
"Billy, kamu kentut, ya!" ucap Nyonya Belvana.
Hahaha, aku ingin tertawa terbahak-bahak rasanya tapi berusaha kutahan. Pak, Bapak kok bisa sih kentut kayak gitu? 😂 Aku berusaha menahan tawaku tapi tetap saja tak bisa.
"Hahahaha!" kurasa aku tertawa terbahak-bahak. Bisa-bisanya Balok Es yang sombong dan dingin kentut dengan nyaring di depan keluarganya. "Hahaha! T-Rex kentut! Hahaha! T-Rex kentut!" kurasa aku tak bisa menahan tawaku lagi.
"Qia!" panggil Mama.
Kurasa dia memelototiku. Aku tak peduli, sumpah ini sangat lucu. Lucu sekali! 😂
"Geli, geli, geli!" teriakku.
Sial, Balok Es justru menusuk-nusuk pinggangku dengan jarinya tangan kirinya. Tentu saja rasanya geli. Wajahnya tetap saja datar, tapi dia tak menghentikan aksinya.
"Ampun, ampun!" ucapku. Saat aku berhenti tertawa, aksi Balok Es berhenti.
"Diamlah, Tikus Kecil! Beraninya kau menertawakan suamimu sendiri!" bisik Balok Es.
"T-Rex Tukang Kentut!" ejekku. "Ampun, ampun!" gelitikan itu kembali dilancarkan.
"Sudah! Sudah!" kata Tuan Adi Hutama. "Lebih baik kalian pulang sekarang. Aku percaya jika hubungan kalian semakin dekat dan mesra! Lebih baik kalian pulang saja," ucap Tuan Adi Hutama. "Aku tak mau mengganggu pasangan baru yang sedang mabuk cinta, hahaha!" Tuan Adi Hutama tertawa.
Telingaku berkedut mendengar kata-kata itu. Dekat dan mesra? Sedang mabuk cinta? Yang benar saja! 😭 Balok Es masih suka jahil padaku.
"Baiklah, Kakek, Bunda, Bunda Lia," ucap Balok Es. "Saya dan Qia pulang dulu," ia nampak tergesa-gesa. Aku ingin mencium tangan para sesepuh di sini tapi Balok Es sudah terlanjur menarik tanganku. Kurasa dia malu karena peristiwa tadi.
"Hahaha! Bapak Tukang Kentut! Tukang Kentut!" ejekku saat kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Balok Es tak terpancing. Hihihi, ini membuatku semakin ingin mengejeknya. "T-Rex Tukang Kentut! Tukang Kentut!" kuejek lagi.
__ADS_1
Dia tetap saja tak terpancing. Dia tetap berjalan sambil mengandengku. Kenapa sih dia tak terpancing? Padahal kan kalau dia marah pasti lucu, hihihi! 😆 Suatu ide terlintas di pikiranku.
"Billy!" panggilku.
Balok Es nampak berhenti berjalan sejenak. Hihihi, aku kan belum pernah menyebut namanya secara langsung, tapi jika kulakukan tak apa-apa kan? Dia kan suamiku. Lebih baik kulanjutkan aksiku.
"Billy Tukang Kentut! Tukang Kentut! Billy Tukang Kentut!" Balok Es terus saja menyeret tanganku. Terus saja kuejek dirinya. "Billy Tukang Kentut! Tukang Kentut! Billy Tukang Kentut!" aku terus mengejeknya.
Tunggu, kenapa dia mengajakku ke lorong yang sepi? Nampak aku diseret ke sebuah lorong bangunan rumah sakit yang nampaknya tak lagi terpakai.
"Pak, Bapak," panggilku.
Balok Es, kau mau apa di sini? 😭 Aku di sudutkan di pojok dinding. Tubuh Balok Es yang tinggi nan angkuh nampak menyeramkan.
"Ba...pak..." ucapku. Dia mencengkeram daguku.
"Hukuman karena berani menertawakan saya!" ucap Balok Es dengan ketus.
Tatapan dari mata elangnya nampak mengerikan seperti saat di kelas. Dia berjalan kembali sambil menggandeng atau lebih tepatnya menyeret tanganku. Pak, Bapak bilang aja kalau pengin cium saya, nggak usah pake bohong deh! 😂. Akhirnya, kami sampai di mobil.
"Bagaimana keadaan Tuan Adi Hutama, Tuan Muda?" tanya Sekretaris June.
"Dia...." Balok Es hendak menjawab.
"Billy Tukang Kentut! Tukang Kentut!" ucapku spontan.
Entah mengapa pokoknya peristiwa tadi harus diketahui semua orang termasuk Sekretaris June.
__ADS_1
"Ck! Diamlah, Tikus Kecil! Apa kau belum puas dengan hukumanmu tadi, HAH?" Balok Es berusaha membungkam mulutku dengan tangan kirinya. Sekretaris June dan Pak Sopir nampak tertegun. Kurasa mereka sedang berkhayal terhadap apa yang kukatakan.
"Pak June, tahu nggak? Tadi...." Balok Es berusaha membungkam mulutku. Tapi aku berhasil menahan tangannya dengan tanganku. "Billy kentut nyaring banget lho di depan Tuan Adi Hutama! Sumpah, suaranya itu nyaring banget! Hahaha!" aku tertawa. Muka Balok Es terlihat memerah bercampur ekspresi gusar.
"Apa yang kalian lihat! Cepat, jalan!" teriak Balok Es. "Cepat pulang ke rumah! SEKARANG!" teriaknya lagi.
Ooo...kurasa dia benar-benar marah kali ini. Dia tak menatap ke arahku. Sepanjang perjalanan dia diam saja.
"Bapak...Pak...Bapak...." panggilku sambil menarik-narik ujung bajunya.
"HUH!" dia menghempas tanganku.
Gawat! 😭 Balok Es marah besar. Gawat! Gawat! Bagaimana ini? Tak terasa mobil ini sudah sampai di rumah. Balok Es segera turun tanpa mempedulikanku. Dia cuek terhadapku dan berjalan menuju lantai dua. Apa yang harus kulakukan? Sudahlah lebih baik kutemui dia di kamarnya.
"Ba...pak...." panggilku. Dia tak ada di dalam kamar.
Pintu kamar mandi nampak tertutup. Saat kusentuh pintu itu ternyata tak terkunci. Di dalamnya nampak Balok Es sedang mandi di dalam bathtub. Bathtub itu penuh dengan gelembung sabun. Balok Es menyandar di salah satu ujung bathtub. Matanya nampak tertutup. Kurasa dia sedang tertidur. Aku mendekat dengan berjalan berjingkat perlahan-lahan. Aku duduk di tepi bathtub sambil mengamati Si Balok Es. Hihihi, jika aku berteriak tikus lagi pasti seru.
"TI...." aku hendak berteriak. Mata Balok Es tiba-tiba saja terbuka. "AAAA!!!!" dia menarikku ke dalam bathtub. BYUR! Aku langsung tercebur ke dalam bathtub. Mengapa jadi begini? 😭
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