
Tangan kasarnya yang dingin tiba-tiba membelai pipi kiriku. Wajahku tiba-tiba saja dicengkeram olehnya. PAK!!! Aku ingin berteriak tapi tak bisa. Apa dia ingin menciumku? Wajahku semakin dekat semakin dekat. Dekat, dekat sekali tinggal beberapa mili saja. Mataku otomatis terpejam. Mengapa aku tak melawan? Apakah aku mulai terbiasa dengan sentuhannya?
Hembusan napasnya mulai terasa di wajahku. Kurasa jarak wajah kami sudah sangat-sangat dekat. Jantung mungilku berdetak lebih kencang daripada sebelumnya. Perlahan-lahan kurasakan tangan kasar Balok Es ini mulai terasa hangat. Ciuman akan segera terjadi! Teriakku dalam hati.
Suara ketukan itu membuat semuanya berhenti seketika. Mataku dalam sekejap terbuka, aku reflek duduk berpindah ke sofa lain. Balok Es tetap saja dengan wajah datarnya. Ia bangkit begitu saja sambil merapikan jasnya. Pintu itu terbuka, ternyata si penggangu adalah Sekretaris June. Tunggu, apa yang terjadi pada pikiranku! Aku mengganggap Sekretaris June, pengganggu? Mungkin, aku sudah gila! Tapi, mengapa aku merasa kecewa....
"Tuan, rapat akan segera dimulai, " Sekretaris June mengintip di dekat pintu dengan memunculkan wajahnya. "Maaf, Tuan para kepala departemen ingin segera bertemu," pintu itu terbuka lebar nampak beberapa laki-laki berjas rapi dan beberapa wanita memakai blazer.
"Ehm," sahut Si Balok Es, dia sudah berdiri di samping meja kerjanya. "Tikus Kecil, kau...." ucap Si Balok Es lirih. Dia pasti ingin menyuruhku pulang.
Entah mengapa dalam hatiku berkata Do or Die! Lakukan atau gagal! Secepat kilat aku berpindah berdiri mendekatinya. Aku berjinjit dan dengan nekat...MUACH! Kukecup pipi kanan Balok Es itu cukup lama hingga lipstick merah di bibirku menempel di pipinya. Bekasnya nyata terlihat oleh mata.
"Jangan lupa tangunggjawabmu, T-Rex Tersayang!" bisikku lirih di telinga kanannya. Lalu tiba-tiba saja...MUACH! Entah apa yang merasukiku, aku mencium pipi kirinya juga. Itu terjadi cukup lama hingga lipstick merah di bibirku kembali membekas di pipinya. Dan pastinya bekasnya tak kalah wow dengan yang sebelumnya. Aku menahan tawa dalam hati. Tunggu, apa yang terjadi padaku? Kurasa aku benar-benar tidak waras hari ini!
Aku bergegas mengambil tasku dan kotak bekal itu. Qia, kemana kewarasanmu? Kau mencium Balok Es tepat di depan para karyawannya? Sekretaris June dan para karyawan nampak mematung di pintu. Aku berusaha cuek, kupakai kembali kacamataku dan buru-buru berlari keluar dari ruangan itu.
"Ya...ya...." terdengar suara Balok Es memanggilku. Masa bodoh, aku mungkin sudah gila! Apa yang terjadi pada diriku tadi? Mengapa aku memiliki keberanian sebesar itu untuk mencium Balok Es di depan banyak orang? Untung saja kantor sedang sepi. Tanpa pikir panjang kulepas high heel-ku. Kutenteng sepatuku sambil berlari terbirit- birit. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku merasa malu tapi juga merasa....ehm...puas mungkin. Kutampar pipiku! Sadar,Qia! Ini hanya bagian dari misimu untuk membujuk Si Balok Es. Saat tiba di parkiran aku langsung masuk ke mobil dan....
"PULANG KE RUMAH! CEPAT!!!" teriakku kencang tak sabar.
"Ba...ik! Nyonya!" Pak Sopir yang tampaknya menunggu dengan mengantuk seakan kaget dengan teriakanku. Aku duduk sambil memandang ke arah luar kaca jendela mobil. Mengapa jantungku berdebar kencang? Itu tadi misi atau...pikiran lain terlintas di kepalaku.
TIDAK!!! Tak mungkin aku mulai membuka hati untuk Balok Es. Itu tidak mungkin!
Sesampainya di rumah aku langsung lari terbirit-birit menuju kamarku. Aku tak mempedulikan pandangan para pelayan yang mungkin mengganggapku aneh. Langsung kuselimuti tubuhku dengan selimut tebal. Aku berbaring memojok di dinding sambil memeluk Cici, boneka kelinciku. Kusentuh bibirku, ciuman gila itu masih terbayang. Aku pernah mencium Naren juga di pipi tapi mengapa sekarang sensasinya berbeda? Apa aku tadi mencium karena aku mulai...suka? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Sudahlah, lupakan hal itu!
