
"Pemandangannya indah sekali! Tunggu! Ada besi dan pemandangan kota yang indah. Apa ini di dalam Menara Eiffel?" ucap Qia sambil menatap Billy.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Billy balik.
Tentu saja ini di dalam Menara Eiffel. Bangunan mana lagi yang memiliki besi sebesar itu, gumam Qia.
"Tentu ini di dalam Menara Eiffel!" ucap Qia. "Hubby," panggil Qia sambil memeluk erat Billy. "Terima kasih sudah mengajakku kemari."
"Ehm..." sahut Billy sambil merapikan poni Qia. "Sudah, ayo makan," ucap Billy sambil menarik kursi. "Duduklah di sini!" perintah Billy.
Qia pun menggangguk lalu duduk ke kursi itu. Billy mulai melihat-lihat daftar menu. Seorang pelayan pria berpakaian jas hitam rapi memghampiri meja mereka. Billy nampak berbincang-bincang dengan pelayan itu.
Dia bisa Bahasa Perancis juga, ya? Bahasa ini asing. Kok aku jadi ngerasa dulu bodoh banget ya. Dulu aku sempat tak menjalani pernikahan ini dengan serius. Aku sempat bermain-main dengan pernikahan ini. Padahal suamiku bisa dibilang mendekati sempurna. Udah punya kerjaan mapan, terlahir dari keluarga kaya, ganteng lagi. Dia juga pintar dan sayang padaku. Bahkan saat aku berbuat salah pun dia tak marah. Oh, Brilliant Rexford Hutama, sepertinya aku sudah bucin dan takluk padamu, gumam Qia sambil menatap ke arah Billy.
"Kau mau pesan apa, Yaya?" tanya Billy.
"Apa aja, asal ada kamu, makanan apa pun terasa nikmat," ucap Qia. Tangan kirinya menarik tangan kanan Billy. Tangan itu lalu digenggam dan disentuhkan ke pipi kiri Qia.
Nampaknya dia sudah mulai menjadi bucin karenaku. Baguslah, jika seperti itu, gumam Billy. Billy kembali berbicara pada pelayan itu. Pelayan itu mencatat pesanan yang diminta dan bergegas pergi.
Ck! Kenapa harus sekarang, sih? Aku kebelet ke kamar mandi. Ck! Nyebelin, gumam Billy.
"Aku ke kamar mandi dulu, Yaya," ucap Billy sambil bergegas pergi.
Kok gitu sih? Apa dia risih dengan tingkahku? Tapi, waktu aku lebih agresif dari ini, dia nggak menolak. Ah, mungkin emang baru kebelet aja, gumam Qia.
"Dek Yayang!" terdengar seseorang memanggil. Seorang pria menghampiri Qia. Pria itu memakai jas warna biru dongker. Dia bertubuh tinggi dan gagah. Bola mata hitamnya memancar aura kepercayaan diri. Senyumnya manis mempesona. "Kamu Dek Yayang kan?" ucap pria itu lagi.
"Hah?" Qia tertegun. Dia mengamati pria itu.
Dia siapa sih? Aku lupa namanya, tapi kok kayaknya pernah liat ya, gumam Qia.
"Ini aku, Brian. Febrianto. Yang dulu pernah jadi kapten tim basket sekolah! Kita satu SMA dulu...." ucap pria itu. Dia langsung duduk di kursi yang menghadap ke arah Qia.
"Brian? Febrianto? Temen satu SMA?" ucap Qia sambil berusaha mengingat-ingat. "Kapten tim basket? Hah! Astaga!" Qia langsung membekap mulutnya. "Kamu Kak Brian yang itu?!" ucap Qia sambil menunjuk ke arah pria itu.
Astaga! Kenapa aku bisa ketemu mantan waktu baru honeymoon di luar negeri, sih. Dunia kok kayaknya sempit banget ya, gumam Qia.
__ADS_1
"Iya, bener. Ah! Akhirnya kamu ingat, Dek!" ucap Brian dengan semangat.
Siapa pria itu? gumam Billy sambil berjalan ke arah meja yang tadi di tempatinya.
"Yaya," panggil Billy. Qia dan Brian pun menoleh.
"Eh, Hub..." panggil Qia.
"Oh, ini teman kamu ya, Yang," ucap Brian. "Kenalin aku Brian, temen SMA-nya Dek Yayang," ucap Brian dengan percaya diri.
