
Rasa dingin berlalu dengan enggan dari bumi, dan kabut yang mengundurkan diri mengungkapkan bahwa seorang wanita berbaring di atas bukit 10 kilometer dekat rumahnya berada. Angin sepoi-sepoi menemani kekalutan hati yang tak berujung. Sebuah perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu dalam jiwa itulah yang sekarang kak nawang rasakan.
H-2 hari pernikahannya kini hanya tinggal menghitung jam. Bayi kecil yang selalu ia timang tak ada kabar entah kemana, sekarang bayi itu menghilang misterius tanpa meninggalkan jejak apapun. Bayi kecil itu adalah pakha.
"lagi ngapain? ayo pulang"suara seorang laki-laki mengagetkan lamunannya.
"iya sebentar lagi, aku masih ingin menghirup udara segar"jawab kak nawang.
Laki-laki itu menghampiri nawang dan ikut berbaring di samping kak nawang.
Mereka berdua menengadah ke langit. Warna biru lembut langit mulai menggelap menjadi abu-abu. Kak nawang mengerjapkan matanya. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh tetapi akhirnya jatuh juga bersamaan dengan rintik hujan yang dalam sekejap saja membasahi bukit itu.
Nawang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk beranjak. Atau dia hanya ingin menangis di bawah hujan agar air matanya tersembunyi. Dan kepedihan hatinya mengalir bersama air hujan yang pergi ke bawah bumi.
Tapi oci mengerti hatinya. Pria itu sedikit menghiburnya dan tanpa disadarinya dia terisak pedih. Perasaan oci pun ikut terhanyut membayangkan keadaan sahabat baiknya boy hanya berdiam di dalam kamar dan terlihat menyedihkan. Akhirnya mereka berdua menangis di bawah guyuran air hujan.
Sementara itu di dalam sebuah kamar ada seorang laki-laki dengan tatapan kosong duduk terdiam di pojok kamar dengan merangkul kedua lututnya. Tidak pernah ada isyarat untuk menunggu. Tapi dia menunggu juga. Bertahan untuk pakha seperti orang bodoh. Seperti pohon kering di musim dingin yang menantikan cahaya matahari musim semi yang panjang, boy menunggu pakha yang tak ada kepastian kapan akan kembali atau tidak sama sekali.
Ceklek suara pintu kamar terbuka menampakkan laki-laki gagah dan seorang ibu cantik yang terlihat masih muda. Mereka adalah orangtua boy.
“PLAKKK!”
Pukulan itu melayang ke wajah mulus boy. Mata ayahnya memerah seakan-akan ingin menelan boy bulat-bulat. Pipi kanan boy bergelenyar perih, tak tertahankan. Tapi bukan pukulannya yang paling menyakiti boy. Kata-katanya yang tajam dan tanpa ampun mampu melukai boy hingga ke sumsum tulang belakang.
__ADS_1
“Bagaimana mungkin Tuhan menghukumku dengan memberiku anak macam Kau!, sadarlah pakha tidak akan pernah kembali "
Ibu menjerit dan menahan tangan ayah boy yang hendak melancarkan lagi pukulan ke pipinya yang lain.
Sebenarnya boy tidak tahu mana yang lebih menyedihkan, ayahnya yang tak bisa menghadapi bahwa anak satu-satunya itu tak akan pernah menjadi seperti keinginannya. Atau ibu boy yang tak berdaya dan berharap lolongan tangisnya mampu menawar hati anaknya atau menggugah hati suaminya?
ayah boy menurunkan tangannya. Dia tahu pada akhirnya boy akan sanggup menahan pukulannya. Boy menunduk tapi tak menangis.
Lalu dia berkata lagi, “Sadarlah sebelum hidupmu benar-benar hancur”kata ayah boy dengan air mata yang mengalir lalu pergi.
Air mata boy mengalir dalam diam. Sudah cukup. Sudah cukup. Jeritnya dalam hati. Dia ingin berdiri dan berlari. Tapi entah mengapa, kakinya tak menemukan kekuatan untuk melakukannya.
