa, sih? Aku berusaha mengingat-ingat. Astaga, dia benar-benar mengingat kesepakatan waktu sarapan itu ya? Ehm, iya sih, aku salah.
"Hubby....." ucapku sambil memeluknya dari arah belakang. "Maafkan Yaya yang bodoh dan pelupa ini...."
"Ehm," sahut Balok Es singkat. "Untuk hukuman tambahan kamu harus menyuapi saat makan dan menemani saya mandi," dia melirik ke arahku.
Ck! Dasar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Aku menghela napas, sudahlah terima saja. Aku pun menyuapi dan menemani Balok Es mandi. Jujur, rasa canggungku sudah berkurang drastis. Mungkin ini karena bukan pertama kalinya aku menyuapi dan menemani Balok Es mandi. Akhirnya, aku dan Balok Es akan segera tidur. Seperti biasa, aku dan dia tidur dibatasi dengan guling di bagian tengah.
"Pak....eh maksudku Hubby...." aku memanggil dengan manja. Kupeluk guling di bagian tengah sambil berbaring menghadap Si Balok Es.
"Apa? Saya lelah. Kamu jangan minta yang macam-macam malam ini!" dia berbaring membelakangiku.
Aku tertegun. Pak, Bapak mikir apa sih? Memangnya Qia pernah ya minta permintaan yang aneh-aneh waktu tidur sama Bapak?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