
"Ehm," aku masih memeluk Balok Es dengan erat. Dia memang nyaman untuk dipeluk. Tubuhnya terasa hangat itu yang membuatku betah terus memeluknya.
"Ck! Apa kamu harus membawa benda ini sambil memeluk saya?" celetuk Balok Es. Dia menarik selimut yang kupakai. "Orang lain bisa berpikir kamu sakit, Tikus Kecil! Apa memeluk saya belum cukup?"
"Belum, Kak!" ucapku sambil menatap Balok Es. Meski sudah di dalam mobil tapi aku tetap membawa selimut tebal untuk menyelimuti tubuhku, karena Balok Es kupeluk erat jadi tubuhnya juga ikut tenggelam dalam selimut. "Qia masih butuh kehangatan! Ehm," ucapku manja. "Kak Billy meluknya kurang erat!"
"Dasar manja!" protes Balok Es. Hihihi, biarpun dia protes tapi tetap saja tangan kirinya mengeratkan pelukan pada tubuhku.
"Kak, wajah Qia juga kedinginan!" keluhku dengan nada memelas.
"Banyak permintaan!" sahut Balok Es.
Meski dibalas dengan keluhan tapi tetap saja Balok Es memberi kecupan-kecupan hangat di dahiku. Pak, dari dululah hangat kayak gini. Qia kan jadi betah nempel terus kayak perangko, hihihi 😆.
"Jangan tidur!" ucap Balok Es.
"Kenapa, Kak? Masih jauh kan perjalanannya? Di luar masih hujan, dingin, enak buat tidur!" sahutku sambil tetap menutup mata.
"Kita sudah sampai, Tuan, Nona!" terdengar suara Sekretaris June.
Ah, males! 😣 Aku sudah nyaman nih!
"Ayo, bangun!" Balok Es melepas pelukannya. "Ayo bangun! Bangun, Tikus Kecil!" ucapnya sambil memgguncang-guncang badanku. Aku tetap bertahan menempal di pelukannya seperti seekor koal memeluk batang pohon. "KECOAK!" terdengar teriakan.
"AAA!!! MANA? MANA?!" teriakku. Aku langsung terbangun seketika lalu turun dari mobil sambil membawa selimut. "Mana kecoaknya? Mana?" ucapku panik sambil menengok ke sana kemari. Tunggu, tak ada tanda-tanda kecoak. Pasti, Balok Es membohongiku! 😡
"Dasar Penipu!" teriakku kencang sambil berbalik ke arah belakang membelakangi mobil.
Eh, perhatianku langsung teralihkan oleh pemandangan di depanku. Ternyata aku sudah ada di depan sebuah butik. Kurasa ini butik yang pernah kukunjungi dulu. Nampak berbagai gaun yang indah terpajang pada tempat display di depan butik itu.
"Selamat datang Tuan Rexford! Nona Qia!" sambut desainer di butik ini. "Silahkan masuk! Silahkan!" ucapnya.
"Kamu masih mau marah?" celetuk Balok Es saat aku hendak melangkahkan kakiku masuk.
__ADS_1
"Qia nggak marah kok, Kak!" sahutku. Untuk apa marah? Itu tak ada gunanya. "Kak Billy, Qia jangan ditinggal!" aku langsung menggenggam lengan kiri Balok Es.
"Ehm," sahut Balok Es.
Saat masuk di tempat itu, suasana amat sepi. Tak ada pengunjung lain. Kurasa Balok Es sudah merencanakan pertemuan ini sebelumnya. Dia mau apa ya mengajakku ke sini? Ah! Aku tahu....
"Kak, kita mau fitting baju pengantin, ya?" aku mencoba menebak.
"Iya, Yaya," sahut Balok Es. Dia mengajakku duduk di sebuh sofa putih. "Sesuai perjanjian kemarin saya akan...."
"Warna pink bagus!" aku langsung menanggalkan selimutku dan berjalan menuju gaun pengantin yang dipegang oleh salah satu pegawai butik ini. "Ini bagus, Kak! Yang ini saja!" ucapku.
Gaun itu berwarna softpink dengan bahan kain satin. Model gaun ini panjang semata kaki tapi ada belahan di sebelah kanan sampai ke bagian atas paha. Bagian atas gaun ini juga tanpa lengan. Bagian belakangnya mengekspos bagian punggung. Gaun ini bagus, tak kuno tapi tetap keren.
