Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 61 -Kelinci


__ADS_3

Hujan tiba-tiba turun saat kami di jalan. CTAR! CTAR! Petir terdengar bergemuruh di angkasa yang gelap. Aku menyetir dengan perlahan dan hati-hati. Jarak pandang saat hujan deras seperti ini cukup terbatas. Balok Es sibuk memainkan smartphone-nya.


"Kita pulang saja!" ucap Balok Es tiba-tiba.


"Kenapa?" aku heran dan penasaran. "Kakek kenapa?"


"Bunda bilang Kakek sedang tidur. Cuaca juga sedang tidak bersahabat. Perjalanan masih jauh, jadi lebih baik kita pulang saja ke rumah," ucap Balok Es.


"Pulang ke rumah yang mana, Kak? Rumah Qia apa rumah Kakak?" tanyaku.


"Tentu saja rumah saya. Sudah, jangan banyak bicara! Perhatikan jalan di depanmu!" perintah Balok Es. Setelah melewati jalan yang tergenang air cukup tinggi, akhirnya tiba di rumah juga. "Saya masih mau menyelesaikan pekerjaan dulu," ucap Balok Es tanpa basa-basi. Dia melangkah menuju ruang jerja.


Ih, Bapak kok jadi dingin kayak es lagi sih. Padahal tadi udah agak mencair. Aku pun segera masuk ke kamarku.


Cuaca di luar masih hujan, hawanya terasa dingin. Aku memilih berendam sebentar saat mandi dengan air hangat. Untung saja besok tak ada dateline tugas, jadi bisa santai. Ini saat yang tepat untuk memakai piyama spesialku.


Aku memakai piyama seperti kostum kelinci warna putih. Piyama itu dilengkapi dengan tudung kepala bergambar wajah kelinci dengan telinga yang panjang. Ada resleting di bagian depan untuk membuka piyama ini. Piyama ini dibuat dari bahan kain yang lembut, tebal tapi tak panas. Aku juga memakai kaos kaki tebal putih. Tudung kepala itu kupakai di kepalaku. Aku tak peduli jika ada yang bilang kebiasaanku ini aneh atau kekanak-kanakan. Yang penting kan aku nyaman.


Kamar ini memang nyaman. Ada TV layar datar warna hitam dengan ukuran yang cukup besar. TV itu bisa dipasangi flash disk. Tentu saja ini saat yang bagus untuk nonton. Nonton drama korea pastinya. Aku menekan remot TV itu setelah memasang flash disk. Drama korea mulai kuputar. Wah, akhirnya sampai. Baru kusadari jika di dekat pintu ada kotak kardus yang tertera namaku. Hihihi, akhirnya paketku tiba juga.


Aku membeli secara online sebuah guling bergambar idola boyband K-Pop favoritku dan juga dua mainan tikus-tikusan. Warnanya abu-abu dan putih. Hihihi, ini bisa jadi senjata rahasia jika Balok Es jahil padaku 😆.


Aku meninggalkan kamar sebentar untuk membuat satu termos mini jus jambu hangat dan satu buah mie cup berkuah. Tentu, camilan tak boleh ketinggalan. Di dapur tak ada siapa pun. Kurasa makan malam tak dimasak malam ini.


Amunisi untuk menonton drama korea sudah siap. Aku duduk menyandar di kaki ranjang. Boneka kelinciku kujadikan sandaran, guling bergambar idolaku kupeluk. Kakiku masih kuselimuti dengan selimut tebal. Aku mulai menonton drama korea sambil makan mie cup. Sungguh, ini hal sederhana tapi membuatku merasa bahagia. Aku tengah terlarut dalam adegan romantis drama korea hingga tak terasa beberapa episode sudah kotonton. TOK! TOK! TOK! Terdengar suara ketukan pintu.


"Non, waktunya makan malam," terdengar suara wanita.


Kurasa itu pelayan Si Bakok Es. Makan malam? Aku malas beranjak dari tempat ini. Ck! Balok Es pasti menertawakanku dalam tampilan seperti ini.


"Uhuk! Uhuk! Hatchu!" aku pura-pura bersin dan batuk-batuk. "Saya mau istirahat aja, Bi. Saya udah kenyang. Uhuk! Uhuk! Hatchu!"

__ADS_1


"Non, Non baru sakit, ya?" tanya Bibi itu dari balik pintu.


"Nggak kok, Bi. Cuma sedikit kecapekan aja," sahutku lagi.


"Non mau Bibi bawain makan ke dalam?" tanya Bibi itu.


"Nggak usah, Bi. Saya udah kenyang. Ehm, saya nggak turun buat makan malam. Saya mau bobok aja, Bi," ucapku. Aku malas bertemu dengan Balok Es dalam tampilan seperti ini.


