Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 87 - Di Sini...


__ADS_3

Billy menggandeng tangan kanan Qia menuju pintu masuk utama ruang resepsi di auditorium ini. Nampak pintu kayu warna coklat tua berukuran besar. Di depan karpet itu menghampar karpet merah. Para pengiring pengantin sudah siap sedari tadi.


"Kak Billy, Qia takut," ucap Qia lirih.


"Jangan takut, ada aku di sampingmu, Yaya," sahut Billy.


Pintu coklat itu terbuka. Terdengar musik yang meriah. Billy memimpin Qia untuk memasuki ruang resepsi itu. Berpasang-pasang mata para tamu undangan tertuju pada mereka.


Jangan sampe jatuh! Jangan sampe jatuh! gumam Qia. Dia berusaha berjalan dengan baik di atas highheels warna putih yang dipakainya.


Kok pada foto, sih? Aku jadi tambah deg-degan, gumam Qia lagi.


Para tamu undangan tak berhenti mengarahkan kamera lengkap dengan cahaya flash ke arah Billy dan Qia.


Sudahlah, enjoy saja Qia. Nikmati, tenang, tenang, gumam Qia lagi.


Mata Qia menatap ke arah ruang resepsi ini.

__ADS_1


Indahnya, gumam Qia.


Nampak di bagian atas ruang resepsi dihiasi oleh bunga-bunga mawar putih dan mawar pink. Bola-bola kristal yang disusun menjuntai ke bawah juga menambah indah dekorasi itu. Di kiri dan kanan karpet merah itu nampak meja-meja makanan terususun rapi. Taplak pada setiap meja berwarna putih, dihiasi renda berwarna pink di bagian pinggir. Menunya beragam mulai dari hidangan western, eastern hingga masakan lokal. Buket-buket bunga mawar putih bercampur mawar pink menghiasi setiap meja. Jalan menuju ke pelaminan pun tak kalah indah. Di kanan kiri karpet dihiasi ratusan bunga mawar putih dan juga mawar pink.


Lampunya bagus banget! gumam Qia.


Di tengah-tengah ruangan itu terdapat lampu kristal berbentuk bundar berwarna putih. Lampu kristal itu tersusun dengan megah sejumlah 20 tingkat. Musik masih terdengar dengan jelas. Ada sebuah grup musik yang tak henti memainkan lagu sedari tadi.


Pelaminan yang indah, gumam Qia.


Terlihat sebuah pelaminan yang megah. Background-nya berhiaskan bunga-bunga. Bunga mawar putih dan mawar pink mendominasi, ditambah paduan dari berbagai bunga dengan warna sejenis menambah indah pelaminan itu. Nampak kursi berwarna putih yang megah sebagai tempat duduk Billy dan Qia serta kedua orang tua mereka. Di depan pelaminan, nampak air mancur yang megah. Air mancur terdiri dari tingkat lima dipadukan dengan beragam tumbuhan hijau. Air mancur itu menambah indah pelaminan itu.


Yaya, siapa sangka kita bisa sampai ke tahap ini. Kamu berada di sampingku, duduk bersama di atas pelaminan ini atas kemauanmu sendiri. Padahal hubungan kita bisa dibilang naik turun menghadapi beragam gelombang. Siapa sangka sekarang kamu di sini, menggenggam erat tanganku atas kemauanmu sendiri, gumam Billy.


Kak Billy, siapa yang mengira jika aku akan berada di sini bersamamu. Kukira kita takkan sampai ke tahap ini. Aku tak menyangka kamu yang merupakan dosenku yang galak dan dulunya ehm....bisa dibilang kumusuhi sekarang justru kugenggam erat tangannya. Kak Billy, kukira dulu Naren yang akan bersamaku di sini, ternyata malah kamu ya, Kak Billy, gumam Qia.


Yaya, kamu tahu apa yang kurasakan sekarang? gumam Billy. Billy menatap ke arah Qia.

__ADS_1


Kak Billy, kamu tahu nggak sih apa yang ada di pikiran Qia sekarang,gumam Qia. Qia menatap ke arah Billy.


Genggam erat terus tanganku. Aku takkan takut menghadapi dunia jika kamu ada di sampingku, gumam Billy dan Qia.


_______________________________________


Genggam erat terus tanganku. Aku takkan takut menghadapi dunia jika kamu ada di sampingku


(M. T. Cahyani - Rektorku, Dosenku, Suamiku)


_______________________________________


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2