Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Ketika Cinta di Uji


__ADS_3

Dandi sangat marah ketika melihat Oci berciuman di depan rumah, ia harus menyaksikan adegan romantis suami istri yang mampu merobek jiwa kejombloannya yang sudah lama berlumut.


"Bi hati-hati di jalan ya. "kata Nawang kemudian mencium punggung tangan Oci.


Oci tersenyum tak lupa mengecup kening putri kecil yang ada di gendongan Nawang.


"Kaysa harus nurut sama ibu, ayah janji akan bekerja keras untuk ibu dan kaysa. "ucap Oci setelah mencium putrinya.


Kaysa hanya tersenyum.


"Aba mama anyak. "jawab Kaysa.


"iya ayah akan cari uang yang buanyakk sekali. "kata Oci bersemangat.


Tak lama kemudian mobil Oci pun meninggalkan halaman rumah Nawang. Sementara itu Dandi mendekat ke arah mereka berdua.


Ketika Nawang ingin masuk ke dalam rumah tiba-tiba tangan Dandi memegang tangannya dan otomatis langkahnya terhenti saat itu juga.


"Ngapain kamu ke sini? "ucap Nawang sambil melotot.


"Aku rindu kamu naee, sudah satu bulan kita tidak bertemu. "kata Dandi dengan mata berkaca-kaca, ia benar-benar rindu wanita yang sekarang ada di depannya ini. Apa daya ia sangat ingin memeluk pujaan hatinya namun itu tidak mungkin. Andai saja Tuhan bisa mengabulkan permintaannya, Dandi hanya ingin hidup bersama Nawang seumur hidupnya.


"Pergi kamu, jangan pernah mengganggu rumah tanggaku lagi. "ucap Nawang geram.


"Ommama indu kaysa? "tanya Kaysa dengan polosnya.

__ADS_1


"Ah iya kaysa om sangat rindu kaysa, om boleh ikut main dengan kaysa? "tanya Dandi pada putri kecil yang sedari tadi di gendong Nawang.


"bu...? kaysa om main. "ucap kaysa yang masih belum benar merangkai kata.


"Iya boleh tapi main sebentar saja ya sayang. "ucap Nawang sambil mengelus rambut putrinya.


"Iya sayang. "jawab Dandi sambil tersenyum.


Nawang langsung melotot mendengar jawaban Dandi barusan, padahal ia memanggil sayang untuk putrinya bukan untuk dirinya.


Akhirnya Kaysa dan Dandi di ijinkan bermain sebentar di taman kecil yang terletak tak jauh dari rumah Nawang dan Nawang ikut mengawasi mereka berdua dari dekat. Sesekali matanya melirik Dandi pria yang pernah berjasa dalam hidupnya.


"Dan makasih ya berkat kamu aku mempunyai banyak kenangan indah dan berkat kamu juga kaysa putri kecilku selamat dari maut. "batin Nawang sambil menatap Dandi yang asik bermain dengan Kaysa.


Tanpa sengaja tatapan mereka berdua bertemu saat Dandi juga ingin menatapnya, Nawang seketika langsung membuang muka entah kenapa jantungnya berdetak kencang.


Sementara itu Dandi tersenyum kemudian tanpa sadar ia sudah berada pas di depan Nawang yang duduk di kursi. Nawang pun kaget dengan keberadaan Dandi yang tiba-tiba sudah berada di depan wajahnya.


"Sudah lama aku tidak melihat wajahmu sedekat ini. "kata Dandi mengamati wajah Nawang yang berkeringat dingin.


"Kamu apa-apaan sih Dan jangan kurang ajar. "ucap Nawang sambil mendorong tubuh Dandi menjauh.


Nawang kemudian berjalan menghampiri putri kecilnya yang asik bermain tanah.


"Kaysa sudah cukup ya mainnya, sekarang Kaysa harus mandi. "ucap Nawang kemudian menggendong putri kecilnya dan berjalan cepat agar Dandi segera hilang dari pandangannya. Entah mengapa jantungnya sampai sekarang masih berdetak tidak beraturan seperti ini, ini pertama kalinya ia merasa seperti ini setelah melewati malam pertama dua tahun yang lalu saat bersama Oci.

