Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 82 - Bintang....


__ADS_3

"Kamu mau tidur gitu, aja? Nggak mau menikmati senang-senang dulu?" ucapnya. Aku langsung bangun begitu saja.


Senang-senang? Maksudnya apa? Pikiranku kembali terbang melayang luas 😮.


"Kak Billy!" panggilku. Balok Es keluar begitu saja dari dalam tenda. Aku pun mengikutinya berjalan. Dia ternyata masuk kembali ke dalam rumah. "Kok ke dapur, sih? Mau apa?" tanyaku saat dia membuka pintu kulkas besar di dapur bernuansa putih ini.


"Nih, bawa!" perintah Si Balok Es. Dia menyerahkan sekantong plastik kresek putih yang berasa masih dingin. "Nih, bawa!" dia memerintahkanku membawa keranjang plastik berbentuk kotak warna merah. Ada beberapa peralatan di dalamnya. "Kamu duluan, sana. Aku mau ambil selimut dulu!" perintahnya lagi.


Selimut? Dia mau pake selimut buat apa? Apa jangan-jangan dia mau melakukan hal itu lagi? 😮


"Kenapa bengong, Yaya?" ucapnya dengan nada meninggi. "Jangan bengong, barang-baranya bisa jatuh!"


"Iya, iya," sahutku sambil berjalan keluar. Kuletakkan barang-barang itu di atas rumput. Dia mau ngapain, sih?


"Kok bengong, sih?" terdengar suara dari arah belakang. "Cepat, siapin panggangngannya!" perintah Si Balok Es. Dia masih suka bicara dengan nada tinggi.


Mau nyebut dia hubby di dalam hati, rasanya jadi kurang sreg. Esnya belum mencair sepenuhnya. Dia kan bisa perintah pake kata-kata mesra gitu. Panggil sayang kek gitu.


"Kok bengong, sih? Kamu paham nggak?" perintahnya lagi.


Ih, Kak Billy kamu tuh emang lebih pantes disebut Balok Es deh.


"Iya, iya, mana panggangngannya?" tanyaku. Aku mencoba bersikap dewasa dengan menghindari konflik kecil semacam ini.


"Itu, di dalam keranjang plastik merah!" tunjuk Si Balok Es dengan tangan kirinya.


Kulihat ke dalam keranjang itu. Ada sebuah kardus bergambar alat panggang. Kukeluarkan alat panggang itu dari dalam kardus. Oh, jadi maksudnya bersenang-senang itu mau bakar-bakar! 😮 Balok Es nampak menggelar sebuah karpet plastik di atas rumput hijau itu. Selimut dia letakkan di atasnya.


"Taruh di atas kompor!" peritah Si Balok Es. Kuletakkan alat panggang itu ke atas kompor gas untuk kemping itu. "Bawa kompornya mendekat kemari! Sini, duduk di dekatku!" aku pun melakukan perintahnya.


"Nih, bikin satenya!" perintah Si Balok Es. Dia menyerahkan plastik kresek berwarna putih itu. Di dalamnya rupanya berisi sosis, bakso ikan, kecap, mentega, saos dan tusuk sate.


Ih, dasar Balok Es, bisa nggak sih perintah dengan nada lembut dan panggilan sayang gitu? Ini kan quality time kita sebagai pasangan, tahu! 😑


"Ehm, " sahutku singkat. Kubuka bungkus sosis dan bakso ikan itu. Lalu kutusuk dengan tusuk sate.


"Nih, kasih sini!" Si Balok Es menyerahkan sebuah piring bundar yamg besar padaku. Ternyata dia sedang membuat bumbu dari saos, kecap dan mentega itu. Bumbu itu dicampur di dalam sebuah mangkok. "Celupkan ke dalam bumbu lalu bakar!" perintahnya lagi.

__ADS_1


"Ehm," sahutku singkat.


Aku fokus mencelupkan tusukan sate sosis dan bakso ikan itu ke dalam bumbu. Tusukan sate itu lalu kupanggang di atas alat panggang itu. Sudahlah, tak usah terlalu berharap Balok Es bisa mesra di saat seperti ini. Memang sifat dia kayak gitu. Tanganku sesekali membalik sate sosis dan bakso ikan itu.


"Eh!" kurasakan ada tangan yang meraih pinggangku.


"Kalo kamu kesal nanti cantikmu hilang, Yaya!" bisik Si Balok Es di tenganku. Dia sudah duduk di belakangku. Ciuman terasa di pipi kananku. "Kenapa cemberut? Kamu pengen minta dicium, kan?" pipi kananku kembali diciumnya.


Ih, Balok Es, kalo mau serang kasih kode dulu kek. Jantungku kan jadi kaget.


