
"Jadi, ini ya hotelnya," ucap Qia sambil menatap ke arah bangunan yang akan dimasukinya.
Bangunan itu berupa gedung bertingkat. Gedung itu berwarna coklat tua. Nampak ada banyak jendela kaca di gedung itu. Bagian atas gedung itu nampak tertutup salju.
"Ayo masuk, Yaya," ucap Billy sambil menggandeng tangan Qia. Qia dan Billy memasuki hotel itu. Nampak interior hotel yang sebagian besar bernuansa warna putih. Keduanya segera masuk ke dalam lift.
"Kamu takut naik lift kan?" ucap Billy. Dia memeluk pinggang Qia dengan sangat erat.
"Anggap saja iya, Hubby," bisik Qia. "Aku nggak keberatan kok dipeluk terus."
"Udah sampai, ayo keluar!" sahut Billy. Nampak Sekretaris June menyambut di depan pintu kamar itu. Pintu kamar itu juga berwarna putih.
"Kamar sudah siap, Tuan," ucap Sekretaris June.
"Ehm....kau istirahatlah, June," ucap Billy sambil membuka pintu kamar.
"Wah, kamarnya luas!" ucap Qia sambil masuk ke dalam kamar. Nampak sebuah kamar bernuansa serba putih. Nampak pemandangan salju dari dua jendela yang terdapat pada kamar itu. "Wah, pemandangangan cantik! Salju dan salju! Ah, aku suka!" teriak Qia. Dia sudah duduk menghadap ke arah jendela kamar.
"Hey, jangan buka jendelanya, Yaya!" ucap Billy. "Nanti hawa dingin masuk kemari!"
"Eh, iya. Maaf, Hubby," balas Qia. Dia mengurungkan niatnya untuk membuka jendela itu.
"Istirahatlah, aku akan pergi menemui June sebentar," ucap Billy. Billy keluar dari dalam kamar itu.
__ADS_1
"Dia meninggalkanku sendirian. Apa mungkin dia sedang mempersiapkan kejutan untukku? Ah, bisa saja itu terjadi. Sebentar lagi malam hari waktunya makan malam. Aku harus segera bersiap-siap!" ucap Qia sambil beranjak bangkit dari tempat tidur.
"Ah, tapi update status dulu bolehlah! Hihihi, kapan lagi bisa maen ke luar negeri di tempat yang ada saljunya! Ambil video pendek dulu!" Qia mengarahkan kamera belakangnya ke arah pemandangan di luar jendela. Dia lalu menulis pesan 'liburan ke negeri salju sama @jantung_hatinya_qia 😙'.
"Hihihi, ah, tapi tadi belum sempet ambil foto bareng. Ah, nggak papa masih ada waktu besok. Sekarang, lebih baik aku mandi ini udah mau sore. Bentar lagi waktunya makan malam. Eh, tapi kok ada notifikasi bias-ku (idola) baru live streaming nih! Ah! Wajib! Harus nonton nih!" Qia pun segera melepas jaketnya. Bantal segera ia tata untuk mencari posisi rebahan paling nyaman.
Di layar smartphone-nya nampak sang idola. Seorang anggota boyband K-Pop yang sedang naik daun. Dia berbicara dengan bahasa korea sambil menyapa para fans-nya.
"Ah! Gantengnya!" teriak Qia. Tangan mungilnya terus menekan tanda berbentuk hati. Matanya hampir tak berkedip menangkap setiap momen. Telinganya juga hanya terfokus mendengarkan suara sang idola.
"Yaya," panggil Billy sambil membuka pintu. Nampak Qia tak menyahut. Dia fokus berbaring tertungkup sambil menatap ke arah smartphone-nya. "Dia sedang apa? Apa sedang menonton film? Atau mungkin sedang videocall?" ucap Billy sambil berjalan ke arah tempat tidur.
"Ah! Love you! I love you so much! Ah! Kau memang tampan sejak dulu! Ah!" teriak Qia histeris.
"Yaya!" teriak Billy. Tapi rupanya Qia tak mendengar teriakan itu.
"Ah! Love you so much!" teriak Qia sambil terus menatap ke arah lauar smartphone-nya.
Astaga! Ternyata dia sedang menyaksikan live streaming artis idolanya. Aku tak suka dikacangi saat sedang honeymoon seperti ini. Tapi jika aku menegur secara langsung, itu menunjukkan jika diriku sangat posesif. Aku harus tetap jaim. Aku punya ide untuk mengatasinya, gumam Billy. Dia segera berbaring di dekat Qia. Tubuh Qia dipeluk dari arah belakang.
"Eh, Hubby!" ucap Qia spontan. "Kau sudah kembali, ya! Sebentar ya, tanggung," ucap Qia sambil kembali menatap layar smartphone. Qia berbaring miring sekarang, tapi tetap membelakangi Billy.
"Hoahm!!!" Billy menguap. Kepalanya bersandar di dekat kepala Qia. Salah satu tangan Billy menarik selimut yang tebal itu. Kedua kaki Billy mengapit kedua kaki Qia dari arah belakang.
__ADS_1
"Hubby, kau ingin tidur?" tanya Qia.
"Aku mengantuk, Yaya. Di luar baru dingin. Paling nyaman tidur sambil memelukmu," ucap Billy sambil memejamkan matanya. "Pipimu ternyata lembut, ya," Billy menggesek-gesekkan pipinya ke pipi Qia.
Ih, dia sengaja ngelakuin ini. Kayaknya dia nggak suka deh kalo aku liat live streaming bias-ku. Duh, mana meluknya erat banget lagi. Kalo gini kan jadi nggak bisa fokus nonton lagi. Sudahlah, berhenti aja nontonnya. Pintar juga siasatnya, dia cemburu dan nggak suka dikacangi. Tapi nggak bilang langsung dan lebih milih jalan pura-pura tidur. Benar-benar siasat yang cerdik tapi tetap bisa jaim, gumam Qia sambil menutup aplikasi itu. Qia menggerakkan badannya agar memghadap ke arah Billy. Billy merasakan gerakan itu. Dia membuka matanya dan menatap Qia.
"Sudah nonton live streaming-nya?" ucap Billy.
"Anggap saja sudah," sahut Qia.
"Aku sudah tak mengantuk lagi. Ayo, kita pergi makan malam!" ucap Billy sambil bangkit dari tempat tidur.
"Ehm...." sahut Qia.
Jika aku dikacangi karena buku lagi kelak, kurasa aku akan memakai siasat yang serupa seperti yang kau lakukan, Hubby, gumam Qia.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