Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Naraya


__ADS_3

Mangata telah mengalah dengan arunika, disertai embun pagi terasa dingin menyeruak dalam jiwa. Secercah cahaya mentari di sebuah celah jendela menusuk mata yang masih terpejam. Akhirnya sang pemilik kehidupan terbangun karna pagi telah tiba. Ia bergegas untuk membersihkan tubuhnya dan menuju dapur untuk membuat sarapan pagi. Setelah berkutik selama kurang lebih 1 jam, akhirnya dua piring nasi goreng dengan dua telur agak gosong tertata di atas meja. Tak lupa dengan dua teh hangat yang kini sudah agak dingin. Setelah di rasa sarapan udah siap kini ia menuju kamar untuk membangunkan sang wanita cantik yang masih terlelap. Ketika pintu udah di buka ternyata benar wanitanya masih terlelap di bawah slimut dan masih sama seperti tadi malam tanpa berubah posisi. Kini Ia melangkah menuju ranjang untuk membangunkan sang perempuan cantik itu.


"Sayang ayo bangun, mandi terus sarapan, aku udah masak loh, "kata Boy pelan sambil sedikit menggerakan tubuh Pakha.


Namun tubuh Pakha terasa panas tidak seperti biasanya, bibirnya berwarna merah api dan disentuhlah keningnya juga terasa panas seperti matahari.


"Astagfirullah Pakha kamu demam, ayo kita ke rumah sakit sekarang, "kata Boy panik.


Ketika ia ingin melangkah untuk bersiap-siap tangan Pakha menghentikan langkahnya.


"Aku tidak ingin di rumah sakit, aku hanya perlu istirahat di sini saja."kata Pakha lirih.


"Baiklah kamu istirahat saja biar aku ijinkan ke dosenmu untuk cuti kuliah hari ini, "jawab Boy.


Pakha hanya terdiam sambil menahan panas di tubuhnya yang membuat seluruh badan terasa sakit.


Baru kali ini dia tumbang bahkan waktu kecil sampai sekarang pun tidak pernah sakit. Apa mungkin karna kejadian semalam yang membuatnya down atau karna tidur dengan baju basah yang masih melilit di tubuhnya.


Boy menghilang di balik pintu kemudian beberapa menit Boy muncul sambil membawa handuk kecil dan air hangat untuk mengompres kening Pakha yang panas.


"Sayang cepat sembuh jangan sakit seperti ini,"kata Boy sambil mengompres Pakha.


"Boy Bukankah kamu ada kuliah hari ini, aku tidak apa-apa, tinggalkan aku sendiri saja. "


"Kuliah tidak penting bagiku, nanti biar aku izin saja, "kata Boy dengan santainya.


Yah Boy bisa melakukan apa saja saat dia mau termasuk membeli ijazah karna sekarang karirnya cukup sukses,namun ia tidak mau melakukannya.


"Sayang kamu ganti baju dulu gih, bajumu udah kotor gitu agar bisa istirahat dengan nyaman. "Kata Boy sambil menyiapkan baju Pakha.


Ketika ia membuka lemari pakaian Pakha munculah semua pakaian dalam Pakha sehingga membuatnya malu.


"Sasayang kakamu mau pakai baju yang mana? "tanya Boy gagap dan sekarang pipinya merona karena malu.


Pakha melirik Boy ternyata dia lagi membuka lemari pakaiannya dan baru ingat di lemari itu ada banyak pakaian dalamnya. Pakha langsung berdiri bangkit dari ranjang.


"Biar aku siapkan sendiri saja, kamu tunggu di luar, "belum sempat ia mengambil pakaian tubuhnya sudah terhuyung ke belakang.

__ADS_1


Sakit kepala yang mendadak membuat ia hampir terjatuh untung masih ada Boy yang menangkap tubuh Pakha.


Kini mata mereka saling bertatapan hanya tinggal tiga senti dari wajah Boy yang memerah dengan tubuh Pakha di tangan Boy.


"Biar aku bantu, tubuhmu masih lemas, "kata Boy canggung.


Kini Pakha di tuntun untuk kembali ke atas ranjang dan Boy yang menyiapkan pakaian ganti untuk Pakha.


Tak bisa di pungkiri kini wajah Pakha juga memerah bukan karna panas di tubuh nya namun karna kejadian tadi yang membuat nya malu. Habis sudah harga dirinya sekarang, Boy sudah melihat semua pakaian dalamnya. Sungguh sangat memalukan bagi Pakha kejadian hari ini.


Boy membawa baju tidur panjang di tangan kirinya dan tangan lainnya menenteng pakaian dalam Pakha.


