
"Hoahm!" Qia menguap sambil membuka matanya. "Ternyata udah pagi...." ucapnya sambil mengucek-kucek matanya. Dia ingin menggerakkan tubuhnya ke arah samping tapi tubuhnya terasa tertahan. "Kak Billy...." ucap Qia lirih. Dilihatnya sosok di sampingnya, seseorang yang memeluk tubuhnya erat sekali.
"Tadi malam habis mandi kamu langsung tidur. Karena gerah aku jadi mandi di kamar mandi lain. Aku laper jadi makan malam dulu. Kamu coba kubangunin nggak bangun-bangun. Ya udah, aku bobok aja di samping kamu," ucap Qia sambil membelai pipi Billy. "Kamu capek banget, ya? Kukira tadi malem kamu mau minta jatah tapi ternyata nggak. Tahu-tahu pas aku bangun udah meluk erat banget. Aku udah bicara panjang lebar gini kamu malah nggak bangun...." Qia iseng menusuk-nusuk hidung ujung hidung Billy dengan jari telunjuknya. "Kayaknya beneran masih tidur pulas, deh...." ucap Qia.
"Ini udah pagi. Mulai hari ini aku harus berubah! Aku harus berubah jadi istri yang baik dan rajin!" ucap Qia dengan semangat. Qia melepaskan pelukan Billy dengan hati-hati. Dirinya diganti dengan sebuah guling. "Kak Billy, Yaya bangun duluan, ya!" ucap Qia. Dia membenahi selimut agar menyelimuti tubuh Billy. Kecupan lembut juga ditinggalkan di dahi Billy.
"Pertama kali aku harus masak sarapan, terus beres-beres rumah!" ucap Qia. Dia mencuci muka dan menyikat gigi terlebih dahulu sebelum meninggalkan kamar itu. "Tapi, dapurnya dimana, ya?" langlahnya terhenti sejenak. "Ah, nanti juga ketemu!" dia melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya ruangvyang dicarinya ketemu. "Nah, ini dia!"
Nampak sebuah dapur bernuansa pink. Rak-rak dapur itu berwarna soft pink. Dindingnya berwarna dusty pink. Beberapa pelayan pria dan wanita nampak ada di dapur itu.
"Nona!" ucap mereka spontan. Mereka segera menunduk memberi hormat kepada Qia.
Kok, Nona udah bangun sih jam segini? Nona kan biasanya bangun pas waktu Tuan Muda juga bangun, gumam pelayan itu.
"Selamat pagi," ucap Qia. Dia tak mempedulikan tatapan para pelayan itu. Matanya fokus ke arah magic com warna merah yang ada di dapur itu. Magic com itu dibukanya lalu diamatinya sekilas. "Dimana berasnya?" tanya Qia. Dia menatap ke arah para pelayan itu. Para pelayan itu nampak bingung.
"Ehm...Nona, Nona mau apa?" tanya salah satu pelayan.
"Masak sarapan! Bukankah itu tugasku? " sahut Qia. "Sudah, cepat tunjukkan mana berasnya?" tanya Qia lagi.
"Di...di...sana, Nona," seorang pelayan menunjukkan wadah berbentuk kotak tempat beras mentah disimpan.
"Oh ya, makasih," Qia segera mendekati wadah beras itu. Dia membawa panci dari dalam magic com lalu mengisinya dengan beras. Beras itu lalu dicuci di wastafel dapur.
"Kita harus gimana?" bisik seorang pelayan pada pelayan lainnya. "Memasak kan udah jadi tugas kita! Aku nggak mau kehilangan pekerjaan karena dianggap nggak becus melayani Nona."
"Nggak usah takut. Bisa aja Nona masak hari ini buat ngasih kejutan ke Tuan Muda," sahut pelayan lain.
__ADS_1
"Nah, sudah!" ucap Qia. Dia sudah memasukkan panci berisi beras itu ke dalam magic com. Tak lupa ia memastikan magic com itu sudah dicolokkan ke aliran listrik.
"Nona, Nona hari ini mau masak?" tanya seorang pelayan.
"Iya, aku mau masak buat Kak Billy," sahut Qia. "Nah, tunggu nasinya matang dulu. Nanti tinggal buat lauk!" ucap Qia sambil bergegas pergi dari dapur. Mata para pelayan masih memandanginya.
"Tumben, Nona Qia rajin," ucap pelayan itu.
"Iya, biasanya dia jam segini belum bangun dan apalagi masak. Ini keajaiban!" sahut pelayan yang lain.
Qia berjalan mengamati lantai satu rumah itu. Matanya terus menatap setiap inci rumah itu.
"Rumah yang bagus, sesuai dengan seleraku. Betapa beruntungnya aku bisa menikah dengan Kak Bily," ucap Qia sambil berjalan. "Eh, ada kolam renang!"
Qia sampai di halaman belakang rumah itu. Terdapat sebuah gazebo dengan atap berwarna putih. Tiang-tiang gazebo itu berwarna pink. Di dekat gazebo itu ada sebuah kolam renang berbentuk persegi panjang. Kolam itu cukup luas.
"Olahraga di sini aja, deh!" ucap Qia. Dia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya. Sesekali melompat-lompat di pinggir kolam renang itu. "Satu...dua...tiga..." Qia menghitung setiap gerakannya. Dia melompat-lompat sambil mengangkat dan menurunkan tangannya secara bergantian. "Capek juga!" ucap Qia. "Eh!" Qia terkejut.
"Kak Billy!" Qia menatap ke arah Billy. "Kamu udah bangun?" ucap Qia sambil memegang pipi kiri Billy. "Eh!" ucap Qia. Billy menyandarkan tubuhnya pada tubuh Qia. Qia jadi menopang beban tubuh Billy.
"Kamu ngapain sih, Yaya?" tanya Billy lagi.
"Bangun pagi dan melaksanakan tugasku," sahut Qia.
"Memangnya kamu mau ngapain bangun jam segini? Aku jadi nggak bisa tidur lagi gara-gara kamu nggak ada," protes Billy.
"Aku bangun buat masak!" sahut Qia.
__ADS_1
"Masak?" Billy tertegun.
"Iya. Kan itu tugas Qia sebagai istri. Mulai sekarang kan Qia pengen jadi istri yang baik dan rajin buat Kak Billy," ucap Qia.
"Kamu nggak usah masak!" sahut Billy.
"Kenapa?" balas Qia lirih.
"Itu bukan tugasmu. Udah ada pelayan yang punya tugas masak," sahut Billy.
"Terus tugasku apa? Qia kan istrinya Kak Billy...."
"Tugasmu itu memanjakanku, membelaiku, dan menemaniku hingga hari tua nanti," sahut Billy. Dia mencium pipi kiri Qia.
Kak Billy, tumben mulutmu manis kayak gini, gumam Qia.
"Ayo, masuk! Kamu harus siap-siap buat pergi sama aku!" ucap Billy.
"Pergi kemana? Pergi honeymoon, ya?" tanya Qia lagi.
"Lihat saja nanti!" ucap Billy.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