Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Orang dari Masa Lalu


__ADS_3

"Silahkan di minum."kata Jidan sambil menyodorkan sebuah jus di depan bu Arasi.


"Terima kasih."jawab bu Arasi.


Kemudian Jidan ikut duduk di samping bu Arasi namun dengan jarak yang begitu dekat. Jidan tanpa aba-aba mendekatkan wajahnya ke hadapan bu Arasi.


Bu Arasi kaget tiba-tiba jantungnya berdetak tak beraturan. Sementara itu dengan tiba-tiba tangan Jidan menempel pada keningnya, matanya menatap ke arah mata bu Arasi.


"Tidak panas kok. "kata Jidan kemudian melepaskan tangannya yang menempel di kening bu Arasi.


"Aku baik-baik saja Jid. "jawab bu Arasi sambil agak menjauh dari tubuh Jidan.


"Tapi dari tadi bu Arasi begitu gelisah, saya kira sakit, kalau ada masalah boleh cerita kok aku siap mendengarkan. "kata Jidan sambil memegang tangan bu Arasi.


"Ti... tidak ada masalah apa-apa kok. "jawab bu Arasi berbohong. Kemudian melepaskan tangan Jidan.


Di antara obrolan mereka berdua kecemasan bu Arasi masih membumbung tinggi, entah mengapa perasaannya tidak tenang, seperti akan terjadi suatu hal buruk pada dirinya, hatinya di penuhi rasa was-was tanpa sebab. Bu Arasi pun ijin ke toilet sebentar, dan Jidan pun memberi tahu di mana tempat toilet berada.


"Di sana lurus terus belok kiri. "kata Jidan menunjukan letak toiletnya.


"Baiklah. "jawab bu Arasi dengan langkah terburu-buru langsung menuju arah yang Jidan tunjuk.


Akhirnya bu Arasi menemukan toilet yang di maksud, ia pun mengunci pintu toilet itu kemudian menyalakan keran.


Tangannya menepuk-nepuk dada yang dari tadi cemas.


"Bisa-bisa aku kena serangan jantung kalau begini terus, dari tadi kenapa perasaanku tidak enak, dan jantung ini kenapa juga deg degan terus. "gumam bu Arasi kemudian membasuh wajahnya dengan air keran.


"Kak Jidan kami pulang. "teriak seorang wanita dengan riang di ikuti suara langkah kaki satu orang di belakangnya yang menyeret koper.


"Loh udah pulang?"tanya Jidan kaget melihat si cerewat menuju ke arahnya.


Prempuan itu langsung memeluk Jidan dengan erat.


"Emm kangen."kata prempuan itu sambil memeluk erat Jidan.


"Udah jangan lebay baru satu minggu aja udah kangen."jawab Jidan kemudian melepaskan pelukan wanita itu.


"ma.. "ucap Jidan kemudian memeluk mamanya.


"Kasian anak mami pasti sangat kesepian kan karna di rumah sendirian. "ucap mama Jidan sambil menepuk nepuk punggung anaknya.


"Apaan sih ma, Jidan udah besar."jawab Jidan sambil manyun.


Setelah itu mereka melepaskan pelukan itu, dan mama Jidan langsung menuju ke kamarnya di susul papa Jidan yang membawa dua koper di tangannya. Sementara itu si cerewet menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.

__ADS_1


"kalau pengen tidur sana di kamar. "kata Jidan pada adiknya.


Namun reaksi adiknya tiba-tiba berubah aneh, ia mengendus sesuatu yang mencurigakan di sofa yang ia tiduri.


"Kenapa kamu? kesambet? "tanya Jidan heran.


"Ssssstt. Aku mencium bau parfum perempuan. "kata adik Jidan.


Kemudian bu Arasi muncul di belakang Jidan.


"Apa? , oh ya kakak hampir lupa kenalin ini bu Arasi dosen kakak, bu ini si cerewet adik aku yang bawel. "kata Jidan memperkenalkan.


"Gawat bagaimana kalau adik Jidan mengenali aku."batin bu Arasi.


"Kak Jidan apa-apaan sih, aku tuh punya nama, enak saja di katain si cerewet. "jawab adik Jidan kemudian berdiri dari tidurnya.


"Clarisa.... adik kak Jidan yang paling baik. "ucap adik Jidan sambil bersalaman dengan bu Arasi.


"Halo.. saya dosennya Jidan. "jawab bu Arasi tidak berani memperkenalkan namanya.


"Yaudah kalian ngombrol aja, aku capek pengen tidur dulu."kata clarisa kemudian berjalan ke arah tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Sementara itu bu Arasi menghela nafas lega, karna adik Jidan tidak menyadari kalau dirinya pernah punya masalah dengan adiknya.


"Tidak apa-apa kok, cuma sedikit sesak saja tadi. "


"Bagaimana kalau aku ajak berkeliling taman, di sana udaranya sangat sejuk dan nyaman. "ucap Jidan memberi saran.


"Boleh. "kata bu Arasi.


