Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 88 - Punyaku....


__ADS_3

(Author's Point of View)


"Kamu kenapa?" ucap Billy. Ucapannya membangunkan lamunan Qia.


Aku ketahuan ya kalo natap dia lama banget, gumam Qia.


"Kamu kenapa? Tahan, Yaya. Aku tahu jika diriku memang mempesona. Kamu udah nggak sabar buat kiss kan?" ucap Billy.


Ih, apaan sih. Kok dia malah jadi goda aku sih, gumam Qia.


"Mukamu boleh malu-malu tapi tanganmu terus megang tanganku erat banget!" ucap Billy lagi. Qia pun melepaskan genggaman tangannya.


Kak Billy, kamu jadi nggak tahu malu, tahu! Sekarang, suka banget sih goda aku, gumam Qia.


Deretan tamu mulai berbaris untuk memberi ucapan selamat. Orang-orang itu nampak mengular membentuk suatu antrean panjang. Pihak petugas Wedding Organizer sibuk mengarahkan para tamu.


"Selamat ya, Rexford! Selamat ya, Rexford!" kalimat itu terus terdengar. Nampak deretan tamu yang bersalaman saat ini berpakaian jas rapi dan memakai gaun yang memunculkan aura golongan kelas atas.


Kok mukanya asing, ya. Jangan-jangan ini temen bisnisnya Kak Billy. Mukanya asing semua. Aku nggak kenal. Ini bukan dosen yang pernah aku lihat di kampus, gumam Qia.


"Selamat ya, Pak Rexfod! Selamat ya, Rexford!" kalimat itu terus terdengar.


Kok daritadi yang salaman tamunya Kak Billy terus, sih. Aku nggak kenal semua. Tamunya banyak banget. Lama-lama tanganku pegal, gumam Qia. Dia tetap berusaha tersenyum.


CLAP! CLAP! Setelah bersalaman beberapa kali para tamu itu berfoto dengan Qia dan Billy di atas pelaminan. Photographer profesional sengaja disewa untuk mengabadikan momen ini. Cahaya flash serasa tidak berhenti menyala.


Tamunya banyak banget. Lama-lama aku pusing kena cahaya flash terus, gumam Qia.


"Kak Billy, tamumu banyak banget! Aku nggak kenal satu pun," bisik Qia.


"Itu teman-teman bisnisku juga teman bisnis kakek dan ayahku," sahut Billy. "Sabar, nanti malam aku bakal kasih pelayanan pijatan istimewa untukmu, Yaya," mata Billy berkilau licik.


Balok Es, maksudmu apa sih? Bikin pikiranku berimajinasi yang aneh-aneh, tahu! gumam Qia.

__ADS_1


"Kak Billy, by the way, kakek dimana?" tanya Qia.


"Ada, di sana. Beliau sedang mengobrol dengan teman-temannya ditemani ajudan kepercayaannya," sahut Billy.


Alunan musik masih terus terdengar dari permainan band yang tak henti memainkan lagu. Tamu-tamu masih sibuk berdatangan. Para tamu yang sudah bersalaman nampak asyik bercengkerama sambil menikmati hidangan yang disajikan.


"Selamat ya, Pak Billy!" rombongan tamu hendak menyalami Billy dan Qia lagi.


Wah, ini rombongan para dosen. Nggak salah lagi, ini dosen dari kampus, gumam Qia.


"Wah, ini ya mahasiswi yang berhasil menaklukkan hatimu, Billy," celetuk seorang dosen pria.


"Cantik, pantas saja kamu klepek-klepek, hahaha!" celetuk seorang dosen pria lagi. Keduanya nampak akrab dengan Billy.


Apaan sih, aku jadi malu, tahu! gumam Qia.


"Selamat ya," dosen pria itu menyalami Qia.


"Hahaha, i...i....ya. Jangan galak-galak, Billy. Davin kan jadi takut!" celetuk dosen pria yang satu lagi.


"Nggak papa, Vino. Namanya juga penganten baru, jadi baru manis-manisnya, hahaha," sahut dosen pria yang satu lagi.


Apaan sih, mereka berdua ini. Bikin aku jadi salah tingkah aja. Kayaknya Pak Davin sama Pak Vino ini bukan dosen jurusan Akuntansi, deh. Aku nggak kenal sama mereka. Tapi, Kak Billy, aku suka deh kalo kamu posesif kayak gini, hehehe, gumam Qia.


Rombongan dosen dan karyawan dari Universitas XXX terus menyalami Billy dan Qia. Penampilan mereka mudah dikenali dari dasi hijau tozka serta blazer hitam dengan paduan batik warna hijau tozka di bagian kerah. Rombongan dosen dan karyawan itu juga tak lupa berfoto bersama Billy dan Qia. CLAP! CLAP! CLAP! Cahaya flash kamera kembali terasa.


Kayaknya para dosen ini sengaja deh pake baju sama ehm...mungkin biar fotonya bisa bagus kali ya, gumam Qia.


"Selamat ya, Billy," ucapan itu masih terus terdengar.


Dosen kampusku itu jumlahnya berapa sih? Kok nggak habis-habis daritadi, gumam Qia.


"Billy!" terdengar suara yang seakan langsung memantik kewaspadaan Qia. Nampak seorang wanita naik ke atas pelaminan.

__ADS_1


Ih, Bu Vanya! Ngapain sih dia di sini! Awas! Aku nggak bakal biarin dia goda Kak Billy lagi! gumam Qia.


"Billy...." panggil Bu Vanya lagi. Dia hendak memgulurkan tangannya untuk menyalami Billy.


Kak Billy punyaku, gumam Qia. Dia menggenggam erat lengan Billy hingga posisinya bergeser menjauh dari jangkauan tangan Bu Vanya.


Yaya, kamu ngapain sih?! gumam Billy sambil menatap ke arah Qia. Tikus Kecil, tatapanmu kok jadi serem banget sih, gumam Billy lagi.


"Makasih udah datang ke resepsi saya dan Pak Billy, Bu Vanya," ucap Qia sambil menggenggam erat lengan Billy. Tangan Qia langsung menyalami Bu Vanya dengan erat. Mata Qia menatap tajam.


Jangan harap bisa menggoda Si Balok Es saat ini, Bu Vanya, gumam Qia.


Bu Vanya nampak membuang muka saat menyalami Qia. Setelah itu dia langsung bergegas turun dari pelaminan. Dia nampak tergesa-gesa.


"Qia!" terdengar suara seorang wanita.


"Wati!" sahut Qia.


Nampak segerombolan pemuda-pemudi yang dikenali Qia.


Akhirnya, teman-temanku udah datang, gumam Qia.


Ck! Rombongan temannya Yaya udah datang. Berarti bentar lagi pasti ada dia, mantannya Yaya, Narendra, gumam Billy.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2