
Awan hitam mengelilingi langit seakan ikut kwatir dengan sidang pengadilan saat ini.
Tepat pukul 9 pagi, Dandi menjalani sidang pengadilan, apakah dia akan di hukum sesuai perbuatannya atau akan bebas begitu saja?
Dia telah duduk di depan Jaksa dan para Hakim dengan baju putih yang melekat di tubuhnya.
"Saudara Dandi Kejahatan penculikan yang sudah anda lakukan menurut Pasal 328 KUHP, yaitu : Barangsiapa melarikan (menculik) orang dari tempat kediamannya atau tempat tinggalnya sementara, dengan maksud untuk membawa dia di bawah penguasaannya atau di bawah penguasaan orang lain dengan melawan hukum, atau untuk menyengsarakan orang itu. Pada Pasal tersebut dikatakan Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76F dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). "Jaksa mengawali sidang tersebut.
Sekarang sidang berlangsung lancar dan khidmat. Para pengacara oleh pihak penuntut dan yang di tuntut masing-masing berbicara atau menunjukan bukti kejahatan pada pengacara penuntut dan untuk pengacara yang di tuntut juga menunjukkan bukti tak bersalah atau bukti-bukti untuk meringankan hukuman tersangka.
Oci dan Nawang saling cemas menyaksikan sidang tersebut. Meskipun suasana begitu tenang hati mereka yang menunggu putusan hakim sudah berlari-lari dari tempatnya.
"Dandi aku harap kamu di hukum seringan mungkin."batin Nawang sambil meremas tangannya.
"Ummi ada apa, kenapa wajah ummi begitu cemas?"tanya Oci yang duduk di samping Nawang.
Nawang hanya menggelengkan kepala tatapannya masih lurus ke depan fokus melihat jalannya sidang. Di satu sisi ia tidak tega melihat Dandi seperti itu, di sisi lain ia berharap Dandi bisa berubah setelah mendapatkan hukuman.
Satu jam telah berlalu semua bukti dan argumen dari para saksi dan tersangka sudah di keluarkan termasuk pembelaan diri dari tersangka. Saatnya Hakim memutuskan.
"Berdasarkan dari semua bukti dan para saksi kami akan memutuskan hukuman apa yang akan tersangka jalani berdasarkan perbuatannya. "kata Hakim kemudian melanjutkan lagi perkataannya.
__ADS_1
"Saudara Dandi di karenakan bukti tidak cukup kuat dan anda tidak melakukan kekerasan pada korban, berdasarkan musyawarah dan keputusan bersama kamu kami bebaskan. Untuk menebus semua kejahatan kamu di mohon menjalani hukuman rumah selama satu bulan tidak boleh keluar dari rumah. "kata Hakim kemudian mengetok palu sebanyak tiga kali.
Dandi langsung berdiri dari duduknya sambil tersenyum riang.
Nawang terlihat lega, entah dia harus bersyukur atau harus menangis. Dandi bebas begitu saja otomatis dia harus menguatkan hati jika rumah tangganya di ganggu lagi. Di satu sisi dia lega melihat Dandi bebas dan hanya di jatuhi hukuman rumah. Meskipun dia terlihat garang dan jahat namun jika bersama Nawang Dandi terlihat baik dan tulus. Sudah empat tahun dia mengetahui sifat Dandi yah begitu lah sifatnya. Syukurlah orang yang pernah berada di hatinya itu tidak menderita.
Sementara itu Oci sungguh kesal mendengar putusan Hakim barusan. Dia berharap Dandi menjalani hukuman di dalam jeruji penjara dengan seberat-beratnya agar bisa instropeksi diri dan tidak lagi mengganggu rumah tangganya. Oci sangat marah mendengar putusan itu, tak trima dengan hukuman yang di jatuhi Hakim. Setelah para Jaksa dan Hakim meninggalkan tempat sidang. Oci langsung menghampiri Dandi dan meninju muka sombong Dandi saat itu juga. Tiga kali pukulan itu pas mendarat di wajah Dandi meninggalkan bekas lebam dan setetes darah di ujung bibirnya.
Nawang melotot melihat suaminya mengamuk pada Dandi, ia kemudian beranjak dari tempat duduk menghampiri mereka berdua yang sedang ribut.
PLAKK
Tamparan mendarat di wajah mulus Nawang.
"Ummi kenapa ada di sini, Ummi maafkan abi tidak sengaja menyakiti ummi. "kata Oci langsung bersujud di kaki Nawang.
"Bii aku mohon jangan seperti itu lagi, tahan emosi abi. "kata Nawang lirih sambil menangis.
Oci panik, ia merasa sangat berdosa telah menyakiti istrinya. Bahkan dari dulu dia tidak pernah sekali pun menyakiti perempuan, dia bahkan sangat menghormati ibunya. Oci tau jika surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, dia pun tau jika ia harus menghormati dan tidak akan menyakuti hati perempuan.
"Iya abi janji tidak akan seperti itu lagi... maafkan aku mii.. "kata Oci masih merangkul kaki Nawang.
__ADS_1
Nawang tak kuasa menahan rasa sakit di pipinya ia pun meneteskan banyak air mata.
Kalian tau sendiri kan prempuan itu makhluk yang lemah dari segi kekuatan dan hati.
"Hahaha lihatlah siapa yang sudah kamu sakiti, udah jangan banyak drama.. kamu itu tidak pantas untuk Naee, akulah yang pantas di sampingnya. "kata Dandi kemudian meninggalkan ruang sidang bersama dua polisi di sampingnya.
Setelah mendengar perkataan Dandi ,ia langsung berdiri, hatinya sungguh ingin menghabisi laki-laki perisor itu, namun dia mulai sekarang harus bersabar agar perbuatannya tidak menyakiti orang lain lagi. Yah seperti yang terjadi sekarang perbuatan nya malah meyakiti istrinya sendiri, wanita yang paling dia lindungi.
"Bii jangan dengarkan omongannya barusan. "kata Nawang kwartir omangan Dandi memancing emosi suaminya.
"Iya mulai sekarang abi janji akan mengontrol emosi, ummi telah mengajarkan ku apa arti dari sebuah kesabaran. "kata Oci kemudian merangkul Nawang menuju keluar dari ruang sidang.
Sementara di luar ruang sidang itu Pakha dan Boy sudah menunggunya dari depan pintu, sidang tadi di adakan secara tertutup sehingga hanya pihak yang berkepentingan yang di perbolehkan masuk.
Melihat Kak Nawang keluar dengan luka lebam di pipinya Pakha langsung merangkul kakaknya kemudian menghujani banyak pertanyaan.
"Kak Nawang kenapa? apa yang telah terjadi? apa penculik tadi menyakiti kakak? terus gimana sidangnya? dia di jatuhi hukuman berat kan? dia... "kata Pakha tiba-tiba berhenti setelah kakaknya mulai berbicara.
"Sudah-sudah kakak tidak apa-apa kok, dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. "kata Kak nawang.
"Setimpal apaan aku tidak terima dengan putusan hakim, aku akan menghukum dia dengan tanganku sendiri. " batin Oci sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Kemudian mereka berempat menuju mobil untuk segera pulang. Langit pun ikut menangis melihat Dandi bebas dari penjara. Kini hujan turun begitu deras mengiringi perjalanan mereka menuju rumah.
Sekian dulu kira-kira apa yang akan Oci lakukan untuk memberi hukuman yang setimpal buat Perisor itu? temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.