Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Sahabat baik


__ADS_3

Esok telah datang dengan sejuta senyum di bibir seorang laki-laki . Alih-alih bahagia di sela senyumnya terdapat rasa kekecewaan yang tersembunyi di antara raut muka.


Sebuah senyum pahit itulah yang Jidan rasakan pagi ini melihat sahabat sekaligus pujaan hatinya turun dari mobil pacarnya.


"Jid udah lama atau baru sampai? "tanya Pakha yang masih bergandengan tangan dengan Boy.


"Baru saja sampai sebelum kamu. "jawab Jidan sambil memerhatikan mereka berdua.


"Sayang kenalin dia Jidan sahabat terbaik ku dari smp. "kata Pakha menunjuk Jidan.


"Jidan ini Boy pacar aku. "kata Pakha sambil menoleh Boy di sampingnya.


Jidan dan Boy bersalaman untuk memberitahukan nama lengkap masing-masing.


Mereka bertiga sedikit berbincang-bincang di depan gerbang kampus, kemudian Boy pamit untuk meninggalkan obrolan seru itu. Pakha melambaikan tangan pada Boy kemudian mobil Boy hilang di telan keramaian.


Kini tinggal mereka berdua yang masih berdiri di depan gerbang kampus.


"Pakha bagaimana kalau kita lanjut mengobrol di kantin saja. "tawar Jidan.


"Ide bagus tuh. "jawab Pakha.


Tanpa Jidan sadari tangannya tiba-tiba di gandeng Pakha sama persis seperti tangan Boy tadi. Pakha biasa melakukannya bukan karna sesuatu tapi karna memang mereka berdua teman akrap. Tapi perlakuan Pakha malah membuat Jidan menjadi salah paham.


"Jidan tenangkan dirimu, ini cuma perlakuan sebagai sahabat tidak lebih. "batin Jidan mendapati tangannya di gandeng Pakha.


Di karenakan pasca hujan lebat kemarin malam lantai-lantai di sepanjang koridor kampus menjadi licin. Hal itu membuat Pakha yang begitu bersemangat menggandeng Jidan tanpa sengaja kakinya terpeleset di lantai itu.


"Wadaw. "teriak Pakha.


Kini dirinya sudah duduk di atas lantai licin itu untungnya wajahnya selamat kali ini tidak mencium lantai kampus seperti dulu.


Tak kalah terkejut nya Jidan pun ikut mengalami kesialan yang menimpa Pakha barusan.


Jidan pun terduduk di lantai mengkilap itu. Tapi untungnya Jidan tidak mengalami hal serius dengan tubuh kuatnya, tapi lain lagi dengan Pakha udah jatuh eh kakinya terkilir juga. Sialnya kaki yang dulu sempat terkilir hari ini terkilir lagi, akibatnya kakinya sekarang menjadi bengkak dengan sedikit membiru.


"Pakha kamu gak papa kan?. "tanya Jidan setelah ia berdiri dari lantai sialan itu.


"Kaki ku sakit Jid, kayaknya aku gak bisa berjalan jauh deh. "jawab Pakha sambil memegang pergelangan kakinya.


Jidan membantu Pakha berdiri kemudian ia berfikir keras bagaimana cara menghadapi persoalan ini. Di kampus ini pun tidak mungkin ada kursi roda apa dia harus memapah Pakha ya??


Jika Jidan membantu memapah Pakha itu tambah memperburuk keadaan Pakha saat ini.


Cuma ini cara satu-satu nya agar tidak memperburuk keadaan.


Jidan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya, ia melakukan itu beberapa kali. Kemudian memberanikan diri membuka mulutnya.

__ADS_1


"Pakha naiklah di punggung ku, aku akan menggendongmu menuju UKS. "kata Jidan kemudian membungkukan punggung nya di depan Pakha.


"Jid kamu yakin dengan perkataan mu barusan? "tanya Pakha ragu-ragu.


"Iya ayo naiklah sebelum aku berubah pikiran. "kata Jidan menegaskan.


Pakha menuruti perkataan Jidan ia akhirnya mau di gendong di punggung pria tampan itu.


Di sepanjang perjalanan menuju UKS para mahasiswa melihat mereka berdua dengan tatapan tajam setajam silet. Hehe bukan itu sih namun melihatnya dengan tatapan iri. Bagaimana tidak iri di pagi buta begini ada adegan romeo juliet yang melintas di depan mereka.


Hal itu membuat sang tokoh merasa canggung.



"Aku cuma pengasuh, aku cuma pengasuh, "batin Jidan menenangkan jantung nya yang berdetak kencang tak beraturan.


Kegiatan gendong menggendong itu membuat hati Jidan kembali salah paham, yah meskipun lain lagi dengan Pakha. Ia hanya menganggap Jidan sebagai sahabat tak kurang dan tak lebih dari itu, baginya itu cuma perlakuan saling tolong menolong di antara sahabat.


