Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Kucing dan Tikus


__ADS_3

Ceklek. Boy pelan-pelan membuka pintu ruang rawat Pakha agar tidak mengganggu istirahat kekasihnya.


Kini sang prempuan sedang tidur dengan tenang di kasurnya. Sesekali tangan Pakha bergerak dan berganti posisi. Ketika ingin duduk di samping Pakha tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas yang berada di meja.


Pyarrr. seketika ambyar sudah gelas kaca itu setelah jatuh ke lantai.


Suara berisik itu membuat Pakha terbangun dari tidurnya.


"Boy... "panggil Pakha padanya yang masih berkutik memunguti pecahan kaca yang berserakan.


"Aduh dasar bodoh, Pakha jadi bangun kan. "batin Boy.


"Iya sayang, ada apa?"tanya Boy.


"Suara apa tadi? "Pakha balik tanya.


"Maaf ya sayang aku tadi tidak sengaja menyenggol gelas, eh jadi pecah dan malah membuat mu bangun. "jawab Boy dengan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa kok Boy. "kata Pakha.


Sekarang Pakha sudah berada di ruang rawat umum karna kondisinya semakin membaik. Semua selang dan alat bantu lainnya sudah di lepas kecuali infus.


Kini Pakha sudah bisa sedikit bergerak bebas tidak seperti sebelumnya saat tubuhnya masih di pasang banyak alat bantu pernapasan dan yang lain.


Pakha kembali menatap Boy, entah kenapa Boy sedikit aneh dengan penampilannya.


"Boy kemarilah, dan menunduk lah sedikit... "kata Pakha.


Boy hanya menuruti perkataan kekasihnya itu kemudian sedikit menundukan badannya di hadapan Pakha.


Pakha membenarkan kancing baju Boy yang terlewat satu, kemudian menata kerah Boy yang amburadul kemana-mana. Pantas saja pakaian Boy tidak rapi, dia kan tadi terburu-buru memakai baju di depan banyak orang akibat setan genit yang mengejar nya. Dia juga mendapat aib dari kejadian itu. Namun Boy tetap merahasiakan kejadian memalukan itu dari Pakha.


Kini wajah mereka hanya berjarak dua senti, pas banget dong kalau untuk adegan ciuman. Ehh tunggu dulu itu bukan untuk adegan ciuman melainkan karna Pakha membantu membenarkan kerah Boy mengharuskan ia harus mendekat ke arah Pakha.


Perlakuan Pakha padanya membuat jantung Boy terasa deg degan, gimana tidak deg degan orang bibir mungil itu hanya berjarak beberapa senti saja dari bibirnya.


"Boy tenang ini bukan adegan ciuman seperti di film-film. "batin Boy menenang kan jantungnya yang berpacu cepat secepat kuda berlari.


"Nah kalau gini kan enak di pandang. "kata Pakha setelah selesai merapikan kerah Boy.


Boy hanya diam sambil tersenyum, kemudian kembali berdiri tegak untuk mengendalikan jantungnya yang berbunyi kencang dug dug dug seperti penabuh gendang.


Waktu seperti cepat berlalu sekarang sudah pukul 11 malam, keheningan malam tidak bisa membuat mereka tertidur. Mereka hanya saling diam tanpa percakapan apapun. Pakha berusaha memejamkan kembali matanya namun tetap saja rasa kantuk tidak menghampiri dirinya. Begitu juga dengan Boy sudah berusaha untuk tidur namun juga sama, ia hanya pura-pura tidur di hadapan Pakha.


Hingga suara Pakha membuatnya membuka mata yang ia paksa terpejam.


"Boy kamu udah tidur?"kata Pakha dengan nada pelan takut membangunkan Boy jika sudah tidur.


Namun Boy masih tetap bisa mendengar perkataan Pakha karna sedari tadi ia juga sulit untuk tidur.


"Belum. "jawab Boy bangun dari sofa kemudian menuju ke arah Pakha dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Aku gak bisa tidur Boy. "kata Pakha.


"Sama aku juga. hmm bagaimana kalau aku bacakan cerita saja mau tidak? "tanya Boy mengusir bosan.


"Emm bisa juga tuh. "jawab Pakha antusias.


"cerita ini berjudul :


...Cerita ramalan untuk katak....


Seekor katak pergi menemui seorang peramal untuk mengetahui apakah dia beruntung dalam urusan asmara atau tidak. Peramal itu kemudian membaca telapak tangan si katak dan berkata, "Aku mempunyai kabar baik dan kabar buruk. Mau dengar yang mana dulu?"


Si katak ingin mendengat kabar baiknya terlebih dulu.


Peramal pun berkata, "Kamu akan bertemu seorang gadis cantik. Dia akan tertarik padamu dan ingin mengetahui segala sesuatu tentang dirimu. Dia ingin kamu terbuka padanya dan memberikan hatimu padanya."


"Wah, itu hebat!" kata si katak. "Tapi, apa kabar buruknya?" tanya katak.


Peramal pun menjawab, "Kamu akan bertemu dengannya di kelas biologi."


"Hahahah gimana lucu tidak ceritanya? "tanya Boy.


"Yah lumayan sih bisa membuat aku sedikit ngantuk. "kata Pakha sambil menguap.


"Iya udah tidur gih."kata Boy kemudian mengecup pipi kanan Pakha.


"Sayang kamu kok curi-curi pipiku sih. "kata Pakha sambil manyun.


"Boleh kok. "jawab Pakha malu-malu.


Boy langsung mendarat kan lagi ciumannya di pipi Pakha namun ganti sebelah kiri.


"Good night sayang, I love you more. "bisik Boy di telinga Pakha.


Pakha tersenyum kemudian berkata.


"Love you too Boy. "


Akhirnya mereka berdua bisa terlelap juga setelah beberapa jam berjuang untuk mendapatkan kantuk.


Esok hari telah datang di belahan bumi bagian timur, di rumah sederhana itu terdapat seorang laki-laki yang sibuk dengan laptop di tangannya, jari-jarinya dengan cekatan menulis sebuah cerita. Cerita itu tak lain tentang kehidupan nya sendiri waktu masih putih biru. Dia juga menceritakan bagaimana pertemuannya dengan cinta pertamanya kala itu. Dia menuliskan inisial P yang menjadi cinta pertamanya. Rutinitas menulis slalu ia lakukan untuk mengisi waktu yang kosong, juga untuk mengisi bloggernya.


"Pakha semoga kamu cepat sembuh, aku sangat rindu sekali ke kampus bareng kamu. "batin Jidan kemudian menghentikan tulisannya dan mengupload tulisan tadi di bloggernya.


Dia menarik nafas panjang kemudian mengambil hp di meja, namun ia urungkan dan menaruh kembali hpnya.


"Kamu apa-apaan sih Jid, ini tidak boleh di biarkan. "batin Jidan sambil menggelengkan kepala dan tidak jadi menghubungi Pakha.


Namun kerinduan yang kuat mampu mengalahkan egonya, dia kembali meraih hp di meja kemudian memanggil nomor Pakha.


"Assalamualaikum Jid. "

__ADS_1


"Waalaikumslm, gimana kabarmu sekarang? "tanya Jidan.


"Alhamdulillah sudah ada kemajuan Jid, besok kalau kondisiku sudah stabil di perbolehkan pulang oleh dokter. "kata Pakha di ujung telfon.


"syukurlah kalau begitu, tapi maaf ya aku gak bisa nemani kamu besok. "kata Jidan.


"Iya tidak apa-apa kok, sudah ada Boy dan kak nawang yang menemani ku. "jawab Pakha.


"oh baiklah kalau begitu get will soon ya Pakha."


"Terimakasih Jid. "


"Udah dulu ya Pakha soalnya aku masih ada banyak tugas yang belum ku kerjakan dan deadline nya nanti malam"kata Jidan bohong.


Padahal ia tidak ingin berlama-lama telefonan sama Pakha agar dirinya masih bisa mengontrol perasaannya terhadap Pakha. Dia harus mengerti batasan seorang sahabat.


"Assalamualaikum . "


"Iya waalaikumslm. "


Panggilan telefon itu berakhir, kini rasa rindu Jidan sedikit terobati, dia sangat ingin bertemu Pakha namun itu tidak boleh terjadi, semakin ia sering bertemu Pakha maka dia juga semakin sulit untuk move on.


"Pakha siapa tadi yang barusan telfon. "tanya kak Nawang.


"Jidan kak, dia nanya bagaimana keadaan ku sekarang. "jawab Pakha.


"Emm begitu, dek kakak keluar sebentar ya"kata Kak nawang.


Pakha hanya mengangguk kemudian Kak nawang keluar dari ruang rawat Pakha untuk membeli sebotol minuman, bukan kebetulan juga bukan takdir, ia selalu saja berpapasan dengan Dandi.


"Bukankah itu Dandi?"batin Kak nawang.


Ia segera bersembunyi di balik tembok untuk menghindari laki-laki pembuat masalah di rumah tangganya itu, menurut Nawang Dandi itu batu sandungan yang harus ia hindari agar hidupnya tidak celaka.


"Gawat dia akan lewat sini, duh kenapa sih dunia selebar daun kelor ,ketemu dia lagi, dia lagi. "batin Nawang yang cemas tidak bisa berkutik.


Ternyata perkiraannya benar Dandi berjalan menuju ke arah dirinya bersembunyi, Dandi terlihat sibuk membaca sebuah kertas di tangannya. Nawang seperti berada di ruang hampa udara, kosong tidak bisa bernafas.


Dia berharap Dandi tidak melihat dirinya, Nawang sangat takut kejadian di taman yang membuat Oci marah terulang kembali, jika ia bisa memilih lebih baik menghindar dari pada perang.


"Tidak ada cara lain, ini cara satu-satunya. "batin Nawang.


Kini Nawang berjongkok sambil menutupi wajahnya dengan tas di balik tembok berharap Dandi tidak melihatnya, jika ia memilih lari itu tidak mungkin, Dandi pasti akan melihatnya karna pintunya berada di dekat Dandi saat ini dan tentukan dia pasti bisa mengenali nawang. Hanya cara itu yang bisa ia lakukan.


"NAEE ngapain kamu di situ" suara Dandi membuat Nawang kaget, karna persembunyian nya sudah ketahuan dan ia tak bisa menghindar lagi.


Dan di sisi lain mata Nawang melihat Oci juga berjalan menuju ke arahnya sambil sibuk melihat hp di tangannya.


"Tamat sudah riwayatku kali ini. "batin Nawang.


Tinggal menghitung detik kucing dan tikus itu akan sama-sama bertemu.

__ADS_1


Sekian dulu ya... emm kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya . pertemuan kucing dan tikus... apa yang ada di benak kalian jika pemangsa bertemu mangsanya??? .Tetap ikuti episode selanjutnya untuk mengetahui kelanjutan dari cerita ini. Semangat membaca.


__ADS_2