"Tidak!" ucap Balok Es dengan nada dingin.
"Tapi...." aku mencoba protes.
Pak, bukanlah Bapak suka ya jika Qia pakai pakaian dengan model terbuka?
"Kak Billy kenapa sih?!" aku mendekat ke arah Balok Es sambil menyilangkan kedua tangan di dada. "Kan dulu Kak Billy pernah dandanin Qia pakai gaun merah yang seksi. Kok sekarang memilih gaun kayak gitu nggak boleh, sih!" protesku.
"Dulu, dulu! Sekarang, sekarang!" Balok Es membalas tatapanku. "Sekali tidak, tetap tidak, Tikus Kecil!" Balok Es berdiri. "Tolong ambilkan model gaun yang tertutup saja!" perintah Balok Es.
"Kenapa harus marah, Kak? Qia kan cuma mempraktekkan apa yang Qia ketahui!" sahutku lagi.
"Saya tak suka jika nanti mata pria nakal melihat ke arahmu!" sahut Balok Es sambil membelakangiku.
Ucapan Balok Es membuatku tertegun. Kata-kata itu terdengar kasar tapi di dalamnya aku bisa menemukan bahwa dia ingin melindungiku. Pak, Bapak beneran ya sayang sama Qia? Hatiku jadi merasa hangat dan makin yakin jika Balok Es menyayangiku.
"Jadi...." Balok Es hendak berbicara lagi. Aku langsung memeluk Balok Es.
"Qia paham, Kak!" ucapku sambil memeluknya erat.
__ADS_1
"Ini Tuan!" terdengar suara desainer itu lagi. "Ini gaun seperti yang Anda minta!" tangan desainer itu menarik satu gantungan besi berisi gaun dan jas dengan beragam warna dan model. Para pegawainya juga ikut menarik gantungan besi berisi gaun dan jas.
"Saya sudah membuatkan beragam desain gaun dan jas ekslusif untuk Tuan dan Nona! Semuanya siap kirim, Tuan! Termasuk gaun pink tadi!" ucap desainer itu.
WHAT? Balok Es ternyata sudah memesan gaun sebanyak ini. Dia mau ganti baju berapa kali saat resepsi? Tunggu, jadi gaun pink tadi juga pesanannya? Tapi kok dia malah marah sih aku memilih yang itu.
Ehm, mungkin selera Balok Es benar-benar sudah berubah untuk pilihan tipe pakaian bagiku saat menghadiri acara di luar rumah. Aku harus hati-hati nih saat milih baju buat hangout mulai sekarang. Jangan sampai terlalu terbuka dan seksi, agar Balok Es tak memarahiku.
"Antar semuanya ke rumah setelah saya selesai memilih gaun untuk resepsi!" perintah Balok Es.
"Kak, Kak Billy gaunnya banyak banget. Kita mau ganti baju berapa kali sih waktu resepsi?" tanyaku.
"Saya memesan banyak gaun dan jas yang serasi denganmu agar kita tak perlu repot lagi memilih pakaian saat pergi bersama ke suatu acara. Konsep resepsi kita internasional jadi gaun dan jas model apa pun akan cocok."
"Kalo begitu Qia mau warna pink!" ucapku sambil mengambil gaun dengan model yang berbeda tapi warnanya tetap softpink.
"Ehm...apa kamu tak ingat perjanjiannya?" balas Balok Es.
"Perjanjian apa, Kak?" ucapku bingung. Balok Es memutarkan rekaman suara dari dalam smartphone-nya.
"Sudah ingat?!" ucap Balok Es. "Perlu saya putarkan lagi?"
"Tidak, Kak! Tidak!" aku meletakkan gaun itu kembali ke gantungannya. "Qia akan patuh pada pilihan Kak Billy!" kucengkeram kembali lengan Balok Es yang sudah kembali duduk di sofa putih itu.
Aku cuma berharap satu hal. Pak, jangan milih warna yang suram, ya! 😅 Cukup muka Bapak aja yang kadang-kadang masih suram dan dingin. Gaun dan jas buat resepsi kita jangan ya! 😂
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