"Jid turunkan aku di sini saja, kau lihat tidak bagaimana siswa yang lain menatap ke arah kita di sepanjang perjalanan tadi. "bisik Pakha pas di telinga Jidan.


Hal itu membuat sang pemilik telinga merasa di goda.


"Aduh Jidan mikir apa kamu sih, sadarlah. " batin Jidan.


"Jid kau dengar tidak. "suara Pakha lantang di telinga Jidan.


"Eh kamu tadi bilang apa? "kata Jidan tersadar dari lamunannya.


Akibat teriakan Pakha yang tiba-tiba membuat telinga pengang. Tanpa sengaja kedua tangan Jidan yang memegang tubuh Pakha di punggung nya terlepas begitu saja.


Bruk.


Kini tubuh Pakha langsung meluncur bak air terjun dengan ketinggian sepuluh meter di atas permukaan tanah.


"Jidan kauu. "teriak Pakha dengan keadaan tersungkur di atas lantai.


Jidan kaget dengan pemandangan di belakangnya. Dia baru sadar telah menjatuhkan sesuatu yang sangat berharga.


"Pakha.....maaf aku tidak sengaja. "kata Jidan ketakutan melihat tatapan Pakha yang siap melahapnya saat itu juga.


"Kemari kauuu. "kata Pakha sambil mengacungkan jari tengahnya.


Jidan berjalan ragu-ragu mendekati Pakha yang terlihat marah terhadap dirinya.


Bukk bukk


"Dasar anak nakal kenapa kau menurun kan aku seperti itu, tidak ikhlas menolong ya, sini biar aku pukul seratus kali di punggung yang berani menjatuhkan aku seperti ini. "kata Pakha dengan marah.

__ADS_1


Kebiasaan Pakha memukul punggung Jidan pun tidak bisa di hindari. Kini pukulan itu di sertai dengan kekesalan akibat ulah Jidan yang menjatuhkan tubuh Pakha di lantai kampus.


Selang beberapa menit petugas keamanan menghampiri mereka berdua, akhirnya ada juga yang menolong si pangeran Jidan dari amukan srigala betina itu. Kini mereka berdua berada di ruang UKS.


"Sakit dok, aduhh. "kata Pakha merintih menahan sakit saat kakinya di perban.


Jidan merasa bersalah niat hati ingin menolong pujaan hatinya namun ia malah tambah memperburuk keadaan.


"Nah sekarang sudah selesai,"kata dokter itu kemudian berdiri dari duduknya.


"Dok obati juga punggung Jidan. "kata Pakha sambil menengok laki-laki yang sejak tadi berdiri di samping pintu UKS yang tidak berani masuk di ruangan itu.


"Hah aku. "Jidan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu Jid, masuklah biar dokter juga mengobati lukamu. "kata Pakha.


Jidan kemudian masuk di ruang UKS itu.


"Buka punggung mu. "kata Pakha.


"Didi sini? "jawab gugup Jidan.


"Hmm ayo cepat. "kata Pakha menegaskan.


Setelah itu Jidan membuka satu kancing kemeja, dua kancing kemeja dan sebelum kancing ketiga Pakha baru sadar setelah melihat sedikit lengan kekar Jidan.


"Eeehhh tunggu dulu, aku akan keluar. "kata Pakha berjalan keluar UKS dengan tertatih-tatih.


"Biar aku bantu. "kata Jidan.


"Titidak usah. "Jawab gugup Pakha.


Bagaimana mungkin ia melupakan bahwa Jidan juga seorang laki-laki dan dirinya sekarang seorang prempuan.


"Bodoh, bodoh, bodoh bagaimana mungkin aku melupakan fakta itu, untung saja aku belum melihat tubuh Jidan. "gerutu Pakha setelah ia berhasil keluar di UKS itu.


Pakha duduk menunggu Jidan di depan UKS, beberapa menit kemudian Jidan keluar dari ruangan itu.


"Jid gimana dengan punggung mu masih sakitkah? "tanya Pakha cemas.


"Alhamdulillah sudah tidak apa-apa kok. "jawab Jidan sambil tersenyum padanya.


" Maafkan aku Jid, tadi aku terlalu terbawa emosi sehingga melukai punggung mu. "kata Pakha menyesali perbuatannya.


"Iya tidak apa-apa kok, harusnya aku yang minta maaf membuat dirimu bertambah buruk seperti itu. "jawab Jidan.


Pakha hanya terdiam menyesali kebodohannya, bagaimana mungkin ada laki-laki baik bak seorang malaikat seperti ini di dunia. Pakha berjanji pada dirinya sendiri akan menghilang kan kebiasaan buruk itu terhadap Jidan sang malaikat sekaligus sahabat baiknya.

__ADS_1


Kini mereka berdua berjalan menuju ke dalam ruangan, pemandangan Pakha berjalan dengan merangkul Jidan. Akhirnya mereka berdua baikan kembali.


Sekian dulu cerita ini...... hayo ada kejutan apa lagi sih di episode selanjutnya??? Semangat membaca.


__ADS_2