
"Siapa yang bilang Si Balok Es pergi?" terdengar suara dingin yang menyeramkan dari arah pintu. Astaga, itu Si Balok Es ! Dia masuk ke dalam rumah. Jantungku ingin melompat keluar. Dia masih memakai pakaian jadul tadi pagi, masih dengan dandanan yang sama. Pakaiannya nampak basah dan sedikit berantakan.
"Kamu dari mana saja? Sudah saya bilang! Pulang secepatnya!" ucapnya sambil berkacak pinggang, dia memarahiku.
" Apa hubungannya dengan Bapak?!" aku berdiri dan tak mau kalah. "Saya sudah besar, Pak! Bukan anak kecil lagi! Lagipula sekarang belum larut malam!"
"Kamu berani melawan, ya?!" protes Si Balok Es itu.
"Iya, saya berani melawan! Urusan saya adalah urusan saya! Bapak menyuruh saya pulang! Padahal Bapak sendiri pergi bersama Nenek Sihir itu!"
"Nenek Sihir?" Balok Es terlihat bingung. "Maksudnya Yaya, ehm....Bu Vanya?" aku tak menjawab. "Kamu cemburu?!" ucapan itu mengejutkanku. Cemburu? Apa aku sudah bertingkah seperti orang yang cemburu? "Dia sebenarnya...."
"Dia pacar Bapak, kan?!" sahutku. "Saya sudah tahu!" aku membuang muka lalu naik ke lantai dua.
"Nona!" sapa bibi pembantu. "Perkenalkan saya Iyem. Mulai hari ini saya secara khusus akan melayani Nona seperti perintah Tuan Muda. Kamar Nona sudah dipersiapkan oleh Tuan. Disebelah sini, Nona!" kuikuti dia. Terdapat pintu kamar yang sudah dicat warna ungu lavender seperti pintu kamarku. Pintu itu dibuka.
"WOW!!!" aku terkejut. Kamar ini persis sama seperti kamarku hanya saja ukurannya lebih luas. "Cici!" nampak boneka kelinci putih kesayanganku sudah ada di atas tempat tidur. "Baju dan barang Nona untuk kuliah sudah dibawa kemari tadi pagi. Tuan Muda yang mengambilnya, ehm...beliau sendiri yang menata barang-barang Nona sepanjang siang hingga sore...."
"Dia menyempatkan diri menata barangku? Bukankah dia pergi?" aku bingung.
"Beliau pulang saat siang hari menjelang sore, Nona. Saat mendengar bahwa ada berita angin topan di sekitar kampus, ehm...beliau nekat pergi kembali ke kampus untuk mencari Nona."
Jadi, dia menyuruhku pulang karena khawatir aku jadi korban angin topan? Jadi, dia tak ada di ruang dosen tadi karena pulang untuk menata kamarku? Apa dia sedang perhatian padaku? HUH! Apa yang kupikirkan! Perhatian macam apa yang ditulis lewat pesan ancaman?!
Mengapa aku merasa bersalah, ya? Wajar Si Balok Es marah, aku tak memberi kabar padanya. Pikiran itu terus membayangiku bahkan setelah makan malam dan mandi. Segera kupakai piyama warna ungu, lalu kududuk di meja rias untuk mengoleskan masker wajah warna putih. Pikiranku tak tenang, sebaiknya aku minta maaf saja.
"Tuan Muda sedang ada di ruang kerja, Nona," ucap bibi pembantu lain, saat aku ingin membuka pintu kamar Balok Es itu. "Ruang kerja Tuan Muda ada di sebelah sana," tunjuk bibi pembantu ini.
DUAR!!! Terdengar suara guntur lagi. Kurasa hujan lebat sudah turun lagi. Kubuka pintu ruangan itu.
"WOW!!!" nampak ruangan tingkat dua. Ruangan itu lebih mirip perpustakaan mini. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan buku tersusun dalam rak-rak kayu coklat. Di salah satu sudut ruangan terdapat meja kerja coklat kayu yang menghadap ke arah jendela. Seseorang duduk di kursi kantor biru yang berpasangan dengan meja itu. Ternyata itu Si Balok Es yang tengah tertidur, tubuhnya bersandar pada sandaran kursi itu. Wajahnya nampak tenang dan manis berbeda sekali dengan wajah galak saat dia tersadar. Kacamatanya yang dilepas membuat wajahnya nampak lebih jelas. Saat kudekati dia, mata itu terbuka....
__ADS_1
"AAA!!!" terdengar teriakan. " HANTU!!!" teriak Si Balok Es.
"Dimana?!" teriakku panik. WING!!! PRUK!!! "ADUH!!!" sebuah buku coklat yang sangat tebal mengenai kepalaku. BRUK!!! Tubuhku terjatuh ke bawah. Kurasa kepalaku benjol karena lemparan buku itu. "SAKIT! PAK!" protesku.
"Kamu!" Balok Es itu bangkit dan mengucek-ucek matanya. Kacamatanya dipakainya kembali. "Ternyata kamu, Tikus Kecil!"
"Sakit, Pak!" protesku. Balok Es itu mengoleskan krim pada luka benjol di kepalaku. Tentunya setelah masker putih di wajahku kubersihkan. Dia membawaku ke kamarnya untuk menerapkan obat.