"Awas, nanti satenya gosong!" tangan kiri Si Balok Es memegang tangan kiriku.


Kok, aku jadi deg-degan kan, ya! Dia memegang tangan kiriku untuk membolak-balik sate itu.


Kulihat ke arah wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku. Wajah manis dengan hidung mancung berbalut kulit putih. Matanya yang sekarang nampak lembut semakin membuatku terpesona. Jantungku jadi semakin deg-degan.


"Sepertinya ada yang beku karena terpesona," ucap Si Balok Es. Dia menatap ke arahku.


Sial! Kok, aku ketahuan sih! Aku langsung membuang pandanganku.


"Jangan malu-malu kucing!" bisiknya di telingaku. Kepalanya menyandar di bahu kiriku. "Kalo mau natap, tatap saja!" bisiknya. Satu kecupan kembali terasa di pipi kiriku.


"Eh!" tubuhku berasa di tarik ke arah samping kanan. Balok Es menarikku ke dalam pelukannya. Tubuhnya berasa hangat.


"Sayangku nggak boleh kedinginan," ucapnya lirih sambil menatapku. Balok Es, kamu bikin aku baper, tahu! "Satenya udah matang!" ucap Balok Es sambil mematikan kompor itu. "Yaya, coba lihat ke atas!" bisik Si Balok Es.


"Wow, indah!" ucapku spontan.


Di atas langit yang hitam nampak ribuan bintang berkerlap-kerlip. Bintang-bintang itu seperti serpihan kaca bening yang tersebar hamparan karpet warna hitam. Bulan juga nampak indah. Bulan itu memancarkan cahaya kuning yang memanjakan mata. Perpaduan langit malam yang sungguh menakjubkan.


"Kamu cantik seperti bintang, Yaya!" bisik Balok Es. Dia memelukku semakin erat. Satu selimut sambil memandang bintang. Ehm, aku jadi makin baper.


"Cahayamu menerangi hari-hariku jadi semakin berwarna," ucapnya sambil mengecup dahiku. Aku jadi ngerasa makin baper. Ini akan jadi kemah yang takkan pernah kulupakan!


"Cuacanya dingin, mau minum teh hangat?" tanya Balok Es. Aku pun menggangguk. "Nih, pegang!"


Balok Es menyerahkan sebuah mug berwarna hitam ke tanganku. Kupegangi mug warna hitam itu. Tangan kiri Si Balok Es menuangkan teh dari dalam termos kecil warna silver. Saat teh panas itu dituangkan. Mug itu berubah warna menjadi warna putih. Ada fotoku memakai gaun warna emas waktu itu. Di sampingnya ada tulisan di dalam gambar bentuk hati warna pink. Tulisan itu berbunyi 'Yaya, bintang hatiku. I L Y 1 Billi❤n'.

__ADS_1


"Kak Billy!" aku langsung memeluk Si Balok Es. "Aku juga sayang Kak Billy!" ucapku spontan.


"Kamu ngomong apa, sih?" sahut Balok Es. "Cepat minum tehnya, nanti dingin!" ucapnya.


Balok Es justru tak berani menatap ke arahku. Ih, dia malah pura-pura jaim. Kurasa dia malu. Sudahlah, langsung beraksi aja. Kucium bibirnya yang jaim itu. Nih, rasain pembalasanku! Aksi ini membuat jantungku berdebar kencang. Tatapanku tak mengarah ke arahnya sehabis melakukannya. Mug berisi teh hangat itu langsung kuminum. Ih, habis aku beraksi, kok dia diam aja, sih! Suasana jadi hening cukup lama. Balok Es tak berani menatap ke arahku.


"Mau coba satenya, ah! Habis itu mau balik ke kamar, aja!" ucapku memecah keheningan. Aku sudah keluar dari dalam selimut lalu berdiri sambil mengambil dua tusuk sate. "Di sini dingin!" kupancing Si Balok Es agar bicara.


"Tetap di sini!" perintahnya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Karena...karena...." dia terlihat bingung menjawabku.


"Ya, sudah. Qia balik ke kamar, aja!" aku hendak berjalan masuk ke dalam rumah.


"Temani nonton film!" teriak Si Balok Es tiba-tiba.


"Film? Kan di sini nggak ada TV," balasku.


"Pake tablet! Sudah, bawa satenya! Ayo, masuk ke tenda!" perintah Si Balok Es. Dia mau ngasih aku kejutan di dalam, ya? 😃


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


________________________________________


Novel ini bukan novel yang update setiap hari


Update paling lambat dilakukan setiap hari Sabtu 😊

__ADS_1


Tapi, jika author ada waktu luang lebih, author akan berusaha update selain hari Sabtu 😄


Terima kasih 😍


__ADS_2