Yang? Yayang? Siapa pria ini! gumam Billy. Tangannya sudah terkepal.
Waduh! Kok jadi gini, sih! Please, jangan ada baku hantam, gumam Qia.
"Kok kebetulan bisa ketemu kamu di sini sih, Dek Yayang. Hahaha, jadi inget waktu jaman-jaman SMA," ucap Brian tanpa mempedulikan kehadiran Billy.
Jaman SMA? Ada apa hubungannya dengan Yaya? gumam Billy. Dia menarik sebuah kursi lalu duduk di dekat Qia. Kedua tangannya berada di atas meja.
"Hehehe, iya, Kak. Kok kebetulan banget, hehehe," ucap Qia.
"Ehm...aku ke sini....ho...." jawab Qia.
"Qia sedang jalan-jalan sama saya," sahut Billy.
"Oh, jalan-jalan. Oh ya, Dek, nggak papa kan kalo aku masih panggil kamu Yayang? Itu nama yang berkesan. Itu kan singkatan dari kisah masa lalu kita, dari panggilan Qia Sayang, hahaha," ucap Brian.
Qia Sayang? Oh, tenyata dia mantannya Yaya. Dunia kecil sekali rupanya, gumam Billy. Tangannya sudah terkepal sedari tadi.
Duh, mau dinner romantis kok malah jadi kayak gini sih. Kacau! Kacau! gumam Qia.
"Kak, tolong panggil aku Qia saja. Ehm...aku merasa lebih nyaman dipanggil dengan nama itu," ucap Qia.
"Oh, iya. Maaf-maaf. Iya, aku panggil Qia aja. Lucu deh rasanya bisa ketemu kamu di sini. Oh ya, kamu masih sama Narendra? Narendra beruntung banget. Coba kalo aku seangkatan sama kamu pasti kita nggak bakal pisah karena alasan LDR, hahaha. Kalo aku bukan kakak kelasmu pasti cerita kita bakalan beda. Sayangnya aku harus lulus duluan," ucap Brian.
Duh, kok dia jadi cerita panjang lebar sih tentang masa lalu. Please, Hubby, jangan marah ya, gumam Qia sambil menatap ke arah Billy.
"Oh ya, gimana kabar Narendra? Kudengar kalian satu kampus ya. So sweet banget, bisa satu kampus gitu...."
__ADS_1
"Ehm...aku udah pu...tus sama dia...." sela Qia.
Please, jangan bahas Narendra dan masa lalu kita lagi, Kak Brian, gumam Qia.
"Oh, udah putus? Ehm...ya udah, Dek. Jangan sedih, kamu bisa curhat padaku tentang kesedihanmu," ucap Brian sambil menggenggam tangan kanan Qia. "Aku siap mendengar segala kesedihanmu. Aku siap menjadi tempatmu untuk curhat seperti dulu, Dek."
"Yaya," panggil Billy. "Ayo kita pergi dari sini!" ucap Billy. Dia sudah berdiri sambil menggandeng tangan kiri Qia.
"Kenapa harus buru-buru? Kalo kamu mau pergi, pergi saja nggak papa. Qia biar aku yang antar. Jangan khawatir, dia pasti aman bersamaku," ucap Brian.
"Maaf, Kak. Aku harus pergi...." ucap Qia sambil melepas genggaman tangan itu.
"Tunggu, Dek. Boleh minta nomer teleponmu?" ucap Brian sambil menyerahkan smartphone-nya.
"Ehm...." Qia nampak ragu menerima smartphone itu.
"Smartphone Yaya baru saja rusak. Kamu bisa menghubungi lewat nomer teleponku," ucap Billy sambil menerima smartphone itu. Billy segera mengetik nomer teleponnya.
"Wah, boleh-boleh. Siapa namamu?" tanya Brian.
"Namaku Brilliant Rexford Hutama, suaminya Dek Yayang," ucap Billy dengan nada meninggi. Suaranya seram dan dingin. Dia segera melangkah pergi keluar. Tangan kanannya menarik tangan Qia dengan kuat.
"Su...su...ami?" ucap Brian tertegun
Duh, dinner romantisku kok jadi kacau sih. Kenapa bisa ketemu mantan pas baru honeymoon, sih? gumam Qia.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍
__ADS_1