Kuhela napasku, karena ciuman pipi itu aku tak bisa pergi ke alam mimpi. Tadi malam tidurku tak nyenyak. Kurasa mataku membentuk kantung mata sehingga terlihat seperti mata panda. Kutenteng tas punggungku yang berwarna hijau army. Aku menyesal dahulu pernah percaya pada sinetron atau film di televisi yang menggambarkan jika kuliah itu santai, kerjaannya cuma nongkrong dan main. Aku juga sempat percaya bahwa kuliah itu bebas mau masuk atau bolos dan tak membawa apa pun. Hanya membawa tas selempang yang ukurannya kecil, cuma muat untuk dompet dan HP. Ternyata semua itu cuma fiktif.
Hari ini mata kuliah yang kuiikuti ada 2 yaitu Metodologi Penelitian dan Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Mendengar mata kuliah yang kedua bibirku berkedut geli. Untung saja, Balok Es cuti dua minggu jadi aku tak perlu menghadapinya sekarang. Aku masih malu dan bingung. Tadi pagi saja kurasa dia tak pulang ke rumah. Dia pasti sedang sibuk dengan urusan kantor.
__ADS_1
Tas punggung ini berat seperti beban hidupku saja. Isi tas ini berupa : laptop, binder, alat tulis dan tentunya alat make up untuk touch up. Aku butuh laptop untuk belajar mengolah data dengan software statistik. Meski setiap mata kuliah hanya 1 kali pertemuan dalam seminggu tetapi tetap saja otakku terasa terbakar.
Semangat Qia! Ucapku pada diriku sendiri saat keluar dari kelas Metodologi Penelitian. Akhirnya 2 SKS terlewati (SKS \= Sistem Kredit Semester; 1 SKS \= 50 menit waktu pelajaran tiap mata kuliah perminggu bagi jenjang S1). Akhirnya aku bisa pulang sekarang, karena Balok Es cuti pasti kelasnya hari ini kosong.
"Naren, ayo temani Tuan Putri makan!"aku menarik-narik lengan kanan Naren.
"Iya, Tuan Putriku," ia membelai poniku. Aku sudah senang membayangkan makan ceria di kantin sambil disuapi Naren, sampai....
"Gaes, hari ini ada SIA!" ucap ketua kelasku. "Pak Rexford meminta masuk kelas sekarang! Dia sudah menunggu di kelas!"
WHAT? Balok Es itu tidak jadi cuti! Dia masuk ke kelas hari ini? Bibirku berkedut kembali. Aku masih merasa malu atas tindakan nekatku hari itu. Astaga, sial! Hari ini giliranku presentasi materi dan pasanganku adalah Naren. Kuharap tak terjadi perang dunia level mini nanti.
Saat aku dan teman-teman masuk kelas, Si Balok Es sudah duduk dengan angkuh dan dingin. Dia memakai pakaian serba hitam hari ini. Aku jadi semakin merasa ngeri melihatnya. Untung saja hari ini aku memakai kemeja merah dan rok kain hitam. Untung tak salah kostum.
"Siapa yang presentasi hari ini?" tanyanya dingin sambil melihat layar laptop.
"Qia dan Naren, Pak!" jawab teman-temanku kompak.
"Ya, sudah! Cepat maju!" mata elang Balok Es menatap ke arahku dan Naren. Kami duduk tepat di depannya dan dia memandang dengan tatapan ngeri. Ehm, bagaimana pun juga dia tetap suamiku dan Naren pacarku. Apa mungkin dia tak suka aku sekelompok dengan Naren? Tapi, Balok Es bilang jangan pernah membawa urusan kampus ke rumah, semua punya porsi masing-masing. Hm, kurasa dia takkan mempermasalahkan hal ini. Dia kan dosen, jadi harus tetap mengajar dengan mengesampingkan urusan pribadi.
Aku pun menarik dua kursi ke depan kelas dan mengeluarkan laptopku. Naren menyalakan proyektor, kuhubungkan kabel proyektor ke laptopku. Ya, presentasi biasanya memakai media power point (PPT). Posisiku saat ini ada di tengah diantara Balok Es yang duduk di kursi dosen dan Naren yang presentasi bersamaku. Harapanku satu, tolong jangan ada perang dunia level mini. Juga, jangan ungkit masalah ciuman itu ya, Balok Es.
"Selamat siang teman-teman," aku memulai presentasi. "Pada siang hari ini saya bersama teman kelompok saya akan mempresentasilan materi tentang Fraud Triangle. Sebelumnya, ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Qiandra Kalya Santoso, NIM (Nomer Induk Mahasiswa) 19703241011 bersama teman saya...." aku menatap ke arah Naren.
"Saya Narendra Varrel Wijaya, NIM 19703241024," Naren menyahut. Ya, biarpun ini dihadapan teman sekelas yang pasti sudah kenal tapi beginilah tatacara presentasi.