"Sayang ini pakaiannya, aku bantu gantinya atau bisa sendiri? "tanya Boy sambil membantu Pakha berdiri.


"Semoga Pakha bisa sendiri ku mohon. "kata Boy dalam hati. Mana mungkin dia akan sanggup jika melihat tubuh Pakha tanpa busana, orang tadi malam hanya melihat sedikit saja pusakanya sudah bangun apa lagi jika melihat langsung.


"Aku bisa sendiri. "jawab Pakha dengan cepat. Hal itu membuat Boy sedikit lebih lega. Pakha di tuntun sampai depan kamar mandi dan Boy menunggu di luar kamar mandi.


Setelah Pakha berada di dalam kamar mandi dia mengutuki dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit akhirnya ia selesai juga dengan bajunya. Kini tampilannya sudah agak segar dengan hanya membasuh wajahnya lebih mending dari pada tadi tampilan yang lusuh. Seteleh keluar dari kamar mandi matanya menelusuri seisi ruangan namun laki-laki yang membuatnya malu tidak terlihat sama sekali.


"Kemana Boy?apa dia pulang beneran, tega banget sih, "Pakha mengomel sendiri. Dia berjalan menuju ranjangnya karna tubuhnya masih lemas dan kepalanya masih sakit.


Tanpa Pakha sadari Boy sudah berdiri di belakangnya.


"Sini aku bantu."


"Astaga kaget, "teriak Pakha dengan kagetnya.


"Maaf tadi aku ke dapur sebentar untuk membuat bubur, kamu kan belum sarapan. "jawab Boy sambil membantu Pakha kembali ke ranjang.


"Sayang bisa gak jangan hilang tiba-tiba dan muncul tiba-tiba seperti hantu . "gerutu Pakha sambil menatap Boy.


Boy hanya menyengir seperti kuda sehingga membuat Pakha kesal.


"Aaa ini buburnya di makan dulu, "kata Boy sambil menyuapi Pakha.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri Boy, "kata Pakha.


Kemudian merampas sendok di tangan Boy dan memasukkan ke mulut nya sendiri.


"Habiskan ya nanti minum obat trus istirahat agar cepat sembuh. "kata Boy sambil memerhatikan Pakha yang sedang makan.


"Boy kamu baik banget sih, mana mungkin aku tega menghancurkan hidupmu untuk kedua kali setelah kamu berjuang sejauh ini. "batin Pakha.


"Sayang kenapa berhenti makan,buburnya gak enak ya? "tanya Boy cemas karna Pakha berhenti makan dan hanya menatap dirinya.


"Enak kok. "kata Pakha sambil tersenyum.


Setelah Pakha menghabiskan buburnya ia meminum obat kemudian kembali berbaring untuk istirahat. Boy kemudian menyelimuti Pakha dan tiba-tiba menyecup kening Pakha. Sehingga sang punya kening kaget dan hanya bengong.


Sebelum Boy hilang di balik pintu.


"Boy tunggu,"


Langkah kaki Boy terhenti dan menatap Pakha.


"Iya ada apa lagi sayang, "kata Boy.


"Terimakasih ya "jawab Pakha kemudian menutupi wajahnya dengan selimut karna dia sangat malu.


"Sama-sama sayang, selamat istirahat. "kata Boy kemudian menghilang di balik pintu dan menutup pintu kamar Pakha.


Cinta merupakan perasaan terindah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sekilas jatuh cinta dan mencintai dengan tulus tak memiliki perbedaan. Bisa saja ketika seseorang jatuh cinta, dengan sekejap ia bisa berpaling pada orang lain yang lebih mengesankan. Namun mereka yang mencintai dengan tulus akan menerima pasangannya dengan sepenuh hati dan tak akan pernah berpaling.


Kadang, orang yang kau cintai adalah orang yang paling menyakiti dirimu. Kadang teman yang menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kau sadari.Yah seperti kisah cinta antara Pakha dan Boy saat ini. Pakha selalu menyakiti hati Boy dari dulu bahkan sempat menolak cintanya namun karna keguguhan hati untuk mencintai satu prempuan yang sama dan perjuangan tanpa henti untuk mendapatkan hatinya akhirnya cinta mereka berdua bisa berubah menjadi cinta yang manis. Ada pepatah mengatakan usaha tidak akan menghianati hasil itu memang kenyataan.


NB:


1.Mangata : Bayangan bulan di air dari kata bahasa indonesia.


2.Arunika : Cahaya matahari pagi setelah terbit.


Sekian dulu gays,, nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya .Semangat terus membacanya.

__ADS_1


__ADS_2