
"Senja yang setiap hari kita rindukan kini hanya bisa ku nikmati seorang diri.Dan sekarang senja ini hanya milikku saja, bukan miliki kita lagi.“ batin Boy melamun di depan rumahnya sambil menikmati secangkir kopi hitam dan sebatang rokok yang hampir habis. Perasaannya sangat hampa, hati terasa kosong seperti kehilangan empedu. Sudah satu hari nomor Pakha tidak aktif sama sekali, bahkan pesan yang Boy kirim masih centang satu. Boy masih sama seperti dulu, jika Pakha tidak ada di sampingnya hidupnya tak punya tujuan, tatapan yang penuh harap menjadi kosong tanpa arah.
Ibu Boy melihat anaknya dari jendela yang melamun di luar rumah. Ia pun berjalan menghampiri anak semata wayangnya yang terlihat sedih.
"Honay kamu lagi bertengkar sama Pakha ya?"tanya ibu Boy sambil merangkul pundak anaknya.
"Hah...ibu barusan bilang apa aku tidak begitu dengar. "Boy kembali bertanya karna sedari tadi pikirannya masih melamun.
"Kamu kok terlihat tidak punya semangat seperti itu, lagi berantem sama Pakha ya? "jawab ibu Boy.
"Tidak kok bu, aku hanya kepikiran tugas kuliah dan pekerjaan yang menumpuk. "jawab Boy bohong.
"Oh begitu... emm terus kapan nih calon menantu ibu di bawa ke sini lagi?"tanya ibu Boy dengan wajah penuh harap.
"Tunggu waktu yang tepat ya bu, aku pasti akan membawa Pakha ke rumah ini lagi. "kata Boy sambil menikmati rokoknya yang ke dua.
"Jangan lama-lama ya honay, ibu kesepian di rumah, kamu sama papa kamu slalu sbuk. "jawab ibu Boy merajuk.
Boy hanya mengangguk boro-boro mengajak Pakha main ke rumahnya, sekarang hubungannya aja masih menggantung. Di tambah lagi Pakha masih belum bisa di hubungi sampai saat ini. Ibu Boy kemudian berjalan kembali masuk ke dalam rumah. Sementara Boy masih sibuk menatap halaman rumah dengan tatapan kosong, mulutnya tak berhenti menghisap rokok, sekarang sudah batang ke tiga.
Entah mengapa Boy tidak kepikiran untuk mencari Pakha di kampung halamannya. Dia hanya mengingat rumah kak Nawang namun hasilnya mengecewakan, Pakha juga tidak ada di sana. Hatinya cemas sekaligus kwatir jika terjadi hal buruk pada Pakha.
Tanpa putus asa, Boy terus menghubungi Pakha walau puluhan kali telfonnya sama sekali tak diangkat. Ternyata pesannya sudah centang dua namun belum Pakha baca. Semangat Boy muncul kembali saat melihat centang dua di pesannya kemudian Boy putuskan untuk mengirimkan nya pesan lagi melalui aplikasi whatsapp “ Sayang aku tunggu kamu jam 7 malam di taman favorit kita, aku ingin menjelaskan semuanya”.
Di satu sisi Pakha sudah membaca pesan Boy di layar utama tanpa membuka chatnya. Kemudian Pakha menaruh kembali hpnya karna dia ingin berkunjung ke panti asuhan untuk sekedar membelikan makanan kecil pada anak panti. Sudah lama Pakha tidak datang ke panti karna berbagai hal termasuk sibuk kuliah. Kebetulan panti itu dekat dengan kampung halamannya, sekaligus dia nanti langsung kembali ke kosan. Karna besok dia mempunyai jadwal kuliah.
"Pak.. buk.. Pakha pamit."kata Pakha berpamitan pada bapak ibunya yang sibuk menata kebun depan rumahnya. Ayah ibunya hanya mengangguk kemudian melanjutkan aktivitasnya kembali. Pakha langsung menghidupkan motornya dan melaju menuju Panti asuhan.
__ADS_1
Sekarang sudah pukul tujuh malam dengan keyakinan yang kuat Boy masih menunggu kedatangan Pakha, padahal Pakha masih sibuk bermain dengan anak panti. Boy masih setia menunggu Pakha meskipun langit sudah sangat mendung pertanda hujan sebentar lagi akan turun.
Sampai jarum jam menunjukkan pukul 9 malam tidak ada balasan dari Pakha. Pesannya pun belum di baca, Boy berusaha menghubungi Pakha beberapa kali namun masih sama tidak di angkat juga. Wajahnya geram kemudian mengirim pesan kembali pada Pakha.
*Sayang aku masih menunggu di taman favorit kita. Aku harap kamu akan datang. Jika kamu tidak datang aku anggap kamu sudah membuangku malam ini. Itu artinya hubungan kita sudah cukup sampai di sini. *
Malam semakin dingin dan Boy mulai bosan menunggu kedatangan Pakha. Boy pun memutuskan untuk pulang ke rumah karena sangat kecewa dengan Pakha.