"Baik, Non," terdengar langkah Bibi pembantu itu yang semakin menjauh. Aku kembali terlarut dalam drama korea. Tiba-tiba TV layar datar itu mati.


"Jadi, ini kelinci yang tadi batuk dan bersin-bersin itu?" terdengar suara dingin yang mengangetkan.


Astaga, kok Balok Es sudah ada di sini sih? Ah, aku malu! 😭 Segera kusembunyikan diriku dalam selimut. Hanya terlihat wajahku saja.


"Bapak masuk kapan? Kok Qia nggak tahu?" tanyaku. "Sakit!" Balok Es menyentil dahiku dengan tangan kirinya.


"Ck! Dikira sakit ternyata malah asyik nonton drama korea. Tinggal makan saja malah tidak turun! Kamu seharusnya menemani saya makan! Kamu itu sudah menikahi saya, Tikus Kecil! Apa kewajibanmu harus saya ingatkan, hah?" Balok Es terlihat murka.


Pak, Bapak bisa nggak sih nggak usah pasang wajah seram gitu. Qia kan jadi takut. Memang salah ya jika aku tak menemaninya makan? Kok Balok Es jadi kayak gini sih. Biasanya dia kan nggak peduli aku mau turun makan malam atau nggak. Jam pulang kami kan juga beda.


"Kalo saya suruh pelayan untuk memanggil kamu turun, itu berarti saya ada di meja makan! Ingat itu mulai sekarang!" ucap Balok Es dengan nada suara meninggi.


"Iya, ehm...Qia bakal ingat...." sahutku. Balok Es mendekat ke arahku. Dia tiba-tiba saja masuk ke dalam selimut besar yang menyelimuti tubuhku. "Kamu mau ngapain?"


"Apa ini kok ada guling jelek!" Balok Es melemparkan guling di pelukanku.


"Ba...pak!" teriakku spontan. Balok Es memaksa duduk di dalam selimut bersamaku. Dia menyandar ke dadaku.


"Diamlah, Kelinci!" ucap Balok Es. Kutatap Balok Es, kacamatanya sudah terlepas. Wajahnya kurasa nampak lelah.


"Pak," panggilku lirih. Dia tak menjawab. "Kamu capek banget, ya," ucapku sambil melingkarkan tangan kiriku di pinggangnya. Kepalanya kubelai dengan tangan kananku.

__ADS_1


Balok Es pasti capek, dia bukan hanya dosen tapi juga seorang CEO. Dua dunia itu pasti sudah membuatnya bekerja dua kali lipat. Kurasa memang aku yang tak peka. Dia selalu ada sebagai tempat sandaranku saat aku membutuhkannya, tapi hal kecil seperti menemaninya makan saja aku malas. Kurasa pantas jika dia marah padaku.


"Maaf ya," ucapku tulus. "Qia belum bisa jadi istri yang baik buat kamu," kukecup dahi Si Balok Es.


"Tingkatkan kepekaanmu mulai sekarang," terdengar suara.


Astaga! 😨 Ternyata Balok Es belum tertidur. Dia masih ada di dekapanku. Matanya menatap ke arahku.


"Pekalah pada lingkungan dengan cerdik seperti seekor kelinci. Jangan peka pada pada lingkungan tapi memilih kabur seperti seekor tikus," ucap Balok Es.


Pak, Bapak kalo minta diperhatikan bilang aja secara terus terang. Nggak usah pakai kalimat teka-teki kayak gini.


Iya, Pak...." sahutku lirih.


"Jangan panggil, Pak! Panggil Billy atau panggilan yang lain! Saya muak mendengarmu memanggil Pak terus menerus!" protes Balok Es. Mukanya terlihat cemberut.


"Iya, Billy. Qia akan ingat," aku tersenyum ke arahnya. Balok Es terlihat memejamkan matanya lagi. "Pindah yuk," kuajak Balok Es untuk pindah. Pindah ke tempat tidur maksudku.


"Ehm," Balok Es bangkit berdiri.


Aku berjalan menuju ke tempat tidur lalu merebahkan tubuhku. Balok Es langsung memeluk tubuhku, kepalanya menyandar di dadaku. Tubuhku dipeluk dengan erat. Tangan kiriku mencengkeram pinggang Balok Es, tanhan kanan membelai kepalanya. Dia manja sekali malam ini. Cuacanya dingin, di luar masih hujan deras. Sepertinya enak, ya, kalo yang dipeluk sama dibelai dalam selimut ini adalah aku. Pak, bisa nggak sih kita tukeran gitu? Bapak gantian yang belai Qia. Mata Balok Es terbuka.


"Ada apa, Kak Billy?" tanyaku.


"Saya ingin melakukan sesuatu denganmu...." ucap Balok Es. Pak, Bapak mau ngapain sih? 😱


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2