"Iya, maafkan saya. Saya kira kamu hantu tadi," ucapnya berulang kali. Maaf takkan membuat luka benjol di dahiku segera kempes. "Kamu kenapa malam-malam mencari saya? Kamu sengaja ingin menakut- nakuti saya?" ia mulai menatapku dengan tatapan curiga. "HUH! Kamu belum puas menjahili saya tadi?" ucapannya membuat mood-ku menjadi buruk. Niatku untuk meminta maaf menjadi hilang. Tiba-tiba aku melihat sesuatu hitam bergerak-gerak di dekat kaki Si Balok Es. Aku heran mengapa makhluk ini masih bisa ada di rumah mewah seperti ini?
"Pak! Tikus!" teriakku memperingatkan.
"Saya takkan tertipu lagi!" balas Si Balok Es ketus. Tikus itu entah mengapa justru merayap di kaki Si Balok Es. Aku hanya duduk menyimak pertunjukkan keren yang akan segera dimulai ini. "Tipuanmu...." ucapannya terhenti, dia melihat ke arah bawah. "TIKUS!!!!" teriaknya sangat kencang sambil menggerak-gerakkan kakinya.
"HAHAHA!!!" aku tak bisa menahan tawaku ketika melihatnya. WING!!! PLUK!!! Tikus itu akhirnya lepas dan mendarat di lantai. Ia sekarang kebingunan mencari jalan keluar dari kamar ini.
"USIR! USIR!" teriak Si Balok Es yang naik ke atas tempat tidur.
"Tikusnya sudah pergi, Pak!" ucapku dengan cuek sambil berjalan keluar dari kamar Si Balok Es. Segera kutidur di ranjangku yang berada di dekat tembok. Hujan sudah berhenti, tak ada yang perlu kutakutkan lagi. Aku tidur menghadap ranjang sambil memeluk guling. Cici kutaruh di pinggir tempat tidur sebagai penghalang agar aku tak jatuh. Kuselimuti tubuhku dengan selimut tebal.
Aku merasa ada sesuatu yang kurasa tidur di sampingku. Apakah aku sedang mengalami ketindihan? Saat kubuka mataku dan menengok ke arah belakang.
"BAPAK NGAPAIN DI SINI?!" teriakku. Si Balok Es itu sudah tertidur di balik punggungku, hanya dibatasi oleh Cici. "PERGI SANA! PERGI, PAK!"
"TAK MAU!" ia justru semakin mendorongku ke dekat tembok. "Saya takkan pergi sampai kamar saya selesai dibongkar dan dibersihkan!"
"Bapak bisa pergi ke kamar lain! SANA PERGI!" usirku. Ada banyak kamar kosong di rumah ini.
"Kamu mau saya melepaskan dia di sini?" tangan Si Balok Es menggenggam sesuatu.
"KECOA!" teriakku panik. Di tangan Si Balok Es ada kecoa coklat yang dikurung dalam sebuah tabung plastik kecil. "Jauhkan dari saya!"
__ADS_1
"Bagus, menurutlah pada Tuanmu ini, Pembasmi Tikus Kecil!" ia kembali berbaring. Pembasmi tikus? Jadi, julukanku berubah? Aku masih terus mengawasi tangan kanan Si Balok Es yang membawa tabung kecoa itu.
"Untuk jaga-jaga agar kamu tak menendang saya!" matanya berkilau licik.
Balok Es ini menggenggam tabung kecoa itu di tangannya sambil tertidur. Sial, aku tak bisa berkutik. Jika aku menendang Si Balok Es, bagaimana jika tabung kecoa itu jatuh ke lantai dan membuat kecoa itu terbang ke arahku. Membayangkannya membuatku geli. HUH! Malam ini saya mengalah, Pak. Lihat saja besok, tunggu pembalasan saya! Aku segera tidur sambil membelakangi Si Balok Es.
Hari berganti pagi, weekend ini aku tak bersemangat. Kulihat tiket nonton film itu, rasanya aku kesal sekali. Naren tak peka pada kodeku, padahal aku sudah membeli tiket bioskop kelas premiere. Dua ratus ribu uangku melayang percuma. Saat ini aku duduk di ruang tamu rumah Si Balok Es itu. Aku lebih suka berada di sini karena wifi-nya lebih kencang daripada di kamarku. Aku sudah mandi dan sarapan, syukurlah setidaknya Si Balok Es tak membatasi akses wifi. Aku bisa memakainya sepuasnya untuk streaming drama korea atau menonton film. Saat kupencet tombol on di laptopku....
"Pembasmi Tikus!" terdengar suara datar itu.
"Ada apa?" sahutku ketus. Si Balok Es ini sudah rapi. Dia memakai setelan jas hitam dengan dasi warna merah. Penampilannya tampak beda, dia mirip CEO muda seperti di drama-drama.
"Jangan menatapku terus! Ayo ikut majikanmu ini pergi!" perintahnya.
"Pergi? Kemana?" aku penasaran.
"Kau akan tahu nanti! Jangan banyak tanya! Cepat ganti pakaianmu!" perintahnya lagi.
"Tidak mau! Ini weekend saya mau nonton drama eh....mau mengerjakan tugas kuliah!" hampir saja aku keceplosan.
"Kamu mau ikut saya atau ini saya lepaskan di sini?" ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sial! Benda itu lagi! Balok Es ini mengeluarkan tabung plastik kecil berisi kecoa.
"Baiklah! Baiklah!" aku terpaksa menurut. Sampai kapan dia akan mengancamku dengan ancaman kecoa? Kemana dia mau membawaku pergi?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