Sementara itu Pakha baru sampai di kosannya setelah tadi asik bermain dengan anak panti. Pakha melemparkan tubuhnya di sofa sambil meraih hpnya untuk melihat jam.
"Sekarang jam berapa ya, tadi aku terlalu asik main sama anak-anak sampai lupa waktu. "gumam Pakha kemudian melihat jam.
Matanya melotot melihat banyak panggilan tak terjawab dari Boy. Dan banyak pesan masuk yang salah satunya tentang kelanjutan hubungannya dengan Boy.
Pakha berlari ke luar kosan langsung menaiki motornya ketika melihat pesan Boy yang membuatnya kaget. Tidak peduli dengan penampilannya yang penuh keringat dan acak-acakan dia langsung mengegas motornya dengan kecepatan maksimal. Berharap belum terlambat. Sesampainya di taman suasana sudah begitu sepi tidak ada tanda-tanda seorang pun di sana. Matanya hanya menemukan layar tancap dengan tulisan besar yang masih menyala dan terpampang di depan wajahnya. PAKHA MAAFKAN AKU, AKU AKAN MENJADI LEBIH BAIK LAGI, KITA SUDAH BANYAK MELEWATI UJIAN DAN TANTANGAN UNTUK HUBUNGAN KITA DULU, TOLONG PERTAHANKAN HUBUNGAN INI SAMPAI AKHIR KARNA AKU SANGAT MENCINTAI MU.
Seketika tubuh Pakha langsung lemas dia tidak berniat mengakhiri hubungannya dengan Boy, jika saja dia tau pesan itu lebih awal. Pakha pasti akan segera datang menemui Boy. Hanya penyesalan yang tersisa, ke egoisan membawa asmaranya kandas begitu saja.
"Boy maafkan aku, Aku egois tidak pernah memikirkan perasaanmu, aku memang tidak pantas berada di sampingmu, kamu terlalu baik buat aku yang seperti sampah ini. jika memang ini akhirnya aku akan melepasmu meskipun aku masih sangat mencintaimu. "kata Pakha sambil menangis dengan tubuh terduduk lemas di atas rumput hijau.
Tanpa Pakha sadari semua perkataannya di dengar oleh seseorang di balik bunga taman yang tak jauh dari posisi Pakha saat ini. Mereka hanya berjarak dua meter oleh karna itu perkataan Pakha sangat jelas terdengar di telinga oleh orang yang berdiri di balik bunga sambil memperhatikan dirinya.
Pakha berdiri dari duduknya tiba-tiba dari arah belakang seseorang langsung memeluknya dengan erat. Dengan refleks Pakha menendang orang tersebut sampai terjungkal ke belakang. Dia sudah terbiasa bela diri, makanya dengan reflek tubuhnya bertindak saat merasa terancam. Pukulan Pakha malah pas mengenai perut orang itu dengan lumayan keras.
"Aww. "teriak orang itu kaget.
Pakha melongo ketika melihat wajah yang begitu ia kenal.
__ADS_1
"BOY"
Pakha langsung sigap membantu Boy berdiri dari tanah.
"Sayang aku kok di tendang sih. "kata Boy sambil membersihkan celana yang kotor terkena tanah.
Tanpa aba-aba Pakha langsung memeluk Boy yang sibuk membersihkan celananya. Seketika tangan Boy terhenti kemudian membalas pelukan Pakha sambil tersenyum.
"Boy maafkan aku, maaf hiks.. hiks. "kata Pakha masih memeluk Boy dengan erat.
"Cup cup cup sudah jangan nangis, sayangku tidak salah kok. "jawab Boy sambil menepuk-nepuk punggung Pakha.
Pakha malah semakin kencang menagis, ia sangat bersyukur masih bisa bertemu Boy malam ini.
Flashback
Tadi saat Boy ingin pulang karna sudah lelah menunggu Pakha, kunci mobilnya malah ketinggalan di meja taman. Dengan terpaksa ia pun kembali lagi ke taman untuk mengambil kuncinya yang tertinggal, di saat bersamaan Pakha terduduk di atas rumput sambil mengicau. Langkah Boy terhenti dengan kebetulan Boy pun mendengar semua perkataan Pakha.
Back to beginning taman
Pakha melepaskan pelukannya kemudian menatap mata Boy dan berbicara.
"Boy masih adakah kesempatan buat aku kembali mencintaimu? "tanya Pakha cemas.
Boy mengangguk, Pakha pun tersenyum kemudian mereka berdua kembali berpelukan namun di ikuti dengan ciuman bibir pelepas rindu.
Sekian dulu ya... nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.
__ADS_1