
"Cepat, bawa ini!" perintah Si Balok Es. Dia menyuruhku membawa sebuah tas hitam berbentuk kotak yang cukup besar. Dia sendiri juga menenteng sebuah tas punggung. Tas ini baru saja dia keluarkan dari dalam lemari di kamar ini. Hari sudah menjelang malam, bisa dibilang saat ini hampir senja.
"Mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Kamu akan tahu, nanti!" ucapnya sambil memimpin berjalan.
"Kita mau pergi, ya, Kak?" tanyaku lagi.
"Tidak juga," ucapnya santai.
"Terus, mau kemana?" tanyaku lagi.
"Kamu akan tahu nanti, Yaya," sahut Si Balok Es. Dia pasti selalu membuatku penasaran.
Aku pun terus berjalan mengikuti Si Balok Es. Ternyata dia membawaku ke halaman belakang rumah ini. Di belakang rumah ini ternyata ada sebuah halaman rumput yang cukup besar. Sekeliling halaman di kelilingi oleh tembok warna putih. Di dekat tembok nampak bunga melati tumbuh subur mengeluarkan bau harum mewangi.
"Sudah, kamu bisa buka tasnya!" perintah Si Balok Es. Dia menurunkan tas yang dia bawa. Kubuka tas itu, ada beberapa batang logam berwarna silver serta suatu kain warna biru muda.
"Tenda?" ucapku spontan. Tas yang kubawa ternyata berisi sebuah tenda. "Tenda ini buat apa?" kutatap Si Balok Es.
"Sudah, dirikan saja! Nanti kamu juga tahu!" ucap Balok Es. Dia mengeluarkan peralatan dari tas yang dibawanya. Ternyata di dalam tas itu ada seperagkat kompor gas khusus untuk kemah, seperangkat panci kecil serta dua buah sleeping bag warna hitam.
"Kak Billy ngajak Qia kemah?" tanyaku spontan.
__ADS_1
"Menurutmu bagaimana?" Balok Es bertanya balik.
"Jika sudah mengeluarkan tenda seperti ini berarti iya," sahutku sambil mulai mengeluarkan batangan-batangan logam warna perak itu serta kain untuk tenda ini.
Balok Es mempunyai tenda. Apa dia suka naik gunung? Atau jangan-jangan dulu dia anggota mapala (mahasiswa pecinta alam)? 😮
"Kamu dulu seorang mapala, ya?" tanyaku penasaran.
"Menurutmu sebenarnya seperti apa diriku jika mengajakmu kemah?" Balok Es bertanya balik.
"Kak Billy seorang yang suka naik gunung, suka berkegiatan outdoor atau mungkin juga seorang anggota mapala. Benar kan tebakan Qia?" kutatap Balok Es.
"Sudah, cepat dirikan tenda ini!" perintahnya. Dia berdiri sambil berkacak pinggang.
"Masak Qia nggak dibantu!" protesku.
"Qia kan nggak begitu suka kemah. Qia sukanya jalan-jalan di area indoor. Ke mall, karaokean atau pergi nonton film di bioskop!" balasku.
"Mainmu kurang luas, Yaya. Kamu seharusnya pergi menikmati keindahan alam yang ada di tempat outdoor juga. Ada banyak pegunungan indah yang bisa kamu jelajahi. Aku dulu suka sekali jika ada teman yang mengajak naik gunung ketika masih mahasiswa seusiamu!" ucap Balok Es. Kurasa dia secara tak sengaja sudah menjawab pertanyaanku. Ternyata, dia benar-benar orang yang suka berpetualang atau travelling.
"Ini, lakukan seperti ini!" Balok Es nenunjukkan cara untuk menyambung batangan logam itu dengan tangan kirinya. Ternyata ada semacam tali di dalam batangan logam itu. Tali itu untuk membuat batangan logam ini tersambung satu sama lain saat diluruskan.
"Masukkan ke dalam lubang di tenda!" ucapnya.
__ADS_1
Aku pun melakukan apa yang dia suruh. Ada empat buah batangan logam yang dimasukkan ke dalam lubang di tenda. Logam-logam ini untuk membuat rangka tenda agar berbentuk menyerupai bentuk piramida. Setelah tenda berdiri, batangan logam itu di ikat di bagian dalam tenda. Balok Es cekatan sekali saat mengarahkanku untuk mendirikan tenda ini.
"Akhirnya, jadi!" ucapku antusias saat tenda ini sudah jadi.
"Jangan masuk ke dalam dulu, Yaya!" Balok Es mencegahku masuk ke dalam. "Tendanya harus diberi patok dulu juga dipasangi pelapis di bagian atas!" Balok Es mengambil kain warna biru. Lalu mengarahkanku memasangnya di bagian atas. "Ini patoknya!" dia menyerahkan semacam beberapa patok dari batangan kawat serta tali kecil padaku. Dia mengarahkanku untuk memasang patok itu di tenda.
"Yeee!!! Akhirnya jadi!" kubuka resleting di pintu tenda. Aku langsung berbaring di dalam tenda ini.
"Ini, gelar sleeping bag dulu!" Balok Es menyerahkan sleeping bag padaku. Dalam waktu singkat dua sleeping bag sudah tergelar. Balok Es ikut masuk ke dalam tenda. "Eh!" teriak Balok Es spontan.
"Qia butuh kehangatan!" ucapku sambil memeluk tubuh Si Balok Es seperti sebuah guling.
"Kamu udah nggak malu-malu lagi, ya, buat meluk gitu aja!" sahut Si Balok Es.
"Qia kan istrinya Kak Billy, buat apa malu!" sahutku sambil memeluk tubuh Si Balok Es semakin erat. "Kak Billy!" protesku saat Si Balok Es melepaskan pelukanku.
"Kamu mau tidur gitu aja? Nggak mau senang-senang dulu?" ucapnya. Aku langsung bangun begitu saja. Senang-senang? Maksudnya apa? Pikiranku kembali terbang melayang luas 😮.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