"Jadi, pada intinya Fraud Triangle bermakna segitiga kecurangan. Dalam teori Fraud Triangle, kecurangan bisa terjadi karena 3 faktor...." aku berbicara sambil melihat ke slide PPT yang ditampilkan oleh proyektor.
Saat kulirik ke arah Balok Es...apa maksudnya? Tangan kanannya menyangga kepalanya. Mengapa jari telunjuk di tangan kanannya terus menunjuk-nunjuk ke arah pipinya? Apa dia sedang membuatku mengingat hal itu? Untung saja materi bagianku sudah berakhir saat aku mengingat ciuman itu. "Materi selanjutnya akan disampaikan oleh Saudara Naren!" aku bergantian menjadi operator laptop.
__ADS_1
"Ya, jadi menurut teori Fraud Triangle hal-hal yang menyebabkan kecurangan ada 3 yaitu: tekanan, kesempatan dan rasionalisasi," Naren menjelaskan dengan detail dan gamblang. "Presentasi kami sampai di sini. Apakah teman-teman ada yang ingin menanggapi presentasi atau bertanya?" Naren melirik ke arah teman-teman.
Aku sudah menyiapkan selembar kertas untuk mencatat pertanyaan. Ya, di bangku kuliah, setelah presentasi ada sesi tanya jawab antar mahasiswa tentang materi presentasi. Mahasiswa yang bertanya biasanya mendapat poin plus dari dosen. Pertanyaan yang diajukan oleh teman sekelas akan dijawab oleh kelompok penyaji materi. Ehm, sebenarnya jika tak ada teman yang bertanya hal itu akan menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi kelompok yang presentasi. Kurasa tak ada yang ingin bertanya.
"Kalau begitu saya yang bertanya!" sahut Balok Es. "Apa contoh Fraud Triangle?" ia menatapku datar. Kepalanya masih tetap disangga oleh tangan kanannya. Jari telunjuk di tangan kanannya terus menunjuk-nunjuk ke arah pipi. Mungkin bagi orang lain itu gerakan yang tak aneh tapi bagiku itu mengingatkanku dengan kenekatanku waktu itu.
"Mencium, Pak!" ucapku tanpa sadar. Aku langsung membekap mulutku. Sial,apa yang dikatakan mulutku ini? Aku malu!
"Mencium? Apa maksudmu? Siapa yang ingin kamu cium?" sahut Si Balok Es.
"HAHAHA!!!!" terdengar suara tawa teman-teman sekelasku.
"Saya ingin menambahkan," Naren menyahut. Naren kau memang pangeranku. "Mungkin maksud Qia untuk mulai mencium sebuah kecurangan di dalam perusahaan kita harus mulai dari menganalisis tekanan yang ada di lingkungan perusahaan lalu menganalisis kemungkinan kesempatan yang dapat dipakai untuk melakukan kecurangan. Setelah itu memberi penguatan pada moral karyawan agar tak melakukan rasionalisasi terhadap tindak kecurangan," Naren menjawab dengan gamblang, cool dan tegas. Naren, I love you. Kau memang penyelamatku. "Contoh dari kecurangan yang melibatkan Fraud Triangle salah satunya adalah manipulasi laporan keuangan perusahaan."
"Jawaban yang bagus!" sahut Si Balok Es. "Ada lagi yang ingin bertanya?" tanyanya sambil menatap ke arah teman-temanku. "Baiklah, jika tak ada pertanyaan, perkuliahan kita sampai di sini," semua temanku mulai membereskan buku-bukunya. "Kalian bisa menutup presentasinya!"
Aku segera mematikan laptopku. Naren segera mematikan proyektor serta AC di ruangan itu. Teman-teman sekelasku keluar terlebih dahulu. Balok Es tetap menunggu di luar ruangan. Dia menunggu seluruh mahasiswa keluar terlebih dahulu agar bisa mengunci ruang kuliah itu. Naren masih merapikan kabel proyektor. Aku hendak keluar ruangan terlebih dahulu, Balok Es ada di depanku. Aku sengaja tak menatapnya. Tiba-tiba....
"AAAA!!!!" teriakku. BRUK!!! Sial, aku tersandung tali sepatuku yang lepas. Aku secara reflek terhuyung jatuh ke arah Si Balok Es. Kurasa aku memeluk tubuhnya.
"Hati-hati!" ucapnya lantang sambil melepaskan pelukan tanganku. "Aku mencium tanda-tanda kau mencuri-curi kesempatan untuk memelukku, Tikus Kecil!" bisiknya sangat lirih di telingaku. "Jangan khawatir, aku pasti akan membalas capmu di pipiku waktu itu," bisiknya lagi dalam suara yang sangat lirih. Dia lalu menjauh dariku dan hendak mengunci ruang kuliah itu. Pipiku langsung memerah mendengar bisikan itu. Apa maksudnya? Apa Balok Es ini sedang menggodaku? Bagaimana dia akan membalasku?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