__ADS_1


"Nawang ini tidak benar kamu tidak boleh deg degan seperti ini pada Dandi."batin Nawang sambil menepuk nepuk dadanya dengan tangan kanannya, dan tangan yang lain masih menggendong Kaysa. Tidak bisa di pungkiri Dandi memang cinta pertamanya namun Nawang sekarang sudah punya Oci di hidupnya. Rahasia terbesar dalam hidupnya bahwa Dandi adalah pria dari masa lalu yang sangat berkesan hingga kehidupannya saat ini.


Setelah Nawang hilang di balik pintu rumahnya ,Dandi malah tertawa terbahak-bahak.


"Naee aku tau kamu tadi pasti berdebar-debar kan saat melihatku sedekat itu, dari wajahmu aku sudah tau, meskipun kamu sekarang sudah bersama orang lain, tapi tidak ada yang lebih mengerti kamu selain diriku. Bodoh, ketika aku sudah tau dirimu adalah miliknya. Namun, perasaan ini tetap saja enggan sirna."ucap Dandi sambil menatap pintu rumah Nawang yang tertutup rapat.


Dandi kemudian meninggalkan rumah Nawang dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


Sementara Nawang masih mengintip Dandi dari jendela hingga Dandi pergi dari halaman rumahnya.


"Cinta itu tidak perlu alasan, karena jika alasan itu hilang, maka rasa tersebut akan ikut hilang bersamanya."lamunan Nawang sambil menatap kepergian Dandi.


"bu mandi kaysa atal luruh adan. "ucapan Kaysa menyadarkan Nawang dari lamunannya.


"Astagfirullah mikir apa aku tadi, putri ibu sudah gatal ya, ayo kita segera mandi. "ucap Nawang kemudian menutup kembali tirai jendela yang tadi ia buka sedikit.


Dan sekarang Nawang berjalan ke belakang sambil menggelitik i putri kecilnya dalam gendongannya.


Kini suasana yang sedari tadi sepi berubah menjadi gelak tawa Kaysa yang membuat hati Nawang menjadi tenang.


Sementara itu Oci mengepalkan tangannya di dalam mobil sambil menggigit bibir karna dari tadi ia menyaksikan secara langsung saat wajah Dandi berhadapan dengan wajah Nawang yang cuma sejengkal saja. Saat tadi ia setengah perjalanan menuju kantor ia mendadak mendapat telepon bahwa kantornya di liburkan karna atasan sedang melakukan riset penting di luar kota bersama beberapa karyawan lain. Hal itu membuat Oci senang karna dia punya waktu untuk bermain bersama putri kecilnya.


Setelah ia sampai di depan halamannya ia mendapati Kaysa asik bermain sendirian sedangkan Nawang dan Dandi malah berdekatan seperti enggan berciuman. Hal itu membuat jiwa Oci seperti tercabik-cabik, di satu sisi ia percaya bahwa Nawang tidak akan mungkin tega mengkhianatinya namun di sisi lain ia juga ragu dengan perasaannya sendiri. Hingga saat ini perasaan Oci masih di penuhi dengan kecemburuan dan ia belum bisa mengontrol emosinya. Makanya ia tidak berani turun dari mobilnya, karna ia tidak mau emosinya merusak rumah tangganya yang selama ini ia jalin dengan penuh kebahagian. Oci tidak akan membiarkan salah paham ini merusak kepercayaannya terhadap Nawang, namun ia tidak mampu bertanya secara langsung pada Nawang.


"Arrrrrhkkk. "teriak Oci di dalam mobil sambil memukul setir di depannya sampai tangannya berdarah.

__ADS_1


Sekian dulu ya, kira-kira ujian apa lagi sih yang rumah tangga Oci hadapi, mungkinkah hubungannya dengan Nawang akan putus seperti benang di dalam layangan atau akan bertahan seperti kerasnya batu karang? baca episode selanjutnya untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan. Semangat membaca.


__ADS_2