"Pakha, pakha, "itulah nama yang selalu ia ingat dalam pikirannya. Boy akhirnya meneteskan air mata setelah kedua orang tuanya keluar dari kamarnya. Tangis yang tadi ia tahan akhirnya meluap-luap, ia sedikit sadar dengan keadaannya yang menyedihkan.
Boy memukul-mukul dadanya sendiri karna sangat terasa sesak.
"Pakha kemana kamu, jika kamu tidak ada di dunia ini aku juga tidak mau di dunia ini hiks hiks,"gumam boy di sela-sela tangisnya.
Dinding-dinding kamar menjadi saksi atas semua peristiwa yang telah terjadi. Sedih berkepanjangan itulah yang saat ini boy rasakan. Bukankah hal ini seharusnya tidak perlu? entahlah semua pilihan ada di dalam dirimu masing masing.
Ketika mata sedang fokus dengan seekor kupu-kupu terbang di atas bunga tulip berwarna kuning yang indah. Sebuah tangan merangkul pinggang kecil yang berdiri di hamparan lapangan hijau yang luas. Tepatnya di belakang istana hutan kelam, tempat yang pakha tempati saat ini.
"Bim geli lepaskan tanganmu dari pinggangku,"kata pakha sambil memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Gak mau,"jawab bima sambil mengendus tengkuk pakha.
Nafas hangat itu mengenai tengkuk leher pakha yang jenjang sehingga ada rasa geli di lehernya. Bima memutar badan pakha yang membelakangi nya menjadi berhadapan dengannya. Kini wajah mereka saling berhadapan, bima mendekatkan bibirnya ke bibir pakha namun dengan refleks pakha mendorong tubuh bima menjauh darinya.
"Apa yang kamu lakukan bim,"kata pakha dengan marahnya sambil menatap bima dengan tatapan tajam.
Bima kaget dengan kelakuan pakha padanya saat ini.
"Sayang kenapa kamu selalu menolakku? "tanya bima geram dengan semua penolakan pakha padanya.
"Maaf bim aku tidak bisa melakukan itu"jawab pakha tegas kemudian berjalan menjauhi bima.
"Hanya sebuah ciuman saja kamu tidak pernah memberiku, apa lagi kalau lebih dari itu, sebenarnya kamu mencintaiku atau tidak sih? "teriak bima dengan marahnya.
Pakha hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan sulit yang bima katakan. Ada apa dengan hatinya kini, bukankah dia sekarang masih jadi tunangannya bima. Kenapa perasaannya semakin lama semakin tidak menentu, dia memang bahagia bersama bima. Namun hatinya seperti sedih memikirkan sesuatu yang tidak tau sesuatu itu apa. Mungkinkah sekarang dia ragu dengan cintanya pada bima? sebenarnya untuk siapa cintanya itu? itulah yang pakha rasakan saat ini. Bima sudah menghapus memori tentang laki-laki lain di pikiran pakha saat ini, namun hati pakha tidak bisa berbohong dengan perasaannya itu.
Hidup adalah sekarang dan masa depan. Masa lalu ??. ….. ah itu hanya serbuk-serbuk luka termanis untuk sebuah rasa di ujung sana. Seperti sobekan kisah cinta yang berserakan, juga puzzle-puzzle berantakan yang hanya membuat hidup akhirnya tak berbentuk. Cinta bagaikan debu, terbang dan tersesat di hati yang gersang.
Cinta akan membawa perubahan, bahagia? atau malah sebaliknya. Maka cintailah seseorang seperlunya.
Jangan sakiti diri sendiri atau orang lain, jangan memberi harapan jika kamu tidak ingin memberikan hatimu untuknya, tanpa di sadari kamu juga telah menghancurkan hidup seseorang. Cintailah seseorang yang juga mencintaimu. nr cahaya.
Perasaan apa yang pakha rasakan saat ini, mengapa hatinya jadi ragu dengan bima. Apakah sebenarnya hatinya itu untuk boy? atau untuk reno si pria dingin itu?Temukan jawabannya di apisode selanjutnya semangat membaca. Like 👍 jika kalian menyukai cerita ini, komen di bawah 👇untuk memberi masukan atau dukungan untuk author.
__ADS_1