Jidan langsung menggandeng tangan bu Arasi menuju taman. Saat menuju taman tanpa sengaja ia melihat sebuah foto keluarga yang terpampang besar di ruang tamu, langkahnya pun terhenti ketika melihat wajah yang tidak asing di depannya.


Matanya tidak berkedib saat melihat wajah yang sangat mirip dengan orang yang sangat ia rindu.


"Ada apa kenapa berhenti. "tanya Jidan.


"Tidak apa-apa kok, ayo jalan. "kata bu Arasi kemudian meneruskan langkahnya.


"Foto tadi benar-benar mirip, ah tapi tidak mungkin . "batin bu Arasi sambil berjalan ke arah taman.


Sesampainya di taman, Jidan dan bu Arasi duduk di gazebo kecil yang terletak di tengah hamparan bunga warna-warni yang terlihat indah. Di sana bu Arasi bercerita tentang kehidupannya yang menyedihkan. Pada waktu kecil ia sudah tidak punya ayah, karna ayahnya meninggal kena serangan jantung saat usianya masih balita, itu pun ia benar-benar tidak ingat seperti apa wajah ayahnya. Dia hidup sederhana bersama ibu dan neneknya, namun karna terkendala biaya pendidikan waktu itu, ibunya terpaksa pergi merantau untuk menjadi TKW di luar negeri, semenjak itu ibunya tidak pernah pulang dan semakin lama ibunya tidak pernah memberi kabar apa pun padanya. Semenjak itu ia tinggal berdua dengan neneknya, semenjak itu pula ia sudah tidak di kasih uang oleh ibunya dan terpaksa mencari uang dengan cara menjual kayu bakar bersama neneknya untuk biaya sekolah dasar pada waktu itu. Hingga akhirnya karna berbagai prestasi yang ia dapat dari lomba-lomba yang ia ikuti dia pun mendapat beasiswa sampai perguruan tinggi.


"Maaf aku malah menceritakan ini padamu. "kata bu Arasi sedih.


"Tidak apa-apa, berbagilah kesedihan padaku."kata Jidan sambil memegang tangan bu Arasi.

__ADS_1


"Hah. "bu Arasi bengong mendengar jawaban Jidan yang membuatnya tidak percaya.


"Aku mau mendengarkan semua keluh kesahmu, dan aku juga mau terus berada di sisimu. "Jidan kembali melontarkan kata-kata mautnya.


"Apa maksud perkataan Jidan barusan, Aku tidak boleh terlalu berharap seperti ini, Arasi sadar diri dong kamu itu wanita tua yang tidak sebanding dengan Jidan. "batin bu Arasi sambil geleng-geleng kepala.


Di satu sisi mama Jidan berjalan ke arah mereka berdua dan menghampiri mereka yang tengah sibuk mengobrol.


"Udah dulu ngobrolnya, ayo temennya ajak makan, mami udah siapin makanan kesukaanmu. "kata mama Jidan.


"Tante... "kata bu Arasi kaget kemudian berdiri dari duduknya.


"Ma kenalin ini dosen aku yang pernah aku ceritain dulu."kata Jidan.


"Wah cantik ya, halo saya mamanya Jidan, siapa namamu nak? "tanya ibu Jidan antusias.


"Halo tan nama saya Arasi anto harjo. "ucap bu Arasi sambil berjabat tangan tak lupa dia juga tersenyum ceria di wajahnya.


(Wajahnya benar-benar mirip, bahkan suaranya benar-benar sama. batin bu Arasi)


Namun raut muka mama Jidan tiba-tiba berubah yang tadi bersahabat tiba-tiba menjadi muram setelah mendengar nama bu Arasi.


"Ara apakah itu kamu nak. "ucap mama Jidan di susul air mata yang membasahi pipinya.


bu Arasi masih mematung tangan mereka pun masih bersalaman.


"Ibu. "jawab bu Arasi lirih.


Tatapan mereka berdua bertemu seperti ingin melepas kerinduan yang sangat lama.


Sementara itu Jidan tidak mengerti dengan situasi di luar kendalinya.


"Jadi kalian sudah saling kenal, apa maksud bu Arasi memanggil mama dengan sebutan ibu? "tanya Jidan serius.


"Penjelasannya panjang nak, nanti mami jelasin ayo kita masuk dulu. "ucap mama Jidan.


"Ti... tidak mungkin kalian itu.... "Jidan tidak jadi melanjutkan perkataannya, dia tiba-tiba menjadi marah tidak trima dengan kenyataan menyakitkan yang sangat ia benci.


Jidan berlari meninggalkan mereka berdua dengan amarah yang meluap-luap.


"Tidak mungkin...kalau aku dan bu Arasi bersaudara. "batin Jidan sambil berlari meninggalkan mereka berdua.


"Jidan tunggu penjelasan mami dulu... jidannnn. "teriak mama Jidan mengejar putra sulungnya namun sudah tertinggal jauh.


Sekian dulu ya... emm siapa sih bu arasi itu? apakah dia sebenarnya saudara Jidan yang selama ini tidak ia ketahui?akankah asmaranya kembali kandas karna mereka berdua bersaudara? nantikan